05 June 2007

MISQUOTING JESUS : ASAL-USUL ALKITAB KRISTEN

Kata Pengantar
Sebelum menjelaskan bagaimana dan mengapa manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru itu telah membuat perubahan besar terhadap diri saya secara emosional dan intelektual, terhadap pemahaman akan diri saya sendiri, dunia tempat saya hidup, pandangan-pandangan saya tentang Allah dan Alkitab, saya harus menceritakan sedikit latar belakang diri saya kepada anda sekalian.

Saya lahir dan besar di bagian tengah AS, di pertengahan 1950-an. Cara saya dibesarkan biasa-biasa saja. Kami boleh dibilang adalah tipe keluarga standar, yang terdiri atas lima orang, pergi ke gereja tetapi tidak terlalu religius. Sejak tahun ketika saya menginjak kelas lima, kami bergabung dengan gereja Episkopal di Lawrence, Kansas, gereja yang pendetanya ramah dan bijaksana, yang juga adalah tetangga kami dan putranya adalah teman saya (yang dengannya saya melakukan kenakalan di SMP – sesuatu yang melibatkan rokok). Sebagaimana gereja Episkopal pada umumnya, yang satu ini juga dihormati oleh masyarakat dan bertanggungjawab terhadap masyarakat. Liturgi gereja dijalankan dengan sungguh-sungguh, dan Alkitab menjadi bagian dari liturgi itu. Tetapi Alkitab tidak ditandaskan berlebihan : Alkitab, ditambah dengan tradisi gereja dan akal sehat, digunakan disana sebagai penuntun iman dan tingkah laku. Kami tidak benar-benar membicarakan Alkitab atau membacanya secara panjang lebar, bahkan dalam kelas-kelas sekolah Minggu, yang lebih berfokus pada persoalan-persoalan praktis dan sosial, dan pada cara hidup di dunia ini.

(Komentar kristolog: nah, sudah saya duga, bahwa kehidupan religius orang-orang Kristen tidaklah berfokus pada pengajaran Alkitab secara detil. Mereka hanya membahas alkitab dari sisi pengetahuan umum saja yang diakui oleh setiap manusia. Otak mereka tidak mencerna secara detil dari isi Alkitab dan bahkan pengetahuan tentang terbentuknya Alkitab itu sendiri, orang Kristen kebanyakan tidak tahu).

Memang, Alkitab sangat dihargai di rumah kami, terutama oleh Ibu, yang kadang-kadang membacakannya dan memastikan bahwa kami memahami cerita-cerita di dalamnya dan ajaran-ajaran etikanya (juga 'doktrin-doktrinnya', meski tidak terlalu ditandaskan dibandingkan yang lain).

(Komentar kristolog : Saya yakin sang Ibu tidak pernah menceritakan bagian-bagian vulgar dan pornographis).

Hingga saya menginjak bangku sekolah menengah, saya masih memandang Alkitab sebagai buku misterius yang penting untuk agama; tetapi tidak menganggapnya sebagai sesuatu untuk dipelajari dan dikuasai. Buku itu terkesan kuno dan seolah-olah, entah bagaimana, merupakan bagian tak terpisahkan dari Allah, gereja dan ibadat. Namun, walaupun begitu saya tidak melihat alasan untuk membacanya sendiri atau mempelajarinya.
Pandangan saya berubah drastis pada tahun kedua di sekolah menengah. Saat itulah saya merasa "dilahirkan kembali", dengan latar yang sangat berbeda dengan gereja asal saya. Saya termasuk jenis anak yang tidak pernah menjadi nomor satu – murid yang baik, meminati dan aktif dalam berbagai olahraga sekolah tetapi tidak hebat daam salah satu pun di antaranya, meminati dan aktif dalam kehidupan sosial tetapi bukan bagian dari anak-anak elit dan populer di sekolah. Saya merasakan semacam kehampaan di dalam batin saya yang tampaknya tidak bisa diisi dengan apa pun – termasuk bermain dengan teman-teman (kami sudah biasa minum-minum bersama di pesta-pesta), berpacaran (mulai merasakan betapa misteriusnya dunia seks), sekolah (saya belajar keras dan mendapat nilai bagus tetapi tidak sampai menjadi bintang kelas), pekerjaan (saya menjadi wiraniaga yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk perusahaan yang menjual produk khusus bagi tunanetra), gereja (saya adalah pelayan gereja dan cukup saleh – yang harus selalu hadir di gereja setiap Minggu pagi, mengingat apa yang terjadi di malam Minggu). Ada semacam rasa kesepian yang berkaitan dengan usia remaja; tetapi, tentu saja, saya pada waktu itu tidak menyadari bahwa hal itu adalah bagian dari masa remaja – saya pikir ada sesuatu yang hilang.
Pada saat itulah saya mulai mengikuti pertemuan klub Campus Life Youth for Christ (Masa Muda di Sekolah bagi Kristus); pertemuannya diselenggarakan di rumah para siswa – pertemuan pertama yang saya hadiri adalah sebuah pesta di halaman rumah seorang siswa yang cukup populer, dan hal itu membuat saya berpikir bahwa kelompok ini pasti bagus. Pemimpin kelompok ini adalah seorang pria berusia 20-an bernama Bruce, yang melakukan hal itu sebagai mata pencaharian – mengorganisasi klub Youth for Christ setempat, berupaya mentaubatkan anak-anak sekolah menengah supaya "dilahirkan kembali" dan melibatkan mereka dalam pelajaran-pelajaran Alkitab yang serius, pertemuan doa, dan semacamnya. Bruce memiliki kepribadian yang menyenangkan – lebih muda dari pada orang tua kami tetapi lebih tua dan berpengalaman dari kami – dan ia menyampaikan pesan yang ampuh, bahwa kehampaan batin kami terjadi karena kami tidak memiliki Kristus di dalam hati kami. Seandainya kami mau meminta agar Kristus masuk ke dalam hati kami, ia akan masuk dan memenuhi hati kami dengan sukacita dan kebahagiaan yang hanya bisa disadari oleh orang-orang yang 'diselamatkan'.

Bruce ini bisa mengutip Alkitab kapan saja ia mau, dan ia melakukannya dengan taraf yang mengagumkan. Mengingat rasa hormat saya terhadap, tetapi juga ketidaktahuan saya tentang Alkitab, semua itu terkesan begitu meyakinkan saya. Dan hal itu sangat berbeda dengan apa yang saya terima di gereja, yakni ritual kuno yang terkesan lebih sesuai bagi orang dewasa yang kuno ketimbang anak-anak yang ingin bersenang-senang dan berpetualang.

Singkat cerita, saya akhirnya mulai bergaul dengan Bruce, mulai menerima pesan keselamatannya, meminta Yesus masuk ke dalam hati saya, dan merasakan pengalaman dilahirkan kembali secara nyata. Saya sudah lahir lima belas tahun sebelumnya, tetapi kelahiran kembali itu merupakan pengalaman baru dan seru bagi saya, dan hal itu merupakan awal perjalanan iman saya seumur hidup, yang melewati banyak sekali lika-liku dan akhirnya berakhir di sebuah jalan buntu yang ternyata, sesungguhnya, adalah jalan baru yang saya lalui sampai sekarang, selama lebih dari tiga puluh tahun!!!

Dan saya telah menulis buku ini bagi anda semua. Dibandingkan dengan bahan karya tulis saya yang lain, bahan di dalam buku saya ini sudah bercokol dalam benak saya lebih lama, yakni sejak tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih berusia belasan akhir dan baru saja memulai untuk mempelajari Perjanjian Baru.
Kembali ke waktu tiga puluh tahun yang lalu. Sesungguhnya, orang-orang yang mengalami kelahiran kembali seperti kami menganggap diri sebagai orang "Kristen sejati" – berbeda dengan orang-orang yang sekedar pergi ke Gereja sebagai rutinitas belaka, yang tidak benar-benar memiliki Kristus dalam hati mereka dan dengan demikian hanya melakukannya secara mekanis tanpa kesungguhan.

Salah satu cara kami membedakan diri kami dengan orang-orang lain adalah dengan memiliki komitmen terhadap pelajaran Alkitab dan doa. Terutama pelajaran Alkitab. Bruce sendiri sangat gandrung akan Alkitab; ia adalah lulusan Moody Bible Institute di Chicago dan bisa mengutip Alkitab untuk menjawab setiap pertanyaan yang terpikirkan oleh kami (dan banyak pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh kami!). tak lama kemudian, saya mulai merasa iri dengan kemampuan Bruce mengutip Alkitab sehingga saya pun mulai mempelajarinya sendiri, dengan mendalami beberapa ayat, memahami relevansinya, dan bahkan menghafalkan ayat-ayat kuncinya.
Mengetahui hal tersebut, Bruce mengatakan bahwa saya sebaiknya menjadi orang Kristen yang "Serius" dan membaktikan diri saya sepenuhnya pada iman Kristen. Hal itu berarti bahwa saya harus mempelajari Alkitab secara penuh di Moody Bible Institute, yang, antara lain, menuntut adanya perubahan gaya hidup secara drastis. Disini ada sebuah "kaidah" etika yang harus ditandatangani oleh para mahasiswa yaitu : dilarang minum, merokok, menari, bermain kartu, menonton film. Dan harus banyak belajar Alkitab. Kami selalu berujar, "Moody Bible Institute, di mana Bible (Alkitab) adalah nama tengah kami." Saya menganggapnya tempat penggodokan orang Kristen. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak memiliki iman yang setengah-setengah; saya pun mendaftar ke Moody Bible Institute, diterima, dan mulai kuliah di sana pada musim gugur tahun 1973.

(Komentar Kristolog: wah itu berarti waktu saya berusia 2 tahun, dong!).

Di Moody Institute, saya sangat sibuk buk-buk. Saya memutuskan untuk mengambil jurusan teologi Alkitab, yang artinya banyak belajar Alkitab dan mengikuti berbagai kuliah teologi secara sistematis. Hanya ada SATU SUDUT PANDANG yang diajarkan dalam kuliah-kuliah itu, yang dianut oleh semua dosennya (mereka harus menandatangani sebuah pernyataan) dan oleh semua mahasiswanya (kami harus pula menandatanganinya), yaitu : "Alkitab adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah. Semua isi Alkitab adalah benar. Seluruh Alkitab adalah terilham, termasuk kata-katanya – "pengilhaman kata per kata, atau mutlak". Semua kuliah yang saya ikuti meyakini mentah-mentah sudut pandang ini dan mengajarkannya; sudut pandang lain dianggap menyimpang atau bahkan bid'ah. Beberapa orang, saya kira, menyebutnya cuci otak. Bagi saya, hal itu merupakan peningkatan besar dari pandangan lemah terhadap Alkitab yang saya dapatkan dahulu sewaktu saya masih menjadi remaja gereja Episkopal yang suka bersosialisasi.

Namun, ada satu masalah besar dan nyata tentang pernyataan bahwa Alkitab diilhami secara kata per kata. Sebagaimana kami pelajari di Moody dalam salah satu kuliah pertama pada kurikulumnya, kami sebenarnya tidak memiliki tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang asli. Yang kami miliki hanyalah salinan-salinan dari tulisan-tulisan itu, yang dibuat bertahun-tahun kemudian – dalam kebanyakan kasus, berpuluh-puluh tahun kemudian. Selain itu, tidak satu pun dari salinan-salinan itu benar-benar akurat, karena para penyalinnya secara tidak sengaja dan/atau sengajar merubah beberapa bagiannya. Semua penyalin melakukannya. Maka, alih-alih memiliki kata-kata terilham dari autograf-autograf itu (yakni naskah-naskah aslinya), kita hanya mempunyai salinan-salinan yang sarat kekeliruan dari autograf-autograf itu. Oleh karenanya, salah satu tugas yang paling penting dan mendesak bagi saya adalah memastikan apa yang dikatakan Alkitab yang asli, mengingat fakta bahwa (1) naskah-naskah asli itu terilhami oleh Allah dan (2) kita tidak memilikinya.

(Komentar Kristolog: perlu pak profesor ketahui bahwa naskah-naskah "asli" Alkitab yang anda maksud itu pun, adalah terdiri dari tulisan-tulisan orang yang jumlahnya banyak, menceritakan tentang kisah yesus dari sudut pandang mereka masing-masing. Dan Alkitab yang mereka bikin itu menjadi pedoman bagi gereja mereka masing-masing. Banyak gereja, banyak pula Alkitab mereka).

Harus saya katakan kepada anda sekalian bahwa banyak teman saya di Moody tidak menganggap serius dan penting permasalahan ini. Mereka sudah cukup puas diri dengan menerima pernyataan bahwa autograf-autograf itu telah terilhami, dan boleh dibilang tidak menganggap heboh masalah autograf-autograf itu sudah lenyap sekarang ini. Namun, bagi saya, hal itu merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian penuh. Yang diilhami oleh Allah adalah kata-kata Alkitab itu sendiri. Maka, tentu saja kita harus tahu apa kata-kata itu jika kita ingin tahu apa yang telah Dia komunikasikan kepada kita, karena kata-kata itu adalah kata-kata-Nya, dan kata-kata lainnya (yang diciptakan secara tidak sengaja atau sengaja oleh para penyalin) tidak akan banyak membantu jika kita ingin tahu apa kata-kata-Nya.

Hal itulah yang menggugah minat saya, yang pada saat itu sudah berusia 18 tahun, terhadap manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru tersebut. Di Moody, saya mempelajari dasar-dasar suatu bidang ilmu yang disebut "Kritik Naskah" – suatu istilah teknis yang berarti ilmu yang mempelajari cara memulihkan kata-kata "asli" sebuah naskah yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip yang telah mengubah kata-kata itu. Tetapi saya belum memiliki cukup kemampuan untuk melakukan penelitian itu: pertama-tama saya harus mempelajari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa asli Perjanjian Baru, dan mungkin bahasa-bahasa kuno lainnya seperti Ibrani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama) dan Latin, belum lagi bahasa-bahasa Eropa modern seperti Jerman dan Prancis, supaya saya bisa melihat apa yang dikatakan para cendekiawan lain tentang hal-hal tersebut. Jalan masih panjang membentang.

Pada akhri kuliah tiga tahun saya di Moody (kuliah saya program diploma 3 tahun), saya telah menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah di sana dengan baik dan sudah bertekad lebih serius lagi untuk menjadi seorang cendekiawan Alkitab. Pada waktu itu saya berpikir bahwa ada banyak cendekiawan berpendidikan tinggi di kalangan orang Kristen evangelis, tetapi tidak ada banyak anggota envangelis di kalangan cendekiawan berpendidikan tinggi (sekuler), maka saya ingin menjadi "suara" evangelis dalam lingkungan sekuler, dengan cara mendapatkan gelar-gelar yang akan memungkinkan saya mengajar dalam lingkungan sekuler sambil mempertahankan komitmen evangelis saya. Namun, pertama-tama, saya harus mendapatkan gelar sarjana, dan oleh karena itu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di universitas evangelis terkemuka. Saya memilih Wheaton College, yang terletak di pinggir kota Chicago.

Orang-orang di Moody memperingatkan saya bahwa tidak mudah untuk menemukan orang-orang Kristen sejati di Wheaton – yang memperlihatkan betapa fundamentalistnya Moody: Wheaton hanya untuk orang Kristen evangelis dan adalah almamater Billy Graham, misalnya. Dan awalnya, saya memang mendapati bahwa Wheaton terlalu terasa liberal untuk selera saya. Mahasiswa di sana bicara soal sastra, sejarah, dan filsafat, bukannya pengilhaman kata-kata Alkitab. Mereka melakukan hal itu dari sudut pandang Kristen, tetapi meskipun demikian: tidakkah mereka menyadari apa yang benar-benar penting?

Saya memutuskan untuk mengambil jurusan sastra Inggris di Wheaton, karena saya sudah lama sangat gemar membaca dan karena saya tahu bahwa untuk bisa masuk ke kalangan akademisi, saya harus menjadi pakar dalam suatu bidang keilmuan selain Alkitab. Saya juga memutuskan untuk memperdalam bahasa Yunani. Kemudian, pada semester pertama di Wheaton, saya bertemu dengan Dr. Gerald Hawthorne, dosen bahasa Yunani saya dan orang yang menjadi sangat berpengaruh dalam kehidupan saya sebagai cendekiawan, dosen, dan, akhirnya, sahabat. Hawthorne, sebagaimana umumnya dosen-dosen saya di Wheaton, adalah orang Kristen evangelis yang saleh. Tetapi, ia tidak takut untuk mempertanyakan imannya. Pada waktu itu, saya menganggap sikapnya itu sebagai tanda kelemahan (malah, saya pikir saya bisa menjawab hampir semua pertanyaan yang dibingunginya); tetapi akhirnya saya memandangnya sebagai pembaktian sejati terhadap kebenaran dan sebagai kerelaan untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa pandangannya perlu disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalaman hidup yang didapat.

Belajar bahasa Yunani merupakan pengalaman yang seru bagi saya. Ternyata, saya cukup bagus dalam menguasai dasar-dasar bahasa itu dan selalu berhasrat untuk memperdalamnya lagi. Tetapi, pada tingkatan yang lebih dalam, pelajaran bahasa Yunani itu sedikit mengganggu saya dan pandangan saya terhadap Alkitab. Saya langsung bisa melihat bahwa makna dan nuansa sepenuhnya dari naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani hanya bisa ditangkap apabila naskah itu dibaca dan dipelajari dalam bahasa aslinya (begitu pula dengan Perjanjian Lama, sebagaimana yang belakangan saya ketahui ketika saya sudah menguasai bahasa Ibrani). Saya pikir, hal itu menguatkan alasan saya untuk mempelajari bahasa tersebut secara lebih seksama. Pada saat yang sama, hal itu mulai membuat diri saya mempertanyakan pemahaman saya mengenai Alkitab sebagai firman Allah yang diilhami kata per kata. Jika makna sejati dari kata-kata Alkitab hanya bisa ditangkap dengan mempelajarinya dalam bahasa Yunani (dan Ibrani), tidakkah hal itu berarti bahwa sebagian orang Kristen, yang tidak bisa membaca dalam bahasa-bahasa kuno, tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami apa yang Allah ingin agar mereka ketahui? Dan tidakkah hal itu menjadikan doktrin pengilhaman sebagai doktrin untuk kaum elite cendekiawan saja, yang memiliki keterampilan intelektual dan kemudahan untuk mempelajari bahasa dan meneliti naskah-naskah Alkitab dengan membaca naskah aslinya? Apa gunanya mengatakan bahwa kata-kata itu diilhami oleh Allah jika kebanyakan orang sama sekali tidak bisa memperoleh kata-kata itu, tetapi hanya bisa memperoleh terjemahan-terjemahan yang boleh dibilang "asal" saja ke suatu bahasa, misalnya bahasa Inggris, yang tidak ada kaitannya dengan kata-kata aslinya?!

Pertanyaan-pertanyaan saya kian menjadi rumit ketika saya semakin memikirkan manuskrip-manuskrip yang menampilkan kata-kata itu. Semakin dalam saya mempelajari bahasa Yunani, semakin tergugah pula minat saya terhadap manuskrip-manuskrip yang melestarikan Perjanjian Baru bagi kita, dan terhadap ilmu kritik naskah, yang semestinya bisa membantu kita melakukan reka ulang terhadap kata-kata asli Perjanjian Baru. Saya terus-menerus kembali kepada pertanyaan saya yang mendasar : apa gunanya kita mengatakan bahwa Alkitab adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah jika pada kenyataannya kata-kata yang ada dalam Alkitab kita bukanlah kata-kata yang terilham dan tidak bisa salah dari Allah, melainkan Cuma kata-kata yang disalin oleh para penyalin- yang kadang-kadang benar, kadang-kadang (sering!) salah? Apa gunanya kita mengatakan bahwa autograf-autograf (naskah-naskah asli) itu diilhami? Kita tidak memiliki naskah-naskah asli itu! Kita hanya memiliki salinan-salinan yang sarat kekeliruan, dan sebagian besar dari salian-salinan itu sudah terpisah selama berabad-abad dari naskah-naskah aslinya dan berbeda dengan naskah-naskah asli itu, dan tampaknya, perbedannya banyak sekali.
Keraguan-keraguan tersebut menghantui saya sekaligus memacu saya untuk terus menggali lebih dalam lagi agar bisa memahami apa sebenarnya Alkitab itu. Saya berhasil menyelesaikan pendidikan kesarjanaan saya di Wheaton dalam waktu dua tahun dan memutuskan, dibawah bimbingan Profesor Hawthorne, untuk mendalami bidang kritik naskah Perjanjian baru lewat penelitian bersama dengan seorang pakar terkemuka dunia di bidang tersebut, seorang cendekiawan bernama Bruce M. Metzger yang mengajar di Princeton Tehological Seminary.

Sekali lagi saya diperingatkan oleh rekan-rekan evangelis saya untuk tidak pergi ke Princeton Seminary, karena, kata mereka, saya akan mengalami kesulitan untuk menemukan orang Kristen "Sejati" disana. Lagipula, seminari itu milik gereja Presbyterian, bukan tempat yang pas bagi orang Kristen yang "dilahirkan kembali untuk bertumbuh". Tetapi, kuliah saya di bidang sastra Inggris, filsafat, dan sejarah – belum lagi bahasa Yunani – sangat memperluas wawasan saya, dan sekarang saya merasa haus akan pengetahuan, segala macam pengetahuan, rohani dan sekuler. Jika, karena mempelajari "Kebenaran", saya tidak cocok lagi untuk disebut orang Kristen "yang dilahirkan kembali", biar saja. Pokoknya, saya ingin mengejar kebenaran ke mana pun saya harus pergi, karena saya yakin bahwa dari semua kebenaran yang saya pelajari, tak ada satu pun yang kurang benar sehingga bisa dianggap mengejutkan atau sulit diterima oleh standar-standar kaku yang disediakan oleh latar belakang evangelis saya.

Setibanya di Princeton Theological Seminary, saya segera mendaftar untuk mengikuti kuliah eksegesis (penafsiran) bahasa Ibrani dan Yunani tahun pertama, dan membuat jadwal sepadat-padatnya untuk menghadiri kuliah tersebut. Saya mendapati bahwa mata kuliah tersebut cukup menantang secara akademis maupun secara pribadi. Tantangan akademisnya sama sekali tidak menjadi masalah, tetapi tantangan-tantangan pribadi yang saya hadapi terasa agak meletihkan secara emosi. Sebagaimana telah saya ceritakan, di Wheaton saya sudah bertanya-tanya tentang beberapa aspek mendasar komitmen saya terhadap Alkitab sebagai firman yang tidak bisa salah dari Allah. Komitmen itu diserang secara gencar ketika saya mendalami kuliah-kuliah saya di Princeton. Saya menolak godaan apa pun untuk mengubah pandangan-pandangan saya, dan menemukan beberapa teman yang, seperti saya, berasal dari sekolah evangelis konservatif dan sedang berupaya "menjaga iman" (istilah lucu – kalau saya mengenang hal itu – mengingat kami sedang mengikuti kuliah teologi Kristen!). tetapi, kuliah-kuliah itu mulai merusak (iman) saya.

Berikut Perbedaan-perbedaan (kontradiksi) yang terdapat di dalam Alkitab :
1. Abyatar atau Ayah Abyatar yang menjabat sebagai Imam besar ?
Markus 2:23-26: Yesus mengingatkan orang-orang tentang Raja Daud yang masuk ke dalam Rumah Allah "sewaktu Abyatar menjabat sebagai imam besar".

Versus

1 Sam 21:1-6 : ternyata Daud melakukan hal itu ketika ayah Abyatar, Abimelekh, menjabat sebagai imam besar.
2. Biji sesawi adalah Biji paling kecil dari segala jenis benih yang ada di bumi ? Bohong.
Markus 4:31
Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.
3. Yesus disalib sebelum Paskah atau setelah Paskah?
Markus 14:12; 15:25
Yesus disalib pada hari setelah perjamuan Paskah

Versus

Yohanes 19:14
Yesus wafat pada hari sebelum perjamuan Paskah
4. Yesus kecil pergi ke Mesir atau tidak?
Hanya Matius yang menceritakan bhw Yesus dan Keluarganya pergi ke Mesir.
Kitab Injil tiga yang lain tidak menceritakan apa-apa soal kepergian ke Mesir.
5. Paulus setelah bertobat mengunjungi atau tidak para rasul yang lain sebelum dia?
Galatia 1:16-17
1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.
Versus
Kis 9:26
Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

Dari contoh diatas terlihat bahwa bible-bible itu berbeda satu sama lain.

Kesadaran ini selaras dengan masalah-masalah yang sedang saya hadapi seiring semakin dalamnya penelitian saya terhadap manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru yang masih bertahan hingga sekarang ini. Disatu pihak, orang mengatakan bahwa naskah-naskah asli Alkitab diilhami, tetapi kenyataannya adalah kita tidak memiliki naskah-naskah asli itu – mengatakan bahwa naskah-naskah itu terilhami tidaklah banyak membantu, kecuali saya bisa memulihkan naskah-naskah aslinya. Selain itu, sebagian besar orang Kristen di sepanjang sejarah Gereja tidak memiliki akses untuk membaca naskah aslinya, sehingga keterilhaman naskah-naskah itu dipertanyakan. Kita bukan hanya tidak memiliki naskah aslinya, atau salinan dari salinan dari salinan dari salinan naskah aslinya. Yang kita miliki hanyalah salinan yang dibuat lama kemudian – sangat lama sekali. Dalam banyak kasus, salinan-salinan itu dibuat berabad-abad kemudian. Dan salinan-salinan itu berbeda satu sama lainnya, dan bagian yang berbeda berjumlah ribuan. Dalam buku saya ini, Misquoting Jesus, akan kita lihat, salinan-salinan itu berbeda satu dengan yang lainnya dalam begitu banyak bagian sehingga kita bahkan tidak tahu berapa banyak perbedaan yang sebenarnya ada. Mungkin hal itu bisa lebih mudah dipahami dengan perbandingan berikut : jumlah perbedaan yang terdapat di antara manuskrip-manuskrip kita lebih banyak daripada jumlah kata-kata dalam Perjanjian Baru !!!!!!!!!

Jika ada pendapat yang bersikukuh mengatakan bahwa Allah mengilhami kata-kata Alkitab, apa gunanya jika kita tidak memiliki kata-kata Alkitab tersebut? Dalam beberapa kasus, sebagaimana akan kita lihat dalam buku saya ini, kita benar-benar tidak bisa yakin bahwa kita telah memulihkan naskah aslinya secara akurat. Bagaimana kita bisa tahu arti kata-kata Alkitab jika kita bahkan tidak tahu apa kata-katanya?

Hal itu mengganggu pandangan saya terhadap pengilhaman, karena saya menyadari bahwa kalau Allah bisa mengilhami kata-kata Alkitab dahulu, pastilah Ia juga bisa melestarikannya. Jika Ia ingin agar umat-Nya bisa membaca firman-Nya, pastilah Ia akan memberikannya kepada mereka (dan bahkan mungkin memberikannya dalam bahasa yang bisa mereka pahami, bukan bahasa Yunani dan Ibrani). Fakta bahwa kita tidak memiliki kata-kata itu pastilah memperlihatkan, menurut saya, bahwa Ia tidak melestarikannya untuk kita. Dan jika Ia tidak melakukan mukjizat tersebut, tampaknya tidak ada alasan untuk berpikir bahwa Ia telah melakukan mukjizat yang sebelumnya, yakni pengilhaman kata-kata itu.

Singkatnya, penelitian saya terhadap Perjanjian Naru bahasa Yunani, dan penyelidikan saya terhadap manuskrip-manuskripnya, menghasilkan perubahan radikal terhadap pemahaman saya akan Alkitab. Hal itu merupakan perubahan yang sangat berpengaruh bagi saya. Sebelumnya – dimulai dari pengalaman lahir-kembali di SMA, melalui hari-hari saya di Moody sebagai fundamentalis, dan lewat hari-hari saya di Wheaton sebagai evangelis – iman saya didasarkan sepenuhnya pada pandangan bahwa Alkitab sepenuhnya diilhami, firman yang tidak bisa salah dari Allah. Sekarang, saya tidak lagi memandang Alkitab dengan cara seperti itu. Bagi saya, Alkitab mulai tampak sebagai buku yang sangat manusiawi. Sebagaimana para penyalin manusia telah menyalin, dan mengubah, naskah Alkitab, demikian pula para penulis manusialah yang pada awalnya menulis naskah Alkitab. Alkitab adalah buku yang manusiawi dari awal hingga akhir. Alkitab ditulis oleh beragam penulis manusia pada waktu yang beragam dan tempat yang beragam guna membahas beragam keperluan. Banyak dari para penulis itu tidak diragukan lagi percaya bahwa mereka diilhami oleh Allah untuk menulis Alkitab, tetapi mereka memiliki sudut pandang sendiri, kepercayaan sendiri, teologi sendiri; dan sudut pandang, kepercayaan, pandangan, kebutuhan, hasrat, dan teologi itu memberi informasi tentang segala sesuatu yang mereka tulis. Dalam semua itu, mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Diantaranya, hal itu berarti bahwa Markus tidak mengatakan hal yang sama seperti Lukas. Yohanes berbeda dengan Matius – tidak sama. Surat Paulus berbeda dengan buku Kisah. Dan Yakobus berbeda dengan Paulus. Tidap penulis Alkitab adalah penulis manusia dan karyanya harus dibaca sebagaimana sang penulis menulisnya, tidak menganggap bahwa apa yang dikatakan sang penulis sama, sesuai, atau konsisten dengan apa yang para penulis lainnya katakan. Alkitab, pada akhirnya, adalah buku yang sangat manusiawi.

Hal itu adalah sudut pandang yang baru bagi saya, dan tampaknya bukanlah pandangan yang saya miliki semasih menjadi orang Kristen evangelis – juga bukan pandangan kebanyakan anggota evangelis dewasa ini. Saya ingin memberi contoh tentang perbedaan yang bisa dihasilkan oleh perubahan sudut pandang saya dalam memahami Alkitab. Sewaktu saya kuliah di Moody Bible Institute, salah satu buku terpopuler di kampus adalah The Late Great Planet Earth, karya Hal Lindsay yang berisi rencana apokalips untuk masa depan kita. Buku Lindsay itu terkenal bukan hanya di Moody; sesungguhnya, buku itu merupakan karya nonfiksi terlaris (selain Alkitab; dan sebenarnya kurang cocok jika disebut sebagai karya nonfiksi) dalam bahasa Inggris pada tahun 1970-an. Lindsay, sebagaimana para penghuni Moody, percaya bahwa kata-kata Alkitab mutlak dan tidak salah, sehingga orang bisa membaca Perjanjian Baru lalu mengetahui bukan hanya sebagaimana Allah ingin kita hidup dan apa yang Ia ingin kita percayai, melainkan juga apa yang Allah sendiri rencanakan di masa depan dan bagaimana Ia akan melakukannya. Dunia ini sedang mengarah ke suatu krisis apokalips berupa bencana besar, dan kata-kata Alkitab yang tidak bisa salah dapat dibaca guna mengetahui apa, bagaimana, dan kapan semua itu akan terjadi.
Saya khususnya tertarik dengan kata "kapan". Lindsay menyebutkan perumpamaan Yesus tentang pohon Ara sebagai petunjuk mengenai kapan Armagedon akan datang. Murid-murid Yesus ingin mengetahui "kapan" itu datang, dan Yesus menjawab :

Matius :
24:32. Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
24:33 Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
24:34 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.
Apa arti perumpamaan itu? Lindsay, yang mengira bahwa hal itu adalah firman yang tidak bisa salah dari Allah sendiri, menyingkapkan pesan itu dengan menunjukkan bahwa di dalam Alkitab "pohon ara" sering kali digunakan untuk menggambarkan bangsa Israel. Apa artinya pohon itu mengeluarkan daun-daun? Hal itu berarti bangsa tersebut, setelah tidak aktif selama suatu musim (musim dingin), akan kembali aktif. Dan kapan Israel kembali aktif? Pada tahun 1948, sewaktu Israel sekali lagi menjadi bangsa berdaulat. Yesus menunjukkan bahwa akhir itu akan datang dalam generasi yang di dalamnya Israel menjadi bangsa berdaulat. Dan berapa lamakah satu generasi di dalam Alkitab? Empat puluh tahun. Maka, ajaran yang diilhami oleh Allah itu, yang diucapkan langsung oleh Yesus, mengatakan bahwa akhir dunia ini akan datang sebelum tahun 1988, empat puluh tahun setelah kebangkitan Israel.

(Komentar Kristolog: banyak sekali peristiwa-peristiwa bohong yang diramalkan akan terjadi berdasarkan pembacaan dari Alkitab. Bahkan terakhir, di Indonesia, muncul Sekte Kiamat, yang memperdaya masyarakat bahwa dunia akan kiamat. Dan bagi siapa yang masuk sekte ini akan diselamatkan oleh Yesus).

Pesan tersebut terasa begitu meyakinkan bagi kami. Mungkin hal itu terdengar aneh sekarang – mengingat fakta bahwa tahun 1988 telah lewat dan Armagedon tidak datang juga – tetapi, di pihak lain, ada jutaan orang Kristen yang masih percaya bahwa Alkitab bisa dibaca secara harfiah dan berisi prediksi yang diilhami sepenuhnya tentang apa yang akan terjadi untuk membawa dunia kita ini ke kesudahannya. Lihat saja betapa gandrungnya orang baru-baru ini terhadap seri Left Behind karya Timothy LeHaye dan Jerry Jenkins, yang juga sautu visi apokalips masa depan yang didasarkan atas pembacaan Alkitab secara harfiah, suatu seri yang telah terjual lebih dari enam puluh juta eksemplar di zaman kita ini.

Hal yang saya alami ini adalah perubahan besar, dari membaca Alkitab sebagai pembimbing yang tidak bisa salah untuk iman, kehidupan, dan masa depan kita, menjadi menganggapnya sebagai buku yang sangat manusiawi, berisi pandangan-pandangan sangat manusiawi, yang banyak diantaranya berbeda satu sama lain dan yang tidak satu pun darinya menyediakan bimbingan yang tidak bisa salah untuk kehidupan kita. Hal itu adalah perubahan cara berpikir yang akhirnya saya buat, dan yang terhadapnya saya sekarang berkomitmen penuh. Tentu saja, ada banyak orang Kristen yang memang sejak awal tidak pernah menganut paham bahwa Alkitab harus dibaca secara harfiah, dan menurut mereka, pandangan demikian adalah bias dan kurang berpemahaman (belum lagi aneh dan tidak ada hubungannya dengan persoalan iman-mengimani). Namun, masih ada banyak orang yang menganggap Alkitab seperti itu. Kadang-kadang, saya melihat stiker yang tertempel di bemper mobil berbunyi, "Allah bersabda, aku percaya, dan selesailah sudah." Tanggapan saya biasanya adalah, bagaimana jika Allah tidak bersabda? Bagaimana jika buku yang anda anggap berisi firman Allah ternyata hanya berisi firman manusia? Bagaimana jika Alkitab tidak memberikan jawaban pasti atas berbagai pertanyaan zaman modern ini – aborsi, hak-hak wanita, hak-hak kaum homoseksual, keunggulan agama, demokrasi gaya barat, dan semacamnya? Bagaimana jika kita harus memikirkan sendiri cara menjalani kehidupan dan apa yang harus kita percayai, tanpa menganggap Alkitab sebagai suatu ojek sembahan – atau suatu sarana yang menyediakan sambungan langsung untuk berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa? Ada alasan-alasan yang jelas untuk berpikir bahwa, sesungguhnya, Alkitab bukanlah bimbingan yang tidak bisa salah untuk kehidupan kita: antara lain, sebagaimana yang telah saya katakan, sering kali kita (sebagai cendekiawan, atau hanya sebagai pembaca biasa) bahkan tidak tahu apa kata-kata asli Alkitab yang sesungguhnya.

(Komentar Kristolog: saya juga pernah melihat dari belakang kaca sebuah angkot jurusan Cililitan – Taman Mini, yang saya tahu persis bahwa mobil angkot itu adalah milik etnis batak, yang mayoritas Kristen, bertuliskan : "If anything failed, try my Jesus!". Saya lalu menjawab dalam hati, "Memangnya apa di dunia ini yang bisa diselesaikan oleh Jesus? Kebanyakan dari perkumpulan umat Kristen hanya mengajarkan bahwa Yesus itu tidak lain dari pada penyembuh penyakit. Tapi, penyakit berat apa yang bisa disembuhkan oleh Jesus? Apakah kesembuhan itu adalah satu-satunya milik Kristen dengan Jesusnya?")

Kepercayaan saya berubah drastis setelah saya menyadari hal itu, mengantar saya ke jalan yang sangat berbeda dengan yang pernah saya tempuh sewaktu remaja dan di awal usia dua puluhan. Saya masih menjunjung Alkitab dan banyak pesannya yang bervariasi – seperti juga saya menjunjung tulisan-tulisan lain yang dibuat sekitar masa berdirinya agama Kristen dan tak lama sesudahnya, tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh yang kurang terkenal seperti Ignasius dari Antiokhia, Klemen dari Roma, dan Barnabas dari Aleksandria, dan seperti juga saya menjunjung tulisan-tulisan orang-orang dari agama lain yang hidup di sekitar masa itu, tulisan-tulisan Josefus, dan Lusian dari Samosata, dan Plutarkh. Semua penulis itu berupaya memahami dunia dan keberadaan mereka di dalamnya, dan semuanya memiliki hal-hal yang berharga untuk diajarkan kepada kita. Adalah penting untuk mengetahui kata-kata para penulis itu, sehingga kita bisa memahami pendapat dan penilaian mereka, dan bagaimana kita harus berpikir dan menjalani hidup sesuai dengan pendapat mereka itu.

Hal itu membuat saya kembali menekuni manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru dan kembali berkutat dalam bidang ilmu yang dikenal sebagai Kritik Naskah. Saya yakin bahwa kritik naskah adalah cabang ilmu yang menarik dan mengundang rasa penasaran, yang sangat penting bukan hanya bagi para cendekiawan melainkan juga bagi siapapun yang menyenangi Alkitab (tidak soal apakah anda penganut paham pembacaan harfiah, baru menganut paham demikian, tidak pernah mau menganut paham demikian, atau cuma sedikit tertarik pada Alkitab sebagai suatu fenomena sejarah dan budaya). Namun, yang mengejutkan adalah bahwa kebanyakan pembaca – termasuk yang meminati agama Kristen, Alkitab, pengkajian Alkitab, yang percaya bahwa Alkitab tidak bisa salah dan yang tidak percaya hal itu – tidak mengenal ilmu kritik naskah. Dan tidaklah sulit untuk mengetahui alasannya. Meskipun kritik naskah sudah digeluti secara akademis selama lebih dari tiga ratus tahun, jarang sekali ada buku yang ditulis tentang topik ini untuk pembaca awam – yakni orang-orang yang sama sekali tidak pernah mendengarnya, yang tidak berbahasa Yunani atau bahasa penting lain guna mempelajarinya secara mendalam, yang bahkan tidak tahu bahwa ada "masalah" sehubungan dengan naskah Alkitab, tetapi yang tertarik untuk mempelajari apa saja masalahnya dan bagaimana para cendekiawan berupaya mencari jalan keluarnya.
Seperti itulah buku Misquoting Jesus saya ini – sepengetahuan saya, satu-satunya buku seperti itu adalah buku ini. Buku saya ini ditulis untuk orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu kritik naskah tetapi ingin tahu tentang bagaimana para penyalin mengubah Alkitab dan tentang bagaimana kita bisa mengenali bagian-bagian yang mereka ubah. Buku ini ditulis berdasarkan pemikiran saya selama tiga puluh tahun mengenai subjek itu, dan dari sudut pandang saya yang sekarang, setelah melewati berbagai perubahan radikal berkenaan dengan pandangan saya terhadap Alkitab. Buku ini ditulis bagi siapa yang tertarik untuk mengetahui bagaimana Perjanjian Baru sampai ke tangan kita, bagaimana kita kadang-kadang tidak mengetahui apa kata asli yang dibuat para penulisnya, mengetahui dengan cara-cara menarik apa kata-kata itu kadang-kadang diubah, dan mengetahui bagaimana kita bisa, melalui beberapa metode analisis yang terperinci, memulihkan kata-kata asli itu. Dengan demikian, ada banyak hal yang menjadikan buku ini sangat pribadi bagi saya, hasil akhir dari perjalanan panjang saya. Mungkin, bagi orang lain, buku ini bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka sendiri.
* * *
DAFTAR ISI buku saya ini adalah :
1. Ucapan Terimakasih
2. Kata Pengantar
3. Asal Mula Alkitab Kristen
4. Para Penyalin Tulisan-Tulisan Kristen Awal
5. Naskah-Naskah Perjanjian Baru (Edisi, manuskrip, dan perbedaan)
6. Pencarian Asal-Usul (Metode dan Penemuan)
7. Naskah-Naskah Asli Yang Penting
8. Pengubahan Yang Dimotivasi Kepercayaan Teologis
9. Lingkungan Sosial Penyalinan
10. Kesimpulan : Mengubah Kitab Suci (Penyalin, Penulis, dan Pembaca).
11. Catatan-catatan
* * *

Berikut ini adalah kutipan-kutipan pilihan dari isi buku Misquoting Jesus ini. Selamat membaca :

ASAL MULA ALKITAB KRISTEN

Untuk berbicara tentang salinan-salinan Perjanjian Baru yang kita miliki, kita harus memulainya dengan membahas salah satu corak unik agama Kristen pada masa kebudayaan Yunani-Romawi dahulu : sifat kebukuannya. Malah untuk memahami sifat ini, kita harus mundur lagi ke masa sebelum agama Kristen didirikan dan kita harus membahas agama yang melahirkan agama Kristen, yakni Yudaisme.
Yudaisme, yang melahirkan agama Kristen, adalah sebuah agama di zaman Romawi yang bisa dibilang paling unik. Sebagaimana para penganut ratusan agama lain di kawasan Laut Tengah, orang-orang Yahudi mengakui keberadaan suatu alam roh yang dihuni oleh makhluk-makhluk adimanusiawi (malaikat, kepala malaikat, pemerintah, penguasa); mereka melakukan ibadat kepada suatu dewa melalui pengorbanan-pengorbanan binatang dan bahan makanan lainnya; mereka percaya bahwa ada suatu tempat kudus istimewa tempat dewa itu tinggal disini di bumi (bait Allah di Yerusalem), dan disanalah pengorbanan itu dilakukan. Mereka berdoa kepada Allah itu untuk memohonkan kebutuhan bersama dan pribadi. Mereka memiliki kisah-kisah bagaimana Allah itu berinteraksi dengan manusia di zaman dulu, dan mengharapkan bantuanNya pada masa sekarang. Dalam semua hal tersebutlah, Yudaisme terdengar "akrab" ditelinga para penyembah allah-allah lain di wilayah kekaisaran Romawi.

Namun, yang paling unik dari Yudaisme dibandingkan agama lain: Yudaisme bersifat monoteis sedangkan agama lain bersifat politeis. Agama lain punya dan menyembah banyak allah dari segala macam dan fungsi : allah-allah agung negara, allah-allah lebih rendah yang berasal dari lokasi-lokasi tertentu, allah-allah yang menguasai aspek kelahiran, kehidupan, dan kematian manusia. Sedangkan orang Yahudi hanya menyembah satu Allah saja dan yang menguasai seluruh alam ini. Agama-agama lain mempunyai sejumlah kuil bagi satu allah seperti Zeus. Sedangkan orang Yahudi bisa menyembah Allah di manapun mereka tinggal, tetapi mereka hanya bisa melakukan kewajiban agama mereka, yaitu persembahan korban, di bait Allah di Yerusalem saja.

Mungkin bagi orang-orang di zaman modern sekarang ini, yang sudah akrab dengan agama-agama barat kontemporer (Yudaisme, Kristen, Islam), sulit membayangkan bahwa buku nyaris tidak memiliki peran penting dalam agama-agama politeistik dari dunia Barat zaman dahulu. Agama-agama politeistik barat ini nyaris hanya berpikir tentang menghormati allah-allah melalui tindakan-tindakan ritual berupa persembahan korban. Tidak ada doktrin untuk dipelajari melalui buku, dan hampir tidak ada prinsip etika untuk diikuti melalui buku. Hal itu tidak berarti bahwa para penganut agama-agama politeistik tidak memiliki kepercayaan tentang allah-allah mereka atau bahwa mereka tidak punya etika, tetapi kepercayaan dan etika – meski kedengarannya aneh bagi telinga orang zaman sekarang – nyaris tidak memiliki peranan dalam agama. Karena agama-agama zaman dahulu itu sendiri tidak membutuhkan serangkaian "doktrin yang benar" atau, umumnya, "kode etik" tertentu, buku hampir tidak memiliki peranan di dalamnya.

Yudaisme unik karena agama ini menandaskan pada tradisi nenek moyang, adat istiadat, dan hukum, serta menyatakan bahwa hal-hal itu telah dicatat dalam buku-buku suci, yang, dengan demikian, memiliki status sebagai "tulisan kudus" bagi orang Yahudi.

Tentu saja, agama Kristen didirikan oleh Yesus, yang adalah seorang rabi (guru) Yahudi yang menerima wewenang Taurat, dan mungkin buku-buku suci Yahudi lainnya, dan mengajarkan pemahamannya terhadap buku-buku itu kepada murid-muridnya. Sebagaimana rabi-rabi lain pada zamannya, Yesus mengatakan bahwa kehendak Allah bisa ditemukan di dalam naskah-naskah suci, terutama hukum Musa. Ia membaca tulisan-tulisan kudus itu, mempelajari tulisan-tulisan kudus itu, menafsirkan tulisan-tulisan kudus itu, berpaut pada tulisan-tulisan kudus itu, dan mengajarkan tulisan-tulisan kudus itu. Para pengikutnya sejak awal adalah orang Yahudi yang sangat menjunjung tinggi tulisan-tulisan kudus mereka.

Kristen sebagai agama buku
Sebagaimana akan kita lihat sebentar lagi, fakta bahwa buku sangat penting bagi orang-orang Kristen masa awal tidak berarti bahwa semua orang Kristen bisa membaca buku; malah, sebagian besar orang Kristen masa awal, sebagaimana sebagian besar orang lain di seluruh Kekaisaran Romawi (termasuk orang Yahudi!), buta huruf. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa buku tidak memainkan peran penting dalam agama tersebut. Sesungguhnya, buku adalah sesuatu yang paling penting dan paling utama dalam kehidupan orang Kristen dalam jemaat-jemaat mereka.

Hal pertama yang bisa kita lihat adalah bahwa jemaat-jemaat Kristen abad pertama yang bertumbuh pesat setelah Yesus wafat menganggap penting berbagai macam tulisan. Bukti terawal yang kita miliki tentang adanya jemaat-jemaat Kristen berasal dari surat-surat yang ditulis oleh para pemimpin Kristen. Paulus adalah contoh terawal kita. Paulus mendirikan jemaat-jemaat di seantero daerah Laut Tengah bagian timur, terutama di kota-kota, tampaknya dengan cara meyakinkan orang-orang kafir (para penganut politeistik) bahwa Allah orang Yahudi adalah satu-satunya Allah yang harus disembah, dan bahwa Yesus adalah putraNya yang telah mati demi dosa dunia dan akan kembali tidak lama lagi untuk menghakimi dunia ini (1 Tes. 1:9-10).

(Komentar Kristolog: strategi jitu Paulus dalam melakukan kristenisasi adalah berpura-pura alias menjadi musang yang berbulu domba. Salah satu ajaran 'penyamaran' Paulus adalah :
I Korintus 7
7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
Galatia 6
6:15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
Kolose 3
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. )

Tidak jelas seberapa banyak Paulus menggunakan menggunakan tulisan-tulisan kudus Yahudi dalam upayanya untuk meyakinkan orang bahwa berita yang disampaikannya adalah benar; tetapi dalam salah satu ringkasan kunci pengajarannya, ia menunjukkan bahwa berita dia adalah "Kristus mati, sesuai dengan kitab suci…. dan bahwa Ia telah dibangkitkan sesuai dengan kitab suci" (1 Kor. 15:3-4). Tampaknya, Paulus menghubungkan peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus dengan penafsirannya atas bagian-bagian kunci Alkitab Yahudi, yang ia, sebagai seorang Yahudi berpendidikan tinggi, tentunya bisa baca sendiri, dan yang ia tafsirkan bagi para pendengarnya dalam upayanya yang sering kali sukses untuk menobatkan (mengkristenkan) mereka.
Setelah Paulus menobatkan sejumlah orang di suatu lokasi, ia akan pindah ke lokasi lain dan berupaya menobatkan orang-orang di sana juga. Tetapi, ia kadang-kadang (sering?) mendengar kabar dari salah satu jemaat Kristen yang telah ia dirikan, dan kadang-kadang (sering?) kabar itu tidak bagus: anggota jemaat mulai melakukan tindakan yang buruk, amoral, "guru-guru Palsu" telah muncul dan mengajarkan kepercayaan berbeda dengan kepercayaan Paulus dan seterusnya. Setelah mendengar kabar-kabar itu, Paulus biasanya menulis sepucuk surat untuk sidang itu, berisi cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Surat-surat itu sangat penting bagi kehidupan para anggota sidang, dan beberapa surat-surat itu akhirnya dianggap sebagai tulisan-tulisan kudus. Sebanyak tiga belas surat yang ditulis Paulus digabungkan ke dalam Perjanjian Baru.

Kita dapat memahami betapa pentingnya surat-surat itu pada tahap-tahap awal gerakan Kristen apabila kita melihat tulisan Kristen paling awal yang kita miliki, surat Paulus kepada jemaat Tesalonika, umumnya dikatakan berasal dari sekitar tahun 49 M, sekitar 20 tahun setelah Yesus wafat dan sekitar 20 tahun sebelum adanya injil yang mengisahkan dirinya. Dengan demikian, surat-surat sejenis itu sudah beredar di seluruh jemaat Kristen paling awal sejak masa yang paling awal!!!!!!!!!!!

Beberapa dari surat-surat itu akhirnya digabungkan ke dalam Perjanjian Baru. Bahkan, sebagian besar isi Perjanjian Baru adalah surat-surat yang ditulis oleh Paulus dan para pemimpin Kristen lain untuk jemaat-jemaat Kristen (misalnya jemaat Korintus, jemaat Galatia) dan orang-perorangan (misalnya Filemon). Selain itu, surat-surat yang masih ada hingga sekarang – ada 21 dalam Perjanjian Baru – hanyalah segelintir dari semua surat yang ditulis. Kalau kita bicara soal Paulus saja, kita bisa menyimpulkan bahwa surat yang ia tulis bukan hanya terdapat di Perjanjian Baru, melainkan jauh lebih banyuak lagi. Ia pernah menyebut tentang surat-surat lain yang sekarang sudah tidak ada lagi; misalnya, dalam 1 Kor. 5:9, ia menyebut tentang sepucuk surat yang sebelumnya pernah ia tulis kepada jemaat Korintus (beberapa waktu sebelum adanya surat Korintus yang Pertama). Dan ia menyebutkan surat lain lagi yang telah dikirimkan beberapa anggota jemaat Korintus kepadanya (1 Kor. 7:1). Pada kesempatan lain, ia menyebut tentang surat-surat yang dimiliki musuh-musuhnya (2 Kor. 3:1). Tidak satupun dari surat-surat itu yang masih ada.

Para cendekiawan telah lama menduga bahwa beberapa dari surat yang terdapat dalam Perjanjian Baru atas nama Paulus sebenarnya ditulis oleh para pengikutnya yang belakangan. Jika dugaan itu benar, justru hal itu akan menambah bukti bahwa surat-surat memegang peranan penting dalam gerakan awal Kristen masa awal: agar pandangannya didengar, seseorang membuat surat atas nama Paulus, mengira bahwa hal itu akan membuat surat tersebut tampak lebih sahih. Salah satu surat yang diduga dibuat oleh pengikut Paulus mencatut namanya adalah Kolose, yang isinya sendiri menandaskan pentingnya surat dan menyebutkan surat lain yang sekarang sudah tidak ada : "Dan apabila surat ini telah dibacakan kepada kamu sekalian, aturlah agar ini dibacakan juga di sidang jemaat Laodikia dan agar kamu juga membaca surat dari Laokidia (Kol. 4:16). Tampaknya, Paulus – entah ia sendiri atau seseorang yang menggunakan namanya – menulis sepucuk surat untuk kota tetangga, Laokidia. Surat ini juga sudah hilang.

Yang ingin saya katakan dalam buku ini adalah bahwa surat-surat sangat penting bagi kehidupan para anggota jemaat Kristen paling awal. Surat-surat itu adalah dokumen-dokumen tertulis untuk menuntun mereka dalam iman dan praktik. Surat-surat itu menyatukan jemaat-jemaat tersebut. Surat-surat itu turut membedakan agama Kristen dengan agama-agama lain yang bertebaran di seantero daerah kekaisaran Romawi, dalam arti bahwa beragam jemaat Kristen, yang disatukan oleh tulisan-tulisan untuk bersama yang dikirim-tukarkan itu (bandingkan Kol. 4:16 diatas), berpaut pada petunjuk yang terdapat dalam dokumen-dokumen tertulis atau "Buku".

Dan bukan cuma surat yang menjadi bagian penting dari jemaat-jemaat itu. Sesungguhnya, ada banyak sekali jenis tulisan yang dibuat, disebarkan, dibaca, dan diikuti oleh orang-orang Kristen masa awal, suatu hal yang sama sekali berbeda dengan agama lainnya dalam dunia kafir Romawi. Saya tidak akan menjabarkan semua tulisan itu secara panjang lebar, tetapi saya bisa menyebutkan beberapa contoh jenis buku yang ditulis dan disebarkan.

Injil Masa Awal Kekristenan
Orang Kristen pasti ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan, ajaran, kematian, dan kebangkitan Tuhan mereka; maka banyak Injil pun ditulis, yang berisi tradisi-tradisi yang dikaitkan dengan kehidupan Yesus. Ada 4 Injil yang paling sering digunakan – Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes – selain itu masih ada banyak lagi. Injil-injil yang lain tersebut masih ada hingga sekarang: misalnya Injil-injil yang diduga ditulis oleh Filipus murid Yesus, saudaranya Yudas Tomas, dan rekan wanitanya Maria Magdalena. Injil-injil lain, termasuk beberapa Injil yang paling awal, sudah hilang. Kita bisa mengetahui hal itu, misalnya, dari Injil Lukas, yang penulisnya menunjukkan bahwa dalam menulis injilnya, ia mengacu pada "banyak" karya pendahulu (Lukas 1:1), yang tampaknya sudah tidak ada lagi. Salah satu dari catatan-catatan yang lebih awal mungkin adalah dokumen yang oleh para cendekiawan disebut Q, yang kemungkinan besar adalah suatu catatan tertulis, yang isinya terutama tentang kata-kata Yesus, yang digunakan oleh Lukas maupun Matius untuk banyak ajaran Yesus yang khas (misalnya Doa Bapa Kami dan Sabda Berkat).

Sebagaimana telah kita bahas, kehidupan Yesus ditafsirkan oleh Paulus dan orang-orang lainnya dari sudut pandang tulisan-tulisan suci Yahudi. Buku-buku itu juga – Pentateukh maupun tulisan-tulisan Yahudi lainnya, seperti Para Nabi dan Mazmur – sering digunakan orang Kristen, yang menjelajahinya guna mengetahui apa kehendak Allah, terutama karena hal itu telah tergenap dalam diri Kristus. Salinan-salinan Alkitab Yahudi, biasanya dalam terjemahan bahasa Yunani (disebut Septuaginta), banyak tersedia, pada saat itu, di jemaat-jemaat Kristen sebagai bahan pelajaran dan perenungan.

Kisah Para Rasul Masa Awal
Selain kehidupan Yesus, kehidupan para pengikutnya yang paling awal juga diminati oleh jemaat-jemaat Kristen yang bertumbuh pesat pada abad pertama dan kedua. Maka, tidaklah mengejutkan bahwa kisah para rasul – perjalanan mereka dan pekerjaan utusan injil mereka, terutama setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus – merupakan hal yang penting bagi orang Kristen yang ingin mengetahui lebih banyak tentang agama mereka. Salah satu kisah itu, kisah Para Rasul, akhirnya digabungkan ke dalam Perjanjian Baru. Tetapi, ada banyak kisah lain yang ditulis, biasanya mengenai para rasul secara perorangan, seperti yang terdapat dalam Kisah Paulus, Kisah Petrus, dan Kisah Thomas. Kisah-kisah lainnya sudah hilang, atau, kalaupun masih ada, hanya tersisa dalam bentuk fragmen.

Wahyu Kristen
Seperti kita ketahui bahwa, Paulus (juga para rasul lainnya) mengajarkan bahwa Yesus akan datang kembali pada kali kedua dari surga untuk mengadakan penghakiman di bumi. Hal ini merupakan pokok yang terus diminati oleh orang Kristen, yang pada umumnya percaya bahwa Allah akan segera campur tangan dalam urusan dunia guna menghancurkan kekuatan jahat dan mendirikan kerajaanNya yang baik, dengan Yesus sebagai rajanya, disini di bumi. Beberapa penulis Kristen membuat catatan-catatan nubuat tentang apa yang akan terjadi pada akhir dunia yang datang tiba-tiba. Sebelumnya sudah ada catatan apokaliptik versi Yahudi, misalnya buku Daniel dalam Alkitab Yahudi atau buku 1 Henokh dalam apokrifa Yahudi. Dari antara tulisan-tulisan apokaliptik Kristen, ada satu yang akhirnya digabungkan ke dalam Perjanjian Baru: Wahyu kepada Yohanes. Yang lain-lainnya, seperti Wahyu kepada Petrus dan Sang Gembala karya Hermas, juga populer di sejumlah jemaat Kristen di abad-abad pertama.

Peraturan Gereja
Jemaat Kristen masa awal berlipat ganda dan berkembang, sejak jaman Paulus sampai generasi-generasi berikutnya. Pada awalnya, jemaat-jemaat Kristen, setidaknya yang didirikan oleh Paulus sendiri, adalah apa yang disebut sebagai jemaat karismatik. Mereka percaya bahwa setiap anggota jemaat telah diberi suatu "karunia" (bahasa Yunani : charisma) Roh guna membantu jemaat menjalani kehidupan: misalnya, ada karunia untuk mengajar, mengatur, berderma, menyembuhkan, dan bernubuat. Namun, pada akhirnya, ketika penantian akan akhir dunia yang dekat mulai meredup, semakin jelas bahwa struktur jemaat yang lebih kaku perlu dibuat, terutama jika jemaat-jemaat itu ingin bertahan lama (bandingkan 1 Kor. 11; Mat. 16, 18). Jemaat-jemaat disekitar laut tengah, termasuk yang didirikan Paulus, mulai mengangkat para pemimpin yang akan memegang tanggungjawab dan membuat keputusan (alih-alih menganggap setiap anggota "sama-sama" dianugerahi Roh); aturan-aturan mulai dirancang, tentang bagaimana jemaat harus hidup rukun, menjalankan ritual-ritual suci (misalnya pembaptisan dan ekaristi), melatih anggota baru, dan sebagainya. Tak lama kemudian, dibuatlah berbagai dokumen yang mengatur cara memerintah dan mengorganisasi jemaat. Dokumen-dokumen yang disebut sebagai peraturan gereja itu menjadi semakin penting bagi jemaat Kristen di abad kedua dan ketiga. Pada tahun 100 M, dokumen seperti itu untuk pertama kalinya (sepanjang pengetahuan kita) ditulis dan disebarluaskan, dalam bentuk buku yang berjudul Didache (Ajaran) Dua Belas Rasul. Kemudian bermunculan karya-karya penerusnya.

Apologi Kristen
Seiring dengan semakin mantapnya keberadaan jemaat-jemaat Kristen, kadang-kadang ada tentangan dari orang Yahudi dan orang kafir yang menganggap agama baru itu suatu ancaman dan yang menuduh para pengikutnya melakukan praktek-praktek tidak bermoral dan merusak masyarakat (seperti halnya gerakan agama baru yang tumbuh masa sekarang ini dituduh). Tentangan itu mengakibatkan penganiayaan orang Kristen di berbagai tempat; akhirnya penganiayaan itu menjadi "resmi", karena pemerintah Romawi campur tangan untuk menangkapi orang Kristen dan berupaya memaksa mereka kembali ke kekafiran. Seiring tumbuhnya agama Kristen, banyak orang terpelajar masuk ke agama itu. Mereka sanggup mendiskusikan dan mengalahkan tuduhan-tuduhan yang biasanya dilontarkan terhadap orang Kristen. Tulisan-tulisan kaum terpelajar ini kadang-kadang disebut apologi, yang berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti "pembelaan" (apologia). Para pembela itu menulis berbagai pembelaan intelektual untuk agama baru itu, berupaya memperlihatkan bahwa alih-alih mengancam struktur sosial daerah kekuasaan Romawi, agama baru itu justru mengajarkan perilaku yang bermoral. Apologi-apologi ini sangat penting bagi para pembaca Kristen masa awal, karena tulisan-tulisan itu berisi argumen-argumen yang dibutuhkan mereka untuk menghadapi penganiayaan. Pembelaan seperti itu sudah dilakukan pada masa Perjanjian Baru, misalnya, di dalam buku 1 Petrus 3:15 dan di buku Kisah Para Rasul, Paulus, dan rasul-rasul lain membela diri atas tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada mereka. Pada paruh kedua abad kedua, berbagai apologi telah menjadi bentuk populer tulisan Kristen.

Martirologi Kristen
Sekitar saat yang sama dengan mulai ditulisnya apologi-apologi, umat Kristen mulai membuat catatan-catatan tentang penganiayaan yang mereka alami dan kematian sebagai martir yang diakibatkannya. Kedua hal itu digambarkan di Perjanjian Baru dalam buku Kisah Para Rasul, yang berisi narasi mengenai tentangan terhadap gerakan Kristen, penangkapan para pemimpin Kristen, dan pengeksekusian setidaknya salah satu dari mereka (Stefanus) (lihat Kis. 7). Belakangan, pada abad kedua, martirologi mulai muncul. Yang pertama adalah Matinya Polikarpus sang Martir. Polikarpus adalah seorang pemimpin Kristen penting yang melayani sebagai uskup di gerjea Smirna, di Asia Kecil, selama hampir keseluruhan paruh pertama abad kedua. Kisah kematian Polikarpus terdapat dalam sebuah surat yang ditulis oleh para anggota jemaatnya, untuk di kirimkan ke jemaat lain. Tak lama kemudian, kisah tentang para martir lainnya pun bermunculan. Kisah-kisah itu populer di kalangan orang Kristen, karena hal itu menguatkan orang-orang yang juga dianiaya karena iman, dan menyediakan bimbingan tentang cara menghadapi ancaman penangkapan, penyiksaan dan kematian.

Traktat Antibid'ah
Masalah-masalah yang dihadapi umat Kristen bukan hanya ancaman penindasan yang datang dari luar. Sejak awal, orang-orang Kristen sudah tahu bahwa diantara mereka sendiri terdapat perbedaan penafsiran terhadap "kebenaran" agama mereka. Paulus sendiri sudah mengecam "guru-guru palsu" – misalnya dalam suratnya kepada orang Kristen di Galatia. Dengan membaca catatan-catatan yang masih ada, kita bisa melihat dengan jelas bahwa musuh-musuh itu bukanlah berasal dari luar. Mereka adalah orang-orang Kristen yang memiliki pemahaman yang berbeda terhadap agama itu. Guna mengatasi masalah itu, para pemimpin Kristen mulai menulis traktat-traktat yang menentang "para bidah" (orang sesat); beberapa surat Paulus bisa dikatakan sebagai gambaran paling awal dari traktat demikian. Namun, pada akhirnya, orang-orang Kristen dari semua kelompok pendapat ikut serta dalam menetapkan "ajaran yang benar" dan dalam menentang orang-orang yang menganjurkan ajaran palsu. Yang menarik, kelompok-kelompok "guru-guru palsu" juga membuat traktat-traktat yang menentang "guru-guru palsu", sehingga kelompok yang menetapkan, sekali untuk selamanya, apa yang harus dipercayai orang Kristen kadang-kadang dibantah oleh orang-orang Kristen yang membela ajaran yang dinyatakan palsu. Hal itu bisa diketahui baru-baru ini dari penemuah tulisan-tulisan 'bidah', yang didalamnya orang-orang yang disebut bidah berpendapat bahwa pandangan mereka benar sedangkan pandangan para pemimpin gereja "ortodoks resmi" adalah salah.

Komentar Kristen Masa Awal
Menarik, komentar Kristen pertama terhadap naskah tulisan kudus Kristen justru dibuat oleh orang yang disebut bidah, seorang Gnostik pada abad kedua bernama Herakleon, yang menulis sebuah komentar tentang Injil Yohanes. Akhirnya, komentator, catatan pinggir, eksposisi praktis, dan homili tentang berbagai naskah menjadi hal yang umum dikalangan jemaat Kristen pada abad ketiga dan keempat.

PENYUSUNAN KANON KRISTEN
Akhirnya, beberapa dari buku Kristen itu dianggap sebagai sesuatu yang bukan hanya layak dibaca melainkan juga sebagai sesuatu yang sahih bagi kepercayaan dan praktik orang Kristen.

Asal mula Kanon Kristen
Bagaimanapun ceritanya, tak lama kemudian ajaran Yesus dianggap sama sahihnya dengan pernyataan Musa – yakni pernyataan taurat itu sendiri. Tidak cuma ajaran Yesus yang dianggap setara dengan tulisan kudus (seperti Taurat) oleh orang-orang Kristen abad kedua dan ketiga. Tulisan para rasulnya juga dianggap demikian. Buktinya terdapat di buku Perjanjian Baru yang ditulis terakhir, 2 Petrus, sebuah buku yang menurut para cendekiawan yang kritiknya paling sengit, ditulis secara pseudonim. Di 2 Petrus 3, sang penulis menyebutkan guru-guru palsu yang memutarbalikkan makna surat-surat Paulus agar sesuai dengan keinginan mereka, "sama seperti yang mereka lakukan dengan bagian-bagian lain dari tulisan kudus" (2 Petr. 3:16). Tampaknya, surat-surat Paulus disini dianggap sebagai tulisan kudus.

Peran liturgi dalam penyusunan Kanon
Penggunaan beberapa naskah tulisan Kristen dalam liturgi, meninggikan statusnya di mata sebagian besar orang Kristen sehingga naskah-naskah itu, seperti halnya kitab Yahudi ("tulisan para nabi"/ketubim), dianggap memiliki wewenang. Kemungkinan besar, penggunaan naskah "Kisah Para Rasul" yang biasanya dipahami sebagai injil – meninggikan statusnya. Ini bisa kita ketahui dari tulisan Justin Martyr, seorang Kristen yang terpelajar dan juga penulis apologi, misalnya, kita memperoleh gambaran tentang apa yang dilakukan dalam sebuah acara ibadah jemaat di kota asalnya, Roma :

Pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di desa berkumpul di satu tempat, dan kisah para rasul atau tulisan para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan; kemudian, ketika sang pembaca selesai, ketua secara lisan memberi petunjuk-petunjuk, dan memberi nasihat untuk meniru hal-hal baik itu…….(1 Apol. 67).

Peran Marcion Dalam Penyusunan Kanon
Pada saat yang sama dengan Justin Martyr, pada pertengahan abad kedua, seorang Kristen terkemuka lain juga aktif di Roma, Marcion, yang belakangan dinyatakan sebagai bidah. Perlu disimak, ia datang ke Roma dari Asia Kecil, setelah banyak menghasilkan uang dari bisnis pembuatan kapal. Ia memberikan sumbangan yang sangat besar kepada jemaat Roma, mungkin agar ia bisa diterima oleh jemaat. Ia tinggal selama lima tahun di Roma. Sebagian besar waktunya digunakan mengajarkan pemahamannya akan iman Kristen dan menjabarkan perinciannya dalam beberapa karya tulis. Mungkin, karya sastranya yang paling berpengaruh bukanlah apa yang ia tulis, melainkan apa yang ia edit. Marcion adalah orang Kristen pertama yang kita tahu membuat "Kanon" kitab suci – yakni sekumpulan buku yang, menurutnya, berisi naskah-naskah suci iman umat Kristen.

Guna memahami mengapa Marcion melakukan upaya awal menetapkan kanon itu, kita harus mengetahui sedikit tentang ajaran Marcion yang berbeda. Marcion sangat meminati kehidupan dan ajaran rasul Paulus, yang ia anggap sebagai rasul yang "benar" yang berasal dari masa awal berdirinya jemaat Kristen. Dalam beberapa dari suratnya, seperti Roma dan Galatia, Paulus mengajarkan bahwa kedudukan yang benar di hadapan Allah yang bisa diperoleh melalui iman kepada Kristus, bukan dengan melakukan perbuatan yang ditetapkan hukum Yahudi. Dari pembedaan antara hukum orang Yahudi dan iman kepada Kristus tersebut, Marcion menarik kesimpulan yang menurutnya logis, yakni ada perbedaan yang mutlak antara hukum di satu pihak dan injil di pihak lain. Karena hukum dan Injil sangat berbeda, tidaklah mungkin keduanya berasal dari Allah yang sama. Marcion menyimpulkan bahwa Allah Yesus (dan Paulus) bukanlah Allah Perjanjian Lama. Sesungguhnya, ada 2 Allah yang berbeda: Allah orang Yahudi, yang menciptakan dunia ini, menyatakan Israel sebagai umatnya, dan memberi mereka hukum yang keras; dan Allah Yesus, yang mengirim Kristus ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang dari kemurkaan Allah orang Yahudi, Sang Pencipta.

Marcion yakin bahwa pemahaman tentang Yesus ini diajarkan oleh Paulus sendiri, dan dengan demikian, tentu saja, kanonnya berisi Sepuluh surat Paulus yang ia miliki (semua ada di Perjanjian Baru kecuali Epistel pastoral 1 dan 2 Timotius dan Titus); dan karena Paulus kadang-kadang mengutip "Injil", Marcion memasukkan Sebuah Injil dalam kanonnya, suatu bentuk tulisan yang sekarang menjadi Injil Lukas. Itu saja. Kanon Marcion berisi 11 buku: tidak ada Perjanjian Lama, hanya satu Injil, dan 8 Epistel. Tetapi tidak hanya itu: Marcion menjadi percaya bahwa para penganut palsu yang tidak mempercayai pemahaman dia akan iman, telah menyebarkan kesebelas buku itu dengan cara menyalinnya, dan dengan menambahkan sedikit bagian di sana sini guna mengakomodasi kepercayaan mereka sendiri, termasuk anggapan yang "salah" bahwa Allah dalam Perjanjian Lama sama dengan Allah Yesus. Maka Marcion "Mengoreksi" kesebelas buku dalam kanonnya dengan mengedit acuan-acuan kepada Allah Perjanjian Lama, atau kepada penciptaan sebagai kerajaan Allah yang benar, atau kepada Hukum sebagai sesuatu yang harus diikuti.

Sebagaimana akan kita lihat, upaya Marcion untuk menyesuaikan naskah-naskah suci dengan ajarannya melalui pengubahan bukanlah suatu hal yang baru pertama kali dilakukan. Sebelum maupun sesudah dia, para penyalin sastra Kristen awal kadang-kadang mengubah naskah mereka untuk menyatakan apa yang mereka pikirkan sebagai yang bermakna.

Kanon "Ortodoks" Setelah Marcion
Banyak cendekiawan mengatakan bahwa, bertentangan dengan Marcion, orang-orang Kristen lain menjadi lebih berminat untuk menetapkan kriteria apa yang seharusnya menjadi bagian dari Kanon Perjanjian Baru. Menarik, pada zaman Marcion sendiri, Justin Martyr bisa berbicara agak samar tentang "kisah para rasul" tanpa menyebutkan yang mana dari buku-buku itu (mungkin Injil) yang diterima di jemaat-jemaat atau apa alasannya, sedangkan sekitar tiga puluh tahun kemudian, seorang penulis Kristen, yang juga menentang Marcion, mengambil pendirian yang jauh lebih sahih lagi. Ia adalah uskup Lyons di Gaul (sekarang Perancis), Irenaeus, yang menulis suatu karya yang terdiri dari atas lima seri yang menentang para bidah seperti Marcion dan penganut Gnostik, dan yang memiliki gagasan yang sangat jelas tentang buku mana yang harus dianggap sebagai bagian dari Injil Kanonik.

Dalam suatu bagian yang sering dikutip dari karyanya Melawan Kaum Bidah, Iranaeus mengatakan bahwa Marcion dan "bidah" lain telah salah mengira bahwa hanya ada satu injil yang bisa diterima sebagai tulisan kudus: Orang Kristen Yahudi yang tetap menjunjung keabsahan Hukum Musa hanya menggunakan Matius; kelompok-kelompok lain yang berpendapat bahwa Yesus bukanlah Kristus hanya menerima Injil Markus; Marcion dan para pengikutnya hanya menerima Injil Lukas; dan sebuah kelompok Gnostik bernama Kaum Valentinian hanya menerima Injil Yohanes. Tetapi, semua kelompok itu salah karena :

Tidak mungkin Injil bisa berjumlah lebih banyak atau lebih sedikit dari pada yang ada. Karena, mengingat ada 4 zona dunia tempat kita tinggal, 4 mata angin utama, sementara jemaat bertebaran di seluruh dunia, dan pilar serta dasar jemaat adalan injil………maka cocok bahwa jemaat harus memiliki 4 pilar……..
(Melawan Kaum Bidah 3.11.7).

Dengan kata lain, 4 ujung bumi, 4 mata angin, 4 pilar – dan tentu saja, 4 injil.
Maka, menjelang akhir abad kedua, ada orang-orang Kristen yang berpendapat bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes adalah injil; tidak lebih dan tidak kurang.

Debat tentang "Kriteria Kanon" terus berlanjut selama beberapa abad.
Tampaknya, orang-orang Kristen pada umumnya ingin tahu buku apa saja yang harus dianggap sahih sehingga mereka bisa (1) mengetahui buku mana saja yang harus dibaca dalam acara ibadat dan, dengan demikian, (2) mengetahui buku mana saja yang bisa dipercaya sebagai pembimbing yang dapat diandalkan mengenai apa yang harus dipercayai dan bagaimana harus bertingkah laku. Keputusan tentang mana buku yang pada akhirnya harus dianggap kanonik tidak dibuat secara otomatis atau bebas masalah; debat-debatnya berkepanjangan, dan kadang-kadang kasar. Banyak orang Kristen dewasa ini mungkin berpikir bahwa Kanon Perjanjian Baru sekadar muncul pada suatu hari, tidak lama setelah kematian Yesus, tetapi sesungguhnya tidak demikian. Sebenarnya kita telah berhasil menentukan kapan untuk pertama kalinya ada orang Kristen yang menyatakan kedua puluh tujuh buku Perjanjian Baru sebagai buku Perjanjian Baru – tidak lebih dan tidak kurang. Yang mengejutkan, orang Kristen ini menulis pada paruh kedua abad ke 4, hampir 300 tahun setelah buku-buku Perjanjian Baru sendiri ditulis. Sang penulis itu adalah Atanasius, seorang uskup yang sangat berpengaruh dari Aleksandria. Pada tahun 367 M, Atanasius menyusun surat pastoral tahunannya untuk jemaat-jemaat di Mesir yang berada di bawah yurisdiksinya, yang salah satu isinya adalah nasihat tentang buku mana saja yang harus dibaca sebagai kitab suci di Jemaat. Ia membuat daftar berisi kedua puluh tujuh buku Perjanjian Baru, tidak lebih. Dari catatan-catatan yang masih ada, hal itu adalah peristiwa pertama seseorang meneguhkan buku-buku kita sebagai Perjanjian Baru. Bahkan, peneguhan itu pun tidak membuat masalah menjadi selesai. Debat terus berlangsung selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Buku-buku yang kita sebut Perjanjian Baru baru terkumpul menjadi satu kanon dan dianggap sebagai kitab suci, yang berkekuatan tetap, ratusan tahun setelah buku-buku itu sendiri pertama kali dibuat.

(Komentar Kristolog: sungguh menyedihkan sekali iman kristen. Iman yang rusak dan dibangun dari fondasi yang lemah dan tidak kokoh. Diperbodoh oleh orang-orang yang tak mengenal Allah dan dari bangsa kafir (tak bersunat)).

PEMBACA TULISAN KRISTEN

Dibagian awal tadi, pembahasan kita berfokus pada penyusunan kanon kitab suci. Namun, sebagaimana telah kita lihat, ada banyak jenis buku yang ditulis dan dibaca oleh orang Kristen abad pertama, tidak hanya buku-buku yang menjadi Perjanjian Baru. Ada Injil-injil, kisah-kisah, surat-surat, dan wahyu-wahyu lainnya; ada catatan-catatan penganiayaan, kisah-kisah kematian sebagai martir, apologi-apologi iman, perintah-perintah gereja, serangan-serangan terhadap kaum bidah, surat-surat nasihat dan petunjuk, eksposisi-eksposisi tulisan kudus – seluruh rangkaian karya sastra yang turut mendefinisikan kekristenan dan menjadikannya sebuah agama. Akan sangat membantu jika pada tahap pembahasan ini kita mengajukan suatu pertanyaan dasar tentang semua karya sastra itu. Siapakah sebenarnya yang membacanya?

Di zaman sekarang ini, pertanyaan demikian bisa jadi terdengar aneh. Jika para penulis membuat buku untuk orang Kristen, pastilah orang-orang yang membacanya adalah orang Kristen. Tetapi, kalau konteksnya adalah zaman dahulu, pertanyaan cukup mengena, karena, pada zaman dahulu, sebagian besar orang tidak bisa membaca.

Penelitian-penelitian tentang melek huruf telah memperlihatkan bahwa apa yang mungkin kita pikir sebagai melek huruf massal sebetulnya adalah sebuah fenomena zaman sekarang, yang baru muncul pada saat terjadinya Revolusi Industri. Setelah negara-negara melihat adanya manfaat ekonomi apabila semua orang bisa membaca, barulah mereka mulai bersedia membaktikan sejumlah besar sumber daya – terutama waktu, uang, dan sumber daya manusia – yang dibutuhkan guna memastikan bahwa semua orang mendapatkan pendidikan dasar melek huruf. Dalam masyarakat non industri, sumber-sumber daya demikian sangatlah dibutuhkan untuk keperluan-keperluan lain, dan melek huruf tidak akan memperbaiki perekonomian maupun kesejahteraan masyarakat secara umum. Akibatnya, sebelum jaman modern tiba, dalam hampir semua masyarakat, jumlah orang yang bisa membaca dan menulis bisa dihitung dengan jari.

Penelitian terbaik dan paling berpengaruh tentang tingkat melek huruf zaman dahulu, yang dilaksanakan oleh Profesor William Harris dari Columbia University, menunjukkan bahwa pada waktu dan tempat yang terbaik – misalnya, Atena pada masa kejayaan kebudayaan Yunani – Romawi abad kelima SM – tingkat melek hurufnya jarang lebih tinggi dari pada 10%-15% populasi. Dengan kata lain, hal itu berarti di bawah kondisi terbaikpun, 85%- 90% populasi tidak bisa membaca dan menulis. Pada abad pertama masehi, di seluruh kekaisaran Romawi, tingkat melek hurufnya bisa jadi lebih rendah lagi.

Pada zaman dahulu, berapa banyak orang yang sesungguhnya bisa membaca naskah dan memahami apa yang ditulis disitu? Mustahil untuk menyebutkan sebuah angka, tetapi, tampaknya, persentasenya tidak terlalu tinggi. Ada berbagai alasan untuk bernalar bahwa di dalam jemaat-jemaat Kristen, jumlahnya lebih sedikit lagi dari pada populasi secara keseluruhan. Pasalnya, sebagian besar orang Kristen, terutama yang bergabung dengan gerakan itu pada masa awalnya, kelihatannya masih dari golongan rendah dan tidak terpelajar. Memang, ada pengecualian, misalnya Paulus dan para penulis lain yang hasil karyanya digabungkan ke dalam Perjanjian Baru dan yang tampaknya adalah para penulis yang cakap; tetapi pada umumnya, orang Kristen berasal dari golongan buta huruf!

Hal itu terutama berlaku bagi orang-orang Kristen pada masa paling awal, yaitu rasul-rasul Yesus. Dalam kisah Injil, kita menemukan bahwa sebagian besar murid Yesus hanyalah rakyat jelata dari Galilea – para nelayan tak terpelajar, misalnya. Dua dari mereka, Petrus dan Yohanes, dengan jelas dikatakan "buta huruf" di buku Kisah (4:13).

Kis 4:13
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

(Komentar Kristolog: lho, kalau Yohanes bukanlah orang terpelajar, tidak mungkin Injil Yohanes ditulis sendiri oleh murid Yesus yang tak terpelajar ini, Yohanes. Wah baru tahu saya. Ternyata Yohanes itu buta huruf!!!!!!!!).

Rasul Paulus menunjukkan kepada jemaat Korintus bahwa "tidak banyak dari kamu yang berhikmat menurut standar manusia" (1 Kor. 1:27, dalam beberapa terjemahan ayat 26) – yang bisa berarti bahwa hanya segelintir yang terpelajar, tetapi tidak sebagian besar. Sewaktu kita beralih ke abad kedua masehi, keadaan itu tidak banyak berubah. Sebagaimana telah saya tunjukkan, beberapa orang terpelajar bergabung dengan agama Kristen, tetapi sebagian orang Kristen berasal dari golongan yang lebih rendah dan tidak terpelajar.

Bukti untuk pandangan ini berasal dari beberapa sumber. Salah satu yang paling menarik adalah seorang kafir yang menentang agama Kristen bernama Celsus yang hidup di penghujung abad kedua. Celsus menulis sebuah buku berjudul Firman Yang Sebenarnya, yang didalamnya ia menyerang agama Kristen berdasarkan sejumlah alasan, dengan mengatakan bahwa agama tersebut bodoh, berbahaya, dan harus dihapuskan dari muka bumi. Sayang sekali, kita tidak memiliki buku itu; yang kita miliki hanyalah kutipan-kutipan darinya yang dimuat dalam tulisan-tulisan Bapa Gereja yang terkenal, Origen, yang hidup sekitar 70 tahun setelah Celsus dan diminta untuk menulis sanggahan terhadap tuduhan-tuduhan Celsus. Buku Origen, Melawan Celsus, masih ada hingga sekarang dan menjadi sumber informasi utama kita tentang apa yang dikatakan Celsus sang kritikus dalam bukunya yang dirancang untuk menyerang orang Kristen. Salah satu corak yang sangat bagus dari buku Origen adalah bahwa ia mengutip karya Celsus yang sebelumnya panjang lebar, kalimat demi kalimat, sebelum mengajukan penolakannya terhadap pendapat Celsus. Hal itu memungkinkan kita memunculkan kembali secara cukup akurat tuduhan-tuduhan Celsus. Salah satu tuduhan itu mengatakan bahwa orang Kristen adalah orang-orang bodoh dari kelas bawah.

Perhatikan tuduhan-tuduhan Celsus berikut ini :
Nasihat [orang Kristen] adalah seperti ini, "Jangan biarkan orang terpelajar, orang berhikmat, orang yang masuk akal datang mendekat. Karena kesanggupan-kesanggupan demikian kita pandang sebagai kejahatan. Tetapi bagi siapapun yang bodoh, yang bebal, yang tidak terpelajar, yang masih anak-anak, biarlah mereka datang dengan gagah." (Melawan Celcus 3.44).

Selain itu, kami melihat bahwa orang-orang yang membagikan pengetahuan rahasia mereka di pasar-pasar dan yang berkeliaran mengemis-ngemis tidak pernah memasuki perkumpulan orang terpelajar, mereka juga tidak berani menyingkapkan kepercayaan agung mereka di depan orang terpelajar; tetapi setiap kali mereka melihat anak-anak remaja dan gerombolan budak dan sekumpulan orang bodoh, mereka membujuknya dan memamerkan diri di hadapan mereka. (Melawan Celsus 3.50).

Di rumah-rumah pribadi kami juga melihat tukang wol, tukang sepatu, tukang penatu, dan orang udik yang paling buta huruf dan paling kampungan, yang tidak berani mengucapkan apa pun di depan panatua mereka dan tuan mereka yang lebih pandai. Tetapi setiap kali mereka memegang anak-anak sendirian dan beberapa wanita bodoh ada bersama mereka, mereka mengeluarkan beberapa pernyataan yang mencengangkan, seperti, misalnya, bahwa anak-anak itu tidak boleh menaati ayah dan guru mereka…….; mereka mengatakan bahwa ayah dan guru hanya bicara omong kosong dan tidak berpemahaman. …..tetapi, jika anak-anak itu mau, mereka harus meninggalkan ayah dan guru mereka, dan pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil yang adalah teman main mereka ke tokok tukang pakaian wol, atau ke toko tukang sepatu atau ke toko wanita penatu, sehingga mereka bisa belajar tentang penyermpurnaan. Dan dengan mengatakan hal itu, mereka membujuk anak-anak tersebut. (Melawan Celsus 3.56).

Origen membalas bahwa para penganut agama Kristen yang sejati sesungguhnya berhikmat (dan beberapa, sebenarnya, berpendidikan tinggi), tetapi mereka berhikmat dari sudut pandang Allah, bukan dari sudut pandang perkara duniawi. Dengan kata lain, ia tidak menyangkal bahwa jemaat Kristen sebagian besar terdiri atas golongan bawah yang tidak terpelajar.

PEMBACAAN DI HADAPAN UMUM
PADA MASA AWAL KRISTEN

Dengan demikian, kita melihat adanya suatu situasi yang paradoksal pada masa awal kekristenan. Agama ini bersifat kebukuan, dengan beragam tulisan yang terbukti sebagai hal terpenting bagi hampir semua aspek iman. Tetapi, sebagian besar orang tidak bisa membaca tulisan-tulisan itu. Bagaimana kita bisa menjelaskan paradoks ini?

Sebenarnya, persoalannya tidaklah terlalu aneh jika kita mengingat apa yang ditunjukkan sebelumnya, bahwa berbagai komunitas zaman dahulu biasanya menggunakan jasa orang yang melek huruf untuk orang yang buta huruf. Karena, pada zaman dahulu, "membaca" sebuah buku tidak selalu berarti membacanya sendiri, tetapi bisa juga berarti membacakannya dengan suara keras, kepada orang-orang lain. Seseorang bisa dikatakan telah membaca sebuah buku meskipun sebenarnya ia cuma mendengarkan buku itu dibacakan oleh orang lain. Tampaknya, kita bisa menyimpulkan secara pasti bahwa buku-buku – yang sangat penting bagi gerakan Kristen awal – hampir selalu dibacakan dengan suara keras dalam acara-acara sosial, misalnya, dalam acara-acara ibadat.
Ingatlah bahwa Paulus memerintahkan para pendengarnya di Tesalonika agar "suratnya dibacakan kepada semua saudara dan saudari" (1 Tes. 5:27). Pembacaan itu dilakukan dengan suara keras, dalam jemaat. Dan sang penulis Kolose mengatakan, "Dan setelah kamu selesai membaca surat ini, bacakanlah surat ini kepada jemaat Laodikia, dan bahwa kamu juga membaca surat untuk jemaat Laodikia (Kol. 4:16). Ingatlah juga laporan Justin Martyr yang mengatakan bahwa "pada hari yang disebut Minggu, semua yang tinggal di kota-kota atau di desa berkumpul di satu tempat, dan kisah para rasul atau tulisan para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan". (1 Apol. 67). Hal yang sama terdapat dalam tulisan-tulisan Kristen masa awal lainnya. Misalnya, dalam kitab Wahyu kita diberi tahu, "Diberkatilah orang yang membacakan kata-kata nubuat ini dan diberkatilah orang yang mendengarkannya (1:3) – jelas memaksudkan adanya pembacaan kitab Wahyu di depan umum. Dalam sebuah buku yang tidak begitu terkenal, berjudul 2 Klemen, yang berasal dari pertengahan abad kedua, penulisnya mengatakan, sehubungan dengan kata-kata nasihatnya, "Saya membacakan kepadamu permintaan untuk memperhatikan dirimu sendiri dan orang yang menjadi pembacamu" (2 Klem. 19.1).

Singkatnya, sebagian besar buku yang penting pada masa awal kekristenan dibacakan dengan suara keras oleh orang yang bisa membaca, sehingga orang yang buta huruf bisa mendengar, memahami, dan bahkan mempelajarinya. Meskipun sebagian besar penganut Kekristenan masa awal buta huruf, agama tersebut memiliki tingkat kesusasteraan yang tinggi (kebukuan).

Namun, ada persoalan-persoalan penting lainnya yang harus kita bahas. Jika buku begitu penting bagi agama Kristen masa awal, jika buku dibacakan kepada jemaat Kristen di seluruh wilayah Laut Tengah, bagaimana mereka memperolehnya? Bagaimana mereka menyebarluaskannya? Pada zaman itu belum ada komputer, sarana elektronik untuk mencetak, ataupun alat cetak huruf timbul portabel. Jika jemaat Kristen memperoleh beragam buku karena adanya penyebarluasan, bagaimana salinan-salinan yang disebarluaskan itu dibuat? Siapa yang menyalinnya? Dan yang paling penting untuk penyelidikan kita, bagaimana kita atau mereka bisa tahu bahwa salinan yang mereka peroleh itu akurat, apakah salinan itu tidak diubah-ubah selama proses penyalinannya?
Silahkan baca buku Misquoting Jesus karya Bart D. Ehrman.

Kristolog di lain waktu akan coba mengetikkannya untuk anda sekalian.

30 May 2007

Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi

Oleh : Fakta 29 May 2007 - 2:46 pm

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. ( Al Maa'idah : 54)

Ikuti dan Hadiri Aksi Massa :
Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi


Rabu, 30 Mei 2007 - Pukul 14.00 - selesai
di Masjid Noor Islam, Semaki Kulon
(Jalan Gayam, Sebelah Barat Stadion Mandala Krida)

Pembicara : K.H. Sunardi Syahuri (Ulama' dan Tokoh Jogja)
K.H. Thoha Abdurrahman (Ketua MUI DIY)
H. Muhammad Muqoddas
Irfan S. Awwas (Majelis Mujahidin Indonesia)
H.M. Jazir ASP (Ketua MPP BKPRMI)


Pesan ini disampaikan oleh :
Forum Ukhuwwah Islamiyah DIY : MUI DIY - DDII DIY-FSRMY-Jangkar Islam-FSLDK-KAMMMI DIY-HTI DIY-Arimatea-FKAM-FKRM-GPII-MMI-GAM-IKADI DIY-Hidayatullah-BKPRMI DIY-

TIDAK ADA PILIHAN LAIN : JOGJA FESTIVAL BUBAR !!

image


FUI GELAR DEMO DI DEWAN; Tolak Upaya Pemurtadan Umat
Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY menggelar aksi demonstrasi di depan gedung DPRD DIY, Sabtu (26/5) menolak upaya pemurtadan atas umat Islam secara terselubung. Karena itu, forum ini meminta kepada semua pihak tidak menggunakan kesempatan atas sikap toleransi umat Islam dengan memancing keresahan melalui kegiatan yang mengarah kepada pemurtadan.

Dalam aksi ini, FUI menggelar berbagai spanduk dan poster yang intinya tidak sependapat dengan kegiatan yang mengarah pada pemurtadan. Apalagi kondisi DIY sudah berjalan damai serta memiliki sikap toleransi antar umat beragama yang terbangun baik.Salah satu orator demo, Azis memperhatikan adanya gerakan yang berusaha menjerumuskan umat Islam. Karena itu kewaspadaan terhadap gerakan itu harus diperlukan.
Dalam demo tersebut disampaikan ketidaksetujuannya terhadap digelarkan Jogja Festival 2007. Alasannya event ini renta memicu persoalan SARA. Namun demikian kepada semua pihak untuk mewaspadai berbagai iming-iming, apapun bentuknya, yang ditawarkan pihak manapun.

Dalam pernyataan sikap FUI, juga meminta kepada umat Islam agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. (Jon)-f. Sumber : kr.co.id


Jogja Festival Dituntut Dibubarkan
Yogyakarta - Polda DI Yogyakarta dituntut membubarkan kegiatan Jogja Festival 2007. Kegiatan itu diindikasi mengandung upaya permurtadan dan kristenisasi massal.

Tutuntuan itu diserukan oleh 50-an orang yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Islam DIY. Mereka menggelar aksi di halaman Mapolda DIY, Jl Ringroad Utara, Condong Catur, Yogyakarta, Selasa (29/5/2007).

Para demonstran yang rata-rata mengenakan pakaian muslim, sorban dan kopiah ini mulai menggelar aksi sekitar pukul 10.00 WIB. Selain berorasi, mereka membentangkan berbagai spanduk yang antara lain bertuliskan "Tolak Jogja Festival 2007" dan "Polda harus bubarkan Jogja Festival".

Koordinator aksi dari Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta, Muhamad Tyas, dalam orasinya mengatakan, kegiatan Jogja Festival yang akan dilaksanakan di Stadion Mandala Krida pada Rabu 29 Mei 2007 sore harus dibubarkan, karena nyata-nyata melakukan pemurtadan terselubung.

Menurut Tyas, kegiatan itu direncanakan mendatangkan seorang tabib asing bernama Peter Youngren yang akan melakukan pengobatan gratis dan massal. Kegiatan serupa di Bandung dan Balikpapan berhasil dibubarkan.

"Karena itu kami meminta Polda DIY untuk membubarkan acara itu. Kegiatan itu harus digagalkan karena rentan dan dapat memicu isu SARA di kalangan masyarakat Jogja. Kami juga mendukung forum ukhuwah islamiyah Yogyakarta yang telah melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk membubarkan dan mencabut izin kegiatan tersebut," ujarnya.

Beberapa perwakilan dari demonstran diterima oleh Kapolda DIY Brigjen Pol Angorro Raharjo Harry Anwar. Mereka melakukan pertemuan tertutup di salah satu ruangan Mapolda DIY.

Jogja Festival 2007 merupakan kegiatan yang diadakan oleh para misionaris. Kegiatan itu antara lain akan diisi dengan dengan pengobatan gratis secara massal. Kegiatan tampaknya diadakan secara besar-besaran. Pantauan detikcom, ribuan poster dan spanduk tentang acara tersebut memenuhi tiap sudut kota Yogyakarta. (irw/sss/detik)

Pemurtadan Massal berkedok "Jogja Festival 2007"

Oleh : Fakta 29 May, 07 - 2:15 pm

imageKaum missionaris tidak jera-jeranya merongrong aqidah ummat Islam. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya sebuah festival penyembuhan di berbagai kota, dan yang akan datang adalah Jogja Festival 2007, yang akan digelar di Stadion Mandala Krida pada tanggal 30 Mei - 2 Juni 2007.

Event ini akan menghadirkan artis kafir ibukota, Adon "Base Jam" dan seorang evangelist terkenal dari Kanada, Dr. Peter Youngren, yang tak lain adalah tukang sihir kelas wahid. Dr.Peter sudah cukup dikenal di kalangan Nasrani sebagai seorang penginjil yang diberkati, sekaligus sudah berhasil memurtadkan (bahasa mereka : membuat orang-orang non Nasrani ikhlas kepada mukjizat Tuhan Yesus). Beberapa event sudah digelar oleh Dr. Peter, antara lain Festival Timika Indah (pada tahun 2006), Bali Gospel Festival (19 Juni 2006) dan masih banyak lagi acara serupa di berbagai kota. Di Bandung belum lama ini, acara kristenisasi massal berkedok penyembuhan ini berhasil digagalkan dan panitia penyelenggara memindahkan acara ke gereja.

Beberapa indikasi adanya unsur-unsur kristenisasi pada acara ini antara lain :
  1. Tidak adanya tulisan "untuk kristen", "untuk nasrani", atau "untuk kalangan sendiri" pada publikasi acara. Panitia justru mengundang semua orang , tidak memandang suku agama dan golongan. Undangan ini jelas sangat berbahaya dan mengancam aqidah ummat Islam, karena mereka mengundang ummat berbeda agama pada acara ibadah (pemberkatan) mereka.


  2. Menghadirkan evangelist terkenal dari luar negri, Dr.Peter Youngren, yang telah dikenal sebagai seorang penginjil handal yang menyebarkan agama nasrani dengan metode penyembuhan (memasukkan jin kafir ke tubuh pasien), sehingga pasien yang tadinya buta bisa melihat, tuli bisa mendengar dan lumpuh bisa berjalan.


  3. Acara dilaksanakan menabrak waktu sholat. Jelas, ini adalah upaya untuk membuat ummat jauh dari masjid dan melalaikan sholat. Acara tanggal 30 Mei 2007 di Mandala Krida dimulai pukul 17.00 WIB.


  4. Adanya protes dari berbagai ormas Islam di Bandung, menunjukkan acara ini bermasalah dan bukan lagi merupakan acara kerukunan, apalagi perdamaian ummat. Toleransi bukan berarti mengundang ummat beragama lain untuk hadir di sebuah acara pemberkatan.
    Usaha-usaha kristenisasi massal ini harus kita waspadai dan sebisa mungkin kita gagalkan. Sekedar informasi, publikasi acara ini ditempel secara masif, antara lain di baliho-baliho kota Jogja (jembatan kewek, perempatan ringroad jalan magelang, pingit, wirobrajan) dan tertempel di berbagai sudut kota Yogyakarta.

Bagi kita yang sudah membaca artikel ini, beritahukan kepada saudara, teman dan tetangga kita untuk tidak menghadiri acara ini. Insya Allah, ormas Islam yang ada akan sebisa mungkin menggagalkan acara ini, baik dengan cara lobi politis (melalui kekuatan parlemen), audiensi dengan pejabat kota Yogya (walikota, anggota dewan) dan dengan cara non formal lainnya.

image

AWAS, KRISTENISASI MASSAL ! GEMPA AQIDAH SIAP MELANDA JOGJA !


Semoga mengingatkan kita sebagai umat muslim bahwa "mereka" tidak senang dengan jatidiri kita sebagai muslim dan akan selalu merudak aqidah kita mencoba menjauhkan kita dari dien kita.

Simaklah kata-kata ini:
"Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus …"

Bagi yang berkenan, diharapkan bantuannya untuk menyebarkan berita ini. Saya sudah melihat pamflet publikasinya secara langsung yang sudah banyak dipasang di tempat-tempat strategis di Yogjakarta, jadi saya bisa mempercayai keakuratan berita ini. ( alikhwan.wordpress.com )

Baca artikel terkait pada link website di bawah ini :
- http://www.denpost.net/2006/06/20/hiburan1.htm
- http://bethanygraha.org/pubs/newsmain.asp?id=108&curpage=5
- http://www.cenderawasihpos.com/Timika/Timika.3.html

29 May 2007

Kejahatan Christian terhadap Islam dan Aceh

Oleh : Redaksi 27 May 2007 - 6:33 pm

imageOrientalis Kristen kelahiran Oosterhout ini tak percaya Tuhan. Tapi ia dijunjung sebagai pahlawan oleh Belanda atas keberhasilan memecah-belah ulama.

Nama lengkapnya, Christian Snouck Hurgronje, lahir di pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi.

Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. :foto

Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik.

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para perkembanagan selanjutnya.

Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia.

Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda.

Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak. Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar."

Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda". Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi ini tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang 'Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama.

Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu. Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan 'Ulama asal Aceh di Mekah. Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim atau asisten honorair.

Dalam buku "Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa", Utsman bin Abdullah Al-'Alawi dikenal seorang pengabdi Pemerintah Kolonial Belanda yang amat setia. Untuk kesetiaannya yang luarbiasa itu, ia dianugerahi "Bintang Salib Singa Belanda" tanggal 5 Desember 1899 tanpa upacara resmi. Ia bahkan pernah mengarang khotbah jum'at yang mengandung do'a dalam bahasa Arab untuk kesejahteraan Ratu Belanda Wilhelmina. Khotbah dan do'a itu kemudian dikenal di kalangan umat Islam sebagai "Khotbah Penjilat "….

Dalam upaya memadamkan pemberontakan Islam, Sayyid Utsman Al-'Alawi ini dikenal pula dengan fatwanya yang menyatakan bahwa jihad itu bukanlah perang melawan orang kafir, melainkan perang melawan nafsu-nafsu jahat yang bersarang pada diri pribadi setiap orang. Selain Al-'Alawi, Snouck juga dibantu sahabat lamanya ketika di Mekah, Haji Hasan Musthafa yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.


Keterangan Gambar : Rakyat Aceh Korban Keganasan Belanda melalui Tangan Tentara/Militia Bayaran Marsose atau Marechaussee


Pembersihan Aceh
Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, 'Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para 'Ulama.

Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya. Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" 'Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah.

Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan 'Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.

Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan 'Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. "

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, 'Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang 'Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 aia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama.

Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A'zhami, dalam bukunya, The History of The Qur'anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, "Kejahilan Muhammad" tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.''

Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A'zhami, The History of The Qur'anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.

Ia menulis "Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. " Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, 'Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. "

Devide et impera
Yang jelas, selama tujuh bulan Snouck berada si Aceh, sejak 8 Juli 1891, baru pada 23 Mei 1892, ia mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck.

Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.


Profil Masyarakat Atjeh yang damai yang dipimpin oleh Ulubalang


Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil. Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera.

Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung.

Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang. Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras.

Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata.

Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.

Sepionase?
Dr. P. Sj. Van Koningsveld, penulis Belanda yang gemar mengumpulkan tulisan-tulisannya bertalian kegiatan kontroversial Snouk mencatat beberapa perilaku Snouck Hurgronje. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentantangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden.

Dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989), Koningsveld menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107).

Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni.

Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: "Ia berlindung di balik nama "penelitian Ilmiah" dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah".

Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.

Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.

Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau perisriwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul "Aceh," memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul "Kejahatan Aceh." Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.

Dua buku ini bertolak belakang dari sisi materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh. Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah untuk memerangi rakyat Aceh. [Ditulis Indra Yogi. Tulisan ini disadur dari tulisan Dr. Daud Rasyid, MA, "Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi" dan beberapa sumber lain/hidayatullah.com]


Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

25 May 2007

Yahudi Berniat Hancurkan Perpustakan Bersejarah Palestina

Yahudi Berniat Hancurkan Perpustakan Bersejarah Palestina

Jumat, 25 Mei 2007
Zionis-Yahudi dikabarkan berniat menghancurkan perpustakaan bersejarah Palestina. Termasuk data sejarah dan budaya Palestina, demikian kutip TV Al-Alam

Hidyatullah.com

Zionis-Yahudi mengeluarkan instruksi untuk menghancurkan perpustakaan bersejarah Palestina. Perpustakaan ini adalah sebuah lembaga yang mengumpulkan data-data sejarah dan budaya Palestina.

Menurut laporan Televisi Al-Alam dari Baitul Maqdis, para pejabat Rezim Zionis mengingatkan kepada pengelola perpustakaan Al-Anshari di jalan Saint George, Baitul Maqdis untuk mengosongkan bangunan perpustakan bersejarah itu, yang kemudian akan dihancurkan.

Fahmi Al Anshori sebagai pemilik dan pengelola perpustaakan ini ketika diwawancarai Televisi Al-Alam mengatakan, "Perpustakaan ini menyimpan berbagai buku tentang sejarah Palestina serta sejarah Arab dan Islam. Dan selama 47 tahun, lebih dari 45 ribu jilid buku dikumpulkan di perpustakaan ini.

Berdasarkan laporan tersebut, Rezim Zionis terus menekan warga Arab di kawasan Baitul Maqdis dalam rangka mengubah sejarah serta identitas Arab dan Islam kota Baitul Maqdis, sedangkan warga Zionis yang berada di kawasan lain dipindahkan ke kota tersebut.
Upaya pengubahan identitas Islam di kota Baitul Magdis kian gencar setelah rezim Zionis Israel gagal melakukan penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha, dan rezim ini dalam penggalian tersebut sama sekali tak menemukan bukti bahwa warga Yahudi Zionis berasal dari kawasan ini.

Direktur Pusat Hukum Baitu Maqdis, Ziyad Al Hamudi, kepada Televisi Al-Alam menuturkan, "Zonis Israel begitu ngotot melakukan yudaisasi di kota Baitul Maqdis, dan sejak pendudukan atas Baitul Maqdis, mereka mengubah nama-nama tempat yang berciri Islam dan Arab di kota ini."
[irib/cha/www.hidayatullah.com]

Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam

Journey to Islam Oleh : Redaksi 23 May 2007 - 4:30 pm
imageWarga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:

Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.

"Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau," jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.


Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.


Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. "Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley," cerita ibu Ani.

Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.

"Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa," kata Nurdiana.

Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.


Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. "Kita lebih senang duduk di bawah sini," tuturnya dengan logat kental Manado.

Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. "Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini," cerita Yahya, sesekali disertai canda.

Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. "Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta," rinci Yahya.

Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. "Silakan diminum air panasnya," kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. "Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal," ujar Yahya.

Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. "Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama," katanya.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. "Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin," cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

 Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya 
Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. "Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal," tukasnya.

Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. "Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika," katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

"Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya," cerita Yahya.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. "Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya," cerita Yahya.


Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. "Malah saya dianggap sudah gila," katanya.

image Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. "Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar," ujar Yahya mengisahkan.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.


"Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu," cerita Yahya.

Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

"Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya," tutur Yahya.

Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. "Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak," tandasnya.


Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. "Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain," pungkasnya.

Sabtu, 4 November 2006
Sumber : http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=40935


Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us.

22 May 2007

Al-Qur'an dituduh menyadur Bible

Oleh : Redaksi 22 May 2007 - 2:33 pm

imageKehebatan al-Qur'an yang penuh dengan mukjizat, disambut dengan kedengkian oleh pihak Nasrani. Mereka berusaha menyerang otentisitas al-Qur'an dengan berbagai metode. Setelah gagal, mereka frustasi dan terus-menerus melakukan kritikan untuk menanamkan keraguan terhadap umat Islam. Salah satu kritikannya adalah menuding al-Quran sebagai kitab saduran.

Adalah Mohamad Guntur Romli, aktivis JIL yang getol menjajakan liberalisasi agama berkedok Islam. Dalam artikelnya belum lama ini, Guntur mencak-mencak menuding al-Qur'an sebagai kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan dan kitab-kitab sebelumnya.

"Kisah Isa (Yesus) dalam al-Qur'an yang menegaskan, Isa hanyalah seorang Rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah "saduran" dari keyakinan sebuah sekte Kristen," tulisnya.

Guntur menegaskan pula, "Al-Qur'an tetap memiliki banyak sumber dan 'proses kreatif' yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur'an adalah 'suntingan' dari 'kitab-kitab' sebelumnya, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya," (koran Tempo, 4 Mei 2007).

Tuduhan ini sebenarnya sudah basi, dan sama sekali tidak ada yang baru. Para orientalis dan misionaris Kristen sudah terlalu sering melontarkan tuduhan ini. Misalnya, FJL Menezes (1911) dalam karyanya The Life anda Religion of Mohammad:The Prophet of Arabia menuduh : "Tidak ada suatu apapun dari al-Qur'an itu, selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para sahabatnya."

Dalam jajaran pengritik al-Qur'an, tercatat nama-nama orientalis terkemuka, antara lain : G. Sale dalam buku Preliminary Discourse (1899) yang menyebutkan bahwa Muhammad adalah penulis asli al-Qur'an. Di belakang hari, kritikan serupa dikemukakan oleh Sir William Muir dan Wollaston (1905), Lammens (1926), Champion dan Short (1959), Glubb (1970), Robinson (1977), dan seterusnya.

Di Indonesia, tuduhan yang sama dilontarkan oleh evangelis Jansen Litik, Suradi ben Abraham, Pendeta Muhamad Nurdin, dan lain-lain. Jauh sebelumnya, Louis Hoyack dalam buku De Onbekende Koran menuduh al-Qur'an telah menjiplak Bibel : "De Koran staat vol van verhalen, ontleend aan het Oude en Nieuwe Testament, en ook aan andere bronnen, maar waar de profeet het noodig oordelde, een weinig geretoucheed" (hlm.74). (Al-qur'an berisi dongengan-dongengan yang dicuplik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dari sumber-sumber lain, tetapi di mana dianggap perlu oleh sang nabi maka diadakan penyuntingan disana-sini).

imageBila ditelaah secara kritis, kritik Guntur terhadap al-Qur'an itu sungguh tidak bermutu, karena tidak disertai data-data yang akurat dan faktual. Dalam ulasannya mengenai proses turunnya al-Qur'an, Guntur menganalisa bahwa ketika berbicara tentang pewahyuan al-Qur'an, Allah memakai dhamir nahnu (kata ganti plural "kami"). Menurutnya, kata "awhayna(kami wahyukan) dipakai dalam al-Qur'an lebih dari 30 kali, sedangkan kata "awhaytu" (aku wahyukan) hanya dipakai 8 kali. Bertolak dari data "awhayna" ini, Guntur menyatakan, proses turunnya al-Qur'an melibatkan kerja kolektif antara Tuhan dan manusia.

Dari penjelasan ini, terlihat jelas betapa Guntur adalah orang yang miskin data. Menurut penelitian Tim FAKTA dengan fasilitas program al-Qur'an digital, kata "awhaytu" dalam al-Qur'an hanya ada satu kata, yaitu dalam surah al-maidah:111, Itu pun bukan tentang pewahyuan al-Qur'an, melainkan ilham kepada para pengikut setia Nabi Isa (Hawariyun).

Selain itu, pemakaian kata ganti Nahnu (Kami) bukan berarti bilangan Allah itu jamak (plural), dan tidak berarti bahwa proses turunnya al-Qur'an itu melibatkan kerja sama antara Tuhan dan manusia. Dalam bahasa Arab, pemakaian kata ganti jamak untuk kata orang pertama tunggal (mutakallim mufrad) berarti penghormatan dan pengagungan (lit-ta'zhim).

Tidak benar tudingan Guntur bahwa pewahyuan al-Qur'an itu hasil kerja sama antara Tuhan dan manusia dengan menyadur dan menyunting kitab-kitab sebelumnya. Tudingan ini terbantah oleh ayat al-Qur'an serah al-Baqarah:41. Dalam ayat ini Allah memakai kata ganti tunggal "anzaltu" (Aku turunkan) ketika berbicara tentang turunnya al-Qur'an. Pada ayat tersebut Allah berfirman : "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur'an)...".

Ketika melontarkan tudingan al-Qur'an menyadur kitab sebelumnya (baca:Bibel), lagi-lagi Guntur memamerkan kemiskinannya dalam hal data. Sebagai seorang peneliti, seharusnya Guntur membktikan tuduhannya atas berbagai pertanyaan berikut : Pertama, jika al-Qur'an adalah kitab suci yang menyadur Bibel, maka ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur'an mana yang dianggapnya menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini Guntur, kapan Nabi Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika menyadurnya dalam al-Qur'an? Ketiga, menurut al-Qur'an, Muhammad adalah nabi yang ummiy (buta aksara). Tudingan bahwa beliau menyadur kitab-kitab sebelumnya, berarti menuding bahwa beliau bisa membaca. Siapa nama guru Nabi Muhammad yang mengajarkan baca-tulis?

Dalam artikelnya Guntur hanya bisa menuding tanpa membuktikan fakta dan data yang akurat. Karenanya, tudingan ini boleh disebut sebagai asbun.

Secara singkat, semua tuduhan itu kandas dengan sendirinya oleh firman Allah dalam surah al-'Ankabut:48-49 yang menyatakan Muhammad adalah nabi yang ummiy. Kenyataan bahwa al-Qur'an sepanjang sejarah dunia tidak pernah berubah setitikpun, membuktikan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah (firman Allah) yang redaksinya sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Sebab jika al-Qur'an adalah hasil karya manusia, pastilah dikemudian hari akan mengalami editing (perubahan), karena hasil karya manusia memiliki banyak keterbatasan.

Jelaslah bahwa al-Qur'an bukan kitab saduran. Lantas siap ayang sebenarnya menyadur? Bisa jadi kelompok liberal yang menyadur fitnah-fitnah dari kaum orientalis dan misionaris. (sabili/fakta)


Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, when.

16 May 2007

Paus Juga Manusia (Tamat)


Oleh : Redaksi 15 May 2007 - 6:00 pm

imageNama John mendapat tempat istimewa dalam Sekte Gereja Yohanit, sebuah sekte eksoterik yang menuhankan Yohannes dan mengangap Yesus hanyalah manusia biasa. Sekte Yohanit inilah tempat Ordo Biarawan Sion, Templar, dan Freemason berasal.

Para Grand Master ordo ini biasa bergelar John (Inggris), yang sama artinya dengan Giovanni (Itali), Joan (Perancis, laki-laki) dan Jeanne (Perancis, perempuan). Nama ini sebetulnya berasal dari nama Yohannes Sang Pembaptis, yang sosoknya begitu dihormati setara dengan Maria Magdalena bagi kelompok Kabbalah.

Istilah 'John' bermakna pada kecenderungan Jemaat Gereja Yohanit yang menuhankan Yohanes Kristus, sedangkan 'Peter' bermakna pada Jemaat Vatikan. Grand Master Biarawan Sion pertama saja, Jean de Gisors, pada tahun 1188 menggunakan gelar Jean II.

Jean I diduga kuat dinisbahkan kepada Yohanes Kristus itu sendiri. Nama Jean Cocteau yang muncul dalam daftar orang-orang yang diduga sebagai Grand Master Sion memakai gelar "Jean XXIII". Leonardo Da Vinci sendiri memakai gelar "Jean IX". Pada tahun 1959, ketika Cocteau masih memegang jabatan sebagai Grand Master, Paus Pius XII meninggal dunia dan digantikan dengan seorang paus baru, Kardinal Angelo Roncalli dari Venesia.

Roncalli Pilih Gelar John
Seperti yang sudah-sudah, setiap Paus baru yang dilantik bebas memilih gelar mereka sendiri. Entah mengapa, Kardinal Roncalli memilih nama 'John XXIII' dan hal ini membuat banyak tokoh Katolik cemas. Mereka menjadi bertanya-tanya mengapa gelar itu yang dipilih oleh Roncalli?

Bukankah nama John merupakan nama yang terkutuk karena nama tersebut telah digunakan pada awal abad ke-15 oleh seorang anti-paus. John XXIII, seseorang anti-paus itu telah diturunkan dari jabatannya pada tahun 1415. Ia adalah seorang uskup di Alet. Ketika Roncalli memakai gelar yang sama, tanda tanya besar kalangan Gereja menyertainya.

Di tahun 1976, sebuah buku misterius terbit di Italia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Judulnya "The Prophecies of Pope John XXIII" (Ramalan Paus John XXIII) yang berisi kumpulan prosa liris yang mengandung ramalan aneh yang diduga telah ditulis oleh Paus John XXIII (Angelo Roncalli) yang telah meninggal di tahun 1963.

Anehnya lagi, Jean Cocteau—Grandmaster Biarawan Sion—sendiri juga meninggal di tahun 1963. Menurut Baigent, "Isi buku itu tidak jelas dan dan melukiskan segala tafsiran yang luas. " Apakah buku itu memang karya Paus John XXIII? 'Pendahuluan' pada buku tersebut menyatakan bahwa buku itu adalah benar tulisan Paus John XXIII. Menariknya, buku tersebut juga mengatakan jika Paus John XXIII merupakan anggota dari Ordo Salib Mawar (Rose-Croix), yang selalu berhubungan dengan ordo tersebut saat menjabat Papal Nuncio bagi Turki di tahun 1935.

Pada peristiwa 'Penebangan Pohon Elms' yang memisahkan Ordo Sion dengan Ordo Templar, Biara Sion yang kemudian mengubah namanya menjadi Biarawan Sion telah menggunakan gelar tambahan 'Kejujuran Salib Mawar' (Rose-Croix Veritas). Sebab itu, Ordo Salib Mawar dicurigai sebagai nama lain dari "Biarawan Sion".

"Implikasinya sungguh menggoda! Ketika akan menjadi paus, Kardinal Roncalli memilih nama Grand Masternya sendiri, sehingga, demi alasan simbolis, akan ada dua John XXIII yang memimpin Sion dan Vatikan secara bersamaan, " ujar Baigent. Jean Cocteu 'John XXIII' sebagai Grand Master Biarawan Sion dan Angelo Roncalli 'John XXIII' yang mengepalai Tahta Suci Vatikan. Keduanya pun meninggal dunia pada tahun yang sama: 1963. (!)

Kesamaan aneh ini juga bisa kita lihat pada sumbernya. Sekurangnya ada tiga sumber yang sama menunjukkan bahwa Jean Cocteau mengakhiri jabatan Grand Master Sion pada tahun 1963 yakni The Dossiers Secrets, The Priory Document, dan daftar para Grand Master Biarawan Sion versi Majalah Vaincare No. 3, September 1989 (hal. 22) yang dieditori oleh Thomas Plantard de Saint-Clair, orang yang diduga sama dengan Pierre Plantard. Ketiga versi ini menyebutkan nama-nama berbeda para Grand Master dalam setiap periodisasinya, namun untuk akhir periodesasi Grand Master Jean Cocteau, ketiganya sepakat: 1963.

Ada sebuah kejutan lagi tentang John XXIII. Pada abad ke-12, seorang biarawan Irlandia bernama Malachi mengumpulkan serangkaian ramalan yang sejenis dengan ramalan Nostrodamus. Dalam ramalan-ramalan tersebut, dikabarkan tanggapan penting dari Vatikan, termasuk Paus ketika itu John-Paul II—Malachi menyebutkan para Paus yang akan menggantikan tahta Saint Peter pada abad-abad mendatang. Untuk setiap Paus, ia menawarkan sejenis motto deskriptif.

Lalu, bagi John XXIII, motto tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, yaitu 'Pasteur et Nautonnier' (Gembala dan Navigator). Gelar resmi bagi orang-orang yang diduga Grand Master Sion juga 'Nautonnier'.

Suatu kebenaran yang menggaris-bawahi kebetulan yang aneh ini adalah ketika berkuasa, Paus John XXIII telah memperbaiki kedudukan Gereja terhadap Freemasonry dan mengeluarkan izin bagi seorang Katolik untuk menjadi anggota Freemasonry. John XXIII ini juga bertanggungjawab atas reorientasi Gereja Katolik antara lain dengan mendirikan Dewan Vatikan yang para anggotanya berasal dari tokoh-tokoh Gereja Katolik seluruh dunia. Siapakah Paus John XXIII dan apakah ia benar seorang Freemason atau pun Biarawan Sion?

Film Produksi Vatikan
Sebuah film dokumenter yang diproduksi Vatikan memuat satu kisah khusus mengenai Paus John XXIII ini. Di Indonesia, Emperor Edutaintmen yang banyak mengedarkan film-film dokumenter tentang Kekristenan, mengedarkan film tersebut dalam format empat keeping VCD berjudul "The Bible: Pope John XXIII part 1 dan 2" (2004).

Dalam film tersebut dikisahkan bahwa Angelo Roncalli berasal dari Desa Sotto il Monto. Ia anak dari pasangan petani miskin Italia. Atas kebaikan pamannya, Angelo kecil bisa menempuh pendidikan di seminari untuk menjadi seorang pastur.

Tahun 1944 ia bertugas di Turki. Saat di Turki inilah Uskup Roncalli membebaskan orang-orang Yahudi yang memenuhi sejumlah gerbong kereta yang ditahan pihak Nazi-Jerman. Ribuan orang Yahudi selamat dari upaya pembunuhan yang ingin dilakukan Nazi dan memberi selamat kepada Roncalli. Salah seorang perempuan Yahudi memberikan sebuah kalung Bintang David seraya berkata kepada Roncalli, "Yesus juga seorang Yahudi. " Roncalli pun memberikan kalung salibnya kepada perempuan itu seraya tersenyum.

Tahun 1958 Paus XXII meninggal. Lewat suksesi yang ketat dan dipenuhi intrik sesama Kardinal Vatikan yang berambisi menjadi Paus, akhirnya Roncalli terpilih menjadi Paus pada tanggal 28 Oktober 1958. Setelah menjadi Paus, Roncalli menyatakan bahwa dirinya kini dipanggil dengan sebutan 'Giovanni' ('John' dalam bahasa Inggris).

Film itu tidak menyinggung satu pun keterkaitan Roncalli atau Paus John XXIII dengan Freemasonry dan sebagainya. Hanya saja, kejadian di Istanbul, Turki, tahun 1944, saat dia menyelamatkan ribuan orang Yahudi dari penangkapan Nazi-Jerman itu tentu didengar oleh para petinggi bangsa Yahudi dan kemudian 'berterimakasih' kepada Roncalli dengan sesuatu yang tidak biasa.

Kedekatan Roncalli dengan Yahudi juga tergambar dengan jelas tatkala saat menjadi Paus John XXIII, ia mencabut larangan orang Katolik menjadi anggota Freemasonry. Sebelumnya, orang-orang Katolik yang ingin menjadi anggota Freemason maka ia harus melakukannya dengan diam-diam, namun setelah Paus John XXIII mencabut larangan itu maka berbondong-bondonglah orang-orang Katolik menjadi anggota Freemasonry, tidak terkecuali para Yesuit yang begitu patuh pada institusi kepausan, mereka juga banyak yang menjadi anggota Freemasonry.

Adakah naiknya Roncalli jadi paus merupakan sebuah kesuksesan program rahasia Konspirasi Yahudi Internasional untuk menghantam dan menghancurkan Gereja dari dalam? Ajaran Kristen sendiri berabad sebelumnya juga telah dirusak oleh Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus, yang menciptakan Injil Perjanjian Baru, di mana ayat-ayat dalam Perjanjian Baru ini banyak sekali yang bertentangan dengan Perjanjian Lama.

Tradisi Kekristenan juga banyak yang sesungguhnya tidak berasal dari ajaran Yesus sendiri, melainkan dari ajaran paganisme Kekaisaran Romawi yang berasal dari Mesir kuno, ajaran Kabbalah.

Apalagi di abad-20, Konspirasi telah mengubah The Holy Bible King James Version yang dipakai di negara-negara Kristen mayoritas dunia dengan memasukan ratusan catatan kaki dari Cyrus Scofield sehingga Injil tersebut tidak ada bedanya dengan Talmud, penuh dengan catatan kaki yang mendukung kepentingan Zionis-Yahudi. Konspirasi telah begitu berhasil menaklukkan Gereja dari dalam dan menjadikannya kuda tunggangan bagi kepentingannya mencapai The New World Order.

Ataukah ia, seperti dugaan banyak peneliti semisal Baigent, diyakini anggota dari Biarawan Sion? Bukankah ketika Vatikan menerima surat pengaduan dari Uskup Carcassonne atas kelakuan Pastor Berenger Sauniere, Kardinal Angelo Roncalli yang datang kepada Sauniere sebagai utusan Vatikan?

Benediktus XVI
imageBenediktus XVI bernama asli Joseph Alois Ratzinger, lahir di Marktl am Inn, Jerman, pada 16 April 1927. Usia 14 tahun dia masuk seminari menengah di Traunstein. Setahun sebelumnya, dia sudah masuk wajib militer dengan bergabung dengan organisasi pemuda NAZI.

Singkat cerita, tahun 1977, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai kardinal. Bagi kalangan tertentu di Vatikan, Kardinal Ratzinger merupakan salah seorang yang paling berpengaruh dan dihormati di Vatikan. Ia dikenal dekat dengan Paus Yohanes Paulus II. Namun bagi sebagian kalangan lain di Vatikan, Ratzinger dianggap sebagai seorang Kardinal yang keras dan konservatif. Ia berpandangan tidak ada toleransi dalam hal kebenaran keagamaan. Sikapnya sesuai dengan jabatannya yang mengepalai bidang keimanan Vatikan.

Ketika Paus Yohannes Paulus meninggal, Kardinal Ratzinger memimpin upacara pemakamannya pada 8 April 2005. Ratzinger juga yang memimpin konklaf yang dimulai tanggal 18 April 2005 dan yang kemudian mentahbiskan dirinya sebagai paus yang baru. Kardinal Joseph Ratzinger terpilih sebagai Paus Gereja Katolik Roma yang ke-265 dengan nama gelar Paus Benedictus XVI di usia yang ke 78.

Salah satu masalah yang sangat mengganggunya sejak lama adalah menurunnya jumlah pemeluk Katolik di Eropa dan terutama di Amerika Latin, serta berkurangnya jumlah imam di Eropa. Di sisi lain, di Amerika dan Eropa, dalam waktu yang bersamaan, jumlah pemeluk Islam dari tahun ke tahun semakin meningkat. Permasalahan ini sungguh-sungguh dirasa mengganggunya. Pertumbuhan pemeluk Islam di Eropa dan di lain sisi menurunnya jumlah umat Kristiani di wilayah yang sama dianggapnya sebagai ancaman serius terhadap kekristenan itu sendiri.

Sebab itu, ketika ia memilih gelar Benedictus, maka hal tersebut bukan suatu kebetulan karena sangat terkait dengan sosok Santo Benedictus yang dalam sejarah gereja dikenal sebagai "Penjaga Christendom Eropa", benua tempat negeri-negeri Kristen berkumpul. Dengan memilih gelar Benedictus, Ratzinger ingin menyatakan diri sebagai penjaga Eropa Kristen dari serangan apa pun yang bisa mengubah indentitas ini. Dan seorang Ratzinger, dalam hal ini bukanlah orang yang suka bermain-main.

Dalam sejarah kekristenan, nama Santo Benedictus memiliki isyarat khusus sebagai penjaga atau pengawal kekristenan Eropa atau Dunia Barat (The Christendom) dari upaya penghancuran atau ancaman 'Kaum Barbar' yang ketika itu terjadi dalam masa keruntuhan Imperium Romawi. Dalam sejarah Eropa di abad pertengahan (Medieval), istilah 'Kaum Barbar' kerap digunakan untuk menyebut tentara kaum Muslimin. Seperti dalam episode Perang Salib, tentara kaum Muslimin sering disebut pula sebagai Saracen.

Dipilihnya gelar 'Benedictus' oleh Joseph Alois Ratzinger memberikan petunjuk secara eksplisit maupun implisit bahwa Paus yang baru ini akan menjaga kekristenan Eropa dan Barat pada umumnya, menyelamatkan kebudayaan The Christendom, dari apa yang disebutnya sendiri sebagai "Serbuan Barbarisme Modern". Lalu apa yang sesungguhnya disebut sebagai "Serbuan Barbarisme Modern"? Apakah Islam? Mengingat Ratzinher penah berpidato kontroversial menyerang makna Jihad umat Islam?

imageBagi umat Islam, sebenarnya ada cara yang amat sederhana dan mudah untuk melihat apakah seseorang itu bisa dijadikan sahabat atau tidak, apakah seseorang itu tulus mau bersahabat dengan kita atau malah menjadikan 'persahabatannya' dengan kita sebagai strategi belaka untuk menggolkan maksud-maksud tersembunyinya.

Cara sederhana itu adalah: lihat, bagaimana penyikapan mereka tentang Israel. Apakah dia bersikap benar dengan tidak mengakui Israel sebagai negara karena berdiri di atas tanah hak milik bangsa Palestina, karena ia berdiri di atas tanah milik bangsa lain yang terus dijajahnya, ataukah dia mengakui Israel walau dia tahu keberadaan Israel tidak sah dipandang dari sudut logika sehat mana pun.

Sebuah artikel yang menarik dan lugas tentang kedekatan Paus Bendictus dengan Yahudi bisa kita ketemukan di website resmi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI (mirifica.net) berjudul "Rabi Tel Aviv: Paus Benecditus Sahabat Yahudi" (dimuat tanggal 22 April 2005, yang diambil dari Suara Merdeka, Rabu, 20 April 2005). Silakan klik dan baca sendiri artikel tersebut. (Tamat/Rizki Ridyasmara/eramuslim)


Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

15 May 2007

KDL : Hidayah tak kenal warna, bangsa dan masa

KDL : Hidayah tak kenal warna, bangsa dan masa
Dunia Islam Oleh : Redaksi 14 May 2007 - 5:00 pm
Al Shahida *)
penulis rubrik Kabar Dari London
image"Cahaya itu telah mampu menerpa celah relung hati mereka, menerobos tembus kedinding qalbu-qalbu mereka, cahaya yang yang tak kenal warna, bangsa, masa bahkan kendala".

Akhir pekan ini sebetulnya aku berencana untuk diam dirumah. Rest atau rehat. Ingin mengendur regangkan tubuhku, rehat dari berinteraksi, sekaligus ingin bebenah rumah yang begitu lama tak terjamah tangan. Tiba tiba telefon berdering, tanya apa kabar dan menanyakan:

"Kak..hari ini kaka sibuk tak, boleh kita jumpa kalau tak pegi mana mana khan ?" begitu logat Melayu Singapore dari salah seorang adikku, disuatu Sabtu pagi. Kukatakan bahwa aku tidak ada rencana untuk keluar. ( Feat Nasyid : Sulis - Jangan Tinggalkanku :sound )

"Saya hendak menemani 'orang-orang baru' ke masjid besar di Regent Park Mosque. Usroh dimulai jam tigalah, dilantai bawah kak" demikian keterangan Hilaal.

Sambil aku berfikir bagaimana caranya merubah rencanaku dari rehat tapi bisa jumpa dengan adikku satu ini. Atau kuundangkah dia kerumah atau haruskah aku ke kota London? Sambil aku menghabiskan tehku sambil terus berfikir. Aku tengah berhitung, untung rugi, manfaat dan madharatnya. Aku ingin mengundangnya kerumah, namun sepertinya aku tidak siap untuk menjamu orang.

Aku tergiur dengan undangannya. Aku tahu disetiap pertemuan selalu membuahkan sesuatu. Aku sangat percaya kalau silaturachmi mendatangkan rejeki, memanjangkan usia, bikjin awat muda. Allhu alam.

" Kalau kita jumpa di Mawar restoran, gimana ? khan cukup sentral, kalaupun kita tak makan tapi bolehlah kita minum teh atau kopi saja, bukan ? aku menawarkan. Akhirnya kita sepakat untuk jumpa pukul 5.30 sore.

Mawar Restoran, adalah restoran Malaysia yang terletak disudut jalan, tepat dipersimpangan yang cukup strategis antara Edgward Road dan Sussex Garden, antara persimpangan ke Kilburn, Oxford Street, kawasan Paddington. Restoran itu sendiri terletak di lantai dasar, basement. Cukup memadai untuk ber-randevous baik untuk organisasi atau sesama teman, dengan menu cukup mewakili dan terjangkau.

Aku ditemani oleh salah seorang karibku juga kesana. Saat kami tiba direstoran, .mereka telah berada disana. Oh, ternyata mereka bertujuh, banyak sekali. Kami disambut hangat dan saling memperkenalkan diri.

" Kak kenalkan, ini Terry, James, Ismael, Norman.. Pak Cik dan brother Yunoos", semua berdiri sambil menaruh tangannya di dada mereka, sekedar isyarat tanda hormat. Kami tidak bersalaman. Hilaalpun memperkenalkan namaku.

"This sister is from Indonesia..her father and my parents knew each other" tambahnya. Mereka mengangguk dan senyum. Iiih santun santun banget siih?. Aku dipersilakan duduk. Akupun memilih tempat yang sentral untuk memudahkan berbincang. Sementara temanku, Ridwan, pesan makanan dan minuman.

***

Aku tidak pernah mengira kalau Hilaal membawa teman barunya begitu banyak. Maksudku orang baru disini 'new muslim atau muallaf'' . Buatku ini adalah a nice surprise, kejutan bagus dan aku cukup terperangah menyaksikan wajah wajah baru, wajah bule pula yang betul betul anyar memeluk agama Islam. Aku sangat eksaiting dan mengharu biru menyaksikan ini.

Rasanya tak sabar ingin berbincang dengan mereka, semisal wawancara walau tidak resmi banget tentunya. Informal saja. Aku berceloteh dengan mereka. Sambil menunggu pesanan makanan, mulailah mereka kutimbuni dengan pertanyaan yang aku yakin mereka menikmatinya.

Kutanya satu persatu namanya lalu kuucapkan selamat datang pada mereka: "Welcome to Islam, welcome to the club " mereka senyum bahagia mendapat sambutan.

"I am Terry, I live in Uxbridge. I work for Distributor company. I deliver the goods to supermarkets in the country.." ujarnya. Usianya baru 24 . Terry, nampak tinggi, tinggi sekali untuk ukuran pria Inggris. Itulah pria Inggris pertama yang ber'taaruf, memperkenalkan diri dan bercerita bagaimana dia masuk Islam. Lanjutnya:

" Saya baru empat bulan memeluk Islam dan saya seneng banget bisa bergabung dan ketemu Bang, brother Hilaal" ujar Terry sambil mereguk minumannya.


" Apa gerangan yang paling pertama kali menyentak hati anda yang membuatmu menoleh ke agama Islam" tanyaku pada Terry. Dia tampak bingung: "Maksud saya ada kejadian apa yang membuatmu berfikir untuk masuk Islam", aku menjelaskan.

Terry diam sambil berfikir, lalu: " Hmm I dont think I have...". Ternyata Terry tidak memiliki kisah atau catatan sesuatu yang menyentak hatinya yang membuatnya memeluk Islam secara tiba-tiba, inilah keterangan Terry.

"Saya, mungkin seseorang yang mencari-cari kebenaran, the truth, sesuatu yang membuat saya tenang. Orang tua saya masuk tipe Agnostic barangkali. Mereka tak peduli dengan agama dan merasa tidak perlu dengan agama. Saya respek itu. Repotnya, dikatakan Atheispun bukan, tapi kalau natalan mereka merayakan. Katanya tradisi. Naah halnya dengan saya memang saya mencoba mencari sesuatu. Saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Lalu saya belajar agama Budha, kemudian ikutan meditasi, tapi koq saya masih tidak tenang", tutur Terry.


Kemudian kutantang Terry dengan gencarnya media yang menyudutkan Islam, serta sikap kebanyakan terhadap Islam dan Muslim. "Does not that put you off to come close to Islam and become Muslim ?", aku mau tahu jawabannya.

" No it does not, it is quite the opposite infact, justru malah sebaliknya, membuat saya bertanya-tanya dan bikin penasaran. Saya ingin tahu apa sih sesungguhnya Islam itu. Saya mencari dimana letak salahnya dan ingin membuktikan bahkan mencocokan dengan apa yang dikatakan media. Sambil saya terus belajar agama Budha" tambahnya.


Menurutnya gama Budha belum bisa memberikan ketenangan pada dirinya dan tidak mampu menjawab apa yang ia cari. Utamanya tentang keTuhanan. Saya tahu ada Pencipta, the Creator. Dia cuma ingin meyakinkan bahwa memang ada Sang Pencipta. Saya masih tetap merasa kosong, ujarnya.

" Saya iseng-iseng main ke google, mencari informasi tentang Islam disana, lalu saya klik ke Islamonline, di sanalah saya temukan info tentang Islam dan saya temukan jawaban-jawaban yang selama ini saya cari, straightforward, simpel, mudah, jelas koq "...demikian Terry.


Akhirnya kututup percakapan dengan Terry dan aku mendapat jawaban, diakhir percakapan ia mengatakan bahwa ia cukup groggi menghadapi Ramadhan. Kami semua meyakinkan bahwa tidak akan membuat kita madharat.

James
Giliran bincang dengan James, anak Abege usinya baru 20 tahun ini, lahir dan dibesarkan di Kilburn, London agak ke barat atau NW, mengaku bahwa kedua orang tuanya Atheis. Disekolah James berteman dengan anak-anak Asia seperti India, Pakistan dan Bangladesh. Dengan sendirinya James terbiasa mendengar istilah dan term-term Islam.

Dia memilih mata pelajaran Religion pada saat James menjalani ujian terakhir SMU, A level. James banyak membaca dan belajar berbagai agama yang multi itu sampai ia sempat belajar filosofi yang cukup berat dan serius.

Suatu hari James tersentak benaknya memikirkan kematian. Hal ini betul betul membuat James berfikir dan merenung tentang kematian. Kalau ia bertanya pada Daddy dan Mummynya tentu mereka akan mentertawakan. Sebaliknya James juga berfikir tentang kehidupan. Apa tujuan hidup ini sesungguhnya, lalu kenapa kita mati, setelah mati nanti ada apa. Hal ini terus merasuk dalam hati dan benak James, saat itu James baru menjelang usia 19 tahun.

Dari rasa ingin tahunya, James mencari buku berbagai macam agama, termasuk Islam lalu ia pelajari dengan seksama. James ingat dia memiliki teman Muslim lalu ia bertanya dan bahkan terjadi diskusi dengan teman teman ini.

Dengan mudahnya teman-teman Muslimnya menerangkan "Apa itu tujuan hidup dan kematian menurut Islam", yang membuatnya terpana.Tak berkutik. Apalagi mengingkarinya. Seakan ada semburat cahaya menyentuh galbunya.

"You are so confident mates to give me that explanation, they are all answered " responnya pada temannya yang menerangkan dengan penuh semangat dan mudah diterima oleh nuraninya. James memang tipe pemikir, serius dan cerdas.


"Well...dari kecil kita terbiasa membicarakan kematian, kemudian juga Al-Quran selalu membicarakan dan mengingatkan kita akan kematian, jadi kita tahu jawabnya" dengan pedenya si teman meyakinkkan James.

"Lalu...orang semacam aku ini mau diapakan, taruh dimana? Menurut Tuhan kalian tidak ada tempat buatku kecuali kalau aku percaya pada Tuhan kalian khan ? ". Bagaimana kalian bisa meyakinkan Tuhamu itu ? James lemparkan pertanyaan ini pada mereka sambil berfikir seribu kali.


" Its up to you, mate. Our duty is to give you infomation as you needed it - if you are not satisfy..yeah.. read the book about Islam and Alquran is the best reference', saran sang teman yang bicara dengn aksen cogney, maklum Londoner.

Pesan sang teman membuatnya mempelajari Islam lebih dalam. Dia pergi ketoko buku Islam, terus dia gali sampai kepada hal-hal yang berkaitan dengan science..banyak disebutkan didalam Al-Quran tentang ini. Artinya Islam tidak bertentangan bahkan sejalan dan saling mendukung. James berfikir. Dia perlu waktu dan perlu memperdalam Islama hingga betul-betul yakin, sesuai dengan apa yang ia cari dan butuhkan.

"Tak lama James menyatakan dirinya masuk Islam, mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia ke mesjid dihari Sabtu untuk belajar Islam, disanalah ia bertemu dengan Hilal dan rekan lainnya, kini James merasa banyak saudara.

" Islam is so comprehensive and straightforward " ujar James menyimpulkan pendapatnya.


Ismael
Pria berasal Polandia ini mengaku baru 8 bulan masuk Islam.Sebelumnya ia memeluk agama Katholik. Di London dia baru 2 bulan. Sengaja migrasi ke Inggris karena di Polandia dia betul betul merasa sendirian. Dia akan dikucilkan oleh teman dan keluarganya kalau mereka tahu bahwa ia memeluk agama baru, agama Islam.

"Disana hampir tidak ada Muslim ..mungkin cuma beberapa gelintir saja, bisa dihitung jari dan itupun sembunyi", paparnya dengan aksen Polishnya.

"Untuk orang Polandia sendiri Islam dianggap sesuatu yang asing, agamanya orang Arab. Sukar saya mencari orang Polandia beragama Islam..entahlah" ujarnya tak yakin.


Ismael merasa betah dan senang bisa berada di UK karena kegiatan Da'wah di London begitu banyaknya, aktif, dinamis sekali dan mudah mencari teman disini. Disamping Inggris adalah negara yang paling toleran di Eropa, menurutnya.

Aku temui Ismael di gedung WAMY, disuatu hari Jum'at bersama sister Aaishah, sahabatku asal Afghanistan. Ismael tampak hanief..baik dan sangat santun.

"Ok brother Ismael kini giliranmu cerita tentang kenapa dan apa yang membuatmu tertarik dengan Islam.." aku mulai menggelitik dia. Is senyum. Nampak keningnya berkerut yang berusaha keras mengingat sesuatu.

"Karena saya katholik.. kita kan percaya dengan yang Trinitas itu..." ia memulai.

" Naah trinitas itu membuat saya bingung, membuat saya gerah dan galau..bayangkan saya dilarang bertanya apalagi berdebat. Seolah kalau kita diskusi menjadi dosa besar. Sedang trinitas tidak bisa menjawab pertanyaanku, kebingunganku" lanjutnya.

"Ada pengalaman yang menarik dan berkesan pada saat kamu mencari islam.. ?", aku begitu penasaran.

"Ohh ada sis..saya sering main main ke perpustakaan, library, pergi ke bagian agama dan saya temukan kitab Al-Quran. Entahlah..saya begitu penasaran. Dengan hati hati saya sentuh sang kitab, sepertinya saya menyentuh kristal yang harus saya handle with care, dengan hati-hati sekali. Saya buka lembar demi lembar. Semula saya bingung, karena harus kita baca dari sebelah kanan..tiba tiba saya tergerak untuk membacanya. Surat pertama yang saya baca adalah surat An-Nahl, ayat 68 - 69 , tentang madu. Saya baca dan saya tekuni setiap kata dan makna yang sarat. Sangat fenomenal. Mengagumkan. Belum lagi yang lainnya, entah saya merasakan sesuatu usai membaca ayat ini..seakan saya jatuh cinta pada Al-Quran" Is bercerita dengan begitu terharu.

" Surat Al-Ikhlas sudah pasti menjawab tentang the Oneness of God, Ke-Esaan Tuhan ya sis..artinya trinitas yang membuat saya tidak bahagia terjawablah dengan surat ini" tegasnya. Ismael nampak merasa lega telah menyampaikan pengalaman spiritualnya. Pangalaman luar biasa dalam kehidpuan seseorang yang menemukan Tuhannya.


" Hemm". Aku meng-iyakan dan setuju banget dengan pendapatnya.Kita semua tak bisa mengelak. Begitu paparan dari Ismael, James dan Terry yang memiliki latar belakang dan cerita berbeda dalam mencari kebenaran hingga ia temukan Islam yang menjadi pilihan mereka. Maha Besar Allah.

Baik Terry dan James belum memberitahu orang tua mereka tentang Islam dan agama baru yang mereka anut. Pikirnya pada saatnya mereka akan memberi tahu pada orang tua mereka. Kapan? Pada saat mereka cukup matang tentang Islam itu sendiri dan sampai mereka cukup confident, percaya diri untuk mendeklarasikan agama baru mereka, agam Islam. Usai sejenak sambil mereguk minuman kami.

" Kamu ada rencana merubah nama atau memiliki nama Muslim" aku iseng bertanya pada Terry.

" Hmm..terfikir siih..I think Terry will match with Tariq isn it kayanya suaranya senada dengan...Tariq ya sis" oh ternyata dia mulai berfikir tentang nama Muslimnya, diiringi senyum.


"Wow Tariq.. keren ya nanti sama dengan nama Professor Tarik Ramadan"! tambahnya. Tapi aku menyarankan untuk membiarkan surnamenya, nama keluarga, kalau tidak akan merepotkan. Masalahnya nama-nama yang berbau Islam tengah menjadi sorotan dan menjadi kendala pula. Maklum Islamphobic tengah mewabah paska sebelas September. Setiap kita sepakat. Keep you original name !

Bisa kutarik kesimpulan bahwa kendati media tetap gencar menjelekkan Islam ternyata hal ini tidak membuat mereka put off, mundur bahkan sebaliknya.

***

Lewat persahabatan, dibarengi contoh dan sikap yang menyejukkan, penuh persaudaraan..ternyata cahaya itu telah mampu menerobos, menerpa dinding qalbu para pemiliknya.

Aku sangat memahami edan mensupport penuh akan gerak langkah dan kerja sdr Hilaal yang masya Allah sangat bijak untuk memupuk terus para pemeluk baru yang butuh dukungan sepenuhnya. Dengan mudahnya, mereka yang ghirrohnya (semangat berIslam) sedang menggelora, akan dengan mudahnya terperangkap oleh mereka yang mengklaim paling taqwa, paling benar yang menurutku kadang berlebihan.

Sedang Allah melarang kita untuk berlaku dan bertindak berlebihan dalam mengaplikasikan agama dan dalam hal lainnya. Islam tidak memberatkan.

"We do our best sis.." tambahnya. Hingga Ahad kemarin grup ini sudah mencapai anggota sekitar 50 orang dengan latar belakang yang berbeda tentunya baik warna, ras dan kebangsaan. Untuk menghilangkan penyakit assobiyah group kita sepakat untuk tidak diberi nama apapun. Mereka duduk bersimpuh, menyatu karena 'La illah ha illallah. Muhamamad dar Rasulullah".

Cahaya itu telah mampu menerpa celah relung hati-hati mereka, menerobos tembus ke dinding qalbu mereka, cahaya yang tak kenal warna, bangsa, warna dan masa.

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tapi Allah memberi pertunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lebih mengetahui orang orang-orang yang mau menerima petunjuk" ( Al Qashash ayat 56). Allahu alam bisawab

London, 4 Mei 2006

al_shahida@yahoo.com

*) Penulis adalah penulis rubrik "Kabar Dari London" di www.swaramuslim.net


image


Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.

09 May 2007

INFO BUKU

Display Buku
Rp 65.000,00
Disk 20%
Rp 52.000,00



Tayang: hari lagi
 
Judul The Messianic Legacy  
No. ISBN 979-1238-35-9 
Penulis Michael Baigent Cs 
Penerbit Ufuk Press
Tanggal terbit April - 2007 
Jumlah Halaman 504 
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover 
Dimensi(L x P) 150x235mm
Kategori Kristen 
Bonus
Text Bahasa Indonesia 
Masukkan ke daftar keinginan Masukkan ke Daftar Keinginan
Rekomendasikan buku ini
 
SINOPSIS BUKU
Warisan Abadi Seorang Mesias

Terungkapnya warisan seorang Mesias yang sesungguhnya...

Trio penulis The Holy Blood and The Holy Grail melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui kesenjangan antara pemikiran Kekristenan awal dan modern. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan menggelitik:

- Apa arti menakjubkan di balik gelar Yesus: Raja Israel?
- Apakah Kristus itu lebih dari satu orang?
- Siapa sebenarnya yang kini menguasai harta karun Temple of Jerusalem?
- Apa sumber sesungguhnya Fundamentalisme Kristen saat ini?
- Apa yang menghubungkan Vatikan, CIA, KGB, Mafia, Freemasonry, P2, Opus Dei, dan Knights Templar?
- Apakah tujuan mengejutkan perkumpulan rahasia Eropa ketika dikaitkan dengan keturunan Yesus dan The House of David?
- Perang Suci modern apakah yang membawa dampak pada industri Inggris, Churchill & de Gaule, European Economic Community & Solidarity [Solidaritas & Komunitas Ekonomi Eropa]?

dan masih banyak lagi...

The Messianic Legacy menyajikan penyelidikan baru yang memikat ke dalam perkumpulan bayangan Biarawan Sion—Para Wali Holy Grail—ketika para penulisnya menemukan kegalauan dunia politik, keuangan, Freemasonry, dan agama yang terdapat di balik institusi Eropa yang paling kokoh dan konservatif. Ancaman tirai konspirasi global yang berhasil mereka sibakkan menjamin bahwa The Messianic Legacy layaknya kisah thriller paling mutakhir dan sebuah karya pendeteksi Alkitab, karya yang bahkan jauh lebih penting dari The Holy Blood and The Holy Grail (http://www.bukukita.com/infodetailbuku.php?idBook=621) atau buku-buku sejenis lainnya yang telah terbit.

***

#1 International Bestseller

***

"Mencekam dan menarik."
—Guardian

"Hasil penyelidikan yang memikat dan mencengangkan."
—Kirkus Review 


No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Translate it by Google Translator