REPUBLIKA.CO.ID, Nama saya Christina Morra dan dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Saya mempunyai tiga saudara lelaki dan tiga saudara perempuan. Kami berhenti datang ke gereja ketika usia saya enam tahun. Kami percaya bahwa lebih baik membaca Injil di rumah karena kami tidak dapat menemukan gereja dengan doktrin bisa kami patuhi, makanya lebih baik kami di rumah saja. Saya yakin bahwa sikap agamis keluargalah yang menyebabkan saya memeluk Islam. Saya juga yakin bahwa perjalanan menuju Islam bermula ketika saya baru lahir. Salah satu perkara yang saya pelajari dalam Islam ialah konsep fitrah. Artinya setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, bebas dari sebarang dosa. Oleh karenanya, kita bisa memanggil anak atau bayi sebagai Muslim.
Hanya ibu bapaknyalah yang mengajarnya untuk menjadi seorang Yahudi atau Kristen. Saya begitu tertarik sekali dengan kepercayaan Islam ini karena saya menyetujuinya sepenuh hati. Fakta menyebutkan bahwa Muslim berusaha untuk kembali dalam keadaan suci dan menjadi orang terbaik bisa menjadi benar pada pandangan saya.
Saya mulai mengenal Islam dari beberapa orang rekan Muslim saya di internet. Tidak semua teman saya Muslim, tetapi Alhamdulillah saya punya beberapa orang teman Muslim yang baik. Sebelumnya memang saya tidak mengetahui apa-apa. Hanya, saya teringat pada seorang Muslim yang bekerja dengan ayah saya. Waktu itu saya belajar mengucapkan "Assalamualaikum".
Saya tertarik dengan orang ini yang kelihatan lembut dan damai serta berpakaian serba putih. Perlahan-lahan saya baru bahwa memberi salam kepada anak-anak merupakan satu perbuatan baik.
Saya pernah menulis satu artikel berkaitan dengan kecenderungan dan minat saya untuk belajar tentang berbagai budaya dan kemanusiaan. Ketika itu saya belajar di sekolah tinggi. Artikel itu mendapat perhatian dari guru pembimbing kami. Guru bahasa Inggris saya turut memuji artikel tersebut. Ketika masa berlalu, hubungan saya dengan umat Islam juga semakin meningkat. Saya menjadi lebih tertarik untuk belajar mengenai Islam.
Ketika kuliah, saya mengambil mata kuliah agama. Sayangnya, materi yang disampaikan tidak banyak memberikan informasi tentang Islam. Saya merasa yang harus dipelajari adalah Islam. Oleh karena itu, saya mengambil mata kuliah Islam klasik. Saya juga turut belajar bahasa Persia karena begitu minat untuk mempelajari bahasa. Asik dengan minat yang saya geluti membuat saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah bidang arsitektur.
Teman baik saya, Ehsan, seorang yang saya kenal lewat internet, adalah teman baik untuk belajar Alquran. Saya banyak sekali menanyakan persoalan berkaitan Islam kepadanya. Dia datang dari Iran untuk menemui saya di Amerika. Kami bertemu di Texas. Saya juga bertemu dengan ramai warga Iran di sana.
Kemudian saya kembali ke universitas, pada saat itulah saya memasuki kelas Klasik Islam. Saya tetap melanjutkan pembahasan saya tentang Islam bersama Ehsan. Saya benar-benar puas hati dengan pembelajaran Islam saya. Karena saya mengambil studi bahasa. Bahasa Arab merupakan satu hal yang amat penting buat saya.
Saya juga mendapati bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, kita haruslah berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah. Melakukan perbuatan yang diridhai oleh-Nya. Walaupun secara alami kita bukanlah manusia sempurna dan tidak bisa menjamin diri sendiri untuk bisa masuk surga. Lalu mengapa harus menghukumi orang lain? Agama yang saya anut adalah sebuah agama dimana sebagai manusia biasa, kita diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertobat. Seorang pelacur bisa masuk surga karena memberi air pada seekor anjing, sebuah perbuatan yang kelihatan amat mudah tetapi diridhai Allah.
Kesimpulannya, Islam memberi jawaban atas segala persoalan yang menjadi tanda tanya bagi saya selama ini. Dahulu saya pernah terpikir memiliki agama yang sempurna. Saya percaya bahwa manusia harus memiliki agama, bahwa Tuhan berhubungan dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka. Saya menemui konsep tersebut dalam Islam, makanya saya bisa memberikan kepercayaan saya pada agama ini dan segala yang saya temukan adalah benar dan sempurna.
Tidak lama kemudian, saya pergi ke Texas dan Ehsan memberi dukungan untuk saya menyebutkan kalimat syahadah. Dia mengajarkan saya cara menunaikan shalat, sebelumnya saya sudah melihat dia menunaikan shalat. Shalat adalah sebuah manifestasi yang indah. Bagaimana pun saya masih berpendapat saya harus belajar lebih banyak lagi. Islam adalah sebuah agama yang luas dan saya ingin sekali memeluk agama Islam pada hari yang istimewa.
Ketika saya melakukan penerbangan dari Texas pulang ke Tennessee, pesawat yang saya naiki mengalami gangguan sebelum memulai penerbangan. Saya terpikir akan kematian yang bisa datang tiba-tiba. Jika saya mati menghadap Tuhan, saya belum juga menjadi seorang Muslimah. Saya tidak ingin perkara tersebut terjadi. Maka saya pun memikirkan untuk mengucap syahadat dan Allah SWT sebagai saksinya.
Kemudian, saya menyebut kembali kalimat syahadat di hadapan Ehsan sebagai saksi. Itu bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad Saw . Dahulu saya merasa bingung dengan masa depan saya, apa yang akan saya lakukan, apa akan jadi dengan diri saya. Ketika mengenang kembali hal tersebut, saya tahu bahwa sebenarnya saya belum menemui jalan yang membawa saya kepada Islam. Insya Allah Allah akan membimbing saya dan membuka jalan untuk saya mempelajari Islam sekarang dan disepanjang kehidupan saya, sehingga saya dapat pula mengembangkannya.
Alhamdulillah Islam sebenarnya adalah indah, jauh dari rasisme dan kebencian. Islam merupakan bimbingan sempurna yang dapat memenuhi keperluan individu dan masyarakat. Saya benar-benar percaya bahwa seseorang itu memerlukan Islam untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dan membentuk sebuah tempat yang lebih kokoh. Islam bukan untuk diperdebatkan dan mencari perhatian. Sejatinya, mengamalkan Islam dengan benar merupakan cara terbaik untuk semua manusia di alam sejagat ini. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang sedemikian dan insya Allah saya akan berusaha untuk menjadi orang seperti itu demi Allah.
15 January 2012
Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat
26 October 2011
Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat
Di tahun 1990an, saat isu komunisme sedikit mereda, ia mendapatkan informasi mengenai Islam sebagai penyeimbang. "Di sekolah, dulu kami mempelajari revolusi Cina. Kita bisa mengakses Marx, Linen, tapi tak ada informasi tentang Islam yang bisa diakses," ujarnya. Ia hanya mendapatkan Islam hanya sebagai sebuah informasi tapi tak bisa mempelajarinya. Cukup sulit untuk mendapatkan informasi mengenai Islam saat itu.
Ia mengambul keputusan untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya. Ia kemudian mulai membaca Alquran. Sayang, ia belum berhasil mendapatkan terjemahannya.
Tak ada satu pun perpusatakaaan atau toko buku yang bisa menyediakan terjemahan Alquran untuknya. Ia sempat mengingat di salah satu tempat di Jalan Daniel, New Town terdapat Pusat Studi Islam Wellington. Ia yakin orang disana pasti bisa meminjamkannya.
Tapi ia merasa ragu untuk mendatangi tempat itu. "Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku tahu bagaiamana bersikap ketika berada di gereja atau pemakaman. Tapi aku sama sekali tak tahu bagaimana bersikap dengan komunitas muslim," katanya. Ia mengurungkan niat itu, lalu memesan terjemahan Alquran melalui amazon.net.
Ia benar-benar terkejut ketika membaca Alquran. Baginya, seperti membaca semua cerita yang dulu pernah diceritakan ketika masih anak-anak. Ada Adam, Ibrahim, Hud, Isa dan Maria. "Semua hal yang menjadi nilai-nilai pendidikan agama ketika aku masih kecil," ujarnya.
Alquran seperti menjawab semua kekhawatirannya tentang semua yang pernah saya ia pelajari di gereja dan sekolah Minggu. Ia menemukan fakta bahwa Yesus (Isa ) adalah manusia biasa. Namun ia seorang nabi yang luar biasa, dan sama sekali berbeda dengan konsep trinitas yang selama ini ia pahami.
Campur aduk perasaan Glyn ketika membaca Alquran. Ia merasa terkejut sekaligus malu. Ia malu karena ketidaktahuannya. "Kenyataan bahwa kami ternyata berbicara pada Tuhan yang sama. Saya terus membaca sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya baca adalah kebenaran," ungkapnya. Ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. "Saya merasakan kebenaran dalam arti yang paling dalam," begitu
komentarnya.
Ia mengulang membaca Alquran. Setelah membaca yang kedua kalinya, ia memutuskan untuk melakukan cukup banyak penelitian melalui internet bagaimana menjadi seorang muslim. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana perilaku umum umat muslim.
Ia mulai mencari tahu bagaimana Islam. Sempat ia menamukan artikel dalam bahasa Arab yang sama sekali tak ie ketahui artinya. Tapi apa pun itu ia berkeyakinan tak perlu terburu-buru untuk memutuskan masuk Islam.
"Masuk Islam harus benar-benar sesuai dengan keyakinan dan kemantapan hati," ujarnya. Akhirnya, setelah mendapatkan banyak informasi dan juga kemantapan tersebut, Glyn memutuskan masuk Islam pada Oktober 2000.
STMIK AMIKOM
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/24/ltjrlv-setelah-membaca-alquran-dua-kali-dan-lakukan-pencarian-glyn-memutuskan-bersyahadat
24 October 2011
Keislamannya Dihormati Keluarga, Glyn Menerima Kado Natal Jilbab
Screenshot/YouTube/Republika.co.id Glyn Maclean Senin, 24 Oktober 2011 03:07 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Glyn Maclean memiliki darah Skotlandia dengan sedikit campuran darah Irlandia dan Belgia. Ayahnya tiba di Selandia Baru pada tahun 1957 kemudian mereka tinggal di Wellington. Ia memiliki empat saudara, tiga laki-laki dan satu perempuan. Kisah berislamnya Glyn bisa dibaca di sini Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari Reporter: Dwi Murdianingsih/YouTube STMIK AMIKOM |
22 September 2011
Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja
Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil. "Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah," ujarnya.
Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. "Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya...maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya," ujarnya.
Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama. "Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya," katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim.
Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam.
Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. "Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja," ujarnya.
Saat dua anaknya menginjak remaja, suaminya meninggal dunia. Xenia sungguh terpukul. Ia memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, Yunani. Anak-anaknya, memilih tetap tinggal di Inggris.
Di bandara, ia menerima SMS anak lelakinya yang termuda, "Mum, kami mencintaimu dan kami tak ingin engkau berbeda dari kami ketika kelak kau berpulang seperti papa. Please, jadilah Muslimah."
Ia merenungi SMS sang anak. "Untuk pertama kalinya setelah 30 menikahi pria Muslim, saya membaca isi Alquran," katanya, yang mengaku awalnya ogah-ogahan membacanya.
Dia mengaku takjub dengan kitab suci almarhum suaminya itu, kendati hanya membaca terjemahannya saja. Untaian kata-katanya sungguh indah, katanya, begitu untaian ceritanya. "Itu bukan bahasa manusia. Itu bahasa Tuhan semesta alam," katanya.
Dari membaca Quran pula ia tahu, Islam bukan agama baru. Islam telah dianut oleh nabi-nabi terdahulu. "Ini lebih mudah dimengerti, bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa partner, dan para nabi adalah utusan-Nya," katanya.
Tiba-tiba, ia merasa tak berperantara antara dirinya dan Tuhan. "Hanya saya dan Pencipta saya," kata Xenia yang kini berusia 60 tahun lebih.
Dia mengaku mulai rajin "curhat" pada Tuhan. "Aku berbicara pada Alllah dimana saja. Dia mendengar saya, dan memantapkan hati saya," ujarnya. Sampai di satu titik, ia bulat tekad untuk bersyahadat.
Bagi Xenia, Islam adalah sistem yang sempurna. Allah tak hanya menurunkan Alquran, tapi juga mengutus Muhammad SAW untuk menjadi "contoh nyata" bagaimana Alquran diaplikasikan. "Jalan menuju surga itu berliku. Allah mengirim panduan menuju ke sana, melalui Alquran dan Muhammad," katanya.
Xenia juga menyatakan, beda dengan adama lain yang penuh doktrin, Islam mengajak umatnya untuk berpikir. "Islam tak bilang, 'Inilah dia, kau harus mengikutinya sekarang!' Tapi Allah bilang, 'Lihat, lihatlah sekelilingmu. Lakukan perjalanan, lihatlah tubuhmu, langit, alam, mengapa kau tak melihatnya (sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?)," katanya, yang mengaku bersyukur telah menemukan islam, kendati memulianya di usia senja.
STMIK AMIKOM
30 August 2011
Irene Handono: Menyaksikan
Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ''Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,'' kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.
Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.
Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ''Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,'' ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka'bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.
Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten - tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ''Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,'' ungkapnya.
Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber - sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro - peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me - wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing - ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.
Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung - annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.
Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ''Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,'' ujarnya.
Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ''Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,'' ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal.c68/kem
STMIK AMIKOM
PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN
Sebuah Kesaksian Dari Kami...!!!
Posted by Mantan Gembala gembala@net.net (202.152.4.216) on March 08, 2001 at 17:55:01:
PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN
PENGANTAR
Kami adalah sekelompok Pendeta yang telah bertobat kepada Tuhan Allah dengan sesungguhnya. Dahulu kami adalah umat agama dari 4 kelompok besar agama di luar Katolik & Kristen. Dulu kami masuk Kristen karena tertarik dengan nilai-nilai ajaran kasih dalam Kristus & janji keselamatan-Nya yang akan mengahantar kita semua masuk kerajaan surga dengan penuh kepastian. Walau akibat iman Kristus ini kami harus menerima fakta dikucilkan keluarga kami, kami terima semuanya dengan lapang dada waktu itu, apalagi penghiburan para Gembala Gereja selalu menyatakan orang tua kami, keluarga klami, teman-teman kami & orang -orang diluar Kristen adalah orang berdosaa yang sesat dalam iman. Mereka adalah para penyembah setan & kitab sucinya diturunkan oleh Raja Iblis!. Kami sangat mensyukuri wejangan para Gembala ini.
Apalagi setelah dibaptis, kami sangat diperhatikan, kami disekolahkan di Sekolah Misi Alkitab di kawasan Blok M - Jakarta, selama 6 bulan saja & kami lulus dengan menyandang gelar Sarjana Theologi. Karena kami orang bertobat, sekolah Misi Alkitab cukup ditempun 6 bulan saja, tidak perlu bertahun-tahun seperti yang lainnya. Kami juga diberi uang saku bulanan yang lebih dari cukup, jauh berbeda ketika kami masih dalam agama kami dulu, hidup serba kekurangan & miskin. Bahkan pada saat awal kemurtadan kami ini, kami diundang untuk berceramah keliling Indonesia. Walaupun kami bukan mantan Ulama, Bikhu atau Pandhita, kami mengaku kepada umat bahwa kami adalah mantan pemuka agama, di Sekolah Misi Alkitab kami diajarkan untuk berperilaku & menghapal beberapa bacaan doa agama kami dahulu untuk memberi kesan bahwa kami benar-benar bekas pemuka agama. Bahkan Gereja membantu membuatkan kami ijasah-ijasah palsu, surat-surat keterangan & dokumen yang diperlukan untuk membuat bahwa kisah kesaksian kami adalah benar adanya.walaupun kami bukanlah bekas pemuka agama. Bahkan teman kami yang Islam sampai dibuatkan foto repro yang sangat hebat, dia memakai sorban & berjubah panjang, lalu di fotonya dibuat seolah pernah berfoto bersama beberapa tokoh Islam terkemuka seperti Mubaligh Kondang KH Zainuddin MZ & KH. Abdurrahman Wahid segala!. Kami juga disuruh menandatangani sebuah surat kesaksian yang panjang yang dipersiapkan oleh para staf Gembala Bapak Ev. Soeradi Ben Abraham, dimana disana kami membuat kisah kesaksian yang akan dibukukan & disebarluaskan dikalangan domba-domba Gereja.
Waktu itu kondisi di atas kami terima saja, mau bagaimana lagi?, kami sudah tak punya siapa-siapa lagi!, tak punya harta & penghasilan,
menjual iman ini adalah pilihan hidup yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak?, kami keliling Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga Singapura segala, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel berbintang, memakai jas mewah, dielu-elukan orang banyak seperti artis, masuk koran & majalah rohani, & menerima pendapatan bulanan yang sangat besar!, siapa yang tak ingin, tokh kami pikir waktu itu, murtad ini jauh lebih baik dibanding kami jadi pencuri, pembunuh atau germo lokalisasi!.
Entah berapa ratus kali kami berdusta, disetiap KKR yang kami ikuti secara terpisah, dimana ada skrenario yang disiapkan Gereja, kalau
berlabel penyembuhan Ilahi, para Pendeta berdoa memanggil Roh-Roh Jahat & menyuruh beberapa dari para pelayan Gereja untuk berpura-pura menjadi jemaat yang sakit!, & saat acara penyembuhan Ilahi dia harus berpura-pura sakit parah & mendadak sembuh ketika diurapi oleh kami!!!. Ya Tuhan ampunilah dosa masa lalu kami, ini kan tak lebih dari gaya tipu-tipu tukang obat pinggir jalan?!. Bahkan Jemaat terlihat sangat histeris, sampai ada yang berteriak histeris & berjingkrak-jingkrak segala!!!, mirip sekali acara nonton konser musik rock brutal yang ditonton para ABG, atau mirip suasana orang-orang yang tripping di Diskotek & Pub!!. Bahkan sehabis acara KKR ada seorang jemaat wanita muda yang menghampiri rekan kami Ev. Andi Widjaja (yang paling ganteng diantara kami), menyatakan diri siap melayani dia, karena yakin bahwa persembahan tubuhnya yang molek itu adalah untuk melayani jiwa para roh kudus yang menyertai kami!!!. Bung Andi lalu bilang, "kalau begitu ayo ikut ke kamar saya", wanita itupun mengikuti beliau & melayaninya sehari penuh hingga 5 ronde!!!. Kami tahu persis cerita ini karena kamipun memperoleh giliran menggarap wanita-wanita jemaat serupa ini diberbagai kesempatan KKR keliling Indonesia.
Hampir selama 6 (enam) tahun melayani domba-domba Gereja dalam rangkaian KKR yang melelahkan, menimbulkan kejenuhan di hati kami. Kadang kami berempat kongkow-kongkow di Mc. Donnalds Sarinah Thamrin & saling bertukar cerita..lalu jalan bersama keliling kota. Kami tak mungkin ke Kafe atau tempat hiburan malam, Diskotik sambil tripping & nyabu segala!, karena menurut kami hal ini tak baik untuk pekerjaan kami sebagai Pelayan Gembala, walaupun rekan-rekan gembala lainnya sering melakukan hal itu, kami bahkan sering dibilang kolot & kampungan oleh teman-teman Pendeta lainnya, akibta tidak ikut tripping & nyabu bersama rekan gembala lainnya. Bahkan beberapa rekan Gembala yang sekarang terkenal seperti Gilbert Lumoindang konon, menggunakan Shabu-Shabu & menenggak 1 butir pil Ectassy sebelum memimpin kebaktian di GL Ministry!. Menurut beliau Shabu-Shabu & pil Ectassy adalah sarana jiwa untuk dapat bertemu dengan Roh Kudus & agar Roh Kudus itu selalu mengilhami kita (katanya)!!!. Itulah sebabnya kenapa para Pendeta & Pengkhotbah Kristen selalu energik & tampil penuh percaya diri disetiap Kebaktian ataupun KKR, karena mereka menggunakan dopping berupa pil Ectassy atau Nyabu terlebih dahulu, bahkan terkadang keduanya sekaligus!!
PENYEBAB KESADARAN & PERTOBATAN KAMI
Bermula dari cerita rekan kami Bung Nico (Nicolas), perihal tetangga barunya yang mengadakan kursus TPA bagi umat Islam, Bung Nico awalnya gusar sekali, karena anak-anak kecil Islam itu selalu membaca surat Al-Kafiruun, yang dia tahu persis artinya, dia piker nih tetangga gue nyindir gue kali..awas aku murtadkan semiuanya!! & Bung Nico bersumpah untuk mewartakan kabar gembira Cinta Kasih Yesus itu kepada mereka.
Bung Nico suatu waktu memberanikan diri bertemu para pengajar TPA itu, lalu berkata: mari kita buktikan siapa hamba Tuhan sebenarnya, para pengajar itu Cuma tersenyum: "maaf kami tak melayani ajakan anda", Bung Nico bilang: "Kalian pengecut!!!" Mereka jawab: "Siapa bilang, kalau Bung Nico memaksa silahkan mulai dengan anak-anak itu saja" Bung Nico Menjawab: "Tapi saya nggak nanggung akibatnya ya..?"
Lalu Bung Nico mengumpulkan anak-anak kecil itu, dia bercerita tentang kisah pengorbanan Tuhan Yesus..anak-anak itu mendengarkan dengan seksama..tapi kemudian apa yang terjadi..? Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak semua & seorang anak kecil berusia 10 tahun lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit & balik menjelaskan apa itu Alkitab & sejarahnya serta siapa Yesus sesungguhnya..
Bung Nico terpana!, lalu pulang dengan perasaan malu..semenjak itu penjelasan anak kecil itu selalu membayang dipikirannya..lalu dia coba baca Alkitab secara urut, suatu hal yang sangat dilarang oleh Gereja karena bisa menyesatkan iman!. Diketemukanlah ayat-ayat yang sangat membingungkan..Bung Nico juga lalu ingat ayah-ibunya & teman-teman lamanya, kalau dipikir-pikir sangat beda sekali dengan rekan-rekan gembalanya di Gereja.
Kami berempat lalu berdiskusi dari hati ke hati, eh ternyata semua juga mempunyai pikiran & perasaan yang sama, sepertinya kita semua hidup dalam keimanan yang semu, kami adalah gembala-gembala umat, tetapi yang kami jalankan hanyalah dusta & kepalsuan yang ditawarkan kepada orang-orang yang haus akan kesegaran rohani..!!
Sejak saat itu, kalau memimpin KKR & Kebaktian, kami rasanya ingin muntah & berteriak kalau ada yang membacakan kisah kesaksian
palsunya, bagaimana tidak palsu?, Kalau ada seorang bekas pencopet beragama Islam yang seumur hidupnya tak tahu ajaran Islam & tak pernah bersekolah agama, dengan lantang menyatakan dirinya mantan calon Ustad?, padahal kisah karangan itu kamilah yang menyusunnya.?!. Kisah-kisah kesaksian palsu karangan kami bahkan sudah banyak yang dibukukan, beberapa kami lihat sepertinya pernah dikutip lalu diposting disini.
Lalu secara sembunyi-sembunyi kami berkunjung ke rumah ustad M. Hanafi tetangganya Bung Nico (Ev. Nicolas Albert Gerungan), kami utarakan kegundahan hati kami..sungguh ajaib & mengejutkan pertanyaan Ustad Muda ini, dia tidak langsung menyodorkan 2 kalimat Syahadat untuk kami baca, tetapi menyuruh kami untuk mulai merenungkan & mohon petunjuk Tuhan..! Dia juga Tanya apa agama asal kami & menyarankan untuk menjalin tali persaudaraan kami dengan bekas keluarga kami yang sekarang mengucilkan kami.
Akhirnya Bung Nico yang pertama memutuskan kembali masuk Islam, sementara itu rekan Ev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha), memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya & kemudian dikirim ke sebuah Vihara di kawasan Pondok Cabe, rekan Ev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu) mendatangi sebuah tempat sembahyangan agama Hindu di rumah seorang pelukis Bali dikawasan Bintaro & rekan Ev. Andi Widjaja (Kristen (Gembala Gereja Nehemia) bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu), mendatangi Kelenteng di Kawasan Glodok yang baru dibuka kembali. Hampir selama 2 bulan kami jarang bertemu lagi, kami juga secara mendadak memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Gereja kami. Bayangkan, betapa geramnya para pengurus Gereja, mereka mencari kami ke-mana-mana!. Teor lewat HP-pun gencar dilakukan, mereka pertama-tama hanya marah masalah jadwal-jadwak Kebaktian & KKR yang jadi berantakan, tetapi ketika kami secara terpisah menyatakan kami tak mau kembali lagi ke Gereja & akan kembali bertobat ke agama asal kami, terorpun dimulai, mulai dari telepon gelap hingga upaya intimidasi secara fisik melalui terror-teror. Kenyataan ini membuka mata-hati kami, betapa jahatnya mereka ini, jauh lebih kejam dibanding keluarga, orang tua & teman-teman kami yang hanya membenci & tak mau kenal lagi dengan kami ketika kami dibaptis, tetapi kaum Kristen bekas Gembala & Domba kami sangat murka sekali & berencana menghabisi kami segala!!!. Akhirnya kami memutuskan untuk bertobat secara terpisah & kembali ke agama masing-masing.
Walaupun bekas Pendeta, kami tidak serta merta bisa menjadi pemuka agama. Bung Nico sekarang ini digembleng di sebuah pondok pesantren di kota Sukabum, rekan Gede sekarang sedang digembleng oleh seorang Pandhita di kawasan Ubud - Bali, rekan Rahardi sekarang sedang bertapa & belajar agama di sebuah rumah ibadah Budha d Pondok Cabe - Ciputat, sedangkan rekan Andi sekolah agama Kong Hu Chu di luar negeri, yaitu di Taiwan.
TINJAUAN PANCASILA
Seminggu yang lalu, di awal bulan Maret 2001 ini, via internet kami berdiskusi tentang Krismon & krisis negara Indonesia, lalu nyerempet-nyerempet masalah iman kami & masalah Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika. Kami lalu baca Pancasila & terkejut ketika membaca Sila Pertama Dasar Negara Indonesia berbunyi: KETUHANAN YANG MAHA ESA...
Ini berarti bahwa sesungguhnya konsep Ketuhanan yang diakui oleh bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tiada beranak & tiada diperanakkan, tiada beroknum ataupun bersekutu dengan unsur apapun. Artinya tiada Tuhan selain Allah. Jadi agama yang punya konsep Ketuhanan yang semu seperti Kristen dengan konsep Allah Tritunggal Yang Kudus dalam dogma Trinitas, jelas-jelas bertentangan dengan konsep dasar negara Indonesia...!!!
Kenapa agama Kristen dibiarkan keberadaannya?, mungkin inilah perwujudan dari rasa & jiwa besar para pemimpin bangsa Indonesia. Dilema ini sama seperti pengakuan kita akan eksistensi para penganut aliran kepercayaan, animisme & komunis. Keberadaan agama Kristen sama & sejajar dengan agama animisme, aliran kepercayaan & komunis yang kita perkenankan keberadaannya di bumi Indonesia!.
Bahkan agama Kristen kedudukannya jauh lebih rendah & lebih hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu sekalipun, karena
dalam ketiga agama ini, walaupun mereka memiliki konsepsi sbb: Manusia utama Sidartha Gautama dalam ajaran Budha, tetapi di atas Sidartha Gautama ada Tuhan Maha Kuasa yang kedudukannya jauh lebih tinggi dibanding Sang Budha itu sendiri. Dalam agama Hindu, walau banyak dewa, tetapi ada Sang Hyang Widhi penguasa tunggal tertinggi di atas para dewa itu. Dalam Kong Hu Chu juga sama seperti ajaran Hindu, ada Sang Pencipta Tunggal yang berkuasa atas semua dewa-dewi dalam mitologi China.
Melihat penjelasan di atas saja sudah jelas bahwa agama Kristen itu jauh lebih rendah & hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu. Kedudukannya hanya sejajar dengan paham agama animisme & komunis!!!.
Pemujaan Nabi Isa sebagai Tuhan membuktikan adanya Paganisme Baru ini, sebagai agama sempalan Yahudi (ini terjadi karena Paulus dari Tarsus beserta Petrus ternyata kecewa berat akibat ambisinya menjadi Rabbi Yahudi di tolak Sinagoge Betlehem).
Kembali ke dasar negara, jika saja kita semua tegas & tak punya rasa belas kasihan kepada para penyembah Nabi Isa ini, sudah dari dulu sejak kemerdekaan Indonesia, agama Kristen dinyatakan sebagai agama terlarang, karena berbau kolonialisme serta bertentangan dengan Pancasila!. Bahkan jika sekarang saja ada yang menggugat keberadaan agama Kristen & menuduh para pengikutnya dengan pasal subversi ini bisa dibenarkan secara hukum!!!.
KENYATAAN SEJARAH BANGSA
Apalagi bila dikaitkan dengan fakta sejarah bahwa agama ini dibawa oleh para penjajah Belanda, para pengikut pertamanya adalah pribumi pengkhianat bangsa, yang bekerja sebagai opas & tentara bayaran Belanda, mata-mata Belanda & penjual informasi perjuangan para pahlawan demi gepokan Gulden Belanda!. Memang ada beberapa pahlawan nasional yang beragama Kristen, tapi mohon diingat, para pahlawan itu tidak pernah ikut kebaktian di Gereja-Gereja mereka yang dipimpin Pendeta Belanda!. Para pahlawan itu hidup bersama orang-orang pribumi yang beragama Islam, Hindu & Budha. Ketika Indonesia merdeka & sang Meener meninggalkan mereka, para pengkhianat bangsa ini serta merta bergabung dengan para orang tua kita menyatakan mengutuk penjajahan Belanda, tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi semua pihak berjiwa besar. Kita memaafkan kesalahan mereka.
Tapi namanya juga orang tak tahu diri, ketika agresi Belanda datang kembali, mereka lalu ikut tuannya. mendirikan RMS di Maluku segala. Bahkan beberapa diantaranya ikut pulang ke Belanda, tapi biarlah!! Setelah perundingan damai dengan Belanda di tahun 1950-an, Indonesia akhirnya merdeka, para pengkhianat yang beragama sesat bernama Kristen ini diakui keberadaannya, walaupun sebenarnya bertentangan dengan Pancasila!
HIMBAUAN UNTUK PARA GEMBALA LAINNYA YANG BELUM BERTOBAT
Nah umat Kristiani..hendaklah renungkan fakta ini, malulah pada diri sendiri & hargailah umat beragama lain, kami umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu sudah lebih dari sabar menghadapi tingkah kalian!. mohon sadarlah & beribadahlah dengan cara masing-masing, jangan lagi mengirim penginjil-penginjil sesat kalian ke Mesjid-Mesjid kami, ke Vihara-Vihara kami, ke Kuil-Kuil kami, ke Kelenteng-Kelenteng kami, atau berusaha memurtadkan umat-umat kami yang kebetulan ilmu agamanya kurang, jangalah kalian ulangi lagi perbuatan sesat & tidak terpuji ini. Janganlah beli iman umat kami yang miskin & bodoh dengan beras & janji-janji muluk pekerjaan indah. Mereka miskin jangan lagi diberi impian palsu!. Mereka bodoh tapi janganlah manfaatkan kebodohan mereka dengan cara kalian menukar agama mereka dengan agama sesat kalian. Kemarin kami baru menemukan sebuah kisah nyata, bahwa di sebuah desa di pelosok Sukabumi, suatu desa terpencil di kaki gunung, yang menyatakan ketidaktahuannya & terkejut ketika ada yang bilang bahwa kertas selembar yang ia tunjukkan pada orang lain itu adalah surat Baptis & ia telah menjadi Kristen!. Ia tak tahu hal ini!!!!. Yang ia tahu kemarin ia menjual berasnya kepada mereka dengan harga yang sangat mahal, lalu diberi uang & disuruh membaca kontrak perjanjian & dimandikan!!!..ia tak tahu kalau ia telah dimurtadkan..!!!
PENUTUP
Mari kita hargai hak beribadah agama masing-masing, hargai hak kami beribadah jangan intimidasi umat kami dengan agama sesat kalian, yang hanya jad bahan tertawaan anak SD saja!!!, bukankah kami juga sudah melindungi kalian dari jerat hukum subversi karena agama kalian itu bertentangan dengan dasar negara kita tercinta PANCASILA..YAITU SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA?. Untuk saudara-saudara sesama gembala atau domba Kristus, pintu pertobatan belum tertutup, marilah kita kembali KE JALAN TUHAN YANG BENAR...JALAN KAUM ISLAM DAN PARA SABI'IN...jika anda bekas umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu, kembalilah ke agama masing-masing.!!!
SEKIAN DARI KAMI
Atas Nama Forum Pertobatan Mantan Gembala-Gembala Para Pendeta yang telah Insyaf:
Rev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha)
Rev. Nicolas Albert Gerungan (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Islam)
Rev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu)
Rev. Andi Widjaja (Gembala Gereja Nehemia bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu)
Siapa menyusul bertobat.....???
Source :
http://adriandw.com/rev.htm
18 August 2011
Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam
Ia pernah menghuni tiga rumah asuh yang berbeda. "Selama waktu itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya ibu, ayah dan tidak ada teman, tidak ada tempat dimana saya bisa berpegang," katanya.
Dalam kesendirian itulah, ia mencari pegangan hidup: Tuhan. "Aku mulai menghadiri kebaktian di Gereja Pantekosta. Minggu menjadi hari yang kutunggu," katanya.
Beranjak remaja, ia bertemu seorang Muslim di sekolahnya. "Aku menjelaskan kepadanya lebih banyak tentang Kristen dan ia menjelaskan kepada saya tentang Islam," katanya. Namun, sang teman selalu menyangkal penjelasannya, dengan alasan yang logis.
Tak ingin terpengaruh, ia ke perpustakaan dan meneliti lebih lanjut tentang Islam, Kristen, dan semua agama, "Pintu-pintu terasa mulai terbuka bagiku," ia menggambarkan.
Islam, yang kerap dipandang sebelah mata publik Barat, tiba-tiba memukaunya, setelah membaca beragam literatur. "Islam memberi tuntutan nyata bagi umatnya," katanya.
Ia bimbang. "Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa berpikir, aku gelisah. Ini tidak masuk akal lagi," katanya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa pada siapapun Pencipta-nya. "Tolong jawab aku, beri aku arah dan pijakan. Beri aku pegangan. Aku hampir hilang," ia mengisahkan doanya saat itu.
Alhamdulillah, katanya, dalam dua hari, ia segera menemukan jawaban. Saat itu, ia tengah berada di dalam kelas 11 mengikuti pelajaran matematika. Islam dan Muhammad, dua kata itu yang mengisi hatinya. Ia terlonjak dan berlari ke luar kelas. "Hatiku hanya diisi dengan sukacita," katanya.
Ia pergi ke toilet. "Aku tak tahu apa itu wudhu, tapi aku tahu Islam menganjurkan bersuci. Aku menyiram wajahku, mencoba untuk mendapatkan suci itu," katanya.
Ia menemui temannya yang Muslim, dan meminta diislamkan. Sang teman mengajaknya ke rumahnya, dan mengenalkan pada orang tuanya.
Mereka tak langsung mengislamkan Tanya. Alih-alih menuntunnya bersyahadat, mereka malah memberinya pakaian, buku-buku, dan kehangatan sebuah keluarga. Baru setelah ia menyatakan kemantapan hatinya berislam, mereka mengantarkan Tanya ke masjid untuk bersyahadat.
"Hidupku telah benar-benar berubah setelah itu," akunya. Kini, ia tak lelah berbagi tentang bagaimana ia mendapatkan kedamaian batin dengan banyak orang. "Bukan dengan ke diskotik, minum, atau hura-hura. Tapi dengan mendekat pada Allah."
STMIK AMIKOM
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/08/18/lq3huv-tanya-gadis-piatu-kanada-yang-menemukan-damai-dalam-islam
16 August 2011
Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!
Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 september terjadi.
Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.
Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.
Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?
Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.
Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.
Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.
Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.
Ia mendatangi gereja lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.
Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"
"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."
Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.
Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.
Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.
Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain. Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."
STMIK AMIKOM
11 August 2011
Kisah Sulaiman, Atheis yang Menemukan Islam Lewat Ramadhan
Sebalinya, Sulaiman menemui dirinya dikelilingi orang asing dari berbagai macam kebangsaan dan keyakinan. Mereka di sana untuk bekerja, untuk mencapai cita-cita masing-masing. "Itu bukan yang saya harapkan, bukan budaya yang ingin saya jumpai," ujarnya.
Jadi, untuk beberapa waktu, Islam tertutupi dari orang-orang yang datang ke Teluk. Bagi Sulaiman, dalam beberapa waktu hidupnya ia tidak menemukan apa pun tentang Islam.
"Saya mendengar Adhzan dan saya pikir ini sangat indah," ungkapnya. Sulaiman sempat bertanya apa makna kata-kata tersebut. Orang-orang pun memberitahunya. Namun sejauh itu, semua hanya informasi. "Yang terasa bagi saya sekedar turisme," tuturnya.
Ramadan di Turki
Sepuluh tahun lalu setelah ia bepergian ke Bahrain menuju Shorjah, lalu Irak, akhirnya ia sampai di Turki, di mana ia menemukan sesuatu yang berbeda. "Itu bukan berarti Islam terlihat lebih baik dan lebih agung di Turki, tidak sama sekali. Faktanya, secara menyedihkan Islam di Turki di tekan di banyak aspek," ungkapnya.
Saat berada di negara itu, Sulaiman menemukan banyak hal luar biasa, salah satunya arsitektur Islam dari periode Ottoman yang ia anggap sangat indah. "Tak butuh waktu lama hingga saya bisa mengenal orang-orang di Turki dengan baik," tuturnya.
Lalu tibalah Ramadhan, sesuatu yang ia saksikan berulang kali di Teluk dan lewat begitu saja, tak ada yang berkesan. Tapi di Turki Sulaiman merasakan hal berbeda. "Saya merasakan sesuatu yang lin. Segera saya sadari bahwa mereka yang berpuasa saat Ramadhan adalah orang-orang yang saya kenal dan saya sukai.
Saat itu ia melihat ada hubungan gamblang antara orang-orang terbaik dengan orang yang berpuasa. Ini menunjukkan pada saya sebagian dari Muslim terbaik dan saya pun tertarik dengan mereka.
Sulaiman tak sekedar tertarik ikut dengan aktivitas mereka. ia pun mulai berpuasa saat Ramadhan meski saat itu ia bukanlah Muslim. "Sungguh membahagiakan di banyak hal, memang sangat menantang di sisi lain, namun sangat menyenangkan," tuturnya.
Sulaiman mengaku menikmati puasa. "Terutama di saat menunggu Adhzan Maghrib dan ketika menunggu dengan diam dan tenang bersama orang-orang lain yang berpuasa sepanjang hari," akunya.
Mereka, meski berpuasa tetap bekerja karena seperti negara bermayoritas Muslim lain, di Turki pun aktivitas publik dan pekerjaan jalan terus. Kenyataan itu memikat Sulaiman, orang-orang berpuasa sepenuhnya dari awal hari hingga senja dan tetap bekerja sepanjang hari.
"Saya juga melakukan itu dan sangat sulit, namun alhamdulillah saya berhasil," ungkapnya. Ia pun terkesan dan merasa melakukan prestasi besar. "Pengalaman itu menginspirasi saya untuk lebih banyak mengkaji Islam," ujarnya.
Membaca Al Quran
Pertama kali membaca ayat-ayat dalam kitab suci Islam, Sulaiman mengaku terpukau. "Karena saya tidak menemukan sesuatu yang asing dalam buku ini," tuturnya.
Ia mendapat terjemahan Al Quran pertamanya saat mulai dekat dengan komunitas Muslim. Kitab suci yang ia terima adalah versi terjemahan Yusuf Ali sehingga ia mampu membaca arti dalam Bahasa Inggris dan memahami maknanya.
Pertama kali membaca ayat-ayat dalam kitab suci Islam, Sulaiman mengaku terpukau. "Karena saya tidak menemukan sesuatu yang asing dalam buku ini," tuturnya
Rupanya ia berpikir kitab itu akan dipenuhi oleh hal-hal berbau mistisisme ketimuran. "Mungkin seperti hal-hal yang orang Barat bisa imajinasikan. Tapi tidak, faktanya saya menyimpulkan isinya jauh berbeda dengan Injil," ujarnya.
Sulaiman mengaku tak pernah bisa memahami Injil. "Injil bagi saya, memiliki banyak kontradiksi, cerita-cerita ganjil yang sepertinya tidak mengadaptasi atau mengantarkan pesan-pesan Kristus," ujarnya. Ia melihat pesan-pesan Yesus tak tercermin di Injil kecuali di beberapa bagian.
Ia pun mengkaji kontradiksi itu lebih dekat dan akhirnya memahami alasannya. "Namun itu bukan lagi hal penting, yang terpenting Al Quran-lah yang sepenuhnya masuk akal,"
Selain membaca Al Qur'an, Sulaiman juga membaca biografi Rasul, kisah kehidupan Nabi Muhammad yan ternyata sungguh menginspirasinya. "Ini sangat menarik karena pria ini adalah pria besar dalam sejarah dan itu fakta. Sesuatu yang bisa saya hubungkan dengan ketertarikan Barat terhadap logika," ujarnya.
Sulaiman terus mengikuti kata hatinya yang kian cenderung pada Islam. "Namun masih belum ada orang yang melakukan dakwa serius kepada saya, tak seorangpun mencoba meyakinkan saya bahwa saya harus berganti jalan menuju jalan lain," ujarnya.
Padahal saat itu keterlibatan Sulaiman dengan kegiatan Islam di komunitas Muslim sudah terlihat. "Jadi saya bisa menyebut diri 'pelajar Islam yang abstrak'. "Saya sebenarnya saat itu bisa saja mengambil studi kajian tentang Islam. Namun itu tak ada nilainya bila anda tak berniat melakukan sesuatu dengan itu, dan sayangnya saya tidak," tutur Sulaiman.
Kembali ke Dubai
Setelah saya kembali dari Turki ke Dubai, oleh Allah Sulaiman ditakdirkan untuk bekerja dengan orang istimewa. "Orang ini yang dulu adalah bos saya kini menjadi sahabat terbaik saya," ujarnya.
"Malam seusai kerja kami akan berdiskusi sambil makan malam. Mungkin juga ketika saat di kantor. Ia akan membantu saya mempelajari hal-hal yang benar dan mengajak saya bertemu orang-orang yang tepat. Ia juga mencoba menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan saya sebaik yang ia bisa," tutur Sulaiman.
Namun, si kawan masih bisa melihat semua keberatan Sulaiman terutama berkaitan dengan logial. "Semua pertanyaan tentang adat dan praktek-praktek ibadah, semua ini keluar dari bawaan sekuler," ungkapnya. Sulaimen mengaku tak pernah benar-benar menjadi seorang Kristen. "Saya hanyalah orang yang agnostik (percaya tuhan tapi tidak percaya agama).
Semua telah digariskan. Setahun kemudian beberapa pria datang padannya, Muslim Eropa. Mereka pengusaha yang tengah memulai proyek besar. Mereka ingin mengenalkan dinar emas Islam sebagai mata uang Muslim. Hingga kini, itu adalah keinginan dan tujuan besar.
Si bos berbicara kepada Sulaiman, "Hei kamu orang keuangan, bagaimana menurutmu tentang ini?" Orang-orang itu adalah Muslim Kaukasia Eropa yang mencoba mengusung aspek praktis tentang islam. Gagasannya, anda tak bisa membayar zakat kecuali dengan dinar emas. Meski ada lima rukun Islam tapi anda mesti menemukan satu alat tepat.
Ia bertanya pada Sulaiman, "Bagaimana menurutmu tentang ide ini?". Sulaiman saat itu telah belajar tentang Islam dan mengetahui maksud rukun tersebut.
Ia menjawab, "Omong kosong, itu tak bisa dilakukan, tak ada yang bisa menguasai sistem keuangan internasional dan itu akan gagal."
Si bos balik menjawab, "Baiklah, mengapa kamu tak kemari dan mengatakan kepada mereka tentang itu."
Sulaiman saat itu dalam mood yang jelek dan sekedar berkata, "Ya tentu, saya akan katakan pada mereka."
Ia diajak sang bos pergi dan bertemu para Muslim Eropa dengan gagasan tadi.
Muslim Eropa dan Syahadatku
Ternyata mereka tak hanya menjawab pertanyaan Sulaiman dari sudut pandang agama, namun mereka juga menjawab dari sudut panjang logika dan ilmiah.
Mereka berkebangsaan Spanyol dan Jerman dan berbahasa Inggris dengan baik. Mereka sangat berpendidikan, bijak dan pengkaji Islam yang beralih menjadi Muslim sekitar 10 atau 20 tahun sebelumnya. Pengetahuan mereka tentang Islam, menurut Sulaiman, sangat besar. "Hingga kini mereka masih melakukan dakwah di penjuru dunia," tuturnya.
Mereka pun berdiskusi. "Kami pergi ke restoran untuk berbincang dan berbincang."
Saat itu Rabu malah di tengah pekan tepat pukul 1.00 dini hari. Mereka berkata pada Sulaiman. "Jadi apakah kamu masih memiliki pertanyaan lagi?"
"Tidak...saya tak punya, saya sudah kehabisan pertanyaan," balas Sulaiman. Merka balik merespon "Kini apa, apakah anda akan menerima Islam?"
"Apa yang bisa saya katakan, saat itu saya hanya bisa menjawab 'Ya'," kata Sulaiman menuturkan situasi malam itu.
Mereka pun mengundang Sulaiman datang ke rumah pada Jumat berikut, dua hari lagi. Saat tiba di sana, rumah dalam kondisi dipersiapkan sangat baik. "Mereka memberi saya pelajaran dan anjuran terakhir, hal-hal yang perlu saya ketahui tentang shalat, wudhu, dan kami pun pergi ke Masjid Jumairah di mana saya mengucapkan syahadat," kenang Sulaiman
Pengalaman berharga yang saat itu ia terima, segera saja ia memiliki ribuan saudara. Mereka memeluk Sulaiman dan bahagia. "Saya tak pernah melihat begitu banyak wajah bahagia, tidak, tak saat di pesta ulang tahun saya, tidak saat perkumpulan Kristen juga dalam pertemuan lain, Di sini banyak orang bahagia dan mereka semua bahagia untuk saya,"
Kini video penuturan Sulaiman bisa diakses di YouTube. Dalam cuplikan itu, Sulaiman berkata, "Kepada mereka yang lahir sebagai Muslim, alhamdulillah anda benar-benar diberkati dan saya hanya berharap anda selalu menghargai dan memperlakukan pemberian itu sebagai hadiah lahir yang sangat besar, yang indah luar biasa.
Bila anda adalah orang yang beralih menjadi Muslim seperti saya, maka selamat pula, alhamdulillah dan selalu bersyukurlah. Saya yakin apa pun kisah anda, apakah itu penemuan tiba-tiba atau penuh dengan argumen menyiksa seperti jalan saya, itu adalah kisah indah dan saya harap telah menuntun anda ke jalan benar.
Bila anda bukan seorang Muslim, lalu saya harus berbagi kepada anda. Lihatlah saya sekarang, hanya seorang pria tua jelek, tapi saya bahagia, lebih bahagia dari sebelumnya dan lebih puas dan lapang ketimbang saya yang pernah ada. Semua keraguan dan ketakutan, semua keinginan dan kerinduan untuk material bodoh, yang fana, tak peduli apa yang saya kumpulkan setelah 70, 80 atau 90 tahun--bila saya beruntung bisa hidup selama itu--akan saya berikan. Saya akan menukarkan itu untuk sesuatu yang abadi.
Saya tidak akan menggurui anda bila anda tak mau mendengar, maka tak anda tak harus mendengar. Hanya, lihatlah apa yang ada di wajah saya. Saya bahagia dan anda dapat bahagia pula, ini sesuatu yang anda perlu pertimbangkan, semoga anda mempertimbangkan.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
STMIK AMIKOM
03 August 2011
Hannah Snider TERKAIT : Sara dan Elaine: Sebelum Jadi Muslim Coba-coba Puasa....Kini Bersyukur Rasakan Ramadhan Daniel Sonnex, ‘Setan Pembunuh’itu Mengaku Masuk Islam Perubahan Perilaku Jason Perez Membuat 55 Orang Terdekatnya Ikut Menganut Islam Baru Jadi Mualaf, Terus Minum Bir, Kena Cambuk deh dari Wahabi Australia Dulu JR Farrel Sangat Benci Muslim, Kini Islam adalah Hidupnya Di Tengah Meningkatnya Sentimen Anti Islam, Hannah Snider 'Melawan Arus' dan Bersyahadat
Pemikiran ini, katanya, tak hanya merupakan salah satu pilar yang paling dasar, namun yang paling penting dari sebuah agama.
Tumbuh dalam lingkungan yang tak pernah bersinggungan dengan Muslim, Hannah tak pernah tahu tentang Islam. "Alasan saya tidak pernah tahu tentang agama agung ini karena tidak ada yang pernah mengatakan kepada saya. Aku punya teman sekamar Muslim, telah bertemu dengan orang Muslim, tapi tak seorang pun memberitahu saya apa yang umat Islam yakini," katanya.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun mencoba memahami tentang berbagai agama, seorang teman memintanya menjelaskan keyakinan dasarnya. Saat itu, ia mengaku percaya Tuhan tapi tak menganut satu agamapun. "Dia mengoreksi saya dengan menjelaskan bagaimana Islam masuk ke dalam keyakinan saya, dan saya mulai meneliti dan belajar dan membaca Alquran," katanya.
Jujur, katanya, ia takut ketika menyadari bahwa Islam telah merasuki hidupnya. Tempat dia lahir dan dibesarkan, Amerika, tidaklah 'ramah' untuk umat Islam. "Dan setelah semua gambaran media yang negatif tentang Islam, semua teman-teman saya berpandangan sama tentang agama ini," tambahnya.
Namun, katanya, setelah ditelusuri, kebencian mereka pada Islam bersumber pada kurangnya pengetahuan tentang Islam, dan seringkali dangkalnya pengetahuan akan agama mereka sendiri. Rasa takutnya bakal dikucilkan setelah memeluk Islam sirna, dan ia bertekad untuk bisa menjelaskan lebih jauh tentang Islam pada rekan-rekannya.
Ia pun bersyahadat.
***
Kini, diakui atau tidak, Hannah bak humas bagi Islam. Orang-orang nyaman mengajukan pertanyaan-pertanyaan padanya tentang agama barunya, baik di toko kelontong, atau di mal, atau di kantor. "Saya tidak pernah tersinggung. Ini adalah bagian dari agama kita untuk menjangkau orang lain dan menyebarkan pesan Islam. Ini disebut dakwah," katanya.
Ia menjelaskan tentang Islam, tanpa pretensi menarik pengikut. "Beragama itu lahir dari kesadaran, bukan paksaan," tambahnya.
Harapannya, kalaupun mereka tidak setuju pada ajaran Islam, setidaknya bisa menoleransi. "Menemukan perbedaan, menemukan kesamaan, dan merangkul mereka. Dan untuk populasi Muslim: sangat penting bahwa kita mengenal orang lain dan membantu mereka untuk memahami agama kita. Bukan bertengkar tentang hal itu dan membiarkan media menggambarkan kita," katanya.
STMIK AMIKOM
02 August 2011
Si Atlet dan Mualaf, Cory Paterson, tak Gentar Bermain Rugby Saat Berpuasa
Selasa, 02 Agustus 2011 21:50 WIB
Banyak kalangan meragukan niat Paterson lantaran Townsville merupakan kawasan tropis. Kondisi itu otomatis akan menguras tenaga. Apalagi Peterson, akan terlibat dalam empat pertandingan. Meski empat pertandingan tadi dilaksanakan pada malam hari.
Kekhawatiran lain, tidak seperti El Masri, yang merupakan Muslim sejak lahir, Paterson tidak pernah berpuasa sebelumnya lantaran ia baru saja memutuskan memeluk Islam semenjak pindah dari Newcastle, Juni lalu.
Ketika dihubungi kemarin, Paterson menegaskan ia seorang Muslim dan mulai berpuasa. Tapi dia menolak untuk menjelaskan kondisinya hingga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan sang manajer baru, Khoder Nasser.
Perlu diketahui, sang manajer merupakan sosok dibalik keputusan seorang pemain lain, Antony Mundine, yang juga memeluk Islam dekade lalu.
Namun, Paterson, semenjak kemarin sore, membahas rutinitas barunya dengan pelatih North Queensland Neil Henry dan manajer Peter Parr. Keduanya baru mengetahui bahwa pemainnya tengah menjalani kewajiban yang diajarkan agama barunya.
Paterson meyakinkan keduanya, kemampuannya saat berlatih atau bermain tidak akan terganggu, karena Ramadhan memungkinkan pengecualian jika diperlukan lantaran pekerjaan.
"Dia menjelaskan bagaimana hal itu tidak akan berdampak pada persiapannya atau kinerjanya," kata Parr seperti dikutip dari The Daily Telegraph.au, Selasa (2/8).
"Tidak ada aturan keras dan mendadak untuk semua orang. Mengingat kinerjanya, ada kesempatan bagi Paterson untuk melakukan apa yang ia khendaki," kata Parr.
Ia mengatakan, bukan wewenang dirinya untuk mencampuri urusan pribadi Paterson. Namun, ia memuji pendekatan yang dilakukan Peterson terkait keyakinan barunya.
"Tantangan Besar bagi saya memulai hal yang baru, " tulis Paterson dalam akun twitter miliknya.
"Saya melihat ke depan. Kepuasan serta disiplin akan datang dengan sendirinya, Insya Allah," kata dia,
Tweet Peterson, segera disambut hangat oleh rekannya, Mundine. "Insya Allah berjalan dengan baik," balas Mudine.
STMIK AMIKOM
Wanita Atheis Skotlandia Ini Menemukan Islam pada Usia 65 Tahun
Wanita ini lahir di Skotlandia dan tumbuh besar di keluarga atheis sehingga ia pun tak percaya Tuhan. Dalam rumahnya anggota keluarga dilarang berbicara tentang Tuhan. "Bahkan ketika kami belajar di sekolah, kami tak dibolehkan menyoal itu di rumah, bila tidak kami dihukum."
Namun sejauh yang bisa ia ingat, Maryam selalu berupaya mencari Kebenaran mengapa ia hidup di dunia. "Mengapa saya hidup dan apa yang seharusnya saya lakukan."
Ketika ia cukup dewasa, ia mulai mencari beberapa informasi tentang 'sosok yang disebut Tuhan' yang selalu disebut oleh orang-orang dan didengar Maryam selama hidupnya. "Saya mencari Kebeneran, bukan agama tertentu," tutur Maryam.
"Kebenaran yang masuk akal bagi saya, sesuatu yang membuka hati saya dan membuat saya layak untuk hidup," ujarnya. Saat mencari ia memasuki setiap jenis gereja baik di Inggris maupun dekat rumahnya. "Tak pernah sebelumnya terbesit untuk berpikir tentang Islam."
Maryam tertarik dengan Islam, namun saat itu perang tengah berkecamuk di Irak dan ia membaca banyak hal mengerikan tentang Muslim di surat kabar. "Saya merasa berpengalaman dan memiliki pendidikan dalam mempelajari agama lain, sehingga saat itu pun saya berpikir semua itu tak benar," ungkap Maryam.
Ia pun mencari seseorang yang bisa mengajarinya dan memberi tahunya tentang Islam dan cara hidup berdasar agama ini. "Sehingga saya bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang berasal dari tipu daya setan," tutur Maryam.
Satu hal yang selalu ia lakukan selama pencarian, ia sellau berbicara dengan siapa pun dan tersenyum dan menyapa setiap orang. " Saya berkata 'Halo', 'Bagaimana kabarmu?', 'Bagaimana harimu?', karena Yesus selalu menyebarkan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun ia berada. Saat itu saya penganut Katholik Roma," ungkap Maryam.
Namun ia merasa tak bahagia dengan agama tersebut dan akhirnya meninggalkan gereja. "Tapi saya tak tahu kemana lagi harus pergi," ujarnya.
Di saat bersamaan ia tengah mencari pula guru Islam. "Saya berdoa setiap saat, setiap hari kepada Tuhan 'Bantu aku, bantu aku, bantu aku'. Ia lakukan itu berulang-ulang, terus menerus selama dua tahun. "Karena saya tak tahu apa yang harus diperbuat dan pergi ke mana," ungkap Maryam.
Hingga suatu hari seorang kawan dari temannya membawa seorang yang alim ulama. Namanya Nur El-Din. Ia adalah seorang Arab yang lahir di negara itu. Ia mengundang Maryam untuk datang ke rumahnya dan memberi tahu buku apa yang harus dibeli dan apa yang harus ia lakukan. Bahkan Nur membuka diri untuk dihubungi kapan saja bila Maryam memiliki pertanyaan. "Itulah hubungan kami, ada tujuh volume buku yang saya baca mengenai tafsir dan terjemahan terhadap Al Qur'an dan buku itu sangat luar biasa."
Maryam pun mulai mengkaji Islam. Ia membuka buku pertamanya dan membaca kata pengantar. Ia tidak memulai dari belakang, melainkan dari depan. Ia langsung menuju surah Al Baqarah.
Sebelum Al Baqarah terdapat Surah Al Fatihah. Rupanya Maryam kembali ke awal lagi dan membaca umul kitab tersebut. "Begitu saya membaca, rasanya seperti tersambar. Air mata saya bercucuran. Hati saya berdebar keras, saya berkeringat dan gemetar," tutur Maryam.
Awalnya ia takut itu adalah godaan setan. "Seperti ia mencoba menghentikan saya karena saya mungkin menemukan jalan, karena buku ini mungkin membukakan saya menuju Kebenaran, sesuatu yang selama ini saya cari," ujarnya.
Maryam pun langsung menelpon Nur El-Din. "Ia berkata datanglah saya ingin bertemu kamu. Saya pun pergi ke tempatnya. Saat itu musim dingin, begitu sampai rasanya tubuh saya seperti balok es," ungkapnya.
Ia menuturkan pengalaman kepada Nur El-Din. "Saya berkata padanya ini pasti ulah setan, apa yang harus saya perbuat?" ujarnya. Maryam menuturkan kala air matanya bercucuran ia bisa melihat jelas ke dalam hatinya, begitu besar, merah--alih-alih terang, dan tidka berbentuk sama sekali. "Saya sangat takut," ujarnya.
Nur El-Din pun berkata padanya, "Margaret, dikau akan menjadi seorang Muslim." Maryam membalas, "Tapi saya tidak membaca buku-buku ini untuk menjadi seorang Muslim. Saya membaca demi membantah semua kebohongan yang telah disebarkan di media mengenai Muslim," ujarnya. "Saya tak ingin menjadi Muslim," kata Maryam lagi.
Namun Nur El-Din tetap pada keyakinannya. "Margeret dikau akan menjadi Muslim karena, baiklah saya harus memberi tahumu bahwa ada campur tangan kekuatan Tertinggi dalam hidupnya. "Saat itu saya berusia 65 tahun. Kini saya 66 tahun dan saya telah menjadi Muslim selama satu tahun."
Ia akhirnya melakukan kajian lebih dalam lagi dengan si ulama mulai November hingga Februari. Akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk bersegera mengucap syahadat. Saat dorongan itu timbul Maryam sempat bertanya apakah itu tak terlalu terburu-buru baginya.
"Anda tahu, ketika bertanya itu, alasannya bukan lagi karena saya tak mau menjadi Muslim. Saya telah meyakini bahwa Allah akan selalu mengampuni hambanya, yang saya pikirkan saya terlalu kecil, terlalu banyak dosa, dan hidayah itu rasanya hadiah terlalu besar bagi saya yang tak seberapa," tutur Maryam.
Nur El Din hanya berkata satu kata "Nur". Saat itu 11 Februari 2003, Maryam duduk sedikit jauh dari Nur El Din yang berpakaian serba putih mulai. "Ulangi persis seperti yang saya ucap," ujar Nur El Din. Ia mengucapkan syahadat yang langsung diulang oleh Maryam.
Usai mengucap syahadat Maryam bertanya, "Apa yang barusan saya ucapkan?". Nur El Din memaparkan artinya dalam Bahasa Inggris. Setelah itu ia pun resmi menjadi Muslim dan mengganti namanya dengan Maryam.
"Saya tak bisa berkata bahwa saya Muslim yang baik, karena itu luar biasa sulit," ungkap Maryam. "Saya kehilangan semua teman Katholik, semua teman mengobrol saya. Bahkan putri saya menganggap saya gila. Satu-satunya yang percaya saya adalah putra saya yang mengatakan mungkin saya menemukan Kebenaran. Ia adalah salah satunya yang mungkin menyusul saya menjadi Muslim," ungkapnya.
Tantangan terberat yang dirasakan Maryam adalah tempat tinggal di mana ia hidup di dunia sekuler, bukan dunia Muslim. "Dengan sepenuh hati, saya ingin tinggal di dunia Muslim dan memiliki komunitas Muslim. Saya satu-satunya Muslim yang tinggal di kawasan ini. Namun Allah selalu baik kepada saya karena ditengah kesulitan, saya tetap bahagia dan terus memiliki kesempatan belajar,"
Maryam mengaku kini membaca Al Qur'an dalam terjemahaan Bahasa Inggris. "Usia saya sungguh membuat saya sulit menghafal jadi saya menggunakan buku terjemahan. Dan saya memohon pada Allah, 'Mohon Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyanyang, saya hanyalah seorang bayi berusia 65 tahun dan saya memiliki kesulitan dan bantulah aku," setiap saya berdoa itu saya selalu menemukan jalan. Ia benar-benar membantu saya."
STMIK AMIKOM
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/08/01/lp8sqm-wanita-atheis-skotlandia-ini-menemukan-islam-pada-usia-65-tahun
30 July 2011
Perubahan Perilaku Jason Perez Membuat 55 Orang Terdekatnya Ikut Menganut Islam
Sabtu, 30 Juli 2011 14:15 WIB
Ada satu kutipan satir tapi membuat publik terhenyak tentang betapa SARA di AS mulai memprihatinkan adalah, "Anda seorang ayah tunggal, sekarang Anda menikah lagi, jadi Anda seorang pria yang sudah menikah, Anda muslim, Anda orang Amerika, Anda Puerto Rika, kau dari the hood, Anda seorang seniman, Anda rapper ... terdengar seperti mimpi terburuk Amerika!"
Berikut ini wawancara islamicbulletin.com dengan Jason:
Islamicbulletin: Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda?
Jason: Saya lahir di Brooklyn, NY. Saya dibesarkan di sebuah proyek perumahan di seberang jalan masjid. Ibu saya membesarkan saya di sana. Setelah saya besar, kami pindah ke Puerto Rico, dan setelah itu kami pindah bolak-balik antara Massachusetts dan Puerto Rico.
IB: Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang pendidikan agama Anda?
J: Ya, ibu saya Katolik. Tapi, nenek saya di Puerto Rico adalah Pembaptis. Selama sekolah, saya selalu di sekolah Katolik.
IB: Bagaimana Anda bisa berpindah menjadi Muslim?
J: Saya memiliki seorang teman bernama Louie Ekuador. Kami tumbuh bersama, dan kemudian kami terlibat dalam penjualan narkoba bersama-sama. Saya adalah pencari kebahagiaan sebagai orang muda, tetapi saya tidak pernah menemukannya. Saya mencoba kehidupan jalanan dan obat-obatan tapi itu hanya membuat saya lebih tertekan. Meskipun kita menghasilkan uang, tidak memberi kita rasa atau kepuasan kebahagiaan. Suatu hari, ia berjalan dengan masjid, dan dia duduk di tangga. Seorang Muslim mendekatinya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana dan mulai berbicara kepadanya tentang Islam. Dan dia akhirnya menjadi seorang Muslim. Kami tahu masjid ini karena kami dibesarkan di jalan, tapi, kami tak pernah tahu tentang Muslim dan ajarannya. Satu-satunya hal yang kita tahu tentang mereka adalah bahwa mereka membunuh kambing. Jadi, dalam masyarakat, masjid mereka lebih dikenal sebagai tempat dimana kambing dibunuh. Jadi kita akrab dengan gedung tetapi tidak benar-benar tahu tentang apa yang terjadi di dalamnya. Louise berakhir menjadi Muslim dan sempat menghilang selama 40 hari. Dia pergi dengan Jamaah Tabligh (komunitas guru Islam) menyebarkan Islam.
Namanya pun berubah, menjadi Lukman. Suatu hari Lukman datang berpakaian serba putih dengan seorang syekh bernama Iqbal. Kami sedang bermain dadu, minum, dan merokok saat itu. Tiba-tiba aku melihat sisi berbeda darinya. Ia terlihat lebih bercahaya. Saya bisa melihat perubahan dalam dirinya. Saya pikir, sesuatu yang serius telah terjadi dalam hidupnya. Jadi, saya meninggalkan orang lain yang minum dan merokok dan berjalan ke arah mereka. JDi sana, syekh bertanya apakah aku percaya bahwa hanya ada satu Allah. Aku berkata, "Ya." Dan kemudian dia bertanya apakah saya percaya pada Nabi Muhammad. Terus terang, saya tak pernah tahu tentang Muhammad SAW, tapi saya melihat cahaya dalam karakter dan wajah Luqman teman saya, jadi saya percaya. Saat itu juga saya minta dituntun mengucapkan syahadat, di pinggir jalan. Adik saya yang menyaksikan, ikut pula bersyahadat.
IB: Bagaimana orangtua Anda bereaksi terhadap Anda yang menerima Islam?
J: Keluarga saya awalnya kesal. Tetapi setelah mendapatkan kami bebas dari narkoba dan jauh dari kegiatan berbahaya lainnya, mereka menyukainya. Ibu saya sangat mendukungnya. Dia pikir itu sangat positif. Saya pun menjadi lebih peduli padanya; Saya membantu dalam urusan rumah tangga, dan melakukan apapun yang dimintanya. Dulu sebelum menjadi Muslim, saya tak pernah peduli padanya. Perubahan dalam diri saya membuat kakak saya menjadi Muslim juga. Kemudian salah satu teman saya menjadi Muslim. Lebih dari 55 orang yang kita kenal menjadi Muslim. Kami kembali ke tempat yang sama kita gunakan untuk menjual obat-obatan dan memasang tanda yang mengatakan, "Heroin membunuh kamu dan Allah menyelamatkan Anda!" Jadi, Anda tahu, banyak dari mereka dipengaruhi oleh Lukman. Termasuk saya.
T: Apakah Anda pernah menemukan masalah dengan penerimaan Islam Anda?
J: Pada awalnya, karena saya merek baru Muslim, saya pikir saya harus mendengarkan setiap apa yang dikatakan seorang Muslim. Saya benar-benar tidak ada arah. Beberapa orang mengajarkan saya untuk melihat Muslim lain dan mengkritik umat Islam lain yang berjanggut panjang dan 'pakaian aneh' mereka. Sampai kemudian di satu titik: mengkritik orang menjadi lebih sering sementara mengingat Allah menjadi sedikit. Aku mulai kehilangan rasa manis yang saya alami ketika saya pertama kali menjadi Muslim. Kemudian saya melewati sebuah transformasi besar; hanya melihat kesalahan diri dan bukan kesalahan orang.
IB: Apakah Anda melihat kesamaan antara Islam dan agama-agama lain?
J: Ya, tentu saja. Ini semua terhubung. Saya tahu siapa Yesus, saya melihat gambar yang dikaitkan dengannya, tapi saya tidak benar-benar tahu tentang Yesus selain Natal, dan ayat-ayat yang kita baca diarahkan kepada kita oleh para imam dan pendeta. Kadang-kadang saya merasa kini saya menjadi pengikut Kristus dengan cara yang lebih baik setelah saya menjadi Muslim. Isa adalah Nabi-nya, bukan Tuhan.
T: Apa dampak yang Islam telah pada kehidupan Anda?
J: Islam telah membuka mata saya untuk kesalahan saya sendiri. Sebelumnya, saya punya hal yang disebut nafs. Saya tidak tahu tentang nafs. Islam membuat saya sadar bahwa, di jalanan, Anda selalu mencari musuh. Dan Islam mengajarkan saya bahwa, dalam rangka untuk menemukan musuh saya, saya harus melihat di cermin. Musuh saya adalah diri saya sendiri; nafsu saya.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
STMIK AMIKOM
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/07/30/lp4xha-perubahan-perilaku-jason-perez-membuat-55-orang-terdekatnya-ikut-menganut-islam
28 July 2011
Saat Bertugas di Perang Teluk, Abdal Malik Rezeski Terkesan Kesalehan dan Sikap Rendah Hati Muslim
Kamis, 28 Juli 2011 13:07 WIB
Tahun berikut ia dikirim ke Pakistan, dimana ia bertemu orang saleh dan terkesan dengan mereka. "Mereka baik, orang-orang rendah hati yang mencoba menjalankan ibadah dengan taat," tuturnya.
Ia mulai belajar Islam pertama karena didorong oleh rasa ingin tahu, lalu keluar dari keyakinan. Tepat di akhir tahun, ia menjadi seorang Muslim.
"Ayah saya seorang Yahudi, ibu saya Kristiani," tutur Abdal Malik Rezeski yang tinggal di Dallas. "Islam adalah agama pertama yang masuk akal bagi saya."
Islam adalah salah satu agama yang tumbuh cepat di Amerika. Salah satu penyebab adalah pertambahan imigran dan angka kelahiran yang tinggi di kalangan mereka. Namun seiring waktu, justru lebih banyak warga asli Amerika yang beralih ke Islam.
Mereka tertarik dengan aturan moral ketat yang diusung Islam, sistem keyakinan yang sebenarnya serupa dengan Yudaisme dan Nasrani. Kemiripan itu, menurut ulama, memudahkan langkah-langkah untuk mempraktekan dan beralih ke Islam.
"Pesan langsung mengenai Tuhan, jauh lebih mudah dipahami ketimbang konsep Trinitas, ujar Jane Smith, seorang pakar studi Islam di Hartford Seminary.
Mayoritas warga Amerika yan beralih, 64 persen adalah Afrika-Amerika, demikian menurut The Mosque Report, sebuah kajian nasional yang dilakukan empat organisasi Muslim. Salah satunya adalah Share Muhammed, 48, yang sejak kecil rajin mendatangi gereja kulit hitam.
"Yang langsung menarik perhatian saya dari Islam adalah saya tidak melihat rasisme," ujarnya. Di masjid, wanita itu mengaku bertemu dengan banyak imigran dari penjuru dunia dan kemajemukan Amerika.
Sekitar 6 juta Muslim tinggal Amerika Serikat. The Mosque Report memperkirakan sekitar 30 persen jamaah adalah mualaf.
Namun tak seorang pun tak pasti berapa mualaf di sana karena Muslim tidak mencatat informasi itu. Mereka mengatakan hal itu juga cukup sulit karena orang kerap beralih memeluk Islam tanpa keterlibatan masjid.
"Bagi Muslim, itu adalah antara diri anda dan Tuhan," ujar seorang pakar sosiologi agama, Dr. Behrooz Ghamari-Tabrizi, di Georgia State University. "Sementara dalam Yahudi dan Kristen, anda harus mengikuti ritual formal."
Seperti yang dialami Rezeksi, di hari ia memutuskan memeluk Islam, ia mencari teman-teman Pakistannya. Dengan keberadaan mereka ia mengucapkan dua kalimat syahadt. "Tiada Tuhan selain Allah (swt) dan Muhammad adalah rasul-Nya."
Begitu mengkaji Al Qur'an, kitab suci Muslim, ia mengaku kian tertarik lebih dalam dengan agama tersebut.
"Dengan Islam saya bisa melihat ramuan bagaimana agar berhasil menjalani kehidupan saat ini dan kehidupan masa nanti." ujarnya. "Tidak hanya panduan praktikal mengenai perceraian dan bagaimana memperlakukan anak yatim, tetapi juga petunjuk spiritual yang memaparkan apa Tuhan itu dan bagaimana kita seharusnya berhubungan dengan-Nya."
STMIK AMIKOM
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/07/28/lp14zv-saat-bertugas-di-perang-teluk-abdal-malik-rezeski-terkesan-kesalehan-dan-sikap-rendah-hati-muslim
