10 May 2012

Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 1)

Rabu, 11 April 2012, 13:01 WIB
blogspot
Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 1)
Dawood Al-Brittani

REPUBLIKA.CO.ID,  Dawood, begitulah pria asal Inggris tersebut mengganti namanya setelah memeluk Islam. Ia adalah mualaf yang gugur di medan jihad pada usianya yang sangat muda, 29 tahun. Namanya begitu populer setelah memutuskan diri untuk membela kaum Muslim dalam pertempuran melawan Pasukan Kroasia di Bosnia pada 1993.

Ia dibesarkan dalam keluarga kristen. Sejak kecil, ia didik dengan doktrin Kristen hingga menginjak dewasa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja pada salah satu perusahaan Komputer di Inggris.

Hingga suatu pagi, Dawood mengagetkan semua orang di kantornya. Tiba-tiba saja,  pagi itu ia muncul dengan cara berpakaian berbeda dari biasanya. Ia berpakaian layaknya Muslim di Timur Tengah.

Ternyata, Dawood telah menjadi seorang Muslim. Pakaian yang bernuansa Muslim itu pula yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya.

Dawood muda kebingungan. Tidak hanya keluarga, tapi rekan-rekan ditempatnya bekerja juga menolaknya. Karena dia sudah menjadi seorang Muslim. Tak ada yang mau menerimanya ketika itu, selain saudara-saudaranya dari komunitas Muslim.

Ia memutuskan untuk berangkat ke Bosnia bersama dua orang rekan Muslimnya yang lain. Mereka bergabung bersama Muslim Bosnia dengan tujuan bisa hidup secara Islam dan ingin belajar ilmu-ilmu keislaman.

Empat bulan telah berlalu. Beberapa rekannya dari Inggris mengajaknya untuk pulang ke Inggris. Ia menolaknya. Akhirnya ia tetap menetap di Bosnia.

Ia seorang yang sangat cepat belajar ilmu-ilmu Islam. Dawood juga dengan cepat menguasai bahasa Arab. Teman-temannya bercerita bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat dan teguh memelihara sunah. Ia termasuk sosok yang disayangi oleh teman-teman dan saudara-saudaranya sesama Muslim di Bosnia.

Ia tidak melewatkan untuk shalat malam, walau cuaca teramat sangat dingin. Bahkan ia sering berdoa sepanjang malam. Ia hanya tidur sebentar dengan posisi tidur meringkuk ke kanan.

Setelah beberapa waktu kemudian, ia bergabung dengan mujahidin Bosnia dibawah komando Abul Harith. Komandannya juga sangat menyayangi Dawood karena kasalehannya. (bersambung)

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Hannan Putra

Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol

Senin, 07 Mei 2012, 10:52 WIB
AP Photo/Scott Heppell
Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol
Gelandang Manchester City Yaya Toure, merayakan gol ke gawang Newcastle di Sports Direct Arena, Newcastle, Inggris, Minggu (6/5).

REPUBLIKA.CO.ID, -- Yaya Toure, pencetak dua gol Manchester City ke gawang Newcastle United, menolak menerima sebotol besar champagne saat pesta kemenangan di ruang ganti. "Maaf! Saya tidak minum alkohol. Saya Muslim," ujar Yaya Toure seraya menyerahkan botol besar champagne ke Joleon Lescott, rekannya.

Toure adalah man of the match pertandingan itu. Ia memborong dua gol kemenangan timnya dan membuat City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Sesuai tradisi klub, bintang pertandingan mendapat kehormatan membuka botol besar champagne.

Bukan kali pertama Toure menolak pesta kemenangan dengan menenggak minuman keras. Ia kerap menghindari tradisi itu, seraya berusaha tidak menyinggung rekan-rekannya.

Juru bicara Manchester City mengatakan pemberian champagne adalah penghargaan yang didambakan setiap main. Namun, katanya, klub bisa memahami jika ada individu yang menolak dengan alasan agama.

Yang bisa dilakukan klub, masih menurut juru bicara Manchester City, adalah menjamin setiap individu di ruang ganti klub tidak merasa tersinggung jika ada rekan mereka yang menolak pesta dengan alasan agama. Liga Inggris adalah kompetisi yang menampung pemain dari 68 negara. Yaya Toure berasal dari Pantai Gading dan beragama Islam.

Imam

Saat masih di Barcelona, Yaya Toure adalah imam bagi dua rekannya; Eric Abidal dan Seydou Keita. Ketiganya selalu menyampatkan diri shalat berjamaah, dan Toure dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih dibanding Abidal dan Keita.

Ketika Yaya Toure memutuskan pindah ke Manchester City, Abidal dan Keyta menjadi orang yang paling kehilangan. Dalam salah satu kesempatan wawancara dengan salah satu radio, Abidal sempat mengatakan.

"Kami kehilangan imam."

Redaktur: Hazliansyah
Reporter: Teguh Setiawan

01 May 2012

Irshad Manji: Sepatutnya Diobati!


 

Selasa, 01 Mei 2012

Oleh: Dr. Adian Husaini

IRSHAD Manji, seorang tokoh penggerak dan praktisi lesbianisme datang lagi ke Indonesia, di bulan Mei 2012 ini. Berbagai rencana penyambutan kedatangannya sudah disiapkan di sejumlah kota. Kabarnya, ia akan meluncurkan buku terbarunya, Allah, Liberty & Love, dalam edisi Indonesia. 

Irshad Manji memang lesbian "nekad".  Logikanya, lesbian tidak bangga dengan kelainan seksual yang dideritanya.  Tapi, aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.    Katanya: "Manji sangat layak menjadi inspirasi  kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia."

Jika disimak dari kualitas dan prestasi akademik serta kualitas bukunya, Irshad Manji tampak dengan sengaja dibesar-besarkan namanya. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai "Feminis Abad ke-21". Maclean's memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai "Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh".

Dalam bukunya (edisi Indonesia), Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini, dicantumkan pujian pada sampul depan:"Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam."  Dalam buku ini, bisa ditemukan nada-nada penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan keraguan terhadap al-Quran.

"Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad  bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana "ayat-ayat setan" – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian  mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran." (hal. 96-97).
   
Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal,  dalam buku biografi Nabi Muhammad saw,  menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bikinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.

Kisah "ayat-ayat setan" itu kemudian diangkat juga oleh Salman Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan al-Quran.

Umat Islam yang sangat menghormati dan mencintai Nabi Muhammad saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Rushdie diantaranya menggambarkan perempuan-perempuan dengan nama-nama istri-istri Nabi Muhammad saw  sebagai penghuni rumah pelacuran bernama "Hijab". Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya "Mahound" --  sebagai "the most pragmatic of prophets." 

Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang "ayat-ayat setan".

Buku lain yang ditulis Irshad Manji berjudul  The Trouble with Islam, mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Editorial Palestine Solidarity Review menulis judul kritiknya: "The Trouble with Irshad Manji".  Di antara kritiknya adalah kerancuan pemikiran Irshad Manji yang berlebihan dalam memuji kebebasan Barat, di mana ia menulis, bahwa hanya di Barat, Muslim mendapatkan kebebasan untuk berpikir, berekspresi, dan sebagainya (enjoy precious freedoms to think, express, challenge and be challenged without fear of state reprisal).

Palestine Solidarity Review menulis kritiknya, bahwa  Irshad Manji tampaknya buta terhadap berbagai jenis intimidasi dan diskriminasi yang diderita Muslim di Negara-negara Barat: "Is she blind to the fact that thousands of Muslims in the U.S. are being intimidated into silence by deportations, detentions, SEVIS registration, racist attacks on the street, and state repression? That Muslim youth are fighting racists and the cops in the street in England and France?"
   
Di Aceh dicambuk!

Dalam sejarah manusia, perilaku homo dan lesbi lazimnya dianggap menyimpang. Tapi, Indonesia memang unik dan ajaib. Jumlah penduduk Muslimnya sekitar 200 juta orang. Jutaan orang sudah mengantri untuk berhaji!  Uniknya, manusia-manusia yang jelas-jelas berperilaku bejat, pemuja setan, pegiat homoseksual dan lesbian, bisa dengan leluasa mengumbar angkara di negeri Muslim terbesar di dunia ini.

Dalam bukunya, yang berjudul Perzinaan, dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia Ditinjau dari Hukum Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), pakar hokum Universitas Indonesia, Neng Djubaedah, mengutip hadits riwayat Abu Dawud yang menyatakan, bahwa pelaku lesbian (musahaqah) harus dikenai hukum rajam.  Imam Syafii berpendapat, pelaku lesbian, baik muhshan atau bukan, dijatuhi hukuman rajam, dilempari batu sampai mati.  Sementara itu, dalam Qanun Hukum Jinayat Aceh, pasal 33 ayat (1) ada ketentuan: "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan liwath atau musahaqah, diancam dengan  'uqubat ta'zir paling banyak 100 (seratus) kali cambuk dan denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan)."  Sedangkan orang-orang yang mempropagandakan homoseksual dan lesbianisme, menurut Qanun Jinayat Aceh tersebut,  diancam dengan hukuman cambuk paling banyak 80 kali dan denda paling banyak 1.000 gram emas murni atau penjara paling lama 80 bulan. (ayat 3).

Jadi, sesuai hukum Islam, harusnya pelaku homoseksual atau lesbian dirajam, atau -- jika mengikuti Qanun Jinayat di Aceh --  dia harus dicambuk paling banyak 100 kali. Malangnya, dalam KUHP pasal 292 ditetapkan: "Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesame kelamin yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling  lama lima tahun."

Bisa diduga, Irshad Manji tidak akan pergi ke Aceh untuk  mempromosikan kelesbianannya atas nama kebebasan. Sebab, di Aceh sudah ditetapkan hukum cambuk bagi promotor atau praktisi homo dan lesbi.  Kita memang sulit memahami, mengapa manusia seperti Irshad Manji dipuja-puji dan dipromosikan di Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia berdasarkan pada Pancasila, yang memiliki sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab.  Beradabkah tindakan yang memuja seorang lesbian?

Apa pun status hukumnya, membanggakan perilaku homoseks dan lesbian adalah sebuah kemunkaran yang nyata. Nabi SAW sudah bersabda: "Barangsiaa di antara kalian yang melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim).

Feminis Lesbian
   
Program legalisasi – bidang hukum dan opini – praktik homo dan lesbi biasanya berjalan seiring dengan kampanye kaum feminis atau aktivis Kesetaraan Gender. Menurut feminis lesbian, baik kaum feminis maupun lesbian mempunyai tujuan yang sama, yaitu mendobrak dominasi laki-laki terhadap perempuan. 

Bunch (1972) menyatakan: "Para lesbian harus menjadi feminis dan berjuang melawan penindasan terhadap perempuan, sebagaimana para feminis  harus menjadi lesbian jika mereka ingin mengakhiri  supremasi laki-laki (Lesbians must become feminists and fight against woman oppression, just as feminist must become lesbians if they hope to end male supremacy.)

Sejak era 1970-an, dorongan agar aktivis feminis  sekaligus menjadi lesbian dikabarkan semaki menguat. Menurut mereka, adalah hal yang aneh, jika ada feminis yang bekerjasama secara politik dengan sesame perempuan, tetapi kemudian ia pulang ke rumah dan tidur dengan laki-laki.  Ruth Mahaney mengatakan: "I don't understand you women. You do your political work with women, but you go home to men… Yeah, why do we?" (Tentang feminis lesbian, lihat: Triana Ahdiati, Gerakan Feminis Lesbian, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007).

Kedatangan kembali Irshad Manji ke Indonesia tidak bisa dipandang sebagai hal sepele. Sebab, selama ini, kaum lesbi dan pendukungnya telah melakukan berbagai gerakan menuju legalisasi praktik homo dan lesbi di Indonesia.  Jurnal Perempuan, edisi Maret 2008, melaporkan, bahwa pada tanggal 6-9 November 2006, 29 pakar HAM terkemuka dari 25 negara berkumpul di Yogyakarta untuk memperjuangkan hak-hak kaum lesbian ini.

Di situ, mereka menghasilkan sebuah dokumen yang disebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta terhadap Pemberlakuan Hukum Internasional atas Hak-hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Orientasi Seksual, Identitas Gender dan hukum internasional sebagai landasan pijak yang lebih tinggi dalam perjuangan untuk Hak Asasi Manusia yang paling dasar (baca: kebutuhan seksual) serta kesetaraan gender, yang disebut dengan Yogyakarta Principles."

Jurnal Perempuan itu juga menulis tentang dokumen tersebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta ini merupakan tonggak sejarah (milestone) perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender. Menggunakan standar-standar hukum internasional yang mengikat dimana negara-negara harus tunduk padanya."  Salah satu tuntutan para pegiat KKG dan lesbianisme adalah agar perkawinan sesama jenis juga mendapatkan legalitas di Indonesia. "Pasal 23 Kovenan Hak Sipil dan Politik juga secara terbuka mencantumkan tentang hak membentuk keluarga dan melakukan perkawinan, tanpa membedakan bahwa pernikahan tersebut hanya berlaku atas kelompok heteroseksual," tulis Jurnal yang mencantumkan semboyan "untuk pencerahan dan kesetaraan". 

Gadis Arivia, seorang pegiat KKG, dalam artikelnya yang berjudul "Etika Lesbian" di Jurnal Perempuan ini menulis: "Etika lesbian merupakan konsep perjalanan kebebasan yang datang dari pengalaman merasakan penindasan. Etika lesbian menghadirkan posibilitas-posibilitas baru. Etika ini hendak melakukan perubahan moral atau lebih tepat revolusi moral."  Lebih jauh, Gadis Arivia menulis tentang keindahan hubungan pasangan sesama perempuan:

"Cinta antar perempuan tidak mengikuti kaidah atau norma laki-laki. Percintaan antar perempuan membebaskan karena tidak ada kategori "laki-laki" dan kategori "perempuan", atau adanya pembagian peran dalam bercinta. Dengan demikian, tidak ada konsep "other" (lian) karena penyatuan tubuh perempuan dengan perempuan merupakan penyatuan yang kedua-keduanya menjadi subyek dan berperan menuruti kehendak masing-masing. Dengan melihat kehidupan lesbian, kita menemukan perempuan sebagai subyek dan memiliki komunitas yang tidak ditekan oleh kebiasaan-kebiasaan heteroseksual yang memaksa perempuan berlaku tertentu dan laki-laki berlaku tertentu pula."

Dengan memandang perkawinan sejenis sebagai alternatif membentuk rumah tangga yang bahagia, diantara aktivis feminisme dan Kesetaraan Gender merasa geram dengan tradisi masyarakat dan negara yang hanya mengakui perkawinan heteroseksual. Prof. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, dalam jurnal yang sama, menuntut agar agama yang hidup di masyarakat juga memberikan pilihan bentuk perkawinan sejenis: "Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan."

*****

Homoseksual dan lesbian adalah kelainan seksual dan penyakit yang harus diobati. Pakar kedokteran jiwa, Prof. Dr. Dr. Dadang Hawari, dalam bukunya, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual, (Jakarta: Balai Penerbit FK-UI, 2009), mengungkapkan keprihatinannya dengan semakin merebaknya fenomena homoseksual dan lesbian ini. Menurut Dadang Hawari, penyakit ini bisa diobati: "Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual)."

Jadi, Irshad Manji yang lesbi, harusnya sadar bahwa dia sakit dan perlu diobati, bukan malah dipuja-puji di sana-sini dan dijadikan narasumber untuk diskusi. Prof. Dadang Hawari memberi nasehat pada kaum homo dan lesbi: "Bagi mereka yang merasa dirinya homoseksual atau lesbian dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dan menikah dengan wajar."

Pada akhirnya, di zaman yang penuh "fitnah" ini, baik kita renungkan sebuah sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya manusia jika melihat kemunkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab-Nya, yang juga akan menimpa mereka."   (HR Abu Bawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).*/Depok, 1 Mei 2012.


Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com. twitter: @husainiadian

Foto: Irshad Manji di sebuah acara di Indonesia

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (3-habis)

Rabu, 25 April 2012, 19:17 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (3-habis)
Mualaf (ilustrasi).


REPUBLIKA.CO.ID, Setelah mencari tahu tentang Islam, Kaci menjadi lebih sensitif terhadap pernyataan yang dibuat tentang Islam.

Ia ikuti kuliah tentang Islam. "Aku merasa apa yang dikatakan dosenku tentang Islam tidaklah benar. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya," kata dia.

Di luar studi, Kaci mulai mendukung organisasi yang memperjuangkan hak-hak Muslim. Saat itu pula, ia mulai berhenti mengonsumsi daging babi dan menjadi vegetarian. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol dan mulai berpuasa di bulan Ramadhan. "Tapi memang saat itu aku belum seutuhnya menjadi Muslim," kenang dia.

Tepat akhir tahun, Kaci mulai melakukan perubahan lain. Rambutnya yang selama ini tergerai ia sembunyikan. "Entah kenapa, aku ingin melakukan ini. Padahal, aku tidak tahu tentang Jilbab. Sebab, tidak semua Muslimah mengenakan jilbab di masjid," ujarnya.

Meski banyak perubahan yang dilakukan, rasa penasaran tentang Islam belumlah tuntas. Kaci lalu mencoba untuk mencari informasi tentang Islam melalui internet. Asyik berselancar di dunia maya, Kaci menemukan situs pernikahan.

Namun, ia tidak berniat mencari pasangan Muslim. Ia hanya mencari seseorang yang tahu tentang Islam. "Aku tulis dalam pesan bahwa aku tidak mencari pasangan. Aku hanya ingin mencari teman yang tahu tentang Islam. Sebab, aku ingin belajar tentang Islam," paparnya.

Tak beberapa lama, balasan yang ditunggu Kaci pun tiba. Ada tiga orang, yakni seorang Muslim yang tengah belajar di AS, satu orang Muslim India yang tengah belajar di Inggris dan satu Muslim Pakistan.

Kaci memulai dialog dengan Muslim yang tengah belajar di AS. Ia pun melontarkan banyak pertanyaan. "Dia menjawab setap pertanyaanku dengan begitu logis. Menurut dia, dalam Islam semua orang adalah sama tanpa memandang warna, umur, ras dan gender. Aku merasakan ada kebersamaan yang kuat dalam Islam," tuturnya.

Saat itulah, Kaci mulai yakin bahwa Islam adalah pilihannya. Ia merasakan Islam telah menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kaci pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Selepas mengucapkan syahadat, Kaci mulai aktif pergi ke masjid.

"Itu adalah langkah besar pertamaku. Banyak pintu dibuka setelah itu, dan terus dibukakan pintu kemudahan. Aku mulai shalat. Dua pekan kemudian, aku mengenakan jilbab," kenangnya.

Selama paruh terakhir tahun di kampus, Kaci mengambil mata kuliah pilihan: Islam, Kristen, dan Yahudi. Setiap kuliah, Kaci menjadi perwakilan Islam. "Masya Allah, menjadi wakil Islam sangat tepat untuk memberitahu kebenaran tentang Islam dan Allah," pungkasnya.

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (2)

Rabu, 25 April 2012, 19:02 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (2)
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah terus-menerus menghabiskan waktu bersama keluarga temannya itu, Kaci mulai diperkenalkan tentang kajian Perjanjian Baru. Mereka tidak bernyanyi atau mendengarkan khotbah.

Perempuan juga tidak diizinkan untuk berbicara selama pertemuan gereja. Natal, Paskah dan hari libur lain juga tidak dirayakan. Anggur dan roti tidak dihidangkan saat hari Minggu.

"Meskipun aku sudah dianggap sebagai Kristen, anggota jemaat ini percaya bahwa aku akan ke neraka jika tidak dibaptis lagi. Inilah pukulan pertamaku terkait keyakinan Kristen," kata dia.

Melihat hal itu, Kaci memutuskan untuk berdialog dengan ibunya. Ia bercerita tentang mengapa harus kembali dibaptis. Padahal dirinya sudah dibaptis waktu kecil. Ia pun bertanya mengapa kewajiban membaca Alkitab hanya sewaktu hari Minggu saja. "Saat itu, aku mulai kritis," ujarnya.

"Aku pun berdoa kepada Tuhan agar mendorongku untuk tetap melakukan hal yang benar. Nyatanya, doaku belum jua terkabul," tambah dia.

Tahun berikutnya, Kaci mulai menapaki jenjang pendidikan perguruan tinggi. Di tahun pertamanya, ia memutuskan untuk bergabung dengan asosiasi mahasiswa pembaptis. Pikirnya, dengan memasuki organisasi itu ia akan mendapatkan jawaban atas kebingungannya. "Aku merasa menemukan sesuatu yang aneh dari organisasi ini," ungkapnya.

Perkenalan

Pada tahun keduanya, Kaci menghabiskan banyak waktu untuk ambil bagian dalam paduan suara gereja Wake Forest. Ia sebenarnya enggan ikut serta dalam kelompok paduan suara, namun karena masalah uang, ia coba acuhkan pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.

Pada bulan Oktober, Kaci bertemu dengan pria Muslim yang tinggal di asrama. Ia merupakan pria yang ramah. Dengan nyaman, Kaci banyak melontarkan pertanyaan kepada temannya ini. "Dari dialog ini, aku kian mempertanyakan kepercayaanku sendiri. Apakah memang kita dilahirkan untuk agama yang kini aku peluk," ujarnya.

Musim panas berikutnya, Kaci mulai bekerja di sebuah toko buku. Ia pun bersinggungan dengan buku-buku keislaman. Ia pun melirik-lirik Alquran. Rasa penasaran tentang kepercayaan yang dianut pria Muslim itu menjadi pemicunya.

Seolah tak puas, Kaci tergerak untuk mengunjungi masjid. Harapannya ia akan mendapatkan pengetahuan itu secara langsung. "Aku mengunjungi masjid dua kali selama setahun," ungkapnya.

Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (1)

Rabu, 25 April 2012, 18:56 WIB
Blogspot.com
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (1)
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Kaci Starbuck tumbuh dan besar dalam lingkungan gereja. Ia rajin menghadiri sekolah minggu semenjak masih kanak-kanak.

Bahkan, ia sudah dibaptis sejak bocah. "Pemahamanku tentang ajaran Kristen waktu itu adalah keharusan seorang anak untuk dibaptis. Sebab, jika anda tidak dibaptis, maka anda masuk neraka," kenangnya.

Pemahaman itu tidak terlepas dari dorongan ayahnya yang seorang diaken, pelayan gereja. Ia pun memutuskan untuk dibaptis setelah menghadiri sekolah minggu.

Sebelum melalui proses itu, seorang pendeta bertanya padanya, mengapa dirinya menginginkan melakukan pembaptisan? "Aku jawab. Karena aku mencintai Yesus, dan aku tahu Yesus mencintaiku," tutur Kaci.

Selama bersinggungan dengan gereja, Kaci boleh dibilang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Untuk perempuan seusianya, hal itu terbilang langka. Begitu aktifnya, hingga ia mendapat julukan "Putri Gereja".

Suatu malam, dalam aktivitas keagamaan, Kaci mendengar seorang pria tengah berbicara tentang pertemuan pertama dengan istrinya. Istrinya itu berasal dari luar AS. Ada satu kesulitan kala ia tengah berkencan. Ia tidak dapat bersentuhan secara fisik seperti memegang tangan dengannya sebelum pernikahan. "Bagiku, cerita itu sangat menarik. Sangat indah untuk berpikir ada komitmen yang sudah dibuat sebelum melangkah lebih jauh," kenang dia.

Beberapa tahun kemudian, orang tua Kaci bercerai. Kepercayaan dirinya terhadap agama mulai goyah. Menurut keyakinan Kaci, ayah dan ibunya merupakan pasangan yang sempurna. Keduanya merupakan aktivis gereja yang aktif dalam setiap kegiatan keagamaan.

Saat itulah, Kaci memutuskan untuk menetap bersama sang ayah, sedangkan dua adiknya mengikuti ibunya, "Aku bertanya-tanya tentang surat Injil Korintus 1:13 tentang cinta dan amal. Mengapa hal itu tidak terjadi pada keluargaku?" tanya dia.

Dalam waktu tiga tahun, akhirnya Kaci pindah ke rumah ibunya. Saat itu pula, Kaci tahu bahwa ibunya tidak lagi ke gereja. Ia menyaksikan bagaimana gereja tidak lagi menjadi prioritas utama. Setelah pindah ke rumah ibunya, Kaci memulai tahun pertamanya di lingkungan baru.

Saat itu, ia bertemu dengan teman sekelas yang ramah. Di hari kedua, Kaci diajak olehnya untuk mengunjungi keluarga dan gerejanya. Ia pun mengiyakan ajakan itu. "Aku begitu terkejut dengan sambutannya. Meski aku seorang yang asing, mereka menyambutku dengan pelukan dan ciuman," kenang Kaci.

28 February 2012

Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah


blogspot
Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah
Nabi Muhammad SAW

Senin, 27 Pebruari 2012 15:23 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL --  Pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline,  injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang  menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

Inilah videonya
http://www.youtube.com/watch?v=VcUNVNbUBLY&feature=player_embedded

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Amri Amrullah
Sumber: youtube/dailymail

15 January 2012

Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat


Christina Morra: Kuucapkan Syahadat di Dalam Pesawat (1)
Terbang

Kamis, 12 Januari 2012 13:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Nama saya Christina Morra dan dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Saya mempunyai tiga saudara lelaki dan tiga saudara perempuan. Kami berhenti datang ke gereja ketika usia saya enam tahun. Kami percaya bahwa lebih baik membaca Injil di rumah karena kami tidak dapat menemukan gereja dengan doktrin  bisa kami patuhi, makanya lebih baik kami di rumah saja. Saya yakin bahwa sikap agamis keluargalah yang menyebabkan saya memeluk Islam. Saya juga yakin bahwa perjalanan menuju Islam bermula ketika saya baru lahir. Salah satu perkara yang saya pelajari dalam Islam ialah konsep fitrah. Artinya setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, bebas dari sebarang dosa. Oleh karenanya, kita bisa memanggil anak atau bayi sebagai Muslim.

Hanya ibu bapaknyalah yang mengajarnya untuk menjadi seorang Yahudi atau Kristen. Saya begitu tertarik sekali dengan kepercayaan Islam ini karena saya menyetujuinya sepenuh hati. Fakta menyebutkan bahwa Muslim berusaha untuk kembali dalam keadaan suci dan menjadi orang terbaik bisa menjadi benar pada pandangan saya.

Saya mulai mengenal Islam dari beberapa orang rekan Muslim saya di internet. Tidak semua teman saya Muslim, tetapi Alhamdulillah saya punya beberapa orang teman Muslim yang baik. Sebelumnya memang saya tidak mengetahui apa-apa. Hanya, saya teringat pada seorang Muslim yang bekerja dengan ayah saya. Waktu itu saya belajar mengucapkan "Assalamualaikum".
Saya tertarik dengan orang ini yang kelihatan lembut dan damai serta berpakaian serba putih. Perlahan-lahan saya baru bahwa memberi salam kepada anak-anak merupakan satu perbuatan baik.

Saya pernah menulis satu artikel berkaitan dengan kecenderungan dan minat saya untuk belajar tentang berbagai budaya dan kemanusiaan. Ketika itu saya belajar di sekolah tinggi. Artikel itu mendapat perhatian dari guru pembimbing kami. Guru bahasa Inggris saya turut memuji artikel tersebut. Ketika masa berlalu, hubungan saya dengan umat Islam juga semakin meningkat. Saya menjadi lebih tertarik untuk belajar mengenai Islam.

Ketika kuliah, saya mengambil mata kuliah agama. Sayangnya, materi yang disampaikan tidak banyak memberikan informasi tentang Islam. Saya merasa yang harus dipelajari adalah Islam. Oleh karena itu, saya mengambil mata kuliah Islam klasik. Saya juga turut belajar bahasa Persia karena begitu minat untuk mempelajari bahasa. Asik dengan minat yang saya geluti membuat saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah bidang arsitektur.

Teman baik saya, Ehsan, seorang yang saya kenal lewat internet, adalah teman baik untuk belajar Alquran. Saya banyak sekali menanyakan persoalan berkaitan Islam kepadanya. Dia datang dari Iran untuk menemui saya di Amerika. Kami bertemu di Texas. Saya juga bertemu dengan ramai warga Iran di sana.

Kemudian saya kembali ke universitas, pada saat itulah saya memasuki kelas Klasik Islam. Saya tetap melanjutkan pembahasan saya tentang Islam bersama Ehsan. Saya benar-benar puas hati dengan pembelajaran Islam saya. Karena saya mengambil studi bahasa. Bahasa Arab merupakan satu hal yang amat penting buat saya.

Saya juga mendapati bahwa dalam Islam, tidak seperti Kristen, kita haruslah berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah. Melakukan perbuatan yang diridhai oleh-Nya. Walaupun secara alami kita bukanlah manusia sempurna dan tidak bisa menjamin diri sendiri untuk bisa masuk surga. Lalu mengapa harus menghukumi orang lain? Agama yang saya anut adalah sebuah agama dimana sebagai manusia biasa, kita diberi kesempatan untuk meminta maaf dan bertobat. Seorang pelacur bisa masuk surga karena memberi air pada seekor anjing, sebuah perbuatan yang kelihatan amat mudah tetapi diridhai Allah.

Kesimpulannya, Islam memberi jawaban atas segala persoalan yang menjadi tanda tanya bagi saya selama ini. Dahulu saya pernah terpikir memiliki agama yang sempurna. Saya percaya bahwa manusia harus memiliki agama, bahwa Tuhan berhubungan dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka. Saya menemui konsep tersebut dalam Islam, makanya saya bisa memberikan kepercayaan saya pada agama ini dan segala yang saya temukan adalah benar dan sempurna.

Tidak lama kemudian, saya pergi ke Texas dan Ehsan memberi dukungan untuk saya menyebutkan kalimat syahadah. Dia mengajarkan saya cara menunaikan shalat, sebelumnya saya sudah melihat dia menunaikan shalat. Shalat adalah sebuah manifestasi yang indah. Bagaimana pun saya masih berpendapat saya harus belajar lebih banyak lagi. Islam adalah sebuah agama yang luas dan saya ingin sekali memeluk agama Islam pada hari yang istimewa.

Ketika saya melakukan penerbangan dari Texas pulang ke Tennessee, pesawat yang saya naiki mengalami gangguan sebelum memulai penerbangan. Saya terpikir akan kematian yang bisa datang tiba-tiba. Jika saya mati menghadap Tuhan, saya belum juga menjadi seorang Muslimah. Saya tidak ingin perkara tersebut terjadi. Maka saya pun memikirkan untuk mengucap syahadat dan Allah SWT sebagai saksinya.

Kemudian, saya menyebut kembali kalimat syahadat di hadapan Ehsan sebagai saksi. Itu bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad Saw . Dahulu saya merasa bingung dengan masa depan saya, apa yang akan saya lakukan, apa akan jadi dengan diri saya. Ketika mengenang kembali hal tersebut, saya tahu bahwa sebenarnya saya belum menemui jalan yang membawa saya kepada Islam. Insya Allah Allah akan membimbing saya dan membuka jalan untuk saya mempelajari Islam sekarang dan disepanjang kehidupan saya, sehingga saya dapat pula mengembangkannya.

Alhamdulillah Islam sebenarnya adalah indah, jauh dari rasisme dan kebencian. Islam merupakan bimbingan sempurna yang dapat memenuhi keperluan individu dan masyarakat. Saya benar-benar percaya bahwa seseorang itu memerlukan Islam untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dan membentuk sebuah tempat yang lebih kokoh. Islam bukan untuk diperdebatkan dan mencari perhatian. Sejatinya, mengamalkan Islam dengan benar merupakan cara terbaik untuk semua manusia di alam sejagat ini. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang sedemikian dan insya Allah saya akan berusaha untuk menjadi orang seperti itu demi Allah.

Redaktur: Endah Hapsari

26 October 2011

Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat

Screenshot YouTube/Republika.co.id
Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat
Glyn Maclean

Senin, 24 Oktober 2011 08:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Glyn Maclean menjadi muslim dengan jalan yang berbeda dari mualaf lain. Ketika itu tahun 1970, sedang era musim perang dingin. Kehancuran massal seperti tinggal menunggu waktu akibat ancaman bom nuklir. Isu komunisme juga menjadi bahasan. Hal ini hampir melanda di seluruh dunia termasuk Selandia Baru.

Di tahun 1990an, saat isu komunisme sedikit mereda, ia mendapatkan informasi mengenai Islam sebagai penyeimbang. "Di sekolah, dulu kami mempelajari revolusi Cina. Kita bisa mengakses Marx, Linen, tapi tak ada informasi tentang Islam yang bisa diakses," ujarnya. Ia hanya mendapatkan Islam hanya sebagai sebuah informasi tapi tak  bisa mempelajarinya. Cukup sulit untuk mendapatkan informasi mengenai Islam saat itu.

Ia mengambul keputusan untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya. Ia kemudian mulai membaca Alquran. Sayang, ia belum berhasil mendapatkan terjemahannya.

Tak ada satu pun perpusatakaaan atau toko buku yang bisa menyediakan terjemahan Alquran untuknya. Ia sempat mengingat di salah satu tempat di Jalan Daniel, New Town terdapat Pusat Studi Islam Wellington. Ia yakin orang disana pasti bisa meminjamkannya.

Tapi ia merasa ragu untuk mendatangi tempat itu. "Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku tahu bagaiamana bersikap ketika berada di gereja atau pemakaman. Tapi aku sama sekali tak tahu bagaimana bersikap dengan komunitas muslim," katanya. Ia mengurungkan niat itu, lalu memesan terjemahan Alquran melalui amazon.net.

Ia benar-benar terkejut ketika membaca Alquran. Baginya, seperti membaca semua cerita yang dulu pernah diceritakan ketika masih anak-anak. Ada Adam, Ibrahim, Hud, Isa dan Maria. "Semua hal yang menjadi nilai-nilai pendidikan agama ketika aku masih kecil," ujarnya.

Alquran seperti menjawab semua kekhawatirannya tentang semua yang pernah saya ia pelajari di gereja dan sekolah Minggu. Ia menemukan fakta bahwa Yesus (Isa ) adalah manusia biasa. Namun ia seorang nabi yang luar biasa, dan sama sekali berbeda dengan konsep trinitas yang selama ini ia pahami.

Campur aduk perasaan Glyn ketika membaca Alquran. Ia merasa terkejut sekaligus malu. Ia malu karena ketidaktahuannya. "Kenyataan bahwa kami ternyata berbicara pada Tuhan yang sama. Saya terus membaca sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya baca adalah kebenaran," ungkapnya. Ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. "Saya merasakan kebenaran dalam arti yang paling dalam," begitu
komentarnya.

Ia mengulang membaca Alquran. Setelah membaca yang kedua kalinya, ia memutuskan untuk melakukan cukup banyak penelitian melalui internet bagaimana menjadi seorang muslim. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana perilaku umum umat muslim.

Ia mulai mencari tahu bagaimana Islam. Sempat ia menamukan artikel dalam bahasa Arab yang sama sekali tak ie ketahui artinya. Tapi apa pun itu ia berkeyakinan tak perlu terburu-buru untuk memutuskan masuk Islam.

"Masuk Islam harus benar-benar sesuai dengan keyakinan dan kemantapan hati," ujarnya. Akhirnya, setelah mendapatkan banyak informasi dan juga kemantapan tersebut, Glyn memutuskan masuk Islam pada Oktober 2000.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

STMIK AMIKOM

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/24/ltjrlv-setelah-membaca-alquran-dua-kali-dan-lakukan-pencarian-glyn-memutuskan-bersyahadat

24 October 2011

Keislamannya Dihormati Keluarga, Glyn Menerima Kado Natal Jilbab

Screenshot/YouTube/Republika.co.id
Keislamannya Dihormati Keluarga, Glyn Menerima Kado Natal Jilbab
Glyn Maclean

Senin, 24 Oktober 2011 03:07 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Glyn Maclean memiliki darah Skotlandia dengan sedikit campuran darah Irlandia dan Belgia. Ayahnya tiba di  Selandia Baru pada tahun 1957 kemudian mereka tinggal di Wellington. Ia memiliki empat saudara, tiga laki-laki dan satu perempuan.

Ayah dan ibunya bertemu di sebuah gereja di Wellington. Mereka sekeluarga berpindah-pindah sepanjang tinggal di Selandia baru. "Aku hampir 12 kali pindah sekolah," katanya.

Ia masih ingat ketika masih kecil ia sekeluarga selalu berdoa memanjatkan syukur sebelum makan. Orang tuanya rajin pergi ke gereja dan ia pun rutin ke sekolah Minggu.

Saat berumur delapan atau sembilan tahun, orang tuanya berhenti pergi ke gereja. Ia juga tak lagi melanjutkan sekolah Minggu. "Aku tak tahu mengapa begitu dan akupun
tak pernah menanyakannya," ujarnya.

Sejak saat itu ia mendapatkan pendidikan sekuler, walaupun ia cenderung tertarik pada teman-teman yang notabene mereka beriman terhadap Kristen. Ia selalu mengatakan "Aku menghargai iman kalian, tapi tolong jangan pernah mencoba untuk mengubah saya," dan mereka semua sepakat tentang hal itu.

Hingga akhirnya ia datang ke Wellington pada tahun 1980-an setelah tamat dari bangku kuliah. Ia melihat betapa pentingnya gereja bagi orang tuanya. "Ya, dulu mereka bertemu di gereja," ujarnya. Ia bergabung dengan  kelompok drama yang nomor kontaknya ia dapatkan dari salah satu buku telepon di gereja. Ia baru tahu,ternyata dua orang pamannya menjadi pendiri gereja itu juga.

Seorang perempuan bertanya pada Glyn "Gereja mana yang kamu ikuti?",Glyn menjawab "Tidak ada". Si perempuan bertanya lagi, "Mengapa begitu?", Glyn menjawab "Aku sama sekali tidak ragu Tuhan itu ada,tapi aku hanya tidak merwasa nyaman dengan ajaran yang ada. Jadi aku tidak pergi ke gereja," katanya. Perempuan itu hanya tersenyum d sambil berkata "Tuhan akan membawamu kepadaNya saat Ia siap dengan caranya sendiri."

Glyn menganggap ucapan itu sebagai kalimat yang sangat mempesona.

Kado Jilbab di Hari Natal

Keluarga dekat Glyn, hanya sedikit yang tinggal di Selandia Baru. Kebanyakan dari mereka mameiliki paspor ganda, hanya ada dua orang yang menetap disana.

Ketika Glyn memutuskan memeluk Islam keluarga sangat mendukung. Sang ibu bahkan membantu Glyn mencarikan jilbba untuknya. "Ibu mengajakku pergi ke Melbourne. Di Wellington tak ada yang menjual jilbab," katanya.

Ia masih mengingat betapa sumringahnya menemukan banyak baju muslim di mall. Setelah enam bulan memeluk Islam, memang baru kali itu ia mendapatkan keempatan untuk berbelanja baju muslim. Tak menyia-nyiakan kesempatan, disana ia memilih banyak pakaian yang dibutuhkan untuk menutup auratnya.

Sikap keluarga yang menghormati agama barunya bahkan juga tercermin ketika mereka merayakan natal. Salah seorang anggota keluarga yang cukup konservatif dari Hamilton bahkan memberi hadiah jilbab untuk kado natal. "Ia tidak berkomentar apa-apa soal keimanan saya," kata Glyn.

Menurutnya hadiah natal itu sebuah hal yang bagus untuk menunjukkan saling pengertian. "Saya menghormati keimanan mereka, mereka juga memberikan hadiah yang sesuai untuk orang yang mereka cintai," katanya. Walaupun memang, Glyn mengakui ketika itu, keluarga masih ada juga yang memberi barang haram seperti anggur.

Keputusannya untuk mengenakan dilakukan karena pentingnya kesederhanaan dan sikap kerendahan hati dalam Islam. Ia merasakan jilbab sebagai cara yang pas untuk berperilaku.

Ia menyadari ketika sudah terlibat di masyarakat nantinya ia akan mendapatkan banyak
reaksi negatif. "Saya beruntung memiliki kulit putih dan mata bitu," katanya. Ia merasa anugrah Allah berupa mata biru itu mengejutkan orang-orang yang ia temui di jalan. "Biasanya saya berjalan merunduk. Mereka akan melihat kepada saya. Tapi ketika saya mulai memperlihatkan wajah saya dan tersenyum, mereka terkejut melihat perempun bermata biru dan kulit putih memakai jilbab," ujarnya.

Setelah kejadian 11 September, semuanya menjadi sangat sulit di Wellington, termasuk bagi perempuan untuk menggunakan jilbab. Namun, ia selalu berusaha untuk tetap keluar rumah dan tersemnyum kepada siapa pun yang ia temui. "saya selalu mengucapkan salam kepada setiap wanita yang berjilbab. Tak peduli kenal atau tidak," katanya.

Ia hanya akan tersenyum jika melihat ada orang yang tampak ketakutan atau memandang negatif melihat wanita berjilbab. "Jika ada yang memandang agresif terhadapku, aku hanya akan tersenyum dan ini bener-benar membuatku merasakan perbedaan," ujarnya.

Jilbab baginya adalah simbol kebebasan. Glyn mengalami cacat sejak umur 20 tahun dan memakai tongkat di usia 24. Sebelum mengenakan jilbab, orang-orang sibuk menanyakan riwayat medis yang ia alami hingga memakai tongkat. Setelah mengenakan jilbab, orang lain jutru ingin mengetahui bagaimana seorang gadis yang memakai tongkat memutuskan untuk berislam dan menggunakan jilbab.

Ia hanya merasakan perlakuan yang aneh ketika pergi ke salon untuk mencukur rambut. Kebetulan, seorang kenalannya memiliki penata rambut sang bekerja khusus untuk wanita. Ia dan kenalannya kemudian mendatangi penata rambut untuk menanyakan apakah ia bisa menata rambut Glyn.

Penata rambut heran melihat wanita berjilbab berniat memotong rambutnya. "Saya hanya berjilbab di tempat umum. Saya tetap ingin merapikan rambut ketika berada di rumah," katanya. Penata rambut itu menolak dan membuat kenalannya terheran-heran.

Ia sering mendengar orang menjadi sangat marah ketika membahas jilbab. Berbagai media di Selandia Baru mengatakan jilbab sebagai perilaku agresif. "Tapi yang saya tahu, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan membebaskan warganya untuk memakai apapun asal sesuai dengan standard kesopanan,"katanya.

Kisah berislamnya Glyn bisa dibaca di sini


Redaktur:
Ajeng Ritzki Pitakasari

Reporter:
Dwi Murdianingsih/YouTube

STMIK AMIKOM

22 September 2011

Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja

thenews.pk
Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja
Muslimah shalat berjamaah. Ilustrasi

Rabu, 21 September 2011 11:16 WIB

ATHENA - Sebelum pergi ke Inggris, Xenia hanya mengenal satu agama, Kristen Ortodoks. Dia lahir, dibesarkan, dan tinggal di Athena, Yunani, Sebelum akhirnya terbang ke Inggris tahun 1970-an untuk melanjutkan pendidikannya.

Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil. "Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah," ujarnya.

Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. "Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya...maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya," ujarnya.

Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama.  "Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya," katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim.

Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam.

Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. "Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja," ujarnya.

Saat dua anaknya menginjak remaja, suaminya meninggal dunia. Xenia sungguh terpukul. Ia memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, Yunani. Anak-anaknya, memilih tetap tinggal di Inggris.

Di bandara, ia menerima SMS anak lelakinya yang termuda, "Mum, kami mencintaimu dan kami tak ingin engkau berbeda dari kami ketika kelak kau berpulang seperti papa. Please, jadilah Muslimah."

Ia merenungi SMS sang anak. "Untuk pertama kalinya setelah 30 menikahi pria Muslim, saya membaca isi Alquran," katanya, yang mengaku awalnya ogah-ogahan membacanya.

Dia mengaku takjub dengan kitab suci almarhum suaminya itu, kendati hanya membaca terjemahannya saja. Untaian kata-katanya sungguh indah, katanya, begitu untaian ceritanya. "Itu bukan bahasa manusia. Itu bahasa Tuhan semesta alam," katanya.

Dari membaca Quran pula ia tahu, Islam bukan agama baru. Islam telah dianut oleh nabi-nabi terdahulu. "Ini lebih mudah dimengerti, bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa partner, dan para nabi adalah utusan-Nya," katanya.

Tiba-tiba, ia merasa tak berperantara antara dirinya dan Tuhan. "Hanya saya dan Pencipta saya," kata Xenia yang kini berusia 60 tahun lebih.

Dia mengaku mulai rajin "curhat" pada Tuhan. "Aku berbicara pada Alllah dimana saja. Dia mendengar saya, dan memantapkan hati saya," ujarnya. Sampai di satu titik, ia bulat tekad untuk bersyahadat.

Bagi Xenia, Islam adalah sistem yang sempurna. Allah tak hanya menurunkan Alquran, tapi juga mengutus Muhammad SAW untuk menjadi "contoh nyata" bagaimana Alquran diaplikasikan. "Jalan menuju surga itu berliku. Allah mengirim panduan menuju ke sana, melalui Alquran dan Muhammad," katanya.

Xenia juga menyatakan, beda dengan adama lain yang penuh doktrin, Islam mengajak umatnya untuk berpikir. "Islam tak bilang, 'Inilah dia, kau harus mengikutinya sekarang!' Tapi Allah bilang, 'Lihat, lihatlah sekelilingmu. Lakukan perjalanan, lihatlah tubuhmu, langit, alam, mengapa kau tak melihatnya (sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?)," katanya, yang mengaku bersyukur telah menemukan islam, kendati memulianya di usia senja.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Greek Rethink, New Convert

STMIK AMIKOM

30 August 2011

Irene Handono: Menyaksikan

Irene Handono: Menyaksikan

Jumat, 15 Mei 2009 03:05 WIB
'Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.'

Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ''Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,'' kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.

Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.

Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ''Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,'' ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka'bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.

Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten - tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ''Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,'' ungkapnya.

Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber - sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro - peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me - wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing - ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.

Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung - annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.

Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ''Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,'' ujarnya.

Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ''Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,'' ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal.c68/kem

Redaktur:

STMIK AMIKOM

PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN

Sebuah Kesaksian Dari Kami...!!!

Posted by Mantan Gembala gembala@net.net (202.152.4.216) on March 08, 2001 at 17:55:01:

 

PERNYATAAN SIKAP FORUM PERTOBATAN MANTAN GEMBALA-GEMBALA TUHAN

 

PENGANTAR

Kami adalah sekelompok Pendeta yang telah bertobat kepada Tuhan Allah dengan sesungguhnya. Dahulu kami adalah umat agama dari 4 kelompok besar agama di luar Katolik & Kristen. Dulu kami masuk Kristen karena tertarik dengan nilai-nilai ajaran kasih dalam Kristus & janji keselamatan-Nya yang akan mengahantar kita semua masuk kerajaan surga dengan penuh kepastian. Walau akibat iman Kristus ini kami harus menerima fakta dikucilkan keluarga kami, kami terima semuanya dengan lapang dada waktu itu, apalagi penghiburan para Gembala Gereja selalu menyatakan orang tua kami, keluarga klami, teman-teman kami & orang -orang diluar Kristen adalah orang berdosaa yang sesat dalam iman. Mereka adalah para penyembah setan & kitab sucinya diturunkan oleh Raja Iblis!. Kami sangat mensyukuri wejangan para Gembala ini.

 

Apalagi setelah dibaptis, kami sangat diperhatikan, kami disekolahkan di Sekolah Misi Alkitab di kawasan Blok M - Jakarta, selama 6 bulan saja & kami lulus dengan menyandang gelar Sarjana Theologi. Karena kami orang bertobat, sekolah Misi Alkitab cukup ditempun 6 bulan saja, tidak perlu bertahun-tahun seperti yang lainnya. Kami juga diberi uang saku bulanan yang lebih dari cukup, jauh berbeda ketika kami masih dalam agama kami dulu, hidup serba kekurangan & miskin. Bahkan pada saat awal kemurtadan kami ini, kami diundang untuk berceramah keliling Indonesia. Walaupun kami bukan mantan Ulama, Bikhu atau Pandhita, kami mengaku kepada umat bahwa kami adalah mantan pemuka agama, di Sekolah Misi Alkitab kami diajarkan untuk berperilaku & menghapal beberapa bacaan doa agama kami dahulu untuk memberi kesan bahwa kami benar-benar bekas pemuka agama. Bahkan Gereja membantu membuatkan kami ijasah-ijasah palsu, surat-surat keterangan & dokumen yang diperlukan untuk membuat bahwa kisah kesaksian kami adalah benar adanya.walaupun kami bukanlah bekas pemuka agama. Bahkan teman kami yang Islam sampai dibuatkan foto repro yang sangat hebat, dia memakai sorban & berjubah panjang, lalu di fotonya dibuat seolah pernah berfoto bersama beberapa tokoh Islam terkemuka seperti Mubaligh Kondang KH Zainuddin MZ & KH. Abdurrahman Wahid segala!. Kami juga disuruh menandatangani sebuah surat kesaksian yang panjang yang dipersiapkan oleh para staf Gembala Bapak Ev. Soeradi Ben Abraham, dimana disana kami membuat kisah kesaksian yang akan dibukukan & disebarluaskan dikalangan domba-domba Gereja.

 

Waktu itu kondisi di atas kami terima saja, mau bagaimana lagi?, kami sudah tak punya siapa-siapa lagi!, tak punya harta & penghasilan,

menjual iman ini adalah pilihan hidup yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak?, kami keliling Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga Singapura segala, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel berbintang, memakai jas mewah, dielu-elukan orang banyak seperti artis, masuk koran & majalah rohani, & menerima pendapatan bulanan yang sangat besar!, siapa yang tak ingin, tokh kami pikir waktu itu, murtad ini jauh lebih baik dibanding kami jadi pencuri, pembunuh atau germo lokalisasi!.  

 

Entah berapa ratus kali kami berdusta, disetiap KKR yang kami ikuti secara terpisah, dimana ada skrenario yang disiapkan Gereja, kalau

berlabel penyembuhan Ilahi, para Pendeta berdoa memanggil Roh-Roh Jahat & menyuruh beberapa dari para pelayan Gereja untuk berpura-pura menjadi jemaat yang sakit!, & saat acara penyembuhan Ilahi dia harus berpura-pura sakit parah & mendadak sembuh ketika diurapi oleh kami!!!. Ya Tuhan ampunilah dosa masa lalu kami, ini kan tak lebih dari gaya tipu-tipu tukang obat pinggir jalan?!. Bahkan Jemaat terlihat sangat histeris, sampai ada yang berteriak histeris & berjingkrak-jingkrak segala!!!, mirip sekali acara nonton konser musik rock brutal yang ditonton para ABG, atau mirip suasana orang-orang yang tripping di Diskotek & Pub!!. Bahkan sehabis acara KKR ada seorang jemaat wanita muda yang menghampiri rekan kami Ev. Andi Widjaja (yang paling ganteng diantara kami), menyatakan diri siap melayani dia, karena yakin bahwa persembahan tubuhnya yang molek itu adalah untuk melayani jiwa para roh kudus yang menyertai kami!!!. Bung Andi lalu bilang, "kalau begitu ayo ikut ke kamar saya", wanita itupun mengikuti beliau & melayaninya sehari penuh hingga 5 ronde!!!. Kami tahu persis cerita ini karena kamipun memperoleh giliran menggarap wanita-wanita jemaat serupa ini diberbagai kesempatan KKR keliling Indonesia.

 

Hampir selama 6 (enam) tahun melayani domba-domba Gereja dalam rangkaian KKR yang melelahkan, menimbulkan kejenuhan di hati kami. Kadang kami berempat kongkow-kongkow di Mc. Donnalds Sarinah Thamrin & saling bertukar cerita..lalu jalan bersama keliling kota. Kami tak mungkin ke Kafe atau tempat hiburan malam, Diskotik sambil tripping & nyabu segala!, karena menurut kami hal ini tak baik untuk pekerjaan kami sebagai Pelayan Gembala, walaupun rekan-rekan gembala lainnya sering melakukan hal itu, kami bahkan sering dibilang kolot & kampungan oleh teman-teman Pendeta lainnya, akibta tidak ikut tripping & nyabu bersama rekan gembala lainnya. Bahkan beberapa rekan Gembala yang sekarang terkenal seperti Gilbert Lumoindang konon, menggunakan Shabu-Shabu & menenggak 1 butir pil Ectassy sebelum memimpin kebaktian di GL Ministry!. Menurut beliau Shabu-Shabu & pil Ectassy adalah sarana jiwa untuk dapat bertemu dengan Roh Kudus & agar Roh Kudus itu selalu mengilhami kita (katanya)!!!. Itulah sebabnya kenapa para Pendeta & Pengkhotbah Kristen selalu energik & tampil penuh percaya diri disetiap Kebaktian ataupun KKR, karena mereka menggunakan dopping berupa pil Ectassy atau Nyabu terlebih dahulu, bahkan terkadang keduanya sekaligus!!

 

PENYEBAB KESADARAN & PERTOBATAN KAMI

Bermula dari cerita rekan kami Bung Nico (Nicolas), perihal tetangga barunya yang mengadakan kursus TPA bagi umat Islam, Bung Nico awalnya gusar sekali, karena anak-anak kecil Islam itu selalu membaca surat Al-Kafiruun, yang dia tahu persis artinya, dia piker nih tetangga gue nyindir gue kali..awas aku murtadkan semiuanya!! & Bung Nico bersumpah untuk mewartakan kabar gembira Cinta Kasih Yesus itu kepada mereka.

 

Bung Nico suatu waktu memberanikan diri bertemu para pengajar TPA itu, lalu berkata: mari kita buktikan siapa hamba Tuhan sebenarnya, para pengajar itu Cuma tersenyum: "maaf kami tak melayani ajakan anda", Bung Nico bilang: "Kalian pengecut!!!" Mereka jawab: "Siapa bilang, kalau Bung Nico memaksa silahkan mulai dengan anak-anak itu saja" Bung Nico Menjawab: "Tapi saya nggak nanggung akibatnya ya..?"

 

Lalu Bung Nico mengumpulkan anak-anak kecil itu, dia bercerita tentang kisah pengorbanan Tuhan Yesus..anak-anak itu mendengarkan dengan seksama..tapi kemudian apa yang terjadi..? Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak semua & seorang anak kecil berusia 10 tahun lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit & balik menjelaskan apa itu Alkitab & sejarahnya serta siapa Yesus sesungguhnya..

 

Bung Nico terpana!, lalu pulang dengan perasaan malu..semenjak itu penjelasan anak kecil itu selalu membayang dipikirannya..lalu dia coba baca Alkitab secara urut, suatu hal yang sangat dilarang oleh Gereja karena bisa menyesatkan iman!. Diketemukanlah ayat-ayat yang sangat membingungkan..Bung Nico juga lalu ingat ayah-ibunya & teman-teman lamanya, kalau dipikir-pikir sangat beda sekali dengan rekan-rekan gembalanya di Gereja.

 

Kami berempat lalu berdiskusi dari hati ke hati, eh ternyata semua juga mempunyai pikiran & perasaan yang sama, sepertinya kita semua hidup dalam keimanan yang semu, kami adalah gembala-gembala umat, tetapi yang kami jalankan hanyalah dusta & kepalsuan yang ditawarkan kepada orang-orang yang haus akan kesegaran rohani..!!

 

Sejak saat itu, kalau memimpin KKR & Kebaktian, kami rasanya ingin muntah & berteriak kalau ada yang membacakan kisah kesaksian

palsunya, bagaimana tidak palsu?, Kalau ada seorang bekas pencopet beragama Islam yang seumur hidupnya tak tahu ajaran Islam & tak pernah bersekolah agama, dengan lantang menyatakan dirinya mantan calon Ustad?, padahal kisah karangan itu kamilah yang menyusunnya.?!. Kisah-kisah kesaksian palsu karangan kami bahkan sudah banyak yang dibukukan, beberapa kami lihat sepertinya pernah dikutip lalu diposting disini.

 

Lalu secara sembunyi-sembunyi kami berkunjung ke rumah ustad M. Hanafi tetangganya Bung Nico (Ev. Nicolas Albert Gerungan), kami utarakan kegundahan hati kami..sungguh ajaib & mengejutkan pertanyaan Ustad Muda ini, dia tidak langsung menyodorkan 2 kalimat Syahadat untuk kami baca, tetapi menyuruh kami untuk mulai merenungkan & mohon petunjuk Tuhan..! Dia juga Tanya apa agama asal kami & menyarankan untuk menjalin tali persaudaraan kami dengan bekas keluarga kami yang sekarang mengucilkan kami.

 

Akhirnya Bung Nico yang pertama memutuskan kembali masuk Islam, sementara itu rekan Ev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha), memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya & kemudian dikirim ke sebuah Vihara di kawasan Pondok Cabe, rekan Ev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu) mendatangi sebuah tempat sembahyangan agama Hindu di rumah seorang pelukis Bali dikawasan Bintaro & rekan Ev. Andi Widjaja (Kristen (Gembala Gereja Nehemia) bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu), mendatangi Kelenteng di Kawasan Glodok yang baru dibuka kembali. Hampir selama 2 bulan kami jarang bertemu lagi, kami juga secara mendadak memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Gereja kami. Bayangkan, betapa geramnya para pengurus Gereja, mereka mencari kami ke-mana-mana!. Teor lewat HP-pun gencar dilakukan, mereka pertama-tama hanya marah masalah jadwal-jadwak Kebaktian & KKR yang jadi berantakan, tetapi ketika kami secara terpisah menyatakan kami tak mau kembali lagi ke Gereja & akan kembali bertobat ke agama asal kami, terorpun dimulai, mulai dari telepon gelap hingga upaya intimidasi secara fisik melalui terror-teror. Kenyataan ini membuka mata-hati kami, betapa jahatnya mereka ini, jauh lebih kejam dibanding keluarga, orang tua & teman-teman kami yang hanya membenci & tak mau kenal lagi dengan kami ketika kami dibaptis, tetapi kaum Kristen bekas Gembala & Domba kami sangat murka sekali & berencana menghabisi kami segala!!!. Akhirnya kami memutuskan untuk bertobat secara terpisah & kembali ke agama masing-masing.

 

Walaupun bekas Pendeta, kami tidak serta merta bisa menjadi pemuka agama. Bung Nico sekarang ini digembleng di sebuah pondok pesantren di kota Sukabum, rekan Gede sekarang sedang digembleng oleh seorang Pandhita di kawasan Ubud - Bali, rekan Rahardi sekarang sedang bertapa & belajar agama di sebuah rumah ibadah Budha d Pondok Cabe  - Ciputat, sedangkan rekan Andi sekolah agama Kong Hu Chu di luar negeri, yaitu di Taiwan.

 

TINJAUAN PANCASILA

Seminggu yang lalu, di awal bulan Maret 2001 ini, via internet kami berdiskusi tentang Krismon & krisis negara Indonesia, lalu nyerempet-nyerempet masalah iman kami & masalah Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika. Kami lalu baca Pancasila & terkejut ketika membaca Sila Pertama Dasar Negara Indonesia berbunyi: KETUHANAN YANG MAHA ESA...

 

Ini berarti bahwa sesungguhnya konsep Ketuhanan yang diakui oleh bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tiada beranak & tiada diperanakkan, tiada beroknum ataupun bersekutu dengan unsur apapun. Artinya tiada Tuhan selain Allah. Jadi agama yang punya konsep Ketuhanan yang semu seperti Kristen dengan konsep Allah Tritunggal Yang Kudus dalam dogma Trinitas, jelas-jelas bertentangan dengan konsep dasar negara Indonesia...!!!

 

Kenapa agama Kristen dibiarkan keberadaannya?, mungkin inilah perwujudan dari rasa & jiwa besar para pemimpin bangsa Indonesia. Dilema ini sama seperti pengakuan kita akan eksistensi para penganut aliran kepercayaan, animisme & komunis. Keberadaan agama Kristen sama & sejajar dengan agama animisme, aliran kepercayaan & komunis yang kita perkenankan keberadaannya di bumi Indonesia!.

 

Bahkan agama Kristen kedudukannya jauh lebih rendah & lebih hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu sekalipun, karena

dalam ketiga agama ini, walaupun mereka memiliki konsepsi sbb: Manusia utama Sidartha Gautama dalam ajaran Budha, tetapi di atas Sidartha Gautama ada Tuhan Maha Kuasa yang kedudukannya jauh lebih tinggi dibanding Sang Budha itu sendiri. Dalam agama Hindu, walau banyak dewa, tetapi ada Sang Hyang Widhi penguasa tunggal tertinggi di atas para dewa itu. Dalam Kong Hu Chu juga sama seperti ajaran Hindu, ada Sang Pencipta Tunggal yang berkuasa atas semua dewa-dewi dalam mitologi China.  

 

Melihat penjelasan di atas saja sudah jelas bahwa agama Kristen itu jauh lebih rendah & hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu. Kedudukannya hanya sejajar dengan paham agama animisme & komunis!!!.

 

Pemujaan Nabi Isa sebagai Tuhan membuktikan adanya Paganisme Baru ini, sebagai agama sempalan Yahudi (ini terjadi karena Paulus dari Tarsus beserta Petrus ternyata kecewa berat akibat ambisinya menjadi Rabbi Yahudi di tolak Sinagoge Betlehem).

 

Kembali ke dasar negara, jika saja kita semua tegas & tak punya rasa belas kasihan kepada para penyembah Nabi Isa ini, sudah dari dulu sejak kemerdekaan Indonesia, agama Kristen dinyatakan sebagai agama terlarang, karena berbau kolonialisme serta bertentangan dengan Pancasila!. Bahkan jika sekarang saja ada yang menggugat keberadaan agama Kristen & menuduh para pengikutnya dengan pasal subversi ini bisa dibenarkan secara hukum!!!.

 

KENYATAAN SEJARAH BANGSA

Apalagi bila dikaitkan dengan fakta sejarah bahwa agama ini dibawa oleh para penjajah Belanda, para pengikut pertamanya adalah pribumi pengkhianat bangsa, yang bekerja sebagai opas & tentara bayaran Belanda, mata-mata Belanda & penjual informasi perjuangan para pahlawan demi gepokan Gulden Belanda!. Memang ada beberapa pahlawan nasional yang beragama Kristen, tapi mohon diingat, para pahlawan itu tidak pernah ikut kebaktian di Gereja-Gereja mereka yang dipimpin Pendeta Belanda!. Para pahlawan itu hidup bersama orang-orang pribumi yang beragama Islam, Hindu & Budha. Ketika Indonesia merdeka & sang Meener meninggalkan mereka, para pengkhianat bangsa ini serta merta bergabung dengan para orang tua kita menyatakan mengutuk penjajahan Belanda, tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi semua pihak berjiwa besar. Kita memaafkan kesalahan mereka.

 

Tapi namanya juga orang tak tahu diri, ketika agresi Belanda datang kembali, mereka lalu ikut tuannya. mendirikan RMS di Maluku segala. Bahkan beberapa diantaranya ikut pulang ke Belanda, tapi biarlah!! Setelah perundingan damai dengan Belanda di tahun 1950-an, Indonesia akhirnya merdeka, para pengkhianat yang beragama sesat bernama Kristen ini diakui keberadaannya, walaupun sebenarnya bertentangan dengan Pancasila!

 

HIMBAUAN UNTUK PARA GEMBALA LAINNYA YANG BELUM BERTOBAT

Nah umat Kristiani..hendaklah renungkan fakta ini, malulah pada diri sendiri & hargailah umat beragama lain, kami umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu sudah lebih dari sabar menghadapi tingkah kalian!. mohon sadarlah & beribadahlah dengan cara masing-masing, jangan lagi mengirim penginjil-penginjil sesat kalian ke Mesjid-Mesjid kami, ke Vihara-Vihara kami, ke Kuil-Kuil kami, ke Kelenteng-Kelenteng kami, atau berusaha memurtadkan umat-umat kami yang kebetulan ilmu agamanya kurang, jangalah kalian ulangi lagi perbuatan sesat & tidak terpuji ini. Janganlah beli iman umat kami yang miskin & bodoh dengan beras & janji-janji muluk pekerjaan indah. Mereka miskin jangan lagi diberi impian palsu!. Mereka bodoh tapi janganlah manfaatkan kebodohan mereka dengan cara kalian menukar agama mereka dengan agama sesat kalian. Kemarin kami baru menemukan sebuah kisah nyata, bahwa di sebuah desa di pelosok Sukabumi, suatu desa terpencil di kaki gunung, yang menyatakan ketidaktahuannya & terkejut ketika ada yang bilang bahwa kertas selembar yang ia tunjukkan pada orang lain itu adalah surat Baptis & ia telah menjadi Kristen!. Ia tak tahu hal ini!!!!. Yang ia tahu kemarin ia menjual berasnya kepada mereka dengan harga yang sangat mahal, lalu diberi uang & disuruh membaca kontrak perjanjian & dimandikan!!!..ia tak tahu kalau ia telah dimurtadkan..!!!

 

PENUTUP

Mari kita hargai hak beribadah agama masing-masing, hargai hak kami beribadah jangan intimidasi umat kami dengan agama sesat kalian, yang hanya jad bahan tertawaan anak SD saja!!!, bukankah kami juga sudah melindungi kalian dari jerat hukum subversi karena agama kalian itu bertentangan dengan dasar negara kita tercinta PANCASILA..YAITU SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA?. Untuk saudara-saudara sesama gembala atau domba Kristus, pintu pertobatan belum tertutup, marilah kita kembali KE JALAN TUHAN YANG BENAR...JALAN KAUM ISLAM DAN PARA SABI'IN...jika anda bekas umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu, kembalilah ke agama masing-masing.!!!

 

SEKIAN DARI KAMI

Atas Nama Forum Pertobatan Mantan Gembala-Gembala Para Pendeta yang telah Insyaf:

Rev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha)

Rev. Nicolas Albert Gerungan (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Islam)

Rev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu)

Rev. Andi Widjaja (Gembala Gereja Nehemia bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu)

Siapa menyusul bertobat.....???

Source :
http://adriandw.com/rev.htm

18 August 2011

Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam

abna.ir
Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam
Tanya

Kamis, 18 Agustus 2011 06:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO - Namanya Tanya. Kemiskinan membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Ibunya tak lagi mampu menanggung ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya.

Ia pernah menghuni tiga rumah asuh yang berbeda. "Selama waktu itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya ibu, ayah dan tidak ada teman, tidak ada tempat dimana saya bisa berpegang," katanya.

Dalam kesendirian itulah, ia mencari pegangan hidup: Tuhan. "Aku mulai menghadiri kebaktian di Gereja Pantekosta. Minggu menjadi hari yang kutunggu," katanya.

Beranjak remaja, ia bertemu seorang Muslim di sekolahnya. "Aku menjelaskan kepadanya lebih banyak tentang Kristen dan ia menjelaskan kepada saya tentang Islam," katanya. Namun, sang teman selalu menyangkal penjelasannya, dengan alasan yang logis.

Tak ingin terpengaruh, ia ke perpustakaan dan meneliti lebih lanjut tentang Islam, Kristen, dan semua agama, "Pintu-pintu terasa mulai terbuka bagiku," ia menggambarkan.

Islam, yang kerap dipandang sebelah mata publik Barat, tiba-tiba memukaunya, setelah membaca beragam literatur. "Islam memberi tuntutan nyata bagi umatnya," katanya.

Ia bimbang. "Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa berpikir, aku gelisah. Ini tidak masuk akal lagi," katanya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa pada siapapun Pencipta-nya.  "Tolong jawab aku,  beri aku arah dan pijakan. Beri aku pegangan. Aku hampir hilang," ia mengisahkan doanya saat itu.

Alhamdulillah, katanya, dalam dua hari, ia segera menemukan jawaban. Saat itu, ia tengah berada di dalam kelas 11 mengikuti pelajaran matematika. Islam dan Muhammad, dua kata itu yang mengisi hatinya. Ia terlonjak dan berlari ke luar kelas. "Hatiku hanya diisi dengan sukacita," katanya.

Ia pergi ke toilet. "Aku tak tahu apa itu wudhu, tapi aku tahu Islam menganjurkan bersuci. Aku menyiram wajahku, mencoba untuk mendapatkan suci itu," katanya.

Ia menemui temannya yang Muslim, dan meminta diislamkan. Sang teman mengajaknya ke rumahnya, dan mengenalkan pada orang tuanya.

Mereka tak langsung mengislamkan Tanya. Alih-alih menuntunnya bersyahadat, mereka malah memberinya pakaian, buku-buku, dan kehangatan sebuah keluarga. Baru setelah ia menyatakan kemantapan hatinya berislam, mereka mengantarkan Tanya ke masjid untuk bersyahadat.

"Hidupku telah benar-benar berubah setelah itu," akunya. Kini, ia tak lelah berbagi tentang bagaimana ia mendapatkan kedamaian batin dengan banyak orang. "Bukan dengan ke diskotik, minum, atau hura-hura. Tapi dengan mendekat pada Allah."

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: abna.ir

STMIK AMIKOM

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/08/18/lq3huv-tanya-gadis-piatu-kanada-yang-menemukan-damai-dalam-islam

16 August 2011

Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!

mission-focus.com
Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!
Iman Sotiria Kouvalis

Selasa, 16 Agustus 2011 12:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA - Perkenalan Iman Sotiria Kouvalis dengan Islam dimulai dengan cara yang aneh. Suatu hari melihat perempuan Muslim di kampus dan merasa kasihan pada mereka. "Aku tidak mengenal mereka tapi ketika kami menyeberangi jalan di kafetaria, aku tersenyum pada mereka karena aku pikir mereka tertindas. Aku tidak pernah berbicara dengan mereka tapi aku hanya berasumsi bahwa mereka dipaksa memakai jilbab," katanya.

Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 september terjadi.

Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.

Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.

Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?

Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.

Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google  sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini  bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.

Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.

Ia mendatangi gereja  lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.

Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"

"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."

Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.

Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.

Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain.  Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Greek Rethink

STMIK AMIKOM

Translate it by Google Translator