| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
LEBIH MENCERAHKAN IMAN MUSLIM
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

''Assalamualaikum,'' ucap Peter Sanders sembari menjabat erat tangan wartawan Republika. Senyumnya segera tertebar ke seantero ruangan Auditorium Universitas Paramadina Mulia (UPM), Jakarta, Rabu (21/2), pekan lalu. Siang itu tubuh rampingnya dibalut kemeja dan tutup kepala biru khas Timur Tengah. Tapi sang fotografer kawakan itu sebetulnya lahir di London, Inggris, 61 tahun silam.
Saya tidak tahu persis. Tuhanlah yang memilihkan untuk saya. Tapi, ada peristiwa yang amat berkesan saat di India. Di suatu pagi saya menunggu kereta api di stasiun. Orang amat berjubel dan hiruk pikuk. Di tengah keramaian itu, seorang ibu tiba-tiba menggelar tikar di dekat saya. Ia lantas melakukan gerak shalat di situ. Ini mengejutkan. Saya belum pernah melihat ini sebelumnya.
Cukup dengan murah senyum. Saya berupaya membuat sebuah hubungan. Tapi, percaya atau tidak, manusia itu memang ajaib. Semakin miskin seseorang, semakin murah hati dia. Di Cina, saya bertemu dengan seorang nenek Muslim umurnya sekitar 90 tahun. Mengetahui saya Muslim, ia ingin mengundang saya ke rumahnya.
Dalam "bungkus" resmi, Paus merupakan pimpinan tertinggi sebuah institusi terbesar dan paling berkuasa di dunia yang bernama Tahta Suci Vatikan. Paus adalah orang suci dan disucikan, bahkan dia kerap disapa dengan "Bapa Suci". Tiap perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi titah bagi umat Katolik sedunia.
Bagi penulis "The Holy Blood Holy Grail" (Henry Lincoln dkk, 1982) disebutkan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena di Desa Qana, Lebanon. Bahkan Barbara Thieling dalam "Yesus The Man" menuturkan dengan berani bahwa pasangan Yesus dan Maria Magdalena memiliki anak, dua anak lelaki dan satu perempuan.
Cawthorne mengutip surat pertama Santo Paulus kepada orang-orang Korintus yang berbunyi: "Apakah aku tidak punya hak untuk memiliki isteri beragama Kristen seperti para rasul yang lain?"
Dogma selibat yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan ini menimbulkan aib dalam perjalanan Gereja sejak masa awal. Paus Damasus I (366-384) merupakan salah satu Paus yang oleh Sekretarisnya sendiri, Santo Jerome, dituding sebagai Paus yang rendah moralitasnya. "Perawan Kristen berjatuhan setiap hari, " ujar Santo Jerome.
Dogma hidup selibat ternyata banyak dirusak oleh Paus dan Para Pendetanya sendiri. Para sejarawan Barat dengan teliti dan berani, menyingkap banyak ketidak-senonohan yang terjadi di Gereja pada masa-masa awal kekristenan hingga saat kini yang melibatkan Paus sendiri.
| |
| Lebih dari 40 Ribu Warga Belgia Telah Memeluk Islam | | |
| Kamis, 03 Mei 2007 | |
| Sebuah mingguan Belgia, Le Soir melaporkan, lebih dari 40 ribu warga Belgia telah memeluk Islam pada beberapa tahun terkahir Hidayatullah.com--Mingguan Belgia, Le Soir menulis, lebih dari 40 ribu warga Belgia telah memeluk Islam pada beberapa tahun terkahir. Berdasar terbitan koran Resalat cetakan Tehran, Le Soir menampilkan bahwa Brussel dibanding dengan kota-kota Eropa lainnya memiliki prosentasi tertinggi dalam hal banyaknya jumlah warga non Muslim yang telah memeluk Islam. Mingguan ini, sembari menyebutkan bahwa dari sekitar 10 juta penduduk Belgia, 450 ribu di antaranya adalah Muslim. Mingguan itu menambahkan, seandainya laju pertumbuhan jumlah pemeluk Islam di Belgia dengan kecepatan seperti sekarang ini, jumlah warga Muslim pada tahun 2012 diperkirakan akan bertambah menjadi setengah juta orang. Le Soir juga menuliskan, para pemeluk Islam di Belgia menyatakan bahwa ketertarikannya kepada Islam disebabkan oleh tidak adanya perantara antara Tuhan dan manusia, dan sucinya kehidupan spiritual Islam, di mana Barat sekarang ini tengah dirundung oleh tidak adanya ihwal tersebut. [irib/www.hidayatullah.com] |
LINDA DELGADO, adalah seorang anggota polisi berpangkat Sarjana di Arizona, Amerika Serikat. Beliau menerima hidayah Allah dan memeluk agama Islam ketika dunia digegarkan dengan isu terrorisme. Ikuti kisah beliau berikut ini dalam terjemahan bahasa malaysia.
| Rabu, 25 April 2007 | |
| Lahir beragama Kristen, Justin Hudson tak pernah merasa terikat dengan Kristen. Ia pun bersyahadat dan mengganti namanya 'Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam' Oleh: M. Syamsi Ali *) Pagi itu, Senin 19 Maret, seperti biasa saya hadir di Islamic Center of New York sekitar pukul 11:00 pagi. Suasana Islamic Center masih sepih dan hanya terlihat beberapa orang sedang shalat sunnah di ruang bawah. Penjaga (security) menyapa dan menyampaikan bahwa saya sudah ditunggu oleh dua remaja di ruang receptionist. Saya pun bersegera masuk dan sebelum sempat menyampaikan salam, salah seorang dari remaja putra tersebut mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, saya berlalu, tapi kemudian dipanggil oleh receptionis bahwa ada yang ingin masuk Islam. Saya sepertinya tidak percaya karena yang ada di tempat tersebut hanya dua anak remaja, dan keduanya nampak seperti anak-anak Muslim. Bahkan dari wajahnya, salah satu dari mereka adalah keturunan Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh). Saya meminta waktu untuk ke kantor saya dan meletakkan beberapa buku yang saya bawa. Setelah istirahat beberapa saat, saya menelpon receptionis agar kedua remaja itu dipersilahkan masuk ke kantor. Tap berapa lama, masuklah kedua remaja itu ke kantor dengan wajah ceriah tapi sedikit nampak khawatir. Untuk menjadikan suasana lebih bersahabat, saya ulurkan tangan dan mengucapkan salam kepada keduanya. Ternyata anak yang berwajah Asia Selatan itu adalah anggota jama'ah Jamaica Muslim Center, di mana saya diamanahi sebagai Direktur. "I've seen you many times, but you don't know me" sapanya. Saya Tanya "where did you see me?" "At JMC" jawabnya singkat. Lalu saya berbalik tanya "why you are here?" kedua remaja itu saling memandang, lalu menjelaskan bahwa keduanya adalah anak SMA Hunter (Hunter High School) di kota New York. High School ini adalah sekolah SMA Special (Special High School) dan hanya mereka yang lolos test atau memiliki nilai di atas rata-rata yang bisa diterima. Menurutnya, sejak awal mereka diterima disekolah itu, mereka sudah bersahabat. Saya kemudian bertanya lebih lanjut "what then brings you here?". Tiba-tiba saja, yang satunya lagi menyelah "I wanted to be a Muslim?". Saya kemudian baru yakin bahwa memang pagi itu ada seseorang yang ingin masuk Islam. Saya lalu tanyakan nama dan agama yang dianutnya. "I am Justin Hudson". Kemudian dia terdiam. Saya kemudian tanya lagi "what it you current belief?". Dia seperti ragu menjawab, lalu secara diplomatis dia mengatakan "I was born a Christian but never felt attached with my Christianity". Lebih dia menjelaskan bahwa dia memang yakin akan adanya Tuhan, tapi secara formal dia belum pernah merasa terikat dengan agama Kristen. "Since I studied Islam I feel really connected with it" tambahnya. Remaja keturunan African American ini nampak lugu, walaupun terdengar kata-kata cerdas dari ucapannya. Segera saya memulai menjelaskan bahwa sebenarnya secara informal dia sudah Muslim karena sudah meyakini bahwa Islam ini adalah agama yang benar (true religion). "Your personal faith is the real thing that turns you to this religion. What you need right now is formalizing your faith by declaring it in front of some witnesses". Oleh karena Justin memang sudah menghapal 5 rukun Islam, saya cuma menjelaskan rukun Iman yang harus diyakini. Tentunya dengan sedikit penjelasan lebih jauh mengenai pergaulan remaja dalam konteks masyarakat Amerika. Justin nampak memperhatikan dengan seksama dan sekali-sekali menganggukkan kepala. "Do you have any further question?" tanya saya. Dia cuma menggelengkan kepala pertanda bahwa dia tidak ada pertanyaan mengenai Islam saat itu. Saya kemudian segera menuntun dia untuk mengucapkan syahadah, tapi dia segera menyelah "can I tell you my Islamic name?". Saya pun segera menjawab "of course! Do you have your Islamic name even before your shahadah? What's your name?". Dia menyebut namanya dengan cepat dan hampir saja saya tidak mengerti. "It's too long" kata saya setelah mendengar nama tersebut. Karena tidak jelas penyebutan itu, saya sekali lagi, "can you tell me your name once again?". Kali ini dengan pelan tapi seolah sangat familiar dengan penyebutan nama tersebut. "Nasir Abdul Basit Abdul Muhyi Islam", jawabnya mantap. Saya katakana sama dia, biasanya nama panjang itu cukup dengan tiga kata. Tapi nama dia ini sedemikian panjang, itupun belum dengan last name-nya "Hudson". Tapi nampaknya dia sudah mantap dengan penamaan itu. Bahkan sudah paham betul dengan makna nama tersebut. Lalu saya ingatkan bahwa syahadah ini adalah awal langkah memasuki Islam. Tentu ketika memasuki sesuatu, sudah seharusnya dilakukan dengan hati yang mantap. Hati yang mantap yang saya maksudkan adalah "be sincere, because this is your pledge to your Lord the Creator". Si Justin sedikit dan mangangguk. Disaksikan oleh temannya, Ali, dan seorang jama'ah, pagi itu dengan mantap mendeklarasikan imannya: "Ash-hadu an laa ilaa illa Allah-wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah". Lalu dilanjutkan dengan ucapan selamat dan pekikan takbir oleh dua orang yang menyaksikan. Sebelum meninggalkan Islamic Center untuk kembali ke sekolahnya, saya wasiatkan Nasir Islam, demikian ia menyingkat namanya, untuk selalu menambah ilmu keislaman. Sayang ingatkan bahwa betapa ni'mat Allah ini yang telah memberikan kesempatan kepadanya mendapatkan hidayah pada saat masih belia. "You have a wide opportunity to a better Muslim than many of us", kata saya. Juga tak lupa saya nasehatkan untuk tetap berprilaku baik kepada kedua orang tua, bahkan lebih baik lagi. Tentunya tidak lupa saya ingatkan bahwa iman ini adalah amanah untuk juga disampaikan kepada teman-teman yang lain. Nampak Nasir serius mendengarkan nasehat-nasehat itu. Pada akhirnya dia meninggalkan Islamic Center dengan doa, semoga Nasir selalu dijaga di jalanNya. Amin! [www.hidayatullah.com] *) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com |
Anda ingin cepat tenar dan dipuja Barat? Caranya gampang. Hujatlah Islam dan Anda akan mendapat berbagai pujian dan undangan, khususnya dari Negara-negara Barat!


Warga muslim kini menghiasi kota-kota metropolitan dunia. Sebut saja New York, Chicago, Los Angeles, London, Paris, Munchen, Sidney, dan Melbourne. Seperti seorang saudari kita, Maryam Ahmed, mereka terbimbing menuju Islam karena haus spiritual mereka menemukan padanan yang cocok dengan hati mereka. Berikut penuturan Maryam Ahmed tentang perjalanannya menuju Islam.
Di tempat kerja aku hampir terisolasi karena 'berbeda' dan tidak bergaul dengan kawan-kawanku seperti dulu yang pernah kulakukan. Aku juga lebih terasing lagi karena aku sekarang memakai jilbab dan pakaian longgar. Bahasa dan perilaku mereka juga berbeda dari bahasa dan perilakuku karena kami punya sistem moral dan nilai yang berbeda pula. Sekarang aku orang asing di negeri kelahiranku sendiri.
Umat Muslim di Jepang menghadapi masalah besar; hilangnya tausiyah keagamaan dari para ulama serta berkurangnya imam masjid. Informasi ini disampaikan Dr Zakariya Ziyad, ketua Ikatan Pelajar Muslim di Jepang seperti dilansir majalah mingguan berbahasa Arab al-Alam al Islamy terbitan Muharram 1428 Hijriyah.
Selain hilangnya bimbingan agama dari para ulama yang selama ini rajin memberikan pencerahan muslim Jepang, Zakariya lebih lanjut mengungkapkan umat muslim Jepang juga dihadapkan persoalan yang tak kalah peliknya yakni mulai berkurangnya imam masjid. ''Terus terang ada hal yang sangat mengkhawatirkan, masjid-masjid di Jepang kebanyakan tidak memiliki imam maupun dai yang mumpuni tentang Islam. Kalau ada imam, pengetahuan tentang Islam masih sangat minim,'' tambah Zakariya.
Kendala lainnya yang dihadapi umat Islam di Jepang, kata Zakariya, adalah masih terbatasnya jumlah masjid yang ada di Jepang. ''Secara keseluruhan, di Jepang jumlah masjid yang ada tidak lebih dari 50 buah. Sedangkan yang lain hanya berupa mushala-mushala kecil yang dikontrak umat Islam untuk digunakan tempat shalat semata. Jumlah ini tentu saja sangat kecil jika dibanding dengan jumlah umat Islam di Jepang yang kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk membangun sebuah masjid, karena mahalnya biaya yang diperlukan untuk membangun dan merawat sebuah masjid,'' ujarnya menambahkan.
Sulitnya lagi, sambung Zakariya, di Jepang tak ada satu pun seorang mufti yang bisa memberikan fatwa-fatwa untuk kehidupan umat muslim di Jepang. ''Tidak ada satu pun seorang mufti yang tinggal di Jepang yang bisa memberikan penerangan dan dakwah Islamiyah. Karena itu kebanyakan kita mengakses fatwa-fatwa dari ulama luar yakni melalui jaringan internet.''
Sampai saat ini, tak ada sekolah khusus Muslim di Negeri Matahari Terbit itu. Anak-anak Muslim belajar agama hanya di Islamic Center atau masjid-masjid besar saja. Seiring dengan meningkatnya jumlah Muslim, kapasitas ruang belajar makin menjadi sempit.

Di tengah dinginnya malam musim dingin tahun ini, sebuah kota kecil yang sangat terpencil di pedalaman Inggris sepakat untuk mengizinkan beralih fungsinya sebuah bekas gereja Kristen menjadi sebuah masjid.Saat ini, Kristen Metodis Inggris yang taat beragama kurang dari 500,000 orang. Sedang umat Kristen, hanya sekitar 6 persen saja yang masih rutin datang ke gereja. Demikian diungkapkan Peter Brierly, Direktur Eksekutif Christian Research. Meski belum didapat angka pasti, banyak kalangan sepakat, bahwa umat Islam Inggris lebih sering datang ke masjid dibanding umat Krisrten yang datang ke gereja.
Gangguan simbolik terhadap Islam di puncak kekuasaan Inggris sudah selesai. Di universitas Oxford, warga kota baru-baru ini, menentang pembangunan Pusat Studi Islam, tapi aksi mereka tidak sukses. Sebelumnya umat Islam tidak mempunyai wakil di Majelis Pewakilan Tinggi, tapi sekarang ada 7 orang wakil umat Islam di sana. Ini terjadi sejak satu dekade berkuasanya Partai Buruh di Inggris.
Di deaerah pemukiman buruh, kesenjanga terlihat jelas antara pribumi kulit putih dengan imigran muslim Asia, dari bekas negara jajahan Inggris, Pakistan dan Banglades pada 1970an. Warga kulit putih tidak begitu suka menikah, anak-anak yang lahir lebih banyak dari hasil hubungan luar nikah. Berbeda dengan umat Islam, hal demikian jelas bertentangan.
Tingginya konsumsi alkolhol oleh warga kulit putih memperlebar jarak kedua komunitas ini. Di Blackburn dan Preston meningkatnya jumlah umat Islam membuatnya jadi eksklusif. Berkembangnya pengaruh sekolah Islam "Wahhabi" jelas terlihat pada wanita-wanita pakaian hitam lebar yang menutupi seluruh tubuh mereka kecuali mata saja.
Di Blackburn terdapat sekitar 30,000 muslim dari 80,000 total populasi. Terdapat sekitar 40 masjid yang berdiri berdampingan dengan gereja kuno. Hal inilah yang ditakutkan para oposisi pembangunan masjid di Clitheroe.
Arshad kini berencana untuk merenovasi gereja tersebut, di sisi lain umat Kristen Clitheroe kekurangan pengunjung gereja. Di gereja Maria Magdalena yang didirikan pada abad 12, jemaah yang hadir turun drastis jadi sekitar 90 orang saja pada tiap Minggu.
"Para pengunjungnya rata-rata berusia 75 tahun"kata Pederi (pendeta wakil paus) Anglikan, Philip Dearden. Kata Philip, upacara pembabtisan atau pemberian nama sudah jarang dilakukan. Bahkan Philip hanya mencatat 7 pernikahan tahun ini.
"Lancashire adalah tempat terakhir untuk melihat sekularisasi di Inggris," cetus Dearden, pria berusia 64 tahun.
"Sangat drastis kita melihatnya. Orang-orang tidak peduli lagi dengan agama, mereka tidak datang lagi."Di Kendal, kota kecil tetangga Clitheroe, seorang paderi Anglikan bernama Alan Billings menulis sebuah buku berjudul, "Secular Lives, Sacred Hearts: The Role of the Church in a Time of No Religion" (Kehidupan Sekuler, Hati yang Suci: Peran Gereja di Saat Tidak Adanya Agama).
Katanya meningkatnya aksi oposisi terhadap masjid di antara warga kulit putih adalah refleksi kegelisahan warga Inggris yang semakin menjadi-jadi sejak aksi bom bunuh diri pada Juli 2005 lalu.
"Sering kali diekspresikan dalam penolakan yang samar seperti, akan bertambahnya mobil, bertambahnya penduduk," jelas Billings yang juga kontributor tetap program keagamaan di BBC ini. "Tapi itu benar-benar kegelisahan mendalam terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Rasa takut tentang apa yang akan terjadi terhadap kebudayaan dan rasa kecintaan terhadap Inggris.
Pada pertemuan tiap hari Sabtu, hanya terkumpul sekitar 50 jemaah saja, hampir semuanya beruban (usia senja). Billings menegaskan bahwa gereja sedang dalam tekanan. Islam sekarang telah menjadi alternatif selain Kristen.
Pada Minggu belakangan ini, hanya ada satu anak saja yang hadir sekolah minggu. Buku cerita, kertas, dan pensil tergeletak begitu saja, hanya ada seorang guru dengan seorang murid usia 6 tahun. Ruangan lainnya kosong melompong.
Kontras sekali dengan Shamim Ahmad Miah (26) ustad keturunan Pakistan di Accrington, kota sebelah Clitheroe. Di sini Miah mengajar bahasa Arab dan al-Qur'an pada 30 orang murid, usia 5-15 tahun, tiga kali sehari.
Di sini Miah mengajar 10 murid sekolah dasar, duduk di kursi dengan meja terang gedung pertemuan setempat, dia mengajar baca tulis Arab. Dia membagikan sejumlah kertas pada setiap murid untuk menulis beberapa huruf. "Pelan-pelan, ini adalah sebuah seni,"kata Miah.
Arshad berencana untuk mengundang Miah menjadi imam di Clitheroe. "Dia seorang progresif," puji Arshad.
Tidak akan ada perombakan besar-besaran terhadap bangunan gereja, sekedar menurunkan salib yang masih terpampang di atas.
Para wanita dibolehkan untuk shalat di ruang utama, "tidak di pojokan," kata Arshad.
"Kita tidak memasang kubah. Itu (kubah) akan terlihat cantik di Mesir dan Turki, tapi di Inggris malah akan terlihat seperti bawang raksasa. Adzan juga tidak akan keraskan ke luar masjid. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di dalam," katanya. [nytimes.com/Surya/cha/hidayatullah]

| Gadis Rusia Dapat Hidayah | | |
| Rabu, 04 April 2007 | |
| "For me, Islam does make more sense," ujar Alina. Dan akhirnya, gadis keturunan Rusia yang telah menetap di California ini mengikrarkan diri masuk Islam Oleh: M. Syamsi Ali *) Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum kedatangan seorang peserta baru. Seorang gadis berkulit putih dan tinggi semampai memasuki ruang kelas itu dengan pakaian muslimah yang sangat rapih. Pada awalnya memang saya mengira bahwa dia adalah seorang Muslimah keturunan Albania . Bahkan sangkaan saya ini berminggu-minggu, hingga suatu ketika saya tanyakan "when did you convert?". Dengan sedikit tersipu dia menjawab: "I am still learning. I really want to know more before taking any decision". Saya tentunya terkejut dengan jawaban itu. Sebab selama ini dia menampilkan diri di kelas persis seperti Muslim. Kata-kata "insya Allah", "masya Allah", dll., keluar dari mulutnya persis seorang Muslimah. Bahkan dalam beberapa kasus, dia terkadang menyelah penjelasan saya dengan tambahan, atau beberapa kali mengoreksi poin yang dianggapnya kurang tepat. Setiap waktu pun shalat pasti ikut melakukan shalat dengan jama'ah lainnya. Ketika seorang non Muslim menanyakan tentang gambar dalam Islam, apakah boleh atau tidak? Saya menjelaskan bahwa itu tergantung gambar apa dan bagaimana serta untuk tujuan apa. Dia kemudian seolah mengoreksi bahwa "pictures of living creatures are not allowed. I read about this in the hadith Imam", selahnya. Dalam beberapa kesempatan terpaksa saya harus jelaskan bahwa menyampaikan Islam itu mutlak memakai "pendekatan" yang tidak sekaligus. Alina, demikian dia memanggil namanya. Gadis ini berasal Rusia, tapi telah lama menetap di Amerika. Menurutnya, sejak kelas 3 SD dia sudah tinggal di California hingga tamat SMA bersama orang tuanya yang merupakan imigran dari Rusia. Setamat SD , Alina melanjutkan sekolahnya di New York City University dengan spesialisasi accounting. Sejak tamat dari universitas, Alina diterima bekerja pada sebuah Accounting firm yang cukup besar di kota New York . Di saat menjadi mahasiswa itulah Alina mulai mengenal Islam lewat teman kuliahnya. Pergaulan dengan teman itulah yang membuatnya semakin tertarik untuk mendalami Islam. Hingga suatu ketika, menurutnya, dia sangat meyakini, "for me, Islam does make more sense". Tapi menurutnya lagi, yang paling menarik perhatiannya adalah kenyataan bahwa mayoritas umat Islam "committed with the teachings". Sementara dia sendiri beragama Yahudi tidak lebih dari sebuah "cultural inheritance" (warisan budaya). "In fact, we don't really believe in God", kenangnya. Sekitar dua bulan Alina , mengikuti "Islamic Forum" di Islamic Center New York . Saya tidak melihat ada satu hal mendasar yang dia tidak ketahui atau ragukan di agama ini. Tapi nampaknya juga masih bersikap "dingin" untuk masuk ke agama ini. Biasanya saya tidak pernah mengajak langsung atau menanyakan "kapan seseorang akan pindah agama" walaupun orang tersebut suah menampakkan simpatik yang besar terhadap Islam. Tujuan saya adalah menjaga "image" the Forum bahwa itu ditujukan untuk "convert" orang ke agama Islam. Membela Rasulullah SAW Hingga sekitar sebulan lalu, Alina berkunjung ke Pasadena , salah satu bagian dari California , untuk menemui kedua orang tuanya. Menurutnya, suatu ketika di saat dia berjalan di kota tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak dengan microphone mencaci Rasulullah, Muhammad SAW. Tidak tahan melihat perlakuan orang tersebut, Alina mendatanginya dan berdebat dengannya mengenai Muhammad SAW. Tapi karena orang tersebut memakai pembesar suara, orang-orang di sekitar itu tidak mendengarkan pembelaan Alina terhadap Rasulullah. "I was so sad and crying" katanya. Sejak kejadian itu, Alina nampak semakin kalem. Dalam beberapa saat ketika kelas dimulai Alina datang terlambat. Hingga suatu ketika saya tanyakan, "Why you always come late lately?". Saya terkejut ketika dia menjawab: "I do my istikharah". Saya tanyakan "Istikharah untuk apa?". Saya justru menyangka, mungkin istikharah karena ada calon suami, dll. Ternyata menurutnya, "I do my istikharah to ask God, if the time has already come for me to be a Muslim". Saya sempat tidak bisa menahan geli dan menjawab: "What you do itself (istkharah) is the best indication that Goad wants you to be a Muslim right away". Alhamdulillah, dua Minggu lalu Alina menelpon dan menyampaikan keinginan untuk bersyahadah. Saya sempat bercanda, "Are you going to take shahadah with me or with some one else". Dia menjawab, "I will do take my shahadah only with you". Saya tanyakan kapan dia ingin bersyahadah? Diapun menyebutkan hari Sabtu. Sabtu kemarin, 31 Maret 2007, secara formal Alina menyatakan menerima Islam sebagai petunjuk hidupnya. Disaksikan oleh peserta "Islamic Forum" dan dengan mata yang berlinang, Alina menyaksikan, "Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah peseruh Allah". Allahu Akbar! Semoga Allah menjagamu Alina, dan menjadikanmu pejuang di jalanNya! [www.hidayatullah.com] New York , 2 April 2007 *) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com |