18 May 2012

Shariffa Carlo, dari Benci Berubah Cinta Islam

Rabu, 16 Mei 2012, 17:15 WIB
flickr
Shariffa Carlo, dari Benci Berubah Cinta Islam
Cinta Islam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Sebaik-baiknya manusia berencana, Allah Yang Maha Besar yang menentukan. Demikian benang merah kisah perkenalan Shariffa Carlo dengan Islam. "Aku tahu seluk beluk tentang Islam. Tapi saat itu, aku memiliki agenda untuk menghancurkan Islam," kenang Sharifa.

Keterlibatan Shariffa dalam kelompok anti Islam boleh dibilang tidak sengaja. Saat itu, anggota kelompok itu melihat bakat dan kemampuannya seperti keahlian berdiplomasi dan menguasai isu-isu Islam dan Timur Tengah. "Orang itu lalu berkata padaku jika bergabung maka ada jaminan aku akan bekerja di kedutaan besar AS di Mesir. Dia ingin aku pergi kesana untuk berbicara dengan muslimah dan mendorong gerakan terkait hak-hak perempan," kata dia.

Saat itu, Shariffa melihat tawaran itu sungguh menarik. Belum lagi, hal yang diperjuangkan adalah perempuan. Sharifa paham betul, muslimah adalah individu tertindas. Tentu, niatan dirinya untuk membantu perjuangan para muslimah menjadi besar. "Aku ingin membawa mereka pada kebebasan," ucapnya.

Sebagai bekal pendekatan terhadap muslimah, Shariffa mulai mendalami Alquran dan sejarah Islam. Ia juga belajar bagaimana memutarbalikan fakta dalam Alquran untuk tujuan tertentu. Shariffa pun menyadari apa yang dilakukannya itu kian mendekatkan dirinya dengan Islam. "Aku mulai tertarik, tapi aku coba untuk menahan ketertarikan itu dengan mempelajari ajaran Kristen secara mendalam," kata Shariffa.

Niatan itu dilakukannya. Ia minta seorang teolog lulusan Harvard untuk menjadi pembimbingnya. Namun, pembimbingnya itu justru sosok yang meragukan sejumlah kepercayaan dalam kristen seperti masalah Trinitas dan kenabian Yesus.

"Diawal aku merasa ditangan yang benar, tapi ternyata profesor ini seorang yang percaya bahwa Yesus adalah seorang Nabi," kenang dia.

Shariffa pun kembali mencari penolakan atas kebenaran ini dengan mengkaji kembali isi alkitab berbahasa Yunani dan Ibrani. Ternyata, ia menemukan hal yang mengejutkan. Apa yang ia baca serupa dengan apa yang dipelajarinya.Kepercayaannya terhadap Kristen runtuh seketika. "Aku saat itu tidak bisa menerimannya, aku tetap memaksakan bahwa Kristen yang benar. Aku tidak siap menerima kebenaran Islam," katanya.

Seiring berjalannya waktu, pergulatan dalam diri Shariffa berakhir. Ia mulai untuk menerima secara perlahan kebenaran tentang Islam. Sebuah agama yang dahulu ia pergunakan  untuk menyebarkan pesan kebencian. Ia pun mulai banyak berdiskusi dengan muslim.

Suatu hari, Shariffa bertemu dengan sekelompok muslim yang tengah berkunjung. Entah mengapa, Shariffa begitu berkeinginan kuat untuk bertemu dengan mereka. Ia pun terlibat diskusi tentang Islam dan Kristen. "Aku tidak lagi bisa membohongi kebenaran nyara. Aku tahu itu kebenaran sejati. Aku lalu mengambil keputusan, Alhamdulillah, aku ingin menjadi seorang muslim," kenangnya haru.

"Saat aku bersyahadat dihadapan Allah SWT, seketika aku merasakan betapa beban dalam diriku hilang seketika. Aku begitu bahagia, dan merasa bersyukur dapat menjalani sisa hidup untuk menjadi muslim," pungkasnya

Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Agung Sasongko

14 May 2012

Ali Akbar: Ayahku Dibunuh Karena Memeluk Islam (Bag 4-habis)

Sunday, 13 May 2012, 08:53 WIB
Republika/AGUNG SUPRIYANTO
Ali Akbar: Ayahku Dibunuh Karena Memeluk Islam (Bag 4-habis)
Mualaf: Ali Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Berbekal status mualaf, Luis Monteiro kembali gamang. Ia sadar, di lingkungannya, keislamannya tak mungkin berkembang. Ia pun memutuskan meninggalkan barak dan rumahnya menuju Dili. "Kepergianku yang tanpa sepengetahuan keluargaku dilepas oleh tentara yang mengislamkanku. Ia memelukku dan menangis," tutur Ali.

Sampai di kota, ia menemukan sebuah yayasan Islam. Karena tak berbekal ijazah dan surat keterangan dari desa, Ali ditolak. "Meminta surat keterangan dari desa sama saja cari mati," katanya. Ia pulang dan tak mampu berbuat banyak. Ali bahkan tak tahu bagaimana menjalankan shalat lima waktu yang telah menjadi kewajibannya.

Suatu hari, ia memutuskan kembali berangkat ke Dili dan mendatangi yayasan yang sama. "Aku memaksa pihak yayasan untuk mengizinkanku belajar di sana, meski aku tidak diizinkan mengikuti pendidikan formal." Ali mendapatkan izin itu. Di sana, ia belajar shalat dan membaca Alquran.

Kesempatan itu tidak lama, karena pertolongan yang lebih besar dari Allah menghampirinya. Ustaz yang pernah menolaknya di yayasan tersebut mengantarkannya ke Jawa untuk mendalami Islam di sebuah pesantren di Jawa Timur. Keberangkatannya itu terjadi pada 1998.

Namun pertolongan besar itu terjadi setelah Allah terlebih dahulu menguji Ali. Setelah berhasil mengislamkan kedua orang tuanya pada 1997, ia harus kehilangan ayahnya yang tewas dibunuh orang-orang yang tidak suka dengan keislamannya.

"Beliau wafat pada hari Jumat di bulan Ramadhan," ujar Ali seraya mengambil nafas panjang. Ia lalu menghentikan sejenak ceritanya. "Aku tidak akan pernah bisa melupakan itu."

Pada kesempatan lainnya, Ali berhasil mengislamkan pula ketiga adiknya dan memboyong mereka ke Jawa. Salah seorang diantaranya kini tengah menempuh studi di Madinah. Ali sendiri memutuskan untuk mendalami Alquran di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ).

Tahun ketiga di perguruan Alquran tersebut, Ali melengkapi studi Alqurannya dengan mendalami bahasa Arab di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) sejak 2010 hingga sekarang.

Kini, sambil terus memperdalam keislamannya, Ali membimbing sejumlah mualaf di pesantren khusus mualaf Yayasan An-Naba' Center di Ciputat, Tangerang. Setelah menyelesaikan semua studinya nanti, Ali akan kembali ke Makasar dan bersama istrinya mengelola sebuah pesantren yang ia rintis bersama kakak iparnya.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika

Ali Akbar: Dari Barak Militer, Aku Mengenal Islam (Bag 3)

Minggu, 13 Mei 2012, 07:53 WIB
Republika/AGUNG SUPRIYANTO
Ali Akbar: Dari Barak Militer, Aku Mengenal Islam (Bag 3)
Mualaf: Ali Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Di buku itu, Ali menemukan kejutan lain. "Ada kata 'jemaah' (ejaan lama untuk kata 'jamaah'), sama dengan nama gerejaku; Jemaat. Lagi-lagi aku didekatkan pada Islam melalui hal-hal yang kukenal." Ia juga menemukan kata "derajat" dalam buku itu, menjelaskan pahala orang yang shalat berjamaah.

Ali muda yang tidak bisa mendiamkan hal itu pun bertanya pada kakak iparnya tentang arti dan makna 'derajat'. Ia juga menanyakan imbalan bagi jemaat gereja jika mereka melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan. "Ia hanya menjawab bahwa belum waktunya aku menanyakan perkara itu."

Tidak puas, sekembalinya ke barak, ia bertanya pada salah seorang tentara Muslim tentang arti derajat, juga tentang pengertian shalat dan berjemaah. Darinya, Ali mengerti bahwa shalat adalah sembahyang, derajat berarti nilai, dan jemaah adalah bersama-sama.

Ketika tentara itu sampai pada penjelasan tentang pahala shalat berjamaah, Ali segera dihinggapi perasaan kagum. "Semakin baik amalan dilakukan, semakin tinggi nilai imbalannya. Itu ajaran yang hebat," katanya.

Ali kembali mendatangi kakak iparnya dengan sebuah pertanyaan yang sama; imbalan yang akan diperolehnya jika ia menjalankan semua yang diperintahkan Tuhan. Tak ada jawaban yang memuaskan Ali. Dan diskusi yang berlangsung hampir semalaman itu berakhir dengan pertengkaran keesokan paginya.

Diskusi tersebut membawa Ali pada kesimpulan yang tak diharapkannya. Ia segera teringat keterlibatannya sebagai anggota militer non-formal kala itu. "Aku tidak digaji, tidak memiliki jaminan hidup, dan jika harus mati, aku akan mati secara konyol. Tidak seperti para tentara formal yang digaji oleh pemimpin tertinggi mereka."

"Harus seperti itukah posisiku dalam beragama jika Tuhan tidak memberikan imbalan apapun atas amalan umatnya? Jadi, apakah agama hanya untuk orang-orang tertentu?" Ali berontak. Ia semakin geram ketika tahu mereka yang bersekolah mendapatkan nilai dari guru atas hasil kerja dan prestasi mereka di sekolah. "Bagaimana mungkin Tuhan tidak memberiku imbalan sedikitpun atas amal baikku? Apa manfaat sembahyangku selama ini?"

                                                                      ***

Ketika otaknya masih menyimpan berbagai pertanyaan yang belum terjawab, suatu hari Ali menemukan buku kecil berjudul "UUD 1945" di barak. Ia membacanya dan menemukan pasal yang menjelaskan tentang kebebasan beragama. Ia juga menemukan daftar lima agama yang diakui di Indonesia dalam buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), di mana Islam berada di urutan pertama.

"Sebelum membaca itu, yang kutahu dari gereja adalah bahwa agama hanya satu, yakni agama kami. Maka pada detik setelah aku membaca itu, aku mulai meragukan agamaku."

Hingga kemudian, Ali menemukan sebuah Alquran Terjemahan terbitan Departemen Agama milik seorang tentara. Ia membukanya secara acak dan menemukan terjemahan yang berbunyi "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanya Islam (QS. Ali 'Imron: 19)." Ali pun tersentak.

Ketika di rumah, ia bermaksud mencari ayat serupa dalam Al-Kitab. Dua bulan membacanya, Ali tak menemukan kalimat dengan redaksi yang serupa dengan kalimat dalam Alquran yang dibacanya di barak. "Tak ada ayat yang mengatakan bahw aKristen adalah satu-satunya agama yang diterima di sisi Tuhan," katanya.

Pada kesempatan lainnya, di surah yang sama pada ayat 85, Ali menemukan kalimat yang berbunyi "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." Ali kembali menelusuri kalimat-kalimat Al-Kitab untuk menemukan kalimat serupa. Pencariannya kembali nihil.

Sebaliknya, ia justru menemukan ayat-ayat yang tidak sesuai dan bertolak belakang. "Seperti ayat yang menjelaskan tentang Yesus," ujarnya. Sebagian ayat, kata Ali, menyebutnya sebagai anak Tuhan, sementara ayat yang lain menyebutnya anak Abraham.

Tak hanya kitab suci, Ali membaca buku Biologi untuk SMP. Membaca bab reproduksi, Ali dengan mudah menyimpulkan bahwa laki-laki tidak melahirkan. Doktrin bahwa Yesus adalah anak Tuhan pun mulai mengganggu logikanya. "Yesus tidak seharusnya dinasabkan pada Tuhan karena Tuhan tidak punya istri," ia mendebat dalam hati.

"Atau, Tuhan itu perempuan? Jika ya, maka Ia adalah Maryam. Namun bukankah Maryam sudah mati? Lalu siapa yang mengatur alam semesta sejak ia mati? Dan jika memang manusia seperti Maryam layak dijadikan Tuhan, mengapa manusia tidak menuhankan Adam, manusia pertama di bumi?"

Semua pertanyaan krusial itu mendorong Ali untuk mendatangi seorang pastor berkebangsaan Filipina yang ditugaskan di Timor Timur. Olehnya, Ali dinasihati agar datang ke gereja jika ingin bertemu Tuhan. "Aku tidak membantah, namun juga tidak membenarkannya. Jika Tuhan yang ia maksud adalah patung Yesus dan Bunda Maria, itu bukan yang kucari," katanya.

Pertanyaan dan pergulatan batin yang melelahkan itu membawa Ali pada keraguan yang semakin besar pada agamanya. Hingga pada suatu hari pada 1995, ia merasa harus mengakhirinya dengan sebuah keputusan memilih Islam. Kepada tentara yang menjelaskannya pengertian 'jemaah' dan 'derajat,' Ali menyampaikan keinginannya.

Tentu, berpindah agama bukanlah perkara ringan di Timor Timur yang dirundung konflik kala itu. Dan atas pertimbangan keamanan, tentara itu menjelaskan risiko yang mungkin dihadapi Ali jika ia meninggalkan agamanya dan menjadi Muslim. "Katanya, aku bisa diusir, dibuat cacat, bahkan dibunuh akibat keputusan itu. Ia memintaku memikirkan kembali keputusanku untuk memeluk Islam."

Tak ingin membiarkan dirinya gamang berkepanjangan, Ali kembali mendatangi tentara yang sama untuk diislamkan. "Tahun 1996, tapi aku lupa tanggal dan bulannya," ujarnya. Disaksikan oleh tiga orang tentara, Luis Monteiro bersyahadat. Di barak militer itu, ia resmi menjadi seorang Muslim.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika

Ali Akbar: Dari Barak Militer, Aku Mengenal Islam (Bag 2)

Minggu, 13 Mei 2012, 07:18 WIB
Republika/AGUNG SUPRIYANTO
Ali Akbar: Dari Barak Militer, Aku Mengenal Islam (Bag 2)
Mualaf: Ali Akbar


Seolah tak terima, otak Ali kembali dipenuhi tanda tanya. Ia mempertanyakan mengapa simbol itu tidak terdapat di gereja yang menjadi tempat ibadah hampir seluruh masyarakat Timor Leste. "Aku benar-benar ingin tahu mengapa simbol kami itu justru terdapat di tempat ibadah umat lain (Muslim)."

Seorang pria keturunan Arab yang dikenalnya mengatakan pada Ali, bahwa sebelum Portugal datang, Timor Leste telah dihuni oleh orang Islam. "Menurutnya, simbol bulan sabit adalah peninggalan orang-orang Islam pada masa itu," ujarnya. Ali menyimpan jawaban itu dalam pikirannya.

Tak lama berselang, pertanyaan serupa kembali berputar di kepala Ali. Ia melihat kesamaan antara alat musik tabuh khas Timor Leste, tebe-tebe (bentuknya seperti seperti bedug, namun berukuran kecil), dengan bedug yang pernah diihatnya di masjid. Juga antara ritual baptis dengan amalan wudhu yang dilakukan oleh Muslim sebelum shalat. "Aku merasa seolah ada kedekatan antara adat kami dengan budaya Islam," katanya.

Ali lalu menghampiri ayahnya dan mengutarakan rasa ingin tahunya. "Ayah hanya menjelaskan bahwa sebagian dari adat kami adalah peninggalan sekelompok orang yang tidak makan babi. Belakangan aku baru tahu bahwa mereka (yang tidak makan babi) adalah orang-orang Islam."

                                                                          ***

Hingga usia 20-an, Ali tak pernah mengenyam bangku sekolah. Terlahir dari dua orang tua yang tidak mengenal baca-tulis, dan sebagai anak laki-laki yang memiliki tiga orang adik, Ali harus mengutamakan adik-adiknya. Terlebih, ketika mulai diberlakukan wajib militer, Ali harus meninggalkan rumah dan tinggal di barak. "Kami dilatih untuk menjadi tenaga bantuan operasi militer. Semacam sukarelawan, karena kami tidak digaji."

Aturan yang semakin menjauhkannya dari bangku sekolah itu tak sepenuhnya ia sesali. Karena justru di lingkungan militer itu Ali mengenal huruf dan angka serta baca-tulis.

Segera setelah mampu membaca, meski masih terbata-bata, Ali tergerak untuk mengetahui isi Al-Kitab. Ketika pulang ke rumah suatu hari, ia meminjam Injil milik kakak iparnya dan mencoba membacanya. Di barak, ia juga memiliki bacaan lain. "Buku cetakan 1975 terbitan Thoha Putra. Judulnya Tuntunan Shalat Lengkap," jelas Ali.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada tahun yang sama, Allah membimbing Ali pada potongan puzzle lainnya. Di tanah kelahirannya, bulan sabit adalah sebuah simbol adat. "Setiap rumah adat Timor Leste selalu memiliki simbol bulan sabit di bagian atapnya. Di saat yang sama, aku mengenalnya pula sebagai simbol masjid," katanya.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika

Ali Akbar: Dari Barak Militer Aku Mengenal Islam (Bag 1)

Minggu, 13 Mei 2012, 07:08 WIB
Republika/AGUNG SUPRIYANTO
Ali Akbar: Dari Barak Militer Aku Mengenal Islam (Bag 1)
Mualaf: Ali Akbar

REPUBLIKA.CO.ID,  Konflik Timor Leste mewarnai perjalanan hidupnya, juga pertemuannya dengan Islam. Bertahun-tahun lamanya, remaja bernama Luis Monteiro seolah menyusun pecahan puzzle yang tak pernah ia tahu gambar utuhnya. Tak sia-sia, setelah tujuh tahun, semua hal membingungkan itu membawanya pada satu jawaban; Islam.

Terlahir di wilayah konflik tentu bukan keinginannya. Namun boleh jadi, itulah satu hal yang disyukurinya kini. Ali Akbar, 'penyusun puzzle' itu, kini telah hidup dalam kedamaian Islam. "Ceritanya panjang," ujarnya kepada Republika. Ali memulai kisahnya.

                                                              ***

Ali masih mengingatnya dengan baik. Dua puluh tiga tahun yang lalu, ia adalah seorang Kristiani yang rajin mengunjungi gereja. Ia adalah satu dari delapan orang bersaudara dan tinggal di dalam sebuah rumah yang memiliki simbol bulan sabit. Seorang yang tak pernah menempuh pendidikan formal hingga usia 20-an, dan menghabiskan masa remajanya di barak militer.

Sebuah peristiwa di tengah masa itu mengawali segalanya. Ali dikejutkan oleh aksi Paus Yohanes Paulus II, ketika pemimpin gereja Katolik Roma itu berkunjung ke Jakarta pada 1989. "Setelah turun dari pesawat, ia sempat bersujud," kata pria kelahiran 1973 itu.

Pemandangan yang disaksikannya melalui satu-satunya televisi nasional kala itu, katanya, segera memunculkan sesuatu yang aneh dalam hati dan pikirannya. "Terlintas pertanyaan besar dalam benakku, mengingat doktrin gereja yang sampai padaku menyebut Yohanes sebagai Tuhan. Jika ia memang Tuhan, lalu kepada siapa ia bersujud?" lanjutnya.

Ali berpendapat, sujud adalah ekspresi ketundukan seorang hamba pada Dzat yang besar dan agung serta lebih berkuasa darinya. Ali pun mulai mulai mencurigai dan mempertanyakan doktrin-doktrin gereja yang telah diterimanya. Lalu ia mulai mencoba melakukan pembangkangan dengan caranya.

Ali menjelaskan, salah satu doktrin gereja lainnya mengatakan bahwa setiap umat Katolik yang bertemu Paulus harus mencium tangannya. "Jika tidak, ia akan mati atau memperoleh akibat yang fatal," ujarnya. Maka ketika Paulus II berkesempatan mengunjungi Timor Leste (saat itu Timor Timur), Ali memutuskan untuk 'mencoba' tidak menyalami sang Paulus.

"Sampai tahun 1990, semua aman. Tidak ada hal fatal yang terjadi, dan itu membuatku semakin ingin tahu tentang kebenaran ajaran agamaku," katanya.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika

11 May 2012

Perempuan Penghina Nabi itu Dapat Penghargaan Jurnalisme


 

Kamis, 10 Mei 2012

Hidayatullah.com--Penulis dan mantan politisi Belanda, Ayaan Hirsi Ali, yang pernah dianggap menghina Nabi Muhammad  dikabarkan akan menerima Penghargaan Axel Springer Jerman, Kamis (10/05/2012) ini.

Hirsi Ali akan mendapat penghargaan dari sekolah Jurnalisme Axel Springer. Meski bukan wartawan, sekolah jurnalisme itu menyebut Hirsi Ali layak mendapatkan penghargaan karena "perjuangan tanpa komprominya dengan hak-hak wanita Muslim." Organisasi juga mengatakan Hirsi Ali lugas mengatakan hal-hal berani bahkan jika hal ini menempatkan keselamatannya sendiri dalam bahaya, demikian tulis RNW, Kamis (10/05/2012).

Selain akan menerima penghargaan, Hirsi Ali juga akan diberikan uang sejumlah 25 ribu Euro. Penulis Belanda, Leon de Winter akan berbicara pada upacara penghargaan. Ayaan Hirsi Ali saat ini tinggal di Amerika Serikat di mana dia bekerja pada tim strategi (think tank) konservatif.

Ayaan Hirsi Ali, adalah perempuan asal Somalia, yang dipuja-puji Barat karena dianggap beran "menyerang" Islam. Ia bahkan memperoleh berbagai fasilitas, sampai-sampai bisa menjadi anggota Parlemen Belanda.

Belakangan karena dianggap menggunakan data palsu, perempuan kelahiran 1969 di Mogadishu itu akhirnya  pindah dari Belanda ke Amerika. Ia diterima dengan tangan terbuka oleh the American Enterprise Institute, lembaga tink-tank milik kelompok neo-conservative (neo-con) di Washington. Institut yang tergabung dalam lobi Israel ini dulu paling getol berkampanye menyerang Iraq, kini menyerang Iran, Suriah, atau Pakistan.

Ia menerbitkan buku Infidel (Kafir), yang mengisahkan kisah hidupnya yang ia tulis sendiri (Free Press, 2007). Namun, lembaga ini mengikuti saja digunakan Hirsi untuk menyerang Islam. Yang jelas, sejak itu, Ayaan kaya dan ke mana-mana selalu mendapatkan pengawalan.*

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

10 May 2012

Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 2-habis)

Rabu, 11 April 2012, 14:26 WIB
blogspot
Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag  2-habis)
Dawood Al-Brittani

REPUBLIKA.CO.ID,  Malam sebelum Dawood gugur di medan pertempuran, ia sempat bermimpi. Dalam mimpi tersebut, ia berjalan di antara dua sisi istana yang sangat besar dan megah.

Ia sempat bertanya " Siapakah pemilik Istana yang megah ini ?"

"Inilah milik salah seorang syuhada" begitulah jawaban dari mimpinya itu.

Dawood bertanya lagi, "Dimanakah istana milik Abu Ibrahim?" Abu Ibrahim adalah salah seorang teman dekat Dawood yang berkebangsaan Turki. Mereka dahulu bersama-sama datang dari Inggris. Abu Ibrahim ditembak mati oleh PBB Prancis didekat Bandara Sarajevo.

Suara dalam mimpi Dawood tersebut menjawab " Istana Abu Ibrahim ada di sana".

Dalam mimpi itu Dawood berlari menuju rumah teman dekatnya Abu Ibrahim. Dalam berlari itu ia terjatuh hingga ia bangun dari tidurnya kemudian menceritakan mimpinya.

Komandannya Abul Haristh sudah menduga bahwa Dawood mungkin akan gugur di medan pertempuran berikutnya setelah mendengar cerita mimpi Dawood. Mungkin saja ia akan segera menyusul sahabatnya Abu Ibrahim, karena ia ceritakan dalam mimpinya bahwa ia berlari menuju Istana Abu Ibrahim.

Keesokan harinya Dawood terlibat dalam sebuah operasi militer melawan Pasukan Kroasia. Dawood tertembak tepat di jantungnya dan tewas seketika. Ia berguling ke bawah bunker Kroasia yang mengakibatkan jasadnya tidak bisa diambil.

Setelah tiga bulan berikutnya, barulah jasad Dawood ditemukan oleh Pasukan Mujahidin. Diceritakan oleh Komandannya Abul Haritsh bahwa jasad Dawood saat ditemukan sudah berbau kesturi. Jasad tersebut ditemukan seperti posisi Dawood tertidur yaitu meringkuk menghadap ke kanan. Subhanallah...

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Hannan Putra

Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 1)

Rabu, 11 April 2012, 13:01 WIB
blogspot
Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 1)
Dawood Al-Brittani

REPUBLIKA.CO.ID,  Dawood, begitulah pria asal Inggris tersebut mengganti namanya setelah memeluk Islam. Ia adalah mualaf yang gugur di medan jihad pada usianya yang sangat muda, 29 tahun. Namanya begitu populer setelah memutuskan diri untuk membela kaum Muslim dalam pertempuran melawan Pasukan Kroasia di Bosnia pada 1993.

Ia dibesarkan dalam keluarga kristen. Sejak kecil, ia didik dengan doktrin Kristen hingga menginjak dewasa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja pada salah satu perusahaan Komputer di Inggris.

Hingga suatu pagi, Dawood mengagetkan semua orang di kantornya. Tiba-tiba saja,  pagi itu ia muncul dengan cara berpakaian berbeda dari biasanya. Ia berpakaian layaknya Muslim di Timur Tengah.

Ternyata, Dawood telah menjadi seorang Muslim. Pakaian yang bernuansa Muslim itu pula yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya.

Dawood muda kebingungan. Tidak hanya keluarga, tapi rekan-rekan ditempatnya bekerja juga menolaknya. Karena dia sudah menjadi seorang Muslim. Tak ada yang mau menerimanya ketika itu, selain saudara-saudaranya dari komunitas Muslim.

Ia memutuskan untuk berangkat ke Bosnia bersama dua orang rekan Muslimnya yang lain. Mereka bergabung bersama Muslim Bosnia dengan tujuan bisa hidup secara Islam dan ingin belajar ilmu-ilmu keislaman.

Empat bulan telah berlalu. Beberapa rekannya dari Inggris mengajaknya untuk pulang ke Inggris. Ia menolaknya. Akhirnya ia tetap menetap di Bosnia.

Ia seorang yang sangat cepat belajar ilmu-ilmu Islam. Dawood juga dengan cepat menguasai bahasa Arab. Teman-temannya bercerita bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat dan teguh memelihara sunah. Ia termasuk sosok yang disayangi oleh teman-teman dan saudara-saudaranya sesama Muslim di Bosnia.

Ia tidak melewatkan untuk shalat malam, walau cuaca teramat sangat dingin. Bahkan ia sering berdoa sepanjang malam. Ia hanya tidur sebentar dengan posisi tidur meringkuk ke kanan.

Setelah beberapa waktu kemudian, ia bergabung dengan mujahidin Bosnia dibawah komando Abul Harith. Komandannya juga sangat menyayangi Dawood karena kasalehannya. (bersambung)

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Hannan Putra

Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol

Senin, 07 Mei 2012, 10:52 WIB
AP Photo/Scott Heppell
Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol
Gelandang Manchester City Yaya Toure, merayakan gol ke gawang Newcastle di Sports Direct Arena, Newcastle, Inggris, Minggu (6/5).

REPUBLIKA.CO.ID, -- Yaya Toure, pencetak dua gol Manchester City ke gawang Newcastle United, menolak menerima sebotol besar champagne saat pesta kemenangan di ruang ganti. "Maaf! Saya tidak minum alkohol. Saya Muslim," ujar Yaya Toure seraya menyerahkan botol besar champagne ke Joleon Lescott, rekannya.

Toure adalah man of the match pertandingan itu. Ia memborong dua gol kemenangan timnya dan membuat City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Sesuai tradisi klub, bintang pertandingan mendapat kehormatan membuka botol besar champagne.

Bukan kali pertama Toure menolak pesta kemenangan dengan menenggak minuman keras. Ia kerap menghindari tradisi itu, seraya berusaha tidak menyinggung rekan-rekannya.

Juru bicara Manchester City mengatakan pemberian champagne adalah penghargaan yang didambakan setiap main. Namun, katanya, klub bisa memahami jika ada individu yang menolak dengan alasan agama.

Yang bisa dilakukan klub, masih menurut juru bicara Manchester City, adalah menjamin setiap individu di ruang ganti klub tidak merasa tersinggung jika ada rekan mereka yang menolak pesta dengan alasan agama. Liga Inggris adalah kompetisi yang menampung pemain dari 68 negara. Yaya Toure berasal dari Pantai Gading dan beragama Islam.

Imam

Saat masih di Barcelona, Yaya Toure adalah imam bagi dua rekannya; Eric Abidal dan Seydou Keita. Ketiganya selalu menyampatkan diri shalat berjamaah, dan Toure dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih dibanding Abidal dan Keita.

Ketika Yaya Toure memutuskan pindah ke Manchester City, Abidal dan Keyta menjadi orang yang paling kehilangan. Dalam salah satu kesempatan wawancara dengan salah satu radio, Abidal sempat mengatakan.

"Kami kehilangan imam."

Redaktur: Hazliansyah
Reporter: Teguh Setiawan

01 May 2012

Irshad Manji: Sepatutnya Diobati!


 

Selasa, 01 Mei 2012

Oleh: Dr. Adian Husaini

IRSHAD Manji, seorang tokoh penggerak dan praktisi lesbianisme datang lagi ke Indonesia, di bulan Mei 2012 ini. Berbagai rencana penyambutan kedatangannya sudah disiapkan di sejumlah kota. Kabarnya, ia akan meluncurkan buku terbarunya, Allah, Liberty & Love, dalam edisi Indonesia. 

Irshad Manji memang lesbian "nekad".  Logikanya, lesbian tidak bangga dengan kelainan seksual yang dideritanya.  Tapi, aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.    Katanya: "Manji sangat layak menjadi inspirasi  kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia."

Jika disimak dari kualitas dan prestasi akademik serta kualitas bukunya, Irshad Manji tampak dengan sengaja dibesar-besarkan namanya. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai "Feminis Abad ke-21". Maclean's memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai "Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh".

Dalam bukunya (edisi Indonesia), Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini, dicantumkan pujian pada sampul depan:"Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam."  Dalam buku ini, bisa ditemukan nada-nada penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan keraguan terhadap al-Quran.

"Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad  bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana "ayat-ayat setan" – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian  mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran." (hal. 96-97).
   
Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal,  dalam buku biografi Nabi Muhammad saw,  menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bikinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.

Kisah "ayat-ayat setan" itu kemudian diangkat juga oleh Salman Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan al-Quran.

Umat Islam yang sangat menghormati dan mencintai Nabi Muhammad saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Rushdie diantaranya menggambarkan perempuan-perempuan dengan nama-nama istri-istri Nabi Muhammad saw  sebagai penghuni rumah pelacuran bernama "Hijab". Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya "Mahound" --  sebagai "the most pragmatic of prophets." 

Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang "ayat-ayat setan".

Buku lain yang ditulis Irshad Manji berjudul  The Trouble with Islam, mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Editorial Palestine Solidarity Review menulis judul kritiknya: "The Trouble with Irshad Manji".  Di antara kritiknya adalah kerancuan pemikiran Irshad Manji yang berlebihan dalam memuji kebebasan Barat, di mana ia menulis, bahwa hanya di Barat, Muslim mendapatkan kebebasan untuk berpikir, berekspresi, dan sebagainya (enjoy precious freedoms to think, express, challenge and be challenged without fear of state reprisal).

Palestine Solidarity Review menulis kritiknya, bahwa  Irshad Manji tampaknya buta terhadap berbagai jenis intimidasi dan diskriminasi yang diderita Muslim di Negara-negara Barat: "Is she blind to the fact that thousands of Muslims in the U.S. are being intimidated into silence by deportations, detentions, SEVIS registration, racist attacks on the street, and state repression? That Muslim youth are fighting racists and the cops in the street in England and France?"
   
Di Aceh dicambuk!

Dalam sejarah manusia, perilaku homo dan lesbi lazimnya dianggap menyimpang. Tapi, Indonesia memang unik dan ajaib. Jumlah penduduk Muslimnya sekitar 200 juta orang. Jutaan orang sudah mengantri untuk berhaji!  Uniknya, manusia-manusia yang jelas-jelas berperilaku bejat, pemuja setan, pegiat homoseksual dan lesbian, bisa dengan leluasa mengumbar angkara di negeri Muslim terbesar di dunia ini.

Dalam bukunya, yang berjudul Perzinaan, dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia Ditinjau dari Hukum Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), pakar hokum Universitas Indonesia, Neng Djubaedah, mengutip hadits riwayat Abu Dawud yang menyatakan, bahwa pelaku lesbian (musahaqah) harus dikenai hukum rajam.  Imam Syafii berpendapat, pelaku lesbian, baik muhshan atau bukan, dijatuhi hukuman rajam, dilempari batu sampai mati.  Sementara itu, dalam Qanun Hukum Jinayat Aceh, pasal 33 ayat (1) ada ketentuan: "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan liwath atau musahaqah, diancam dengan  'uqubat ta'zir paling banyak 100 (seratus) kali cambuk dan denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan)."  Sedangkan orang-orang yang mempropagandakan homoseksual dan lesbianisme, menurut Qanun Jinayat Aceh tersebut,  diancam dengan hukuman cambuk paling banyak 80 kali dan denda paling banyak 1.000 gram emas murni atau penjara paling lama 80 bulan. (ayat 3).

Jadi, sesuai hukum Islam, harusnya pelaku homoseksual atau lesbian dirajam, atau -- jika mengikuti Qanun Jinayat di Aceh --  dia harus dicambuk paling banyak 100 kali. Malangnya, dalam KUHP pasal 292 ditetapkan: "Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesame kelamin yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling  lama lima tahun."

Bisa diduga, Irshad Manji tidak akan pergi ke Aceh untuk  mempromosikan kelesbianannya atas nama kebebasan. Sebab, di Aceh sudah ditetapkan hukum cambuk bagi promotor atau praktisi homo dan lesbi.  Kita memang sulit memahami, mengapa manusia seperti Irshad Manji dipuja-puji dan dipromosikan di Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia berdasarkan pada Pancasila, yang memiliki sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab.  Beradabkah tindakan yang memuja seorang lesbian?

Apa pun status hukumnya, membanggakan perilaku homoseks dan lesbian adalah sebuah kemunkaran yang nyata. Nabi SAW sudah bersabda: "Barangsiaa di antara kalian yang melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim).

Feminis Lesbian
   
Program legalisasi – bidang hukum dan opini – praktik homo dan lesbi biasanya berjalan seiring dengan kampanye kaum feminis atau aktivis Kesetaraan Gender. Menurut feminis lesbian, baik kaum feminis maupun lesbian mempunyai tujuan yang sama, yaitu mendobrak dominasi laki-laki terhadap perempuan. 

Bunch (1972) menyatakan: "Para lesbian harus menjadi feminis dan berjuang melawan penindasan terhadap perempuan, sebagaimana para feminis  harus menjadi lesbian jika mereka ingin mengakhiri  supremasi laki-laki (Lesbians must become feminists and fight against woman oppression, just as feminist must become lesbians if they hope to end male supremacy.)

Sejak era 1970-an, dorongan agar aktivis feminis  sekaligus menjadi lesbian dikabarkan semaki menguat. Menurut mereka, adalah hal yang aneh, jika ada feminis yang bekerjasama secara politik dengan sesame perempuan, tetapi kemudian ia pulang ke rumah dan tidur dengan laki-laki.  Ruth Mahaney mengatakan: "I don't understand you women. You do your political work with women, but you go home to men… Yeah, why do we?" (Tentang feminis lesbian, lihat: Triana Ahdiati, Gerakan Feminis Lesbian, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007).

Kedatangan kembali Irshad Manji ke Indonesia tidak bisa dipandang sebagai hal sepele. Sebab, selama ini, kaum lesbi dan pendukungnya telah melakukan berbagai gerakan menuju legalisasi praktik homo dan lesbi di Indonesia.  Jurnal Perempuan, edisi Maret 2008, melaporkan, bahwa pada tanggal 6-9 November 2006, 29 pakar HAM terkemuka dari 25 negara berkumpul di Yogyakarta untuk memperjuangkan hak-hak kaum lesbian ini.

Di situ, mereka menghasilkan sebuah dokumen yang disebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta terhadap Pemberlakuan Hukum Internasional atas Hak-hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Orientasi Seksual, Identitas Gender dan hukum internasional sebagai landasan pijak yang lebih tinggi dalam perjuangan untuk Hak Asasi Manusia yang paling dasar (baca: kebutuhan seksual) serta kesetaraan gender, yang disebut dengan Yogyakarta Principles."

Jurnal Perempuan itu juga menulis tentang dokumen tersebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta ini merupakan tonggak sejarah (milestone) perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender. Menggunakan standar-standar hukum internasional yang mengikat dimana negara-negara harus tunduk padanya."  Salah satu tuntutan para pegiat KKG dan lesbianisme adalah agar perkawinan sesama jenis juga mendapatkan legalitas di Indonesia. "Pasal 23 Kovenan Hak Sipil dan Politik juga secara terbuka mencantumkan tentang hak membentuk keluarga dan melakukan perkawinan, tanpa membedakan bahwa pernikahan tersebut hanya berlaku atas kelompok heteroseksual," tulis Jurnal yang mencantumkan semboyan "untuk pencerahan dan kesetaraan". 

Gadis Arivia, seorang pegiat KKG, dalam artikelnya yang berjudul "Etika Lesbian" di Jurnal Perempuan ini menulis: "Etika lesbian merupakan konsep perjalanan kebebasan yang datang dari pengalaman merasakan penindasan. Etika lesbian menghadirkan posibilitas-posibilitas baru. Etika ini hendak melakukan perubahan moral atau lebih tepat revolusi moral."  Lebih jauh, Gadis Arivia menulis tentang keindahan hubungan pasangan sesama perempuan:

"Cinta antar perempuan tidak mengikuti kaidah atau norma laki-laki. Percintaan antar perempuan membebaskan karena tidak ada kategori "laki-laki" dan kategori "perempuan", atau adanya pembagian peran dalam bercinta. Dengan demikian, tidak ada konsep "other" (lian) karena penyatuan tubuh perempuan dengan perempuan merupakan penyatuan yang kedua-keduanya menjadi subyek dan berperan menuruti kehendak masing-masing. Dengan melihat kehidupan lesbian, kita menemukan perempuan sebagai subyek dan memiliki komunitas yang tidak ditekan oleh kebiasaan-kebiasaan heteroseksual yang memaksa perempuan berlaku tertentu dan laki-laki berlaku tertentu pula."

Dengan memandang perkawinan sejenis sebagai alternatif membentuk rumah tangga yang bahagia, diantara aktivis feminisme dan Kesetaraan Gender merasa geram dengan tradisi masyarakat dan negara yang hanya mengakui perkawinan heteroseksual. Prof. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, dalam jurnal yang sama, menuntut agar agama yang hidup di masyarakat juga memberikan pilihan bentuk perkawinan sejenis: "Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan."

*****

Homoseksual dan lesbian adalah kelainan seksual dan penyakit yang harus diobati. Pakar kedokteran jiwa, Prof. Dr. Dr. Dadang Hawari, dalam bukunya, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual, (Jakarta: Balai Penerbit FK-UI, 2009), mengungkapkan keprihatinannya dengan semakin merebaknya fenomena homoseksual dan lesbian ini. Menurut Dadang Hawari, penyakit ini bisa diobati: "Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual)."

Jadi, Irshad Manji yang lesbi, harusnya sadar bahwa dia sakit dan perlu diobati, bukan malah dipuja-puji di sana-sini dan dijadikan narasumber untuk diskusi. Prof. Dadang Hawari memberi nasehat pada kaum homo dan lesbi: "Bagi mereka yang merasa dirinya homoseksual atau lesbian dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dan menikah dengan wajar."

Pada akhirnya, di zaman yang penuh "fitnah" ini, baik kita renungkan sebuah sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya manusia jika melihat kemunkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab-Nya, yang juga akan menimpa mereka."   (HR Abu Bawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).*/Depok, 1 Mei 2012.


Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com. twitter: @husainiadian

Foto: Irshad Manji di sebuah acara di Indonesia

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (3-habis)

Rabu, 25 April 2012, 19:17 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (3-habis)
Mualaf (ilustrasi).


REPUBLIKA.CO.ID, Setelah mencari tahu tentang Islam, Kaci menjadi lebih sensitif terhadap pernyataan yang dibuat tentang Islam.

Ia ikuti kuliah tentang Islam. "Aku merasa apa yang dikatakan dosenku tentang Islam tidaklah benar. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya," kata dia.

Di luar studi, Kaci mulai mendukung organisasi yang memperjuangkan hak-hak Muslim. Saat itu pula, ia mulai berhenti mengonsumsi daging babi dan menjadi vegetarian. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol dan mulai berpuasa di bulan Ramadhan. "Tapi memang saat itu aku belum seutuhnya menjadi Muslim," kenang dia.

Tepat akhir tahun, Kaci mulai melakukan perubahan lain. Rambutnya yang selama ini tergerai ia sembunyikan. "Entah kenapa, aku ingin melakukan ini. Padahal, aku tidak tahu tentang Jilbab. Sebab, tidak semua Muslimah mengenakan jilbab di masjid," ujarnya.

Meski banyak perubahan yang dilakukan, rasa penasaran tentang Islam belumlah tuntas. Kaci lalu mencoba untuk mencari informasi tentang Islam melalui internet. Asyik berselancar di dunia maya, Kaci menemukan situs pernikahan.

Namun, ia tidak berniat mencari pasangan Muslim. Ia hanya mencari seseorang yang tahu tentang Islam. "Aku tulis dalam pesan bahwa aku tidak mencari pasangan. Aku hanya ingin mencari teman yang tahu tentang Islam. Sebab, aku ingin belajar tentang Islam," paparnya.

Tak beberapa lama, balasan yang ditunggu Kaci pun tiba. Ada tiga orang, yakni seorang Muslim yang tengah belajar di AS, satu orang Muslim India yang tengah belajar di Inggris dan satu Muslim Pakistan.

Kaci memulai dialog dengan Muslim yang tengah belajar di AS. Ia pun melontarkan banyak pertanyaan. "Dia menjawab setap pertanyaanku dengan begitu logis. Menurut dia, dalam Islam semua orang adalah sama tanpa memandang warna, umur, ras dan gender. Aku merasakan ada kebersamaan yang kuat dalam Islam," tuturnya.

Saat itulah, Kaci mulai yakin bahwa Islam adalah pilihannya. Ia merasakan Islam telah menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kaci pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Selepas mengucapkan syahadat, Kaci mulai aktif pergi ke masjid.

"Itu adalah langkah besar pertamaku. Banyak pintu dibuka setelah itu, dan terus dibukakan pintu kemudahan. Aku mulai shalat. Dua pekan kemudian, aku mengenakan jilbab," kenangnya.

Selama paruh terakhir tahun di kampus, Kaci mengambil mata kuliah pilihan: Islam, Kristen, dan Yahudi. Setiap kuliah, Kaci menjadi perwakilan Islam. "Masya Allah, menjadi wakil Islam sangat tepat untuk memberitahu kebenaran tentang Islam dan Allah," pungkasnya.

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (2)

Rabu, 25 April 2012, 19:02 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (2)
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah terus-menerus menghabiskan waktu bersama keluarga temannya itu, Kaci mulai diperkenalkan tentang kajian Perjanjian Baru. Mereka tidak bernyanyi atau mendengarkan khotbah.

Perempuan juga tidak diizinkan untuk berbicara selama pertemuan gereja. Natal, Paskah dan hari libur lain juga tidak dirayakan. Anggur dan roti tidak dihidangkan saat hari Minggu.

"Meskipun aku sudah dianggap sebagai Kristen, anggota jemaat ini percaya bahwa aku akan ke neraka jika tidak dibaptis lagi. Inilah pukulan pertamaku terkait keyakinan Kristen," kata dia.

Melihat hal itu, Kaci memutuskan untuk berdialog dengan ibunya. Ia bercerita tentang mengapa harus kembali dibaptis. Padahal dirinya sudah dibaptis waktu kecil. Ia pun bertanya mengapa kewajiban membaca Alkitab hanya sewaktu hari Minggu saja. "Saat itu, aku mulai kritis," ujarnya.

"Aku pun berdoa kepada Tuhan agar mendorongku untuk tetap melakukan hal yang benar. Nyatanya, doaku belum jua terkabul," tambah dia.

Tahun berikutnya, Kaci mulai menapaki jenjang pendidikan perguruan tinggi. Di tahun pertamanya, ia memutuskan untuk bergabung dengan asosiasi mahasiswa pembaptis. Pikirnya, dengan memasuki organisasi itu ia akan mendapatkan jawaban atas kebingungannya. "Aku merasa menemukan sesuatu yang aneh dari organisasi ini," ungkapnya.

Perkenalan

Pada tahun keduanya, Kaci menghabiskan banyak waktu untuk ambil bagian dalam paduan suara gereja Wake Forest. Ia sebenarnya enggan ikut serta dalam kelompok paduan suara, namun karena masalah uang, ia coba acuhkan pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.

Pada bulan Oktober, Kaci bertemu dengan pria Muslim yang tinggal di asrama. Ia merupakan pria yang ramah. Dengan nyaman, Kaci banyak melontarkan pertanyaan kepada temannya ini. "Dari dialog ini, aku kian mempertanyakan kepercayaanku sendiri. Apakah memang kita dilahirkan untuk agama yang kini aku peluk," ujarnya.

Musim panas berikutnya, Kaci mulai bekerja di sebuah toko buku. Ia pun bersinggungan dengan buku-buku keislaman. Ia pun melirik-lirik Alquran. Rasa penasaran tentang kepercayaan yang dianut pria Muslim itu menjadi pemicunya.

Seolah tak puas, Kaci tergerak untuk mengunjungi masjid. Harapannya ia akan mendapatkan pengetahuan itu secara langsung. "Aku mengunjungi masjid dua kali selama setahun," ungkapnya.

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (1)

Rabu, 25 April 2012, 18:56 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (1)
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Kaci Starbuck tumbuh dan besar dalam lingkungan gereja. Ia rajin menghadiri sekolah minggu semenjak masih kanak-kanak.

Bahkan, ia sudah dibaptis sejak bocah. "Pemahamanku tentang ajaran Kristen waktu itu adalah keharusan seorang anak untuk dibaptis. Sebab, jika anda tidak dibaptis, maka anda masuk neraka," kenangnya.

Pemahaman itu tidak terlepas dari dorongan ayahnya yang seorang diaken, pelayan gereja. Ia pun memutuskan untuk dibaptis setelah menghadiri sekolah minggu.

Sebelum melalui proses itu, seorang pendeta bertanya padanya, mengapa dirinya menginginkan melakukan pembaptisan? "Aku jawab. Karena aku mencintai Yesus, dan aku tahu Yesus mencintaiku," tutur Kaci.

Selama bersinggungan dengan gereja, Kaci boleh dibilang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Untuk perempuan seusianya, hal itu terbilang langka. Begitu aktifnya, hingga ia mendapat julukan "Putri Gereja".

Suatu malam, dalam aktivitas keagamaan, Kaci mendengar seorang pria tengah berbicara tentang pertemuan pertama dengan istrinya. Istrinya itu berasal dari luar AS. Ada satu kesulitan kala ia tengah berkencan. Ia tidak dapat bersentuhan secara fisik seperti memegang tangan dengannya sebelum pernikahan. "Bagiku, cerita itu sangat menarik. Sangat indah untuk berpikir ada komitmen yang sudah dibuat sebelum melangkah lebih jauh," kenang dia.

Beberapa tahun kemudian, orang tua Kaci bercerai. Kepercayaan dirinya terhadap agama mulai goyah. Menurut keyakinan Kaci, ayah dan ibunya merupakan pasangan yang sempurna. Keduanya merupakan aktivis gereja yang aktif dalam setiap kegiatan keagamaan.

Saat itulah, Kaci memutuskan untuk menetap bersama sang ayah, sedangkan dua adiknya mengikuti ibunya, "Aku bertanya-tanya tentang surat Injil Korintus 1:13 tentang cinta dan amal. Mengapa hal itu tidak terjadi pada keluargaku?" tanya dia.

Dalam waktu tiga tahun, akhirnya Kaci pindah ke rumah ibunya. Saat itu pula, Kaci tahu bahwa ibunya tidak lagi ke gereja. Ia menyaksikan bagaimana gereja tidak lagi menjadi prioritas utama. Setelah pindah ke rumah ibunya, Kaci memulai tahun pertamanya di lingkungan baru.

Saat itu, ia bertemu dengan teman sekelas yang ramah. Di hari kedua, Kaci diajak olehnya untuk mengunjungi keluarga dan gerejanya. Ia pun mengiyakan ajakan itu. "Aku begitu terkejut dengan sambutannya. Meski aku seorang yang asing, mereka menyambutku dengan pelukan dan ciuman," kenang Kaci.

28 February 2012

Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah


blogspot
Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah
Nabi Muhammad SAW

Senin, 27 Pebruari 2012 15:23 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL --  Pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline,  injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang  menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

Inilah videonya
http://www.youtube.com/watch?v=VcUNVNbUBLY&feature=player_embedded

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Amri Amrullah
Sumber: youtube/dailymail

15 January 2012

Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat


Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat (1)
Terbang

Kamis, 12 Januari 2012 13:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Nama saya Christina Morra dan dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Saya mempunyai tiga saudara lelaki dan tiga saudara perempuan. Kami berhenti datang ke gereja ketika usia saya enam tahun. Kami percaya bahwa lebih baik membaca Injil di rumah karena kami tidak dapat menemukan gereja dengan doktrin  bisa kami patuhi, makanya lebih baik kami di rumah saja. Saya yakin bahwa sikap agamis keluargalah yang menyebabkan saya memeluk Islam. Saya juga yakin bahwa perjalanan menuju Islam bermula ketika saya baru lahir. Salah satu perkara yang saya pelajari dalam Islam ialah konsep fitrah. Artinya setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, bebas dari sebarang dosa. Oleh karenanya, kita bisa memanggil anak atau bayi sebagai Muslim.

Hanya ibu bapaknyalah yang mengajarnya untuk menjadi seorang Yahudi atau Kristen. Saya begitu tertarik sekali dengan kepercayaan Islam ini karena saya menyetujuinya sepenuh hati. Fakta menyebutkan bahwa Muslim berusaha untuk kembali dalam keadaan suci dan menjadi orang terbaik bisa menjadi benar pada pandangan saya.

Saya mulai mengenal Islam dari beberapa orang rekan Muslim saya di internet. Tidak semua teman saya Muslim, tetapi Alhamdulillah saya punya beberapa orang teman Muslim yang baik. Sebelumnya memang saya tidak mengetahui apa-apa. Hanya, saya teringat pada seorang Muslim yang bekerja dengan ayah saya. Waktu itu saya belajar mengucapkan "Assalamualaikum".
Saya tertarik dengan orang ini yang kelihatan lembut dan damai serta berpakaian serba putih. Perlahan-lahan saya baru bahwa memberi salam kepada anak-anak merupakan satu perbuatan baik.

Saya pernah menulis satu artikel berkaitan dengan kecenderungan dan minat saya untuk belajar tentang berbagai budaya dan kemanusiaan. Ketika itu saya belajar di sekolah tinggi. Artikel itu mendapat perhatian dari guru pembimbing kami. Guru bahasa Inggris saya turut memuji artikel tersebut. Ketika masa berlalu, hubungan saya dengan umat Islam juga semakin meningkat. Saya menjadi lebih tertarik untuk belajar mengenai Islam.

Ketika kuliah, saya mengambil mata kuliah agama. Sayangnya, materi yang disampaikan tidak banyak memberikan informasi tentang Islam. Saya merasa yang harus dipelajari adalah Islam. Oleh karena itu, saya mengambil mata kuliah Islam klasik. Saya juga turut belajar bahasa Persia karena begitu minat untuk mempelajari bahasa. Asik dengan minat yang saya geluti membuat saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah bidang arsitektur.

Teman baik saya, Ehsan, seorang yang saya kenal lewat internet, adalah teman baik untuk belajar Alquran. Saya banyak sekali menanyakan persoalan berkaitan Islam kepadanya. Dia datang dari Iran untuk menemui saya di Amerika. Kami bertemu di Texas. Saya juga bertemu dengan ramai warga Iran di sana.

Kemudian saya kembali ke universitas, pada saat itulah saya memasuki kelas Klasik Islam. Saya tetap melanjutkan pembahasan saya tentang Islam bersama Ehsan. Saya benar-benar puas hati dengan pembelajaran Islam saya. Karena saya mengambil studi bahasa. Bahasa Arab merupakan satu hal yang amat penting buat saya.

Saya juga mendapati bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, kita haruslah berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah. Melakukan perbuatan yang diridhai oleh-Nya. Walaupun secara alami kita bukanlah manusia sempurna dan tidak bisa menjamin diri sendiri untuk bisa masuk surga. Lalu mengapa harus menghukumi orang lain? Agama yang saya anut adalah sebuah agama dimana sebagai manusia biasa, kita diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertobat. Seorang pelacur bisa masuk surga karena memberi air pada seekor anjing, sebuah perbuatan yang kelihatan amat mudah tetapi diridhai Allah.

Kesimpulannya, Islam memberi jawaban atas segala persoalan yang menjadi tanda tanya bagi saya selama ini. Dahulu saya pernah terpikir memiliki agama yang sempurna. Saya percaya bahwa manusia harus memiliki agama, bahwa Tuhan berhubungan dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka. Saya menemui konsep tersebut dalam Islam, makanya saya bisa memberikan kepercayaan saya pada agama ini dan segala yang saya temukan adalah benar dan sempurna.

Tidak lama kemudian, saya pergi ke Texas dan Ehsan memberi dukungan untuk saya menyebutkan kalimat syahadah. Dia mengajarkan saya cara menunaikan shalat, sebelumnya saya sudah melihat dia menunaikan shalat. Shalat adalah sebuah manifestasi yang indah. Bagaimana pun saya masih berpendapat saya harus belajar lebih banyak lagi. Islam adalah sebuah agama yang luas dan saya ingin sekali memeluk agama Islam pada hari yang istimewa.

Ketika saya melakukan penerbangan dari Texas pulang ke Tennessee, pesawat yang saya naiki mengalami gangguan sebelum memulai penerbangan. Saya terpikir akan kematian yang bisa datang tiba-tiba. Jika saya mati menghadap Tuhan, saya belum juga menjadi seorang Muslimah. Saya tidak ingin perkara tersebut terjadi. Maka saya pun memikirkan untuk mengucap syahadat dan Allah SWT sebagai saksinya.

Kemudian, saya menyebut kembali kalimat syahadat di hadapan Ehsan sebagai saksi. Itu bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad Saw . Dahulu saya merasa bingung dengan masa depan saya, apa yang akan saya lakukan, apa akan jadi dengan diri saya. Ketika mengenang kembali hal tersebut, saya tahu bahwa sebenarnya saya belum menemui jalan yang membawa saya kepada Islam. Insya Allah Allah akan membimbing saya dan membuka jalan untuk saya mempelajari Islam sekarang dan disepanjang kehidupan saya, sehingga saya dapat pula mengembangkannya.

Alhamdulillah Islam sebenarnya adalah indah, jauh dari rasisme dan kebencian. Islam merupakan bimbingan sempurna yang dapat memenuhi keperluan individu dan masyarakat. Saya benar-benar percaya bahwa seseorang itu memerlukan Islam untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dan membentuk sebuah tempat yang lebih kokoh. Islam bukan untuk diperdebatkan dan mencari perhatian. Sejatinya, mengamalkan Islam dengan benar merupakan cara terbaik untuk semua manusia di alam sejagat ini. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang sedemikian dan insya Allah saya akan berusaha untuk menjadi orang seperti itu demi Allah.

Redaktur: Endah Hapsari

Translate it by Google Translator