30 June 2010

Teolog Swedia: Yesus Tidak Disalib!


 
 
Tidak ada satupun literatur kuno yang menyebutkan tentang penyaliban Yesus

Hidayatullah.com--Seorang teolog Swedia menyatakan, Yesus tidak disalib, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang Romawi menyalib para tahanannya 2.000 tahun silam.

Menurut Gunnar Samuelsson dari Universitas Gothenburg, cerita mengenai eksekusi Yesus adalah berdasarkan pada tradisi orang Kristen dan ilustrasi artistik, bukan berdasarkan naskah-naskah kuno. Hal tersebut ditulis Samuelsson dalam disertasi doktornya yang berjudul "Crucifixion in Antiquity - An Inquiry into the Background of the New Testament Terminology of Crucifixion".

Samuelsson, seorang kristiani yang taat, menyatakan bahwa Bibel telah disalahinterpretasikan. Tidak ada referensi eksplisit yang menyebutkan penggunaan paku untuk penyaliban di dalamnya, yang ada hanya Yesus ditusuk sebuah "staurus" menuju bukit Cavalry, yang juga bisa berarti "galah" atau "tongkat". Demikian hasil penelitiannya menyebutkan.

Disertasi Samuelsson setebal 400 halaman itu ditulis berdasarkan studi mendalam atas teks-teks asli. Karya ilmiahnya diajukan ke universitas bulan lalu.

"Masalahnya adalah, deskripsi tentang penyaliban sama sekali tidak ada dalam literatur-literatur kuno," kata Samuelsson dalam sebuah wawancara dengan Daily Telegraph, Rabu pekan lalu.

"Sumber-sumber yang Anda harapkan untuk menemukan pemahaman yang sesungguhnya tentang peristiwa itu, tidak mengatakan apapun," tegasnya.

Literatur-literatur kuno dalam bahasa Yunani, Latin, dan Hebew, dari zaman Homer hingga abad pertama, menggambarkan sejumlah penundaan hukuman, tapi tidak ada yang menyebut "salib" atau "penyaliban".

"Konsekuensinya, pemahaman kontemporer tentang penyaliban sebagai hukuman, sangat diragukan (dipertanyakan)," ujar Samuelsson kepada koran Inggris tersebut.

"Dan yang lebih diragukan lagi, apakah hal yang sama bisa disimpulkan atas peristiwa penyaliban Yesus. Perjanjian Baru tidak mengatakan sebanyak apa yang ingin kita percayai," tandas Samuelsson.

Hanya ada sedikit bukti menegaskan bahwa Yesus dibiarkan mati setelah dipaku di atas sebuah tiang salib, baik itu dalam literatur-literatur kuno zaman pra-Kristen maupun ekstra-Bibel, demikian pula dalam Bibel.

Samuelsson mengakui bahwa sangat mudah untuk bereakasi dengan emosional daripada berfikir secara logis terhadap penelitian itu, yang sangat dekat dengan agamanya.

Menurut Samuelsson, teks-teks yang berbicara tentang eksekusi, tidak menjelaskan bagaimana Yesus dilekatkan pada alat eksekusinya.

"Inilah inti masalahnya. Teks tentang kisah penderitaan (Yesus) tidak begitu jelas dan informasinya ditambah-tambahi, sebagaimana kita umat kristiani terkadang menginginkannya demikian," katanya menjelaskan.

"Jika Anda mencari teks yang menggambarkan tindakan pemakuan orang ke tiang salib, Anda tidak akan menemukannya kecuali di Alkitab."

Semua literatur kontemporer menggunakan terminologi yang samar-samar, termasuk yang ditulis dalam bahasa Latin. Sementara dalam bahasa Latin, kata "crux" tidak selalu berarti salib, dan "patibulum" tidak selalu berarti palang salib. Kedua kata tersebut digunakan dalam arti yang lebih luas daripada itu.

Meskipun hasil penelitiannya menegaskan bahwa tidak ada bukti Yesus disalib, Samuelsson mengatakan ia masih percaya bahwa Yesus anak tuhan. Ia hanya meminta agar penganut Kristen memperbaiki pemahamannya terhadap Bibel.

"Saran saya, kita harus membaca teksnya sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita pikirkan. Kita harus membaca yang tersurat, bukan yang tersirat. Teks dalam Bibel sudah cukup. Kita tidak perlu menambahkan apapun."

Hasil penelitian Samuelsson mengingatkan kita pada tradisi Kristen lainnya; Sinterklas dan salju Natal.

Tokoh Sinterklas tidak ada dalam Alkitab, dan sebagian orangtua jujur mengatakan kepada anak-anaknya bahwa itu hanya dongeng belaka. Tapi kisah itu tetap dipercayai sebagai bagian dari agama dan tradisi mereka. Sementara para pengusaha mengatakan bahwa tidak peduli itu nyata atau tidak, yang penting tokoh Sinterklas membantu melariskan dagangan mereka, terutama di musim Natal.

Perayaan Natal dan cerita kelahiran Yesus juga selalu dikaitkan dengan salju. Padahal dalam Alkitab dikatakan, ibunda Yesus makan buah kurma yang jatuh dari pohon setelah melahirkan anaknya. Buah kurma adalah tanaman khas padang pasir yang hanya berbuah di musim panas. Apakah mungkin ketika itu Maria memakan buah kurma, sambil mendekap anaknya yang menggigil kedinginan karena salju?

Al-Quran lebih dari 1.400 tahun lalu telah mengatakan, Nabi Isa, yang diakui sebagai Yesus oleh penganut Kristen, memang tidak dibunuh oleh orang-orang yang mengejarnya ketika itu. Bahkan beliau belum wafat.[di/tlg/loc/www.hidayatullah.com]

--
Ajaranku masih kurang, umatku. Setelah aku akan datang Nabi Lain (Yesus - Yoh 17:3)

29 June 2010

Religious Tolerance in Muslim History

Font size: Decrease  font Enlarge  font
image The Alhambra Palace, Granada. Symbol of Islam's "Golden Age"

Religious intolerance has become too much a part of modern life. It is a fact of life, though, that good people, of whatever faith, do not poke fun or try to insult one another's religion.

On the contrary, we find that real people of faith are keen to get to know each other better and to learn from each other. Goodness, wherever it is to be found, comes from God. Where else would it come from?

We should never feel threatened by goodness. It is only a threat to us when our own faith is weak or lukewarm and it shows up our own shortcomings.

Since the very beginning, Islam has taught respect for the beliefs of others. We see it in the teaching and the practice of Islam right through history. Indeed, it is the sign of a Muslim that he or she respects the religion of others, and their Books and their Prophets. Those who teach otherwise, Muslim or not, are distorting the message of Islam.

Muslims are no more or less perfect than anyone else. They believe, though, that the message they follow is a perfect message and is meant for the whole of mankind. Islam is perfect and it has existed since the beginning of time.

Whilst some Muslims, throughout history, have not always lived up to the beauty of its message, Islam itself has nothing whatever to be ashamed of.

It is an absolute basic belief of Islam, though, that people of other religions should be free to believe whatever they wish. In the Quran, which Muslims believe to be the word of God, we read:

Let there be no compulsion in religion: Truth stands out clear from error: Whoever rejects Satan and believes in Allah hath grasped the most trustworthy handle, that never breaks, and Allah heareth and knoweth all things. (Al-Baqarah 2:256)

In another place, Allah says:

Wilt thou (Muhammad) then compel mankind, against their will, to believe?] (Yunus 10:99)

Prophet Muhammad (peace be upon him) lived side by side with Jews and polytheists. In Madinah, he made treaties with both, guaranteeing their freedom of religion and joining with them in a pact to defend the city.

It was not that they were Jews or polytheists that made the Muslims eventually fight them, but because they broke the terms of the treaty and sided with the enemy which was attacking the city.

It is, in fact, one of the hallmarks of the way Prophet Muhammad dealt with others, believers and non-believers, that he would listen very carefully to what they had to say, and he would ask, "Have you finished?" before giving an answer.

He set the bench mark very high by showing Muslims that if they engage in dialogue, they must listen with great respect.

When the second of the four rightly guided Caliphs, Umar ibn Al-Khattab, entered Jerusalem in 638 AD, he entered the city on foot, out of respect for the holiness of the place.

His first action was to clear the rubble and the debris from the area of Al-Aqsa Mosque and to cleanse the whole sight with rose water.

There was no bloodshed. There was no slaughter. Unlike the slaughter of 70,000 men, women and children which accompanied the arrival of the Crusaders in 1099, the Muslims entered the city peacefully, signing a treaty with the Patriarch Sophronius, which guaranteed their rights to worship, their lives and their property.

The Patriarch, no doubt acting upon his lived experience in the city, asked that no Jews be allowed to live in Jerusalem. Salah Al-Din, known as Saladin in the West, lifted this injunction when he retook Jerusalem from the Crusaders in 1187.

Those who wished to leave were guaranteed their safety. Those who wished to remain were allowed to do so.

In fact, allowing religious minorities to live within the Muslim state would be a test of how faithful the Muslims were to their high calling as a "mercy to mankind".

Prophet Muhammad said,

He who unfairly treats a non-Muslim who keeps a peace treaty with Muslims, or undermines his rights or burdens him beyond his capacity, or takes something from him without his consent; then I am his opponent on the Day of Judgment. (Abu Dawud)

There is a period in the history of Islam which is lovingly known to Muslims as the Golden Age of Islam. This was the period of the Muslims in southern Spain, which lasted for centuries.

During this time, Christians and Jews held high office in the royal court. It was only when the Catholic monarchs, Ferdinand and Isabella, retook the Muslim cities in the south that mosques and synagogues were burned down and Muslims and Jews were either expelled or forced to convert.
Mehmet II officially recognized Patriarch Gennadius II as leader of the Orthodox peoples throughout the Ottoman Empire following the capture of Constantinople in 1453.

In the same year, he granted to the leader of the Jewish community (the Chief Rabbi) the title "Hahambasha", or Chief Wise Man. Both actions show the respect for other faiths which was to symbolize the Ottoman rule.

We have only to look at Palestine under the Ottoman Empire, to see that this was the greatest period when the region knew peace. Christians, Muslims and Jews lived together happily in the holy city of Jerusalem.

Finally, a word of hope in our own day from the city of Edinburgh in Scotland. Some weeks after the Israeli attack on Gaza in January 2009, there was a rise in anti-Semitic attacks and hate crimes in many countries.

In Edinburgh, the synagogue of the United Hebrew Congregation was attacked by vandals, allegedly protesting against the war on Gaza. The response from the Scottish-Islamic Foundation, Scotland's largest umbrella organization for Muslims, was swift: "We will guard the synagogue for you", they said, if it proved too difficult for the Jewish community to do so.

What better example can we give of Muslim attitudes to other faiths than that? The Muslims of Scotland were prepared to guard the synagogue of the Jewish community.

Muslims believe that God (Allah) is the Lord of all people on earth. He is not just the God of the Muslims. Because of this, Muslims have a very great responsibility to act with justice and kindness to all those who have not yet come to the fullness of truth, which Muslims believe was revealed in the message of Islam.

Muslims have a responsibility to teach the world about Islam. In the Quran we read.

Thus We have made of you a nation justly balanced, that ye might be witnesses over the nations, and the Messenger a witness over yourselves. (Al-Baqarah 2:143)

Religious intolerance has no place in our world. Muslims and others should know that it has no place in Islam, either.



--
Ajaranku masih kurang, umatku. Setelah aku akan datang Nabi Lain (Yesus - Yoh 17:3)

18 June 2010

UMUR JUSUF 90 TAHUN DISAAT MARIA BERUMUR ANTARA 12 - 14. KALAU NABI MUHAMMAD DITUDUH PEDOFIL APAKAH YUSUF JUGA TERMASUK?

Spouse of the Blessed Virgin Mary and foster-father of Our Lord Jesus Christ.

Life

Sources

The chief sources of information on the life of St. Joseph are the first chapters of our first and third Gospels; they are practically also the only reliable sources, for, whilst, on the holy patriarch's life, as on many other points connected with the Saviour's history which are left untouched by the canonical writings, the apocryphal literature is full of details, the non-admittance of these works into the Canon of the Sacred Books casts a strong suspicion upon their contents; and, even granted that some of the facts recorded by them may be founded on trustworthy traditions, it is in most instances next to impossible to discern and sift these particles of true history from the fancies with which they are associated. Among these apocryphal productions dealing more or less extensively with some episodes of St. Joseph's life may be noted the so-called "Gospel of James", the "Pseudo-Matthew", the "Gospel of the Nativity of the Virgin Mary", the "Story of Joseph the Carpenter", and the "Life of the Virgin and Death of Joseph".

Genealogy

St. Matthew (1:16) calls St. Joseph the son of Jacob; according to St. Luke (3:23), Heli was his father. This is not the place to recite the many and most various endeavours to solve the vexing questions arising from the divergences between both genealogies; nor is it necessary to point out the explanation which meets best all the requirements of the problem (see GENEALOGY OF CHRIST); suffice it to remind the reader that, contrary to what was once advocated, most modern writers readily admit that in both documents we possess the genealogy of Joseph, and that it is quite possible to reconcile their data.

Residence

At any rate, Bethlehem, the city of David and his descendants, appears to have been the birth-place of Joseph. When, however, the Gospel history opens, namely, a few months before the Annunciation, Joseph was settled at Nazareth. Why and when he forsook his home-place to betake himself to Galilee is not ascertained; some suppose — and the supposition is by no means improbable — that the then-moderate circumstances of the family and the necessity of earning a living may have brought about the change. St. Joseph, indeed, was a tekton, as we learn from Matthew 13:55, and Mark 6:3. The word means both mechanic in general and carpenter in particular; St. Justin vouches for the latter sense (Dialogue with Trypho 88), and tradition has accepted this interpretation, which is followed in the English Bible.

Marriage

It is probably at Nazareth that Joseph betrothed and married her who was to become the Mother of God. When the marriage took place, whether before or after the Incarnation, is no easy matter to settle, and on this point the masters of exegesis have at all times been at variance. Most modern commentators, following the footsteps of St. Thomas, understand that, at the epoch of the Annunciation, the Blessed Virgin was only affianced to Joseph; as St. Thomas notices, this interpretation suits better all the evangelical data.

It will not be without interest to recall here, unreliable though they are, the lengthy stories concerning St. Joseph's marriage contained in the apocryphal writings. When forty years of age, Joseph married a woman called Melcha or Escha by some, Salome by others; they lived forty-nine years together and had six children, two daughters and four sons, the youngest of whom was James (the Less, "the Lord's brother"). A year after his wife's death, as the priests announced through Judea that they wished to find in the tribe of Juda a respectable man to espouse Mary, then twelve to fourteen years of age. Joseph, who was at the time ninety years old, went up to Jerusalem among the candidates; a miracle manifested the choice God had made of Joseph, and two years later the Annunciation took place. These dreams, as St. Jerome styles them, from which many a Christian artist has drawn his inspiration (see, for instance, Raphael's "Espousals of the Virgin"), are void of authority; they nevertheless acquired in the course of ages some popularity; in them some ecclesiastical writers sought the answer to the well-known difficulty arising from the mention in the Gospel of "the Lord's brothers"; from them also popular credulity has, contrary to all probability, as well as to the tradition witnessed by old works of art, retained the belief that St. Joseph was an old man at the time of marriage with the Mother of God.

The Incarnation

This marriage, true and complete, was, in the intention of the spouses, to be virgin marriage (cf. St. Augustine, "De cons. Evang.", II, i in P.L. XXXIV, 1071-72; "Cont. Julian.", V, xii, 45 in P.L. XLIV, 810; St. Thomas, III:28; III:29:2). But soon was the faith of Joseph in his spouse to be sorely tried: she was with child. However painful the discovery must have been for him, unaware as he was of the mystery of the Incarnation, his delicate feelings forbade him to defame his affianced, and he resolved "to put her away privately; but while he thought on these things, behold the angel of the Lord appeared to him in his sleep, saying: Joseph, son of David, fear not to take unto thee Mary thy wife, for that which is conceived in her, is of the Holy Ghost. . . And Joseph, rising from his sleep, did as the angel of the Lord had commanded him, and took unto him his wife" (Matthew 1:19, 20, 24).

The Nativity and the flight to Egypt

A few months later, the time came for Joseph and Mary to go to Bethlehem, to be enrolled, according to the decree issued by Caesar Augustus: a new source of anxiety for Joseph, for "her days were accomplished, that she should be delivered", and "there was no room for them in the inn (Luke 2:1-7). What must have been the thoughts of the holy man at the birth of the Saviour, the coming of the shepherds and of the wise men, and at the events which occurred at the time of the Presentation of Jesus in the Temple, we can merely guess; St. Luke tells only that he was "wondering at those things which were spoken concerning him" (2:33). New trials were soon to follow. The news that a king of the Jews was born could not but kindle in the wicked heart of the old and bloody tyrant, Herod, the fire of jealousy. Again "an angel of the Lord appeared in sleep to Joseph, saying: Arise, and take the child and his mother, and fly into Egypt: and be there until I shall tell thee" (Matthew 2:13).

Return to Nazareth

The summons to go back to Palestine came only after a few years, and the Holy Family settled again at Nazareth. St. Joseph's was henceforth the simple and uneventful life of an humble Jew, supporting himself and his family by his work, and faithful to the religious practices commanded by the Law or observed by pious Israelites. The only noteworthy incident recorded by the Gospel is the loss of, and anxious quest for, Jesus, then twelve years old, when He had strayed during the yearly pilgrimage to the Holy City (Luke 2:42-51).

Death

This is the last we hear of St. Joseph in the sacred writings, and we may well suppose that Jesus's foster-father died before the beginning of Savior's public life. In several circumstances, indeed, the Gospels speak of the latter's mother and brothers (Matthew 12:46; Mark 3:31; Luke 8:19; John 7:3), but never do they speak of His father in connection with the rest of the family; they tell us only that Our Lord, during His public life, was referred to as the son of Joseph (John 1:45; 6:42; Luke 4:22) the carpenter (Matthew 13:55). Would Jesus, moreover, when about to die on the Cross, have entrusted His mother to John's care, had St. Joseph been still alive?

According to the apocryphal "Story of Joseph the Carpenter", the holy man reached his hundred and eleventh year when he died, on 20 July (A.D. 18 or 19). St. Epiphanius gives him ninety years of age at the time of his demise; and if we are to believe the Venerable Bede, he was buried in the Valley of Josaphat. In truth we do not know when St. Joseph died; it is most unlikely that he attained the ripe old age spoken of by the "Story of Joseph" and St. Epiphanius. The probability is that he died and was buried at Nazareth.

Devotion to Saint Joseph

Joseph was "a just man". This praise bestowed by the Holy Ghost, and the privilege of having been chosen by God to be the foster-father of Jesus and the spouse of the Virgin Mother, are the foundations of the honour paid to St. Joseph by the Church. So well-grounded are these foundations that it is not a little surprising that the cult of St. Joseph was so slow in winning recognition. Foremost among the causes of this is the fact that "during the first centuries of the Church's existence, it was only the martyrs who enjoyed veneration" (Kellner). Far from being ignored or passed over in silence during the early Christian ages, St. Joseph's prerogatives were occasionally descanted upon by the Fathers; even such eulogies as cannot be attributed to the writers among whose works they found admittance bear witness that the ideas and devotion therein expressed were familiar, not only to the theologians and preachers, and must have been readily welcomed by the people. The earliest traces of public recognition of the sanctity of St. Joseph are to be found in the East. His feast, if we may trust the assertions of Papebroch, was kept by the Copts as early as the beginning of the fourth century. Nicephorus Callistus tells likewise — on what authority we do not know — that in the great basilica erected at Bethlehem by St. Helena, there was a gorgeous oratory dedicated to the honour of our saint. Certain it is, at all events, that the feast of "Joseph the Carpenter" is entered, on 20 July, in one of the old Coptic Calendars in our possession, as also in a Synazarium of the eighth and nineth century published by Cardinal Mai (Script. Vet. Nova Coll., IV, 15 sqq.). Greek menologies of a later date at least mention St. Joseph on 25 or 26 December, and a twofold commemoration of him along with other saints was made on the two Sundays next before and after Christmas.

In the West the name of the foster-father of Our Lord (Nutritor Domini) appears in local martyrologies of the ninth and tenth centuries, and we find in 1129, for the first time, a church dedicated to his honour at Bologna. The devotion, then merely private, as it seems, gained a great impetus owing to the influence and zeal of such saintly persons as St. Bernard, St. Thomas Aquinas, St. Gertrude (d. 1310), and St. Bridget of Sweden (d. 1373). According to Benedict XIV (De Serv. Dei beatif., I, iv, n. 11; xx, n. 17), "the general opinion of the learned is that the Fathers of Carmel were the first to import from the East into the West the laudable practice of giving the fullest cultus to St. Joseph". His feast, introduced towards the end shortly afterwards, into the Dominican Calendar, gradually gained a foothold in various dioceses of Western Europe. Among the most zealous promoters of the devotion at that epoch, St. Vincent Ferrer (d. 1419), Peter d'Ailly (d. 1420), St. Bernadine of Siena (d. 1444), and Jehan Charlier Gerson (d. 1429) deserve an especial mention. Gerson, who had, in 1400, composed an Office of the Espousals of Joseph particularly at the Council of Constance (1414), in promoting the public recognition of the cult of St. Joseph. Only under the pontificate of Sixtus IV (1471-84), were the efforts of these holy men rewarded by Roman Calendar (19 March). From that time the devotion acquired greater and greater popularity, the dignity of the feast keeping pace with this steady growth. At first only a festum simplex, it was soon elevated to a double rite by Innocent VIII (1484-92), declared by Gregory XV, in 1621, a festival of obligation, at the instance of the Emperors Ferdinand III and Leopold I and of King Charles II of Spain, and raised to the rank of a double of the second class by Clement XI (1700-21). Further, Benedict XIII, in 1726, inserted the name into the Litany of the Saints.

One festival in the year, however, was not deemed enough to satisfy the piety of the people. The feast of the Espousals of the Blessed Virgin and St. Joseph, so strenuously advocated by Gerson, and permitted first by Paul III to the Franciscans, then to other religious orders and individual dioceses, was, in 1725, granted to all countries that solicited it, a proper Office, compiled by the Dominican Pierto Aurato, being assigned, and the day appointed being 23 January. Nor was this all, for the reformed Order of Carmelites, into which St. Teresa had infused her great devotion to the foster-father of Jesus, chose him, in 1621, for their patron, and in 1689, were allowed to celebrate the feast of his Patronage on the third Sunday after Easter. This feast, soon adopted throughout the Spanish Kingdom, was later on extended to all states and dioceses which asked for the privilege. No devotion, perhaps, has grown so universal, none seems to have appealed so forcibly to the heart of the Christian people, and particularly of the labouring classes, during the nineteenth century, as that of St. Joseph.

This wonderful and unprecedented increase of popularity called for a new lustre to be added to the cult of the saint. Accordingly, one of the first acts of the pontificate of Pius IX, himself singularly devoted to St. Joseph, was to extend to the whole Church the feast of the Patronage (1847), and in December, 1870, according to the wishes of the bishops and of all the faithful, he solemnly declared the Holy Patriarch Joseph, patron of the Catholic Church, and enjoined that his feast (19 March) should henceforth be celebrated as a double of the first class (but without octave, on account of Lent). Following the footsteps of their predecessor, Leo XIII and Pius X have shown an equal desire to add their own jewel to the crown of St. Joseph: the former, by permitting on certain days the reading of the votive Office of the saint; and the latter by approving, on 18 March, 1909, a litany in honour of him whose name he had received in baptism.

VERSI INDONESIA, KLIK :
http://translate.google.com/translate?js=y&prev=_t&hl=en&ie=UTF-8&layout=1&eotf=1&u=http%3A%2F%2Fwww.newadvent.org%2Fcathen%2F08504a.htm&sl=en&tl=id

“Yesus” Disambar Petir di Ohio

Petir tidak pandang bulu, "orang suci" dan "malaikat" pun ikut pula dihantam

Hidayatullah.com--Sepertinya "tuhan" mengorbankan anaknya. Lagi. Demikian tulis Washington Post (16/6). Senin lalu, petir menyambar sebuah patung Yesus setinggi 62 kaki  yang berdiri di luar sebuah gereja di Monroe, Ohio. Patung itu pun terbakar dan hanya menyisakan kerangka baja yang hangus. Lengan kurusnya masih menunjuk ke langit, sebuah isyarat yang menjadikannya dijuluki "Touchdown Jesus".

Darlen Bishop, wakil pastor dari Gereja Solid Rock mengatakan lega, karena petir menyambar Yesus dan bukan rumah dan para wanita yang tinggal di sekitanya.

"Saya katakan kepada mereka, 'sepertinya Yesus menanggung hantaman itu demi kalian semalam'," ujarnya, seperti dikutip Washington Post.

Orang suci kena strum


Pada tahun 2008, petir juga menghanguskan jemari dan alis Yesus di Redeemer, patung terkenal setinggi 130 kaki yang berdiri di atas kota Rio de Janeiro.

Tahun 2007, petir menyetrum Yesus setinggi 33 kaki di tempat suci Bunda Cabrini di Golden, Colorado, AS. Ketika itu salah satu lengannya putus.

Orang suci dan malaikat rupanya juga tidak aman dari petir. Patung Bunda Maria di Chicago yang berada di kubah sebuah gereja dilalap api akibat petir pada tahun 1978.

St. Joan of Arc pernah tersengat petir di New Orleans, sehingga tongkat yang diacungkannya patah.

Patung-patung Malaikat Moroni, yang biasanya ada di puncak gereja aliran Mormon, menjadi langganan sambaran petir. Sampai-sampai Salt Lake Tribune pernah mengkhawatirkan keselamatan patung-patung itu dalam headline di halaman mukanya.

Orang Romawi Kuno sering mengkaitkan patung yang disambar petir dengan pertanda buruk, seperti halnya ayam yang bisa berbicara dan hujan darah dari langit. Tapi dua peristiwa terakhir sangat langka sekali.

Untuk mencari makna dari sambaran petir atas Touchdown Jesus, Washington Post mencoba mengontak Pat Robertson, pembawa acara "The 700 Club" yang pernah menyatakan bahwa bencana badai Katrina dan gempa Haiti merupakah hukuman dan tanda dari tuhan. Tapi melalui humasnya, Robertson menyatatakan menolak untuk memberikan komentar.

Namun bagi pastor Bishop sendiri, terbakarnya patung Yesus itu tidak menandakan apa-apa.

"Honey, it's just some fiberglass," katanya.

Ya, memang hanya sebuah patung fiberglas, jadi mengapa harus dikhawatirkan. Lagipula petir memang kerap menyambar obyek-obyek yang tinggi.[di/wp/www.hidayatullah.com]

27 May 2010

BREAKING NEWS: Prophet Muhammad's Name Found in the Bible


cek this out :

http://www.youtube.com/watch?v=wm3sZfPwv1g&feature=related

InviteToIslam December 27, 2009The name "Muhammad" has been discovered in the Bible in the original Hebrew language.

In the 5th chapter of the Shir haShirim ( שיר השירים ), which is one of the five megilot or Sacred Scrolls that are part of the Hebrew Bible or for short the "Song of Solomon" (also called "Song of Songs"). That chapter is giving a prophecy about an individual to come, a mystery man.

Song of Songs 5:15 compares this prophetic mystery man to the land of "Lebanon" which is the land of the Arabs. This implies that the mystery man would be an Arab.

Song of Songs 5:10 says: "My beloved is white and ruddy, pre-eminent above ten thousand." This is a prophecy of Prophet Muhammad as he conquered Mecca. It is a well known historically documented fact that in the year 630 CE Muhammad entered Mecca as the leader of an army of "ten thousand men". This verse and the preceeding verse (v. 11) also match Muhammad's physical discription as found in Muslim sources (light skin and black hair).

In reading the English translation of Song of Songs 5:16 it finishes the description by saying: "He is altogether lovely" but what most people don't know is that the name of that man was given in the original megilot. Here is the name written in ancient Hebrew as it appears in verse sixteen: מחמד . It is read as : "Mahammad". According to Ben Yehuda's Hebrew-English Dictionary, it is correctly pronounced as "Mahammad".

If you don't believe me, go to these translator links, paste the name מחמד and then translate it into English. You will see that מחמד is translated as "Muhammad".

http://www.freetranslation.com/

http://worldlingo.com/en/products_ser...

You can also see and listen to the Song of Songs in its original form, in Hebrew where Muhammad is mentioned by name in the below link (please notice the "im" in Hebrew is a plural of respect):

http://www.mechon-mamre.org/p/pt/pt30...


21 May 2010

Politik di Balik Kecantikan Miss USA & Miss Universe


Fitraya Ramadhanny - detikNews

Jakarta - detikhot awal pekan ini melansir Rima Fakih menjadi muslim pertama yang menang Miss USA 2010. Pemilihan Miss USA dan juga Miss Universe, adalah dua momen yang tidak boleh saya lewatkan, tapi itu bukan karena  paras cantik dan bodi aduhai.

Percaya atau tidak, saya punya cara pandang yang sama sekali berbeda terhadap ajang adu kecantikan itu. Ketika orang mengagumi paras, bodi aduhai, atau mungkin juga kecerdasan mereka, buat saya, itu semua tidak penting. Miss USA dan Miss Universe, buat saya hanya bermakna tunggal, POLITIK.

Menurut saya, Miss USA dan nanti dilanjutkan Miss Universe adalah cara paling sederhana untuk memahami garis-garis  kebijakan politik Paman Sam. Miss USA adalah potret kebijakan politik  dalam negeri, Miss Universe adalah potret kebijakan politik luar negeri. Itu semua untuk satu tahun ke depan setelah sang putri kecantikan terpilih.

Tidak percaya? Lebih baik kali ini Anda percaya. Mari kita mulai urai analisanya:

Komunikasi politik, adalah elemen paling penting dalam strategi politik di Amerika. Pencitraan menjadi senjata paling ampuh untuk menentukan baik buruknya sesuatu. Dan peran tunggal pencitraan diserahkan kepada MEDIA. Tentu sudah banyak Anda tahu betapa gurita media AS juga menjalankan tugas propaganda, terutama televisi.

Namun, yang belum banyak kita sadari, pesan tersembunyi banyak disusupkan dalam beraneka program televesi, dan itu bukan dalam berita. Percayalah, Gedung Putih sudah tahu gambar apa yang harus muncul di depan mata Anda. Mulai dari wajah orang sampai latar belakang. Semua bisa menanamkan pesan di benak anda.

Miss USA dan Miss Universe dalam 4 dekade terakhir, telah menjadi alat propaganda yang efektif. Gadis-gadis yang terpilih sebagai ratu kecantikan, jangan cuma dilihat sebagai individu. Mohon kiranya bisa melihat mereka dengan berbagai agenda politik yang bisa disimbolkan lewat daerah asal, etnisitas, bahkan nama mereka.

Terus terang biasanya saya langsung fokus dengan Miss Universe karena kebijakan politik luar negeri AS lebih menarik dan berdampak banyak dari pada urusan dalam negeri mereka. Sebelum saya memberikan contoh, ini dia prinsip paling dasar untuk menonton acara penobatan Miss Universe menurut saya:

1. Top 10 Finalis Miss Universe dipilih dari negara-negara yang mendapatkan apresiasi Gedung Putih untuk satu tahun yang sudah berlalu. Biasanya negara-negara yang tunduk pada tekanan AS, memberikan pintu lebar untuk masuknya perusahaan-perusaahaan asing, atau negara binaan AS yang harus mendapatkan publikasi.

2. Top 5 Finalis Miss Universe dipilih dari negara-negara yang akan menjadi fokus perhatian Gedung putih untuk tahun ini. Mereka akan menjadi target pendekatan karena kepemilikan minyak dan gas, beraneka bahan tambang, lokasinya penting secara geografis, atau negaranya penting untuk dijadikan sekutu.

3. Miss Universe dipilih dari satu negara yang menjadi negara fokus yang akan diberikan pencitraan oleh AS. Negara ini akan didekati habis-habisan, untuk mendukung kebijakan politik luar negeri AS.

OK! Sekarang saya mau ingatkan, pemilihan Miss Universe tidak bisa lepas dari situasi politik internasional, dan nasional untuk kasus Miss USA. Ayo kita masuk ke contoh, rumusannya kita buat begini: Situasi politik internasional dulu, baru kita lihat siapa Miss Universe-nya.

2004
George W Bush sudah empat tahun mengobarkan perang melawan terorisme, sebentar lagi Pilpres di AS dan Bush harus bertahan. Afghanistan sudah takluk dan ladang minyak sudah dibagi-bagi. 'Perang melawan terorisme' memasuki babak pre-emptive action dengan menyerbu Irak. Inggris yang jadi sekutu loyal, terus dihantam protes dalam negeri meminta tentara dipulangkan. AS butuh sekutu tambahan untuk dibujuk mengirim anak muda mereka untuk dikorbankan di Irak.

Miss Universe: Jennifer Hawkins dari Australia

2007
Kavling minyak di Irak juga sudah dibagi-bagi rata untuk para sponsor perang. Sekarang Bush ingin menghantam Ahmadinejad dari Iran. Namun setelah beberapa tahun, Ahmadinejad terus bertahan, sementara Kim Jong Il juga mulai jahil di Korea Utara. Bush menyebut mereka Evil Axis, Poros Setan. Sementara tinggal 1 tahun tersisa, Ahmadinejad tidak juga goyah. Bush memutuskan melepas Ahmadinejad dan memilih menahan Kim Jong Il. Butuh sekutu yang bertetangga dengan Korea Utara dan bisa dibujuk agar mengeluarkan kebijakan diplomasi keras untuk Korea Utara.

Miss Universe: Riyo Mori dari Jepang

2008-2009
Krisis ekonomi global sudah dirasakan dampaknya. Harga minyak membumbung tinggi. AS sedang berganti presiden. Irak rupanya tidak bisa jadi jaminan. Pembakaran ladang minyak sudah membuat mereka pusing, dan sudah ribuan tentara AS mati sia-sia. Situasi sulit untuk Bush (2008) dan Obama (2009). Untuk mengamankan perekonomian, siapapun harus bisa memegang minyak. Minyak yang aman ada di Amerika Latin. Bisa didapat tanpa perang, namun para kepala negaranya benci dengan AS, jadi perlu dibujuk.

Miss Universe: 2008 - Dayana Mendoza dan 2009 - Stefania Fernandez, keduanya dari Venezuela

Masih kurang buktinya? Ayo kita lihat untuk skala mikro: Miss USA. Kalau Miss USA ini untuk urusan politik internal Amerika saja.

2008
Tahun terakhir pemerintahan Bush. Popularitasnya terjun drastis. Publik sudah lelah dengan perang Irak. Krisis ekonomi merajalela. Pemerintah butuh dukungan dari kelompok lain di luar White-Anglo-Saxon-Protestant. Mereka harus diangkat-angkat biar mau mendukung pemerintah.

Miss USA: Crystle Stewart (Afro-American)

2010
Tahun kedua pemerintahan Obama. AS berusaha memperbaiki citra internasional akibat 10 tahun perang melawan terorisme. Obama yang keturunan Kenya, sempat menjadi Muslim, merasa punya modal untuk menyelamatkan muka USA di hadapan negara muslim. Obama pidato di Kairo memuji dialog Islam dan Barat. Bulan Juni nanti Obama akan ke Indonesia, negara Muslim terbesar. Sebelum ke Indonesia, harus ada kabar baik soal Islam di dalam negeri Amerika.

Miss USA: Rima Fakih (Muslim)

Jadi pasang mata baik-baik, dan kita bisa meraba sepak terjang Amerika dalam setahun ke depan. Bahkan bila data-data Anda sudah cukup, mungkin Anda bisa memprediksi pemenang tahun depan, atau bahkan menebak kapan Putri Indonesia juara Miss Universe.

Bagi saya, Putri Indonesia berpeluang masuk Top 10 tahun ini bersama Mesir. Soal juara Miss Universe, mungkin itu bergantung hasil kunjungan Obama ke Indonesia, bulan Juni mendatang.

*) Fitraya Ramadhanny adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan tempat penulis bekerja.

http://www.detiknews.com/read/2010/05/21/085709/1361232/103/politik-di-balik-kecantikan-miss-usa-miss-universe?n991102605

20 May 2010

Khitan Dapat Atasi Gangguan Fimosis Anak


Fimosis adalah kondisi kepala penis tidak dapat ditarik sehingga kulit tersebut menutupi lubang atau saluran kemih

Hidayatullah.com--Salah satu gangguan yang bisa terjadi pada penis anak laki-laki adalah mengalami fimosis (phimosis). Anak yang mengalami fimosis selalu merasa sakit saat kencing. Umumnya kondisi ini diobati dengan cara  dikhitan.

Fimosis adalah kondisi kulup (bagian kulit yang menutupi ujung kepala penis) tidak dapat ditarik sehingga kulit tersebut menutupi lubang atau saluran kemih yang menyebabkan anak merasa nyeri saat buang air kecil.

Seperti dikutip dari Menshealth.about.com, Selasa (18/5), fimosis dapat disebabkan oleh:

1.      Kegagalan kulup untuk melonggar selama proses pertumbuhan.

2.    Infeksi seperti balinitis.

3.    Cacat yang disebabkan oleh trauma.

4.    Penyakit pada alat kelamin.

Infeksi yang terjadi kemungkinan timbul dari ketidakmampuan melakukan pembersihan yang efektif sehingga menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan rasa sakit di daerah tersebut.

Selain rasa nyeri dan sakit saat buang air kecil, fimosis ini juga sering disertai dengan gejala:

1.      Bagian depan penis yang menggelembung

2.    Anak menangis saat buang air kecil karena timbul rasa sakit

3.    Urine yang keluar tidak lancar

4.    Kadang disertai dengan demam tinggi atau iritasi pada penis.

Fimosis ini bisa terjadi karena faktor kongenital (bawaan sejak bayi lahir) atau bisa juga akibat peradangan berulang yang terjadi pada kulit depan penis (kulup).

Anak-anak seringkali sulit untuk mengungkapkan apa yang dialaminya, sehingga orangtualah yang harus cermat memperhatikan dan melihat apa yang terjadi dengan anaknya.

Beberapa ahli medis memiliki pendapat berbeda mengenai pengobatan terhadap kondisi ini, di antaranya ada yang melarang melakukan perawatan bedah sampai anak tersebut mencapai pubertas. Namun jika penyebab dari fimosis ini adalah akibat infeksi Balanitis xeroticia obliterans, maka satu-satunya pengobatan adalah melakukan bedah sunat.

Meski demikian ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi fimosis, yaitu:

1.      Menggunakan krim tropis, steroid dan non-steroid yang dioleskan pada bagian kulup.

2.    Peregangan bertahap untuk membuka kulup sehingga lebih longgar.

3.    Pembedahan untuk membentuk kembali kulup dan membuatnya lebih lebar.

Umumnya jika fimosis tak kunjung sembuh setelah diberikan pengobatan berupa krim dan peregangan, maka dokter akan menyarankan dilakukan sunat untuk membuang kulit kulup tersebut.

Hingga kini sunat atau khitan masih menjadi pengobatan yang efektif untuk fimosis, dan sunat ini sendiri tidak akan mengganggu fungsi reproduksi dari anak tersebut nantinya.

Setelah dilakukan sunat, orangtua dan anak harus menjaga kebersihannya agar tidak terjadi infeksi yang dapat menghambat saluran kemih kembali.

Selain itu usahakan untuk selalu membersihkan kepala penis perlahan-lahan setiap kali anak selesai buang air kecil. Hal ini penting untuk menjaga kebersihan dan mencegah penyumbatan saluran kemih oleh kotoran. [dth/hidayatullah.com]
 

10 May 2010

Menakjubkan: Perahu Nabi Nuh AS Telah Ditemukan Melalui Penelitian Ilmiah (revised and completed)

Umat Nabi Nuh A.S yang ditenggelamkan oleh Allah SWT karena kedurhakaannya seperti dikisahkan dalam Al-Qur'an, sudah menemukan pembuktian kebenarannya secara ilmiah. Sejak tahun 1949, sudah ditemukan lokasinya dan kemudian dilakukan penggalian oleh penelitian tim antropolog yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt di Turki sejak tahun 1977. Ini adalah sebagian foto-fotonya. ENJOY IT!!

a

1. Awal Penemuan

Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter)

a

Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu Nabi Nuh AS (The Noah's Ark)

a

2. Foto-foto tahun 1999-2000

Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun
1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.

a

a

3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh AS

a

4. Tuuh … Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Arafat. Jelas kan??

picture1.jpg

a

5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan

picture2.jpg

aa

6. Pengukuran di Atas Perahu

a

7. Struktur Perahu menurut para arkeolog yang menemukannya

picture3.jpg

a

8. Ini dia lebih jelasnya

picture4.jpg

a

9. Setelah dibersihkan, beginilah bentuk Asli Perahu Nabi Nuh AS yang kuno tapi canggih. Di dalam perahu inilah sedikit umat Nabi Nuh AS diselamatkan Allah SWT dari banjir dahsyat setinggi gunung dan ratusan pasang binatang ikut serta didalamnya.

a

10. Gambaran suasana terjadinya banjir dalam Injil yang terjadi pada tahun 1300 BC (Sebelum Masehi). Sekitar 25 tahun sebelum zaman Nabi Musa AS atau 1.300 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa AS. Lihat perbandingan ukuran perahu dengan Pesawar Modern Jumbo 747.

SMEOGA BERMANFAAT DAN MENAMBAH KEYAKINAN KITA AKAN KEBENARAN ADANYA NABI-NABI UTUSAN ALLAH SWT. (Moeflich)

LIHAT REPILKA PERAHU NABI NUH AS INI DI BELANDA YANG MENAKJUBKAN YANG BISA ANDA KUNJUNGI KESANA:

Klik http://moeflich.wordpress.com/2009/02/16/inilah-ruang-dalam-interior-perahu-nabi-nuh-as-menakjubkan-kesana-yuk/?preview=true&preview_id=1226&preview_nonce=bad0930403


31 October 2009

Sharon, Penjegal Dengan koma Terlama


Katagori : Laporan
Oleh : Redaksi 24 Oct, 09 - 1:30 pm

Sebuah sumber terpercaya dari salah satu media elektronik memberitakan kondisi terakhir Sang Penjagal muslim Palestina, Ariel Sharon. Koran terbitan Israel, "Hume Israel" mengutip informasi ini dari salah satu majalah elektronik harian terkemuka di negerinya. Media ini mempublish kondisi kesehatan mantan PM. Israel, Ariel Sharon yang kini masih menderita stroke dan terbaring koma di rumah sakit selama lebih dari empat tahun.

Sharon yang saat ini usianya menginjak 81 tahun dirawat di RS. Syaiba tak jauh dari kota Tel Aviv. Ia dikabarkan terbaring dalam keadaan kedua mata terus terbuka, para perawat yang menjaganya kemudian menempatkan Sharon di depan televisi yang menayangkan film-film panorama alam, aneka hewan dan terkhusus hewan ternak sapi. Majalah ini kemudian menuliskan bahwa keluarga Sharon masih intens menjenguk dan berinteraksi dengan dirinya, ini mengisyaratkan bahwa Sharon masih hidup. Salah satu dari anggota keluarganya kerap membacakan koran harian disampingnya dan mengabarkan perkembangan ternak sapi yang ia miliki di daerah Selatan Israel. Disamping itu ia juga dibacakan beberapa buku dan diperdengarkan musik-musik klasik.

Diceritakan pula, sejak Sharon terkena stroke pada bulan Juli 2006 lalu, ada seorang laki-laki khusus yang ditugaskan mencukur jenggotnya, untuk meminta itu, Sharon sering memberikan isyarat dengan menggerak-gerakkan jari jempol. Dokter-dokter yang merawat Sharon membenarkan hal itu dan memberikan keterangan, kendati Sharon dengan kondisinya yang tergeletak di atas ranjang rumah sakit bertahun-tahun, kemungkinan besar dirinya masih hidup karena denyut jantung dan tekanan darahnya hingga kini masih berjalan normal. Sama seperti kondisi awal kali pertama dirinya masuk rumah sakit pada empat tahun lalu.

Ketika ditanya lebih lanjut sampai kapan kondisi Sharon akan terus menerus seperti ini, Solomo Segev, dokter senior yang merawatnya mengatakan, "Kalau diprediksi dari usia rata-rata di keluarga Sharon, ibu dan neneknya mati di atas usia 90 tahun". Solomo pun kemudian memperkirakan Sharon akan tetap dengan kondisinya seperti ini hingga lewat usianya di atas 90 tahun.

Majalah elektronik itu kemudian menutup beritanya dengan sebuah pertanyaan, apakah Sharon akan sembuh dari komanya? Dokter yang merawatnya kemudian menjawab, "Sharon bukan manusia biasa, ada pasien lain yang berada dalam kondisi koma lebih lama dari Sharon, namun pasien-pasien itu masih dalam usia muda, dengan kata lain, pasien seumuran Sharon biasanya tak bertahan lama, apalagi bisa bertahan hingga empat tahun, kalau itu terjadi, tentu ini diluar kewajaran." (eramuslim)


Sharon Sebelum Koma


Sharon Setelah Koma

Penyumbatan yang terjadi di otaknya menyebabkan kerusakan di sekujur tubuh. Ini sebagai akibat penindasannya terhadap umat Muhammad Shalallahu alaihi wassalam yang berlangsung terus menerus siang dan malam.


REMEMBER SABRA & SHATILA MASSACRE


George Galloway on Press TV Ariel Sharon Never Died



Ariel Sharon on his death bed.this rotting pig's picture was taken on a cellophane by a nurse when he was at Sheba Hospital in Tel Hashomer in 2006.later after he became a rotting vegetative state he was moved to Hadassah hospital for "rehabilitation" as the hospital announced later.


Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

22 September 2009

Inilah Skenario Runtuhnya WTC


Oleh : Redaksi 11 Sep, 09 - 11:00 pm


Bohong Besar Amerika

Setiap 11 September, rakyat Amerika mengenang tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, AS, yang memakan banyak korban. Gedung kembar itu hancur luluh bagaikan gedung tua yang diledakkan oleh bahan peledak dari dalam setelah ditabrak dua pesawat terbang komersial. Hari itu, jaringan televisi AS meliput secara live dari lokasi peristiwa. Tayangan itu terbidik dari beberapa sudut dan terlihat langsung oleh jutaan pemirsa televisi. Pers AS lalu seperti menyanyikan lagu koor, mengutip keterangan resmi: 'Menara itu runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh Usamah Bin Laden dari Afghanistan'. Tapi, tak semua pers mengikuti koor itu. Theiry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis mencoba melihat peristiwa itu secara objektif. ''Saya akan menjungkirbalikkan seluruh versi resmi serangan 11 September 2001,'' katanya.

Hasil investigative reporting -nya itu kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul 9/11 The Big Lie America , diterjemahkan penerbit Jalan Lurus dengan judul, Bohong Besar Amerika , Bandung, 2003.

Inilah cerita versi Thierry Meyssan: Kedua pesawat itu diidentifikasikan oleh FBI sebagai Boeing 767. Pesawat itu menghantam tepat pada sasarannya. Peristiwa ini sangat musykil. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah kota akan tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim menjadi hilang. Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada ketinggian sangat rendah. 'Karya' itu merupakan prestasi luar biasa bahkan pilot yang sangat berpengalaman pun sulit melakukannya. Konon yang melakukannya adalah pilot yang baru lulus latihan.


Thierry Meyssan

Namun, ada satu cara untuk mendapat hasil demikian, yakni memakai rambu tuntun dari radio. Suatu sinyal yang dipancarkan dari sasaran, menuntun pesawat itu. Tak perlu banyak orang di pesawat dalam kendali pilot otomatis. Bahkan, pembajak sama sekali tidak dibutuhkan. Pesawat itu berada di bawah kendali remote control , mengendalikan pesawat tanpa pilot.

Setelah ditabrak, Menara Kembar runtuh sendiri. Sebuah komisi penyidik menyimpulkan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Teori ini disangkal keras oleh Assosiasi Pemadam Kebakaran New York dan Journal Profesional, Fire Engineering bahwa struktur bangunan tersebut tahan api. Para petugas pemadam kebakaran malah mendengar ledakan di lantai dasar bangunan. Pakar terkenal dari Institut Pertambangan dan teknologi, Van Romero pun mengamininya. ''Keruntuhan itu diakibatkan oleh bahan peledak,'' katanya.

Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan mengeluarkan pengumuman singkat ''Pentagon diserang teroris pada pukul 09.38,'' kata Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld. Pers AS pun heboh. Namun, ketika mau meliput peristiwa itu, para wartawan diusir dari tempat kejadian dengan alasan agar tidak menghalangi operasi penyelamatan. Toh, wartawan AP, Tom Horan, berhasil mendapatkan foto-foto ekslusive dari sebuah gedung dekat lokasi kejadian.

Kepala Staf Gabungan, Jenderal Richard Myers, mengindikasikan bahwa pesawat terbang bunuh diri itu adalah Boeing 757-200. Pukul 08.55 waktu setempat, Boeing itu turun ke ketinggian 29.000 kaki. Dua pesawat tempur F-16 segera melesat untuk mencegat Boeing itu, tapi katanya kehilangan jejak.

Menurut Meyssan ini tak masuk akal. ''Bagaimana percaya sebuah pesawat jet berbadan tambun bisa mengecoh dua pesawat tempur yang memburunya?'' Seandainya si Boeing berhasil mengatasi rintangan pertama pun, dengan mudah akan ditembak jatuh saat mendekati Pentagon. Pasalnya, di pangkalan udara Saint Andrew di sekitar Pentagon, berpangkalan Wing Tempur 113 Angkatan Udara dan Wing Tempur serang 321 Angkatan Laut. Masing-masing dilengkapi pesawat tempur F-16 dan F/A-18. Di atap gedung itu pun dipasang penangkis serangan udara dan rudal-rudal supercanggih. Mereka tentu tak akan pernah membiarkan sang Boeing menghampiri Pentagon.

Pesawat raksasa itu tiba-tiba mendekati tanah, seperti akan mendarat, langsung menabrak Gedung Pentagon. Anehnya tanpa merusak tiang lampu dan bangunan-bangunan di sekitarnya. Moncong pesawat masuk ke pintu gerbang yang tengah direnovasi. Keterangan resmi ini, menurut Meyssan, meragukan. Tabrakan keras itu pastilah menimbulkan kebakaran besar, lalu pesawat menjadi onggokan gosong.

''Jika merujuk pada foto dari AP, Anda akan melihat tidak dijumpai bangkai pesawat di sana. Bahkan, sebuah gir roda pesawat pun tak tampak. Padahal pemotretan itu dilakukan di menit-menit pertama ketika mobil pemadam kebakaran tiba dan petugas belum menyebar,'' tulis Meyssan dalam bukunya itu. Diduga suara berdesing dan runtuhnya atap salah satu pintu gerbang Pentagon itu disebabkan oleh rudal tipe AGM. Jenis rudal ini menyerupai sebuah pesawat terbang sipil kecil, memang. Tapi, bukan pesawat terbang. Demikian Meyssan.

Lepas dari kontroversi itu, Presiden AS, George W Bush, segera mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh teroris Muslim, pimpinan Usamah bin Ladin. Maka, tanpa memerlukan penyelidikan seksama, dengan alasan memburu pimpinan Alqaidah itu, Bush memerintahkan penyerbuan ke negara Muslim Afghanistan. Gilirannya, Irak diduduki dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal (yang kemudian ternyata tidak terbukti).

Kenapa Bush menuding Muslim? Rupanya Bush mendapat bisikan dari Samuel Philip Huntington. Pandangan negatif penasihat gedung putih terhadap Islam ini tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat di media Foreign Affairs yang terbit pada musim panas 1993 dengan judul ''The clash of Civilization''. Artikel yang memancing polemik ini kemudian diterbitkan dalam bentuk sebuah buku pada 1996. Menurut Huntington, setelah Uni Sovyet (ideologi komunis) runtuh, musuh berikutnya adalah Islam. Sudut pandang negatif terhadap Islam inilah yang rupanya diyakini Presiden Bush. Bush lalu mendeklarasikan perang atas nama membasmi teror.

Sejak dulu Indonesia negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini adalah negeri yang aman. Bangsa yang yakin bahwa agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Tapi, sejak deklarasi Bush itu, tiba-tiba bom-bom canggih berledakan merobek ketenangan negeri 'jamrud Khatulistiwa' itu dan memakan banyak korban orang tak berdosa. Lalu pesantren dituding biang teror. Orang-orang berjenggot, berpakaian gamis dengan celana menggantung dicurigai. Ujung-ujungnya, kegiatan dakwah harus diawasi. Mungkinkah malapetaka ini bagian dari skenario global untuk menyudutkan Islam? (dakta)









--
Ajaranku masih kurang, umatku. Setelah aku akan datang Nabi Lain (Yesus - Yoh 17:3)

“Kado Spesial” Mesir Bongkar Seluruh Kebusukan Yahudi Zionis


Katagori : Solidaritas
Oleh : Redaksi 18 Sep, 09 - 8:00 pm


Atas nama Agama, Israel membunuh rakyat Palestina

KAIRO - Sebuah tayangan di stasiun televisi di Mesir, yang mengudara di Al-Rahma TV, dituding oleh kaum Yahudi menyampaikan pesan antisemit. Tayangan itu menampilkan anak-anak yang mengucapkan slogan-slogan antisemit, Ulama Mesir mengatakan kaum Yahudi adalah turunan ular berbisa, menyerukan untuk membaca 'Protokol Para Sesepuh Zion', mereka juga memberi peringatan mengenai produk-produk buatan Yahudi.

Salah satu kutipan dari sebuah program anak-anak Islam, yang disiarkan di TV Al-Rahma pada tanggal 6 Maret 2009, menampilkan seorang anak yang berdoa meminta kehancuran kaum Yahudi.

"Ya Allah, hancurkan dan leburkan orang-orang Yahudi. Ya Allah, siksa mereka dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau dipulihkan. Kirimkan sambaran petir kepada mereka dari Surga. Ya Allah, siksa mereka dengan segala macam siksaan. Ya Allah, kirimkan serbuan burung ababil untuk membinasakan mereka." Mereka juga mengatakan bahwa peperangan dengan kaum Yahudi tidak akan pernah berhenti hingga akhir jaman.

Berikut adalah kutipan dari acara yang disiarkan pada tanggal 30 Januari dan 13 Februari 2009.

"Kaum Muslim akan menghabisi Yahudi pada hari akhir. Sampai Hari itu tiba, batu dan pohon akan berkata: "Wahai kaum Muslim, ada seorang Yahudi di belakangku, datang kemari dan bunuh dia – benda mati seperti batu dan pohon akan mengucapkan hal itu, kecuali pohon ghorqod, yang merupakan pohon kaum Yahudi."

Ulama Mesir, Salamah Abd Al-Qawi, dalam acara tersebut memberi peringatan bagi Muslim tentang 'Protokol Para Sesepuh Zion' dan perusahaan AS.

Pidato oleh ulama Mesir Salamah Abd Al-Qawi, yang disiarkan di TV Al-Rahma pada 15 Januari 2009 menyatakan, "Mereka menyusun Protokol Hitam ini sendiri, dengan maksud untuk menghancurkan kekuatan dari bangsa kita."

Salama Abd Al-Qawi: "Baca, jika Anda mau, buku hitam itu, di mana mereka termasuk Protokol Para Sesepuh Zion. Mereka sendiri yang menyusun protokol hitam ini, dalam rangka untuk menghancurkan kekuatan batin bangsa kita. Mereka mulai berkomplot untuk memusnahkan Islam dan bangsa Arab, untuk menjarah sumber daya, dan untuk menghancurkan pemuda."

"Salah satu konspirasi mereka adalah untuk mendapatkan kontrol keseluruhan atas ekonomi global, jadi mereka mendirikan perusahaan-perusahaan besar"

"Banyak produk dasar yang dapat ditemui di banyak rumah tangga Muslim seperti Ariel, Tide, dan deterjen Persil, adalah buatan Zionis. Perusahaan Coca Cola dan Pepsi dan hampir semua minuman berkarbonasi adalah produk Zionis-Amerika.

"Beberapa restoran, sayangnya penuh dengan pemuda Muslim, dan lemari besi mereka penuh dengan uang umat Islam ... McDonalds adalah Yahudi-Zionis, Kentucky Fried Chicken adalah Yahudi-Zionis, Little Caesar, Pizza Hut, Domino's Pizza, Burger King. Di samping itu, ada jenis kopi baru hari ini ... Semua ini adalah murni produk Zionis, terutama apa yang dikenal sebagai Starbucks."

Ulama Mesir Said Al-Afani menyatakan bahwa kaum Yahudi adalah keturunan ular dan merupakan dalang dibalik semua perang.

Kata Al-'Afani: "Orang Yahudi adalah orang-orang terkutuk, yang mendatangkan murka Allah. Mereka adalah keturunan ular, para pemburu Nabi kita Muhammad, yang kematiannya adalah akibat dari diracuni oleh seorang wanita Yahudi."

"Kita harus tahu bahwa orang-orang Yahudi adalah pembunuh para nabi. Mereka membunuh nabi Yahya (yang disebut oleh kaum non Islam dengan Yohanes pembaptis) dan nabi Zakaria. Mereka menyembelih nabi Yahya, dan mereka menyajikan kepalanya sebagai hadiah kepada pelacur Israel.

"Kebencian kami kepada mereka adalah semata-mata berdasarkan alasan agama, dan bukan karena murni, tanah suci, yang diberkati oleh Allah, atau karena Gaza ..."

Muhammad Abdul Al-Salam menambahkan, "Biarkan saya menjelaskan bahwa itu adalah tugas kita untuk membenci mereka, sebagai bagian dari iman kita."

Kata Al-'Afani: "Orang-orang Yahudi berada di balik Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Ketika komandan Amerika mengatakan bahwa Jepang telah menyetujui syarat-syarat penyerahan, Rothschild Amerika, atau lebih tepatnya, Roosevelt Amerika, diberitahu oleh rentenir Yahudi untuk menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki."

Ulama Masoud Sheik Anwar menyatakan bahwa musuh terburuk kaum muslimin, setelah Setan, adalah orang Yahudi.

"(Yahudi) adalah bangsa yang mengutuk Allah siang dan malam. Orang Yahudi menggambarkan Allah dalam istilah yang paling buruk. Mereka adalah pembunuh nabi. Mereka membunuh 40 nabi-nabi. Sedangkan untuk kitab-kitab yang dikirim oleh Tuhan, orang-orang Yahudi tidak percaya baik di dalam Perjanjian Baru atau Al-Quran. Sedangkan Taurat, mereka menyimpangkan itu."


Para ulama itu juga menyebutkan beberapa karakteristik orang-orang Yahudi. Karakteristik Pertama adalah kekakuan hati mereka.

"Hati mereka kaku, dan mereka menundukkan kepala mereka hanya dengan pukulan palu. Hati yang paling sulit dari semuanya adalah hati orang Yahudi. Hati mereka kokoh, dingin, dan jauh dari segala kebaikan. Mereka tidak ada belas kasihan atau rasa iba. Kesaksian Al Qur'an, sejarah menjadi saksi, dan realitas kehidupan kita menjadi saksi untuk ini.

Karakteristik kedua adalah mereka berpegangan pada kehidupan mereka. Sedangkan karakteristik ketiga adalah sifat licik mereka.

"Kaum Yahudi menggantung hidupnya di mana saja, bahkan jika itu berarti bergantung pada hidup cacing, binatang pengerat, atau kecoak."

"Ciri ketiga orang-orang Yahudi adalah sifat licik mereka. Orang-orang Yahudi adalah pelanggar perjanjian. Barangsiapa percaya bahwa orang-orang Yahudi dapat menghormati kesepakatan berarti sedang menipu dirinya sendiri. Barangsiapa yang mengklaim bahwa orang-orang Yahudi menghormati komitmen adalah mereka yang mudah tertipu. Mereka semua adalah serigala. Orang Yahudi memegang ranting zaitun di satu tangan, dan belati di tangan lainnya.

Karakteristik lain kaum Yahudi adalah sifat dasar mereka yang cinta korupsi.

"Karl Marx, yang menyebarkan ateisme di dunia, adalah seorang Yahudi! Yang menyebarkan seks dan pelacuran di dunia adalah Freud, seorang Yahudi. Dia yang memberitahu Anda bahwa dalam segala sesuatu yang manusia lakukan, mereka didorong oleh dorongan seksual mereka. Yang menyebarkan iman Bahai adalah Orang Yahudi. Yang mendirikan Freemason, Komunisme, dan nasionalisme adalah Orang Yahudi."

"Apa yang menghancurkan dunia? Riba, diciptakan oleh orang Yahudi. Siapa yang berada di belakang perdagangan alkohol di dunia? 60% dari alkohol dunia industri penyulingan dipegang oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi berada di belakang setiap bentuk korupsi di dunia."

"Karakteristik Yahudi yang kelima adalah kekikiran, dan penyembahan dari Dirham dan Dinar(mengagung-agungkan uang dan kekayaan)."

"Saudara-saudaraku, Allah telah membuat orang-orang Yahudi contoh dari kekikiran. Di Mesir, ketika kita menghadapi seseorang yang pelit, kita katakan kepadanya: Apa yang salah dengan Anda, saudaraku? Anda benar-benar orang Yahudi!" (iw/mr/smedia)


"Kill The Jews!" Muslim Children Memorize and Recite Antisemitic Messages on Egyptian TV Channel


http://www.youtube.com/view_play_list?p=5CF390CFF68CAFAF


--
Ajaranku masih kurang, umatku. Setelah aku akan datang Nabi Lain (Yesus - Yoh 17:3)

03 September 2009

Drake Wiley Pastur Gereja California Doakan Obama Cepat Mati



Pendeta AS Doakan Obama Segera Mati.

Sungguh berani pastor satu ini, pastor dari gereja Baptis di Buena Park, California bernama Drake Wiley - meminta kepada para jemaat gereja untuk mendoakan supaya Presiden Barack Obama segera mati.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh radio Fox, sewaktu ditanyakan apakah benar dirinya mendoakan presiden Obama mati, dengan tegas pastor tersebut menjawab "Ya".

Sewaktu ditanyakan kepada dirinya, apakah dia tidak khawatir dengan mengatakan
seperti itu, dirinya akan dipanggil oleh pasukan pengawal presiden (Secret Service) atau FBI dan menjadi orang yang paling dicari, serta apakah menurutnya sesuatu yang tepat untuk mendoakan presiden Obama segera mati.

Pastor Drake malah mengatakan bahwa dirinya berdoa seperti itu adalah merupakan kehendak dari Tuhan, dengan penuh percaya diri dia mengatakan semua yang dilakukannya hanya mengulangi apa yang Tuhan katakan dan ia tidak takut seandainya ia masuk dalam daftar orang yang akan dicari oleh FBI atau secret service sekalipun.

Pastor Drake juga mengatakan bahwa jika Obama tidak segera kembali hidupnya ke
jalan Tuhan dia akan tetap meminta kepada Tuhan untuk menegakkan hukumnya
dengan balasan Obama segara mati.

Rekaman wawancara Radio Fox dengan pastor Drake Wiley bisa didengar di sini.
Sebagian Kristen di Amerika masih belum percaya bahwa presiden Barack Obama
adalah seorang Kristen juga dan masih banyak yang menyatakan dia adalah Muslim
mengingat dari keluarga bapaknya adalah Muslim Kenya, sedangkan di Israel
banyak masyarakat Yahudi meragukan komitmen Obama untuk membela negara Yahudi

tersebut, setelah dirinya melakukan kunjungan ke beberapa negara Muslim dan di
Mesir dia sempat menyampaikan pidato serta menyampaikan pesan khusus kepada
dunia Islam. (Sabili)

http://www.youtube.com/watch?v=DRKrGbu7aXQ

Buka Puasa Bersama Presiden AS: Islam Agama yang Besar


Katagori : Dunia Islam
Oleh : Redaksi 02 Sep 2009 - 11:30 pm


Pendeta AS Doakan Obama Segera Mati.

Presiden AS Barack Obama menyebut Islam sebagai "agama yang besar" dan memuji warga Muslim AS karena keberadaan mereka telah memperkaya budaya di negeri itu. Pujian itu disampaikan Obama dalam acara buka puasa bersama yang digelar di Gedung Putih, Selasa (1/9). "Kontribusi warga Muslim di AS sangat panjang jika ingin dibuatkan daftarnya, karena umat Islam sudah menjadi bagian dari jalinan masyarakat kita dan negara kita," kata Obama.

Acara buka puasa bersama itu dihadiri oleh para menteri kabinet, korps diplomatik, anggota legislatif, termasuk dua anggota Kongres muslim yaitu senator Keith Ellison dan Andre Carson serta para duta besar dari negara-negara Muslim dan dubes Israel untuk AS, Michael Oren. Pada kesempatan itu Obama menyatakan penghormatannya pada Islam "sebagai agama yang besar dan komitmennya terhadap kemajuan dan keadilan."

Ia mencontohkan sosok Bilqis Abdul-Qaadir yang juga hadir dalam acara itu, sebagai sosok muslim AS yang berhasil mencapai prestasi gemilang sebagai siswa sekolah menengah di Massachusets.

"Ia adalah pelajar yang terhormat, juga sebagai seorang atlet, Bilqis adalah inspirasi bagi remaja muslim, bagi kita semua," puji Obama.

Obama juga menyebut nama Muhammad Ali-ia berhalangan hadir dalam acara buka puasa bersama-yang telah memberikan kontribusi bagi AS dalam bidang olahraga tinju.

Buka puasa bersama sudah menjadi tradisi yang dilakukan Gedung Putih sejak masa Presiden AS, George W. Bush. Pada masa pemerintahan Obama, presiden pertama AS dari kalangan kulit hitam itu menyampaikan pesan-pesannya dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

Dalam pernyataannya Obama mengatakan bahwa ibadah puasa Ramadan mengingatkan kembali prinsip-prinsip yang sama-sama diyakini oleh umat Islam maupun Kristiani dalam masalah keadilan, toleransi dan martabat umat manusia.

Semoga saja pujian Obama terhadap Islam dan Muslim bukan sekedar basa-basi mengingat masih banyak kebijakan AS yang tidak adil di sejumlah negara Muslim. Meskipun, faktanya AS telah banyak melukan ketidak adilan terhadap umat Islam di berbagai tempat, termasuk di AS sendiri yang masih terdiskrimasi dan dicurigai sebagai teroris.(ln/isc/FN/eramuslim)

http://www.youtube.com/watch?v=1R4KfYuDrvU

Translate it by Google Translator